NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Meski gadis-gadis kelas tiga mengerubungi Zhang Yuzhe dari segala arah, berceloteh riang seperti kawanan burung walet yang sedang hinggap, wajah Zhang Yuzhe sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan. Senyum di bibirnya terasa kaku, bahkan nyaris retak. Di balik sorak sorai dan decak kagum yang ia terima, ada kegelisahan besar yang membuat jantungnya berdetak tak beraturan.

Saat ia melakukan dunk beberapa saat lalu, di tengah lonjakan adrenalin dan tepuk tangan yang membahana, telinganya menangkap suara yang sangat jelas dan tidak seharusnya terdengar di momen itu—“rrrip!”

Pada awalnya, Zhang Yuzhe mengira itu hanya ilusi. Suara sepatu bergesekan dengan lantai lapangan, mungkin. Atau kain kaus yang tertarik secara berlebihan. Namun, ketika ia mendarat dengan mantap, sensasi dingin yang aneh langsung menyapu bagian bawah tubuhnya. Seolah ada angin nakal yang menyelinap masuk tanpa izin.

Sekejap itu juga, wajah Zhang Yuzhe berubah pucat.

Ia tahu betul apa yang telah terjadi.

Celana olahraga murah yang ia beli seharga dua puluh yuan—yang sekilas tampak lumayan dan sempat membuatnya merasa beruntung—ternyata memiliki kualitas yang mengenaskan. Dan yang lebih menyedihkan, celana itu justru menyerah pada nasib di saat paling krusial, tepat ketika ia menjadi pusat perhatian.

Dahi Zhang Yuzhe langsung dibasahi keringat dingin. Ia tak berani bergerak sedikit pun. Bahkan menggeser kaki terasa seperti tindakan bunuh diri. Ia takut—sangat takut—kalau-kalau satu gerakan ceroboh akan membuatnya “terekspos” di hadapan semua orang.

Maka, meskipun gadis-gadis di sekelilingnya terus melontarkan pujian, bercanda, bahkan terang-terangan menggoda, Zhang Yuzhe hanya mampu mempertahankan senyum paksa. Di dalam hati, ia terus berdoa agar mereka segera pergi, satu per satu, secepat mungkin.

Untungnya, pada saat genting itu, bel kelas berbunyi nyaring, memecah keramaian.

Guru Xia Delong langsung mengakhiri pelajaran tanpa sempat memanggil absen. Keputusan itu terasa seperti anugerah dari langit bagi Zhang Yuzhe. Ia diam-diam menghela napas lega. Dalam rencananya, ia akan menunggu sampai semua orang benar-benar bubar sebelum diam-diam meninggalkan lapangan.

Namun, rencana itu buyar seketika.

Guru Xia Delong justru berjalan menghampirinya dengan wajah ceria. Pria paruh baya itu menepuk bahu Zhang Yuzhe dengan penuh semangat dan berkata sambil tertawa,

“Lumayan, Nak! Meski teknikmu belum seberapa, kamu berhasil mengalahkan Sun Yuson yang suka membual itu. Hebat!”

Zhang Yuzhe menahan keinginan untuk menjerit.

“Terima kasih, Pak Guru Xia,” ujarnya sambil memaksakan senyum. Alisnya sedikit berkerut. Dalam hati, ia hanya berharap guru itu segera pergi. Ia sama sekali belum memastikan kondisi bagian tubuhnya yang paling krusial.

“Baiklah! Aku masih ada urusan, jadi pergi dulu. Lain kali kita main basket bareng,” lanjut Guru Xia Delong.

Meskipun penampilan Zhang Yuzhe tampak agak janggal—berdiri kaku seperti patung—guru itu tidak menaruh kecurigaan. Ia menepuk bahunya sekali lagi, lalu beranjak pergi.

Begitu sosok Guru Xia Delong menjauh, Zhang Yuzhe akhirnya benar-benar mengembuskan napas panjang. Ia segera mencari sudut lapangan yang agak sepi, lalu duduk dengan kaki terbuka lebar.

Dan benar saja.

Di bagian selangkangannya, terdapat sebuah lubang besar tak beraturan, hampir seukuran telapak tangan orang dewasa. Celana biru yang ia kenakan memperlihatkan dengan jelas pakaian dalam biru tua di baliknya.

Wajah Zhang Yuzhe langsung merosot.

“Habislah aku…” gumamnya pelan.

Bagaimana mungkin ia pulang dalam kondisi seperti ini?

“Zhang Yuzhe, kamu belum pulang juga?”

Suara jernih dan lembut itu tiba-tiba terdengar, membuat jantung Zhang Yuzhe berdegup keras.

Ia menoleh.

Liu Mengting.

Ternyata gadis itu juga belum meninggalkan sekolah.

Sesaat, perasaan senang menyelinap ke hati Zhang Yuzhe. Namun, kegembiraan itu langsung runtuh begitu ia teringat kondisi celananya. Rasa malu dan putus asa menindih dadanya bersamaan.

“M-Mengting… kamu belum pulang?” Zhang Yuzhe refleks menutup bagian celananya dengan tangan. Ia ingin berdiri, namun ketakutan akan memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tak terlihat membuatnya tetap duduk kaku.

“Iya,” jawab Liu Mengting ceria. “Aku sempat ganti baju dulu, jadi agak telat.”

Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping Zhang Yuzhe. Kepalanya sedikit dimiringkan, senyum manis menghiasi wajahnya.

“Ngomong-ngomong, kamu mainnya bagus tadi. Nanti kalau ada waktu, kita main bareng lagi, ya.”

Zhang Yuzhe terdiam sesaat.

Liu Mengting kini mengenakan gaun selutut dengan renda halus di bagian bawah. Rambutnya diikat menjadi kuncir kuda yang memberi kesan ceria. Penampilannya terlihat semakin polos dan menawan. Dari jarak sedekat itu, Zhang Yuzhe dapat mencium aroma lembut yang samar—harum yang membuat jantungnya berdesir tanpa permisi.

“Iya… tentu,” jawabnya akhirnya.

Namun, di dalam hatinya, Zhang Yuzhe hanya bisa tersenyum pahit. Ia sadar betul bahwa kemampuannya jauh dari kata “bagus”. Semua yang terjadi tadi lebih menyerupai keberuntungan semata. Tapi tentu saja, ia tidak akan mengatakan hal itu sekarang. Di hadapan gadis yang ia kagumi, ia masih ingin mempertahankan sedikit harga diri.

Liu Mengting mengeluarkan sebuah ponsel kecil berwarna merah muda. Desainnya mungil dan tampak elegan. Ia melirik layar, sedikit mengernyitkan dahi, lalu menatap Zhang Yuzhe sambil tersenyum.

“Zhang Yuzhe, kebetulan arah pulang kita sama. Bagaimana kalau kita pulang bareng?”

Jantung Zhang Yuzhe langsung terasa tercekat.

Ia diam-diam menatap Liu Mengting, khawatir penolakannya nanti akan membuat gadis itu tersinggung.

Dan benar saja, ketika Zhang Yuzhe ragu-ragu dan tidak langsung menjawab, kilatan keheranan melintas di mata Liu Mengting. Jelas ia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.

Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Liu Mengting mengangguk pelan. Ia tersenyum lembut, namun senyum itu tampak sedikit berbeda.

“Tidak apa-apa. Kalau kamu masih ada urusan, aku pulang dulu.”

Zhang Yuzhe hanya bisa terdiam, menatap punggung Liu Mengting yang menjauh perlahan.

Begitu gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan, perasaan menyesal dan kesal bercampur aduk di dada Zhang Yuzhe. Dalam benaknya, wajah Sun Yuson muncul berkali-kali.

“Kalau bukan karena dia…” gerutunya.

Ia menunduk, menatap lubang besar di celananya, lalu kembali menghela napas panjang. Taksi jelas merupakan pilihan paling aman, tetapi saku celananya nyaris kosong. Bahkan untuk membeli sebungkus rokok pun ia tak sanggup.

Pada akhirnya, dengan segala keterpaksaan, Zhang Yuzhe memilih naik bus.

Sepanjang perjalanan, ia bergerak sangat hati-hati. Setiap langkah diambil dengan perhitungan matang. Ia terus memastikan posisi duduk dan berdirinya aman. Sedikit saja lengah, ia bisa menjadi bahan tertawaan di depan umum.

Beruntung, nasib masih sedikit berpihak padanya.

Meski bus tampak penuh sesak, tepat saat Zhang Yuzhe naik, seorang penumpang turun. Tanpa ragu, ia segera duduk di kursi kosong itu. Risiko “kecelakaan sosial” pun berkurang drastis. Perasaan lega menyebar di dadanya.

Di halte berikutnya, sekelompok penumpang kembali naik.

Di antara mereka, ada seorang gadis berusia sekitar dua puluhan. Wajahnya putih dan cantik, dengan postur tubuh ramping dan proporsional. Ia mengenakan celana jins dan mantel panjang berwarna merah muda, tampak mencolok di antara kerumunan. Di sekelilingnya, beberapa pemuda yang terlihat seperti mahasiswa mengikutinya. Penampilan mereka agak urakan.

Mereka semua tampak menjadikan gadis itu sebagai pusat perhatian. Namun, dari kerutan di dahinya, jelas terlihat bahwa meski mengenal mereka, gadis itu tidak benar-benar merasa nyaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!