Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Selamat pagi, Adik Ipar!" sapa Xander dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
Pria itu berjalan mendekati meja makan dengan seringai yang menyebalkan dan menarik kursi tepat di depan Luna.
Sapaan tiba-tiba itu membuat Luna yang sedang asyik mengunyah daging sapi tersedak hebat.
"Uhuk! Uhuk!"
Luna memegangi lehernya, wajahnya memerah karena potongan daging tersangkut di tenggorokannya.
Xavier dengan sigap meraih gelas berisi air putih untuk diberikan kepada Luna, namun Xander bergerak lebih cepat.
Dengan gerakan tangkas, Xander menyambar gelas lain dan menyodorkannya ke bibir Luna.
"Minum ini, Manis. Pelan-pelan saja," ucap Xander lembut, bahkan sempat mengusap sudut bibir Luna dengan ibu jarinya.
Krak!
Gelas di tangan Xavier pecah berkeping-keping. Cairan bening merembes di sela-sela jarinya, namun Xavier seolah tidak merasakan perih akibat serpihan kaca yang menusuk telapak tangannya.
Matanya menatap tajam ke arah tangan Xander yang masih menyentuh wajah Luna.
Xavier beranjak dari duduknya dengan kasar hingga kursi itu terseret ke belakang.
Aura di ruangan itu mendadak menjadi sangat pekat dan dingin.
"Gerry! Siapkan mobil. Kita berangkat ke kantor sekarang!" perintah Xavier tanpa menoleh sedikit pun.
Luna yang baru saja selesai minum segera berdiri, napasnya masih sedikit tersengal.
"Sapir! Tunggu! Luna mau ikut!" rengeknya sembari mencoba meraih jas Xavier.
Namun, Xavier mengabaikannya. Ia melangkah lebar keluar dari ruang makan seolah-olah Luna tidak ada di sana.
Hatinya memanas, rasa sesak yang tak ia mengerti berkecamuk di dadanya melihat bagaimana Luna menerima bantuan dari Xander begitu saja.
"Tetaplah di sini bersamaku, Luna," ucap Xander tiba-tiba, menahan pergelangan tangan Luna saat gadis itu hendak mengejar Xavier.
Langkah Xavier sempat terhenti sejenak di ambang pintu mendengar ucapan kakaknya.
Rahangnya mengeras, namun ia memilih untuk melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju parkiran, disusul oleh Gerry yang berlari kecil di belakangnya dengan wajah pucat.
"Kenapa Sander menahan Luna? Luna ingin bersama Sapir!" protes Luna kesal.
Ia berusaha melepaskan tangannya, matanya menatap sedih ke arah pintu tempat Xavier menghilang.
Xander terkekeh, ia menatap Luna dengan tatapan merayu.
"Vier sedang marah. Kalau kau mengejarnya sekarang, kau hanya akan kena semprot. Bagaimana kalau kau tetap di sini? Aku akan menyuruh koki memasakkan tumpukan daging sapi wagyu paling enak di dunia untukmu. Kau mau?"
Mendengar kata daging, pertahanan Luna goyah. Matanya yang jernih berkedip-kedip menatap Xander.
"Daging? Yang banyak? Lebih banyak dari punya Sapir?"
"Tentu saja. Sebanyak yang kau mau," janji Xander sembari tersenyum licik.
Luna akhirnya mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia masih merasa ada yang mengganjal karena ditinggal pergi begitu saja oleh Xavier.
*
*
Semua karyawan menunduk dalam-dalam saat melihat bos mereka masuk dengan aura yang sanggup membunuh tanaman di dalam ruangan.
Xavier melangkah keluar dari lift dengan langkah tergesa.
Tiba-tiba, seorang staf perempuan yang sedang terburu-buru membawa tumpukan dokumen sengaja terpeleset di depan Xavier.
Perempuan itu menabrak dada Xavier, membuat tumpukan kertas beterbangan dan tangan perempuan itu tanpa sengaja menyentuh jas mahal Xavier.
Dunia seakan berhenti berputar. Gerry yang berada di belakang Xavier langsung membeku, matanya membelalak horor.
Ia tahu apa yang akan terjadi jika seseorang menyentuh Xavier tanpa izin, apalagi saat suasana hati tuannya sedang seburuk ini.
Xavier tidak bicara. Ia hanya menatap dingin ke arah jasnya yang baru saja disentuh. Tanpa peringatan, ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan pistol glock hitam yang selalu ia bawa, dan...
DOR!
Satu tembakan tepat di jantung membuat wanita itu tewas seketika tanpa sempat meminta maaf.
Tubuhnya ambruk ke lantai, darah mulai mengalir membasahi dokumen-dokumen yang berserakan.
Gerry menganga, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia baru tersadar dari lamunannya saat Xavier menyimpan kembali senjatanya dan menatapnya dengan pandangan kosong.
"Bersihkan mayat itu. Aku tidak ingin melihat setetes darah pun saat aku keluar dari ruangan nanti," ucap Xavier datar sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya.
Gerry hanya bisa mengangguk kaku. "B-baik, Tuan."
Xavier membanting pintu ruangannya dengan sangat keras. Ia berdiri di balik meja kerjanya, menatap telapak tangannya yang masih berbekas luka goresan gelas pagi tadi.
"Brengsek!" geram Xavier sembari memukul meja. "Ada apa denganku? Kenapa bayangan gadis bodoh itu sedang tersenyum pada Xander terus menghantuiku!"
Ia merasa frustrasi. Selama ini ia tidak pernah peduli pada siapa pun, namun hari ini, hanya karena Luna menerima gelas dari tangan kakaknya, ia merasa ingin menghancurkan seluruh isi kota ini.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂