Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Di dalam rumah, suasana mendadak hening setelah Leon menceritakan tujuannya.
"Rank D?!" teriak Albert hingga hampir tersedak tehnya.
Leon mengangguk tenang. Ia sudah menyiapkan skenario bohong agar peningkatannya tidak terlalu mencurigakan. "Kemarin di padang rumput, aku berpapasan dengan seekor Mamut. Sepertinya monster itu sedang sakit atau terluka parah. Aku hanya memanfaatkan keadaan dan berhasil mengalahkannya. Setelah itu, aku merasa kekuatanku meningkat drastis."
Albert menatap Leon dengan tatapan tak percaya. "Mamut itu monster Level D! Meski sakit, tetap saja mustahil bagi Rank F untuk menjatuhkannya sendirian."
Otak Albert berputar cepat. Ia bahkan tidak menyadari bagaimana Leon bisa tahu bahwa peringkatnya sudah naik menjadi D sebelum platnya diperiksa secara resmi. Rasa kaget telah menumpulkan logika Albert.
"Jadi, apakah platku bisa diperbarui hari ini?" tanya Leon, membuyarkan lamunan pria itu.
Albert menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Tentu saja bisa."
Albert berdiri dan menyambar mantelnya. "Kalo begitu ayo kita pergi sekarang! Jangan menunda lagi. Jika ini benar, kau akan menjadi pembicaraan di seluruh Guild! dan mereka takn merendahkan mu lagi".
Leon tersenyum tipis. Ia mengikuti langkah terburu-buru Albert menuju pintu.
Leon dan Albert melangkah masuk ke dalam aula Guild. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, suasana yang tadinya bising oleh gelak tawa dan denting gelas mendadak senyap.
Ratusan pasang mata tertuju pada Leon. Tatapan mereka penuh dengan rasa ingin tahu, kecurigaan, dan sedikit rasa ngeri. Desas-desus tentang bangkai Mamut yang dibawa seorang pemuda kemarin sore ternyata sudah menyebar ke seluruh penjuru kota.
"Lihatlah, sepertinya kau membuat efek yang besar karena mengalahkan seekor Mamut," bisik Albert sambil menyeringai bangga, menepuk bahu Leon.
Mereka melangkah menuju meja resepsionis, tepat ke arah wanita yang kemarin merendahkan Leon. Begitu melihat Leon mendekat, wajah wanita itu langsung berubah masam.
Pria sampah ini lagi... batinnya penuh kebencian.
...[-1 Poin]...
Sialan wanita ini. Apa dia benar-benar berniat membuatku miskin dengan terus menghinaku dalam hati? umpat Leon kesal melihat notifikasi sistemnya.
"Hey, Nona. Temanku ingin memperbarui platnya," ujar Albert sambil mengetuk meja.
Wanita itu mengernyitkan dahi, menatap Albert dengan pandangan tidak percaya. "Memperbarui plat? Kau bercanda?"
"Bercanda? Untuk apa aku bercanda?" sahut Albert santai. Ia melirik Leon. "Tunjukkan padanya, My brother."
Leon tidak banyak bicara. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bola kristal di atas meja. Seketika, bola itu merespon. Cahaya biru yang terang dan pekat terpancar keluar, memenuhi meja resepsionis.
Seluruh orang di dalam aula terdiam seribu bahasa. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan.
"Apa-apaan itu?" teriak seorang petualang dari meja belakang. "Bagaimana mungkin kemarin dia Rank F, sekarang sudah menjadi Rank D?!"
"Apa semua bangsawan seperti itu? Hanya mengalahkan satu monster, pangkatnya langsung melonjak?" timpal yang lain dengan nada iri.
Wanita resepsionis itu gemetar. Matanya melotot menatap cahaya kristal. "Rank D! I-ini tidak mungkin... apa bola ini rusak?" gumamnya panik.
Melihat keraguan itu, Albert segera menempelkan tangannya ke bola kristal yang sama. Sinar yang identik muncul, karena Albert memang berada di Rank D.
"Lihat? Alat ini tidak rusak. Jadi cepat kerjakan tugasmu dan berikan platnya," tegas Albert. Ia kemudian menoleh ke Leon. "Berikan plat lamamu."
Leon mengambil plat besi Rank F dari saku dan menaruhnya di atas meja dengan bunyi klotak yang nyaring.
Ia menatap datar wanita itu, menunggu plat barunya diproses di tengah kegaduhan bisik-bisik orang di sekitar yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Plat besi bertuliskan huruf D itu akhirnya diletakkan di atas meja. Sebelum resepsionis itu sempat berulah lagi, Albert dengan sigap menyambarnya dan langsung menyerahkannya kepada Leon.
"Ini milikmu, Kawan," ujar Albert sambil melirik tajam ke arah wanita itu, seolah memberi peringatan untuk tidak macam-macam.
Mereka berdua berjalan menjauhi meja resepsionis, melewati barisan petualang yang masih menatap Leon dengan mulut menganga. Saat melewati papan pengumuman yang penuh dengan kertas misi, langkah Albert mendadak terhenti.
"Leon, apa kau tertarik mengambil misi tim?" tanya Albert sambil menatap papan itu dengan serius.
"Misi tim?" Leon mengernyitkan dahi.
Albert mengangguk mantap. Ia menyambar selembar kertas misi dan menunjukkannya tepat di depan wajah Leon.
> [MISI PERBURUAN: DUSKFANG WOLF]
> Jenis: Monster Kawanan (Serigala Hitam Bermata Merah)
> Karakteristik: Sangat cepat, gemar mengepung mangsa.
> Ciri Fisik: Tubuh ramping, bulu hitam keabu-abuan, mata merah menyala di kegelapan.
> Kelebihan: Agility tinggi, serangan lompat ke arah leher.
> Drop: Taring dan Kulit Serigala.
> Rank Dibutuhkan: D
"Bagaimana? Kau tertarik?" tanya Albert menantang.
Leon terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Hari ini adalah hari terakhir sebelum pertarungan keluarga dimulai. Besok lusa, agar kakak-kakaknya yang kuat dan licik tidak menggilasnya.
Ia tidak boleh hanya mengandalkan angka di layar status; ia harus benar-benar terbiasa dengan insting membunuh dalam pertarungan nyata.
"Baiklah, ayo kita lakukan," jawab Leon mantap.
Albert tertawa lebar mendengar jawaban itu, lalu merangkul bahu Leon dengan semangat. Namun, tawanya perlahan mereda saat matanya memperhatikan penampilan Leon dari atas ke bawah. Leon hanya memakai pakaian biasa yang sudah kotor, tanpa perlindungan apa pun.
Albert memegang dagunya, tampak berpikir keras. "Tapi sebelum itu, sepertinya kau membutuhkan pelindung agar tetap aman. Kau tidak bisa melawan kawanan serigala hanya dengan kemeja tipis itu."
Tanpa menunggu persetujuan Leon, Albert langsung menariknya keluar dari Guild. "Ayo, aku tahu toko peralatan yang bagus. Kau harus terlihat seperti petualang sungguhan sebelum kita berangkat!"
Beberapa saat kemudian, Leon dan Albert melangkah keluar dari toko peralatan dengan penampilan yang jauh berbeda. Leon kini mengenakan set armor kulit berkualitas yang membungkus tubuh atletisnya dengan pas.
Di pinggangnya, tersampir sebuah pedang baru dengan hulu yang elegan. Leon tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan satu koin emas untuk pedang itu karena pedang besi murah dari sistem sebelumnya sudah retak dan hancur setelah beradu dengan kulit Mamut kemarin.
"Kau benar-benar tidak ragu membuang uang ya," ucap Albert dengan nada kagum sekaligus heran. "Padahal untuk melawan serigala, pedang besi biasa saja sudah lebih dari cukup."
Leon hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjelaskan bahwa ia butuh senjata yang tidak akan patah di saat kritis. "Anggap saja investasi untuk nyawaku."
"Baiklah! Ayo kita berangkat!" seru Albert penuh semangat.
Perjalanan membawa mereka ke pinggiran hutan rindang yang lembap. Sinar matahari hanya mampu menembus celah-celah dedaunan, menciptakan suasana temaram yang mencekam.
Albert bergerak cekatan memasang sesuatu di tengah jalan setapak, lalu segera berlari kecil kembali ke arah Leon yang bersembunyi di balik sebuah batu besar.
"Apa itu?" tanya Leon pelan.
"Umpan daging dengan aroma khusus," bisik Albert sambil mengatur napas. "Ini cara paling mudah untuk memancing kawanan itu keluar tanpa kita harus lelah mencari."
"Begitu..." Leon mengangguk paham.
Sambil menunggu umpan itu bekerja, Leon melirik Albert. Ia ingin tahu seberapa kuat rekan timnya ini jika dibandingkan dengan status barunya.
Aktifkan Appraisal Eye.
...[ STATUS KARAKTER ]...
...Nama : Alberth | Umur : 32 Tahun...
...Ras : Manusia | Class : Swordsman Lv.3 | Rank : D...
...HP : 250 / 250 | MP : - / -...
...Stamina : 76 / 76 | Vitalitas : 70...
...Kekuatan : 40 | Ketahanan : 25...
...Kelincahan : 25 | Keberuntungan : 3...
...[Data lain tidak tersedia – Level Skill Terlalu Rendah]...
Leon tertegun sejenak. Kekuatan fisik Albert ternyata dua kali lipat darinya. Meskipun secara peringkat mereka sama-sama Rank D, pengalaman dan level kelas Albert jelas jauh lebih matang.
Srekk... srekk...
Suara semak-semak yang tersibak memecah keheningan. Leon segera mematikan layar statusnya dan mencengkeram hulu pedang emasnya. Dari balik pepohonan, muncul dua pasang mata merah menyala, yang menatap lapar ke arah umpan.
"Mereka datang," bisik Albert pelan