NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Energi

Lauren mencengkeram medali di sakunya saat ia melangkah keluar dari perpustakaan tua. Bayang-bayang di sudut ruangan tampak memanjang, seolah-olah mencoba meraih tumitnya. Herza melayang di sisinya dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya.

"Jangan menoleh, Lauren. Teruslah berjalan sampai kita melewati gerbang sekolah," bisik Herza.

Lauren mempercepat langkahnya. Udara pagi yang seharusnya segar terasa sangat berat, seolah ia sedang berjalan di dalam air. Ia bisa merasakan tatapan itu lagi. Tatapan dingin yang datang dari kejauhan, menembus tulang punggungnya. Medali di sakunya berdenyut hangat, memberikan benteng kecil terhadap tekanan batin yang ia rasakan.

Satu hari telah berlalu sejak penemuan medali itu. Lauren mencoba bersikap senormal mungkin di depan orang tuanya. Ia duduk di meja makan, menatap piring nasi gorengnya tanpa selera. Bram sedang menyesap kopi sambil menatap ke luar jendela, sementara Maria sibuk menata buah di atas meja.

"Kamu pucat sekali, Lauren. Apa tidurnya tidak nyenyak?" tanya Maria penuh kekhawatiran.

"Hanya agak pusing, Ma. Mungkin karena tugas sekolah," jawab Lauren berbohong.

Maafkan aku, Ma, batin Lauren. Ia tidak mungkin menceritakan tentang perpustakaan tua atau medali kuno yang kini ia sembunyikan di bawah bantalnya.

Tiba-tiba, suara denting halus terdengar dari arah ruang tamu. Lauren tersentak. Bram meletakkan kopinya dan berdiri. Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu dan menemukan sesuatu yang janggal. Semua foto keluarga yang dipajang di dinding telah bergeser. Tidak jatuh, hanya miring ke arah yang sama, persis tiga puluh derajat ke kanan.

"Mungkin getaran dari truk besar yang lewat tadi," gumam Bram, mencoba menenangkan diri sendiri. Namun, tangannya yang gemetar saat merapikan bingkai foto itu mengkhianati ucapannya.

Lauren memejamkan mata sejenak. Ia memanggil energi biru dari ulu hatinya, membiarkannya mengalir ke matanya. Pandangannya berubah. Di dinding ruang tamu, ia tidak hanya melihat bingkai foto. Ia melihat benang-benang energi berwarna abu-abu yang sangat tipis. Benang itu menghubungkan satu bingkai ke bingkai lainnya, membentuk sebuah pola geometris yang rumit.

"Ini bukan kebetulan, Herza," bisik Lauren hampir tak terdengar.

"Aku merasakannya juga," sahut Herza yang muncul di dekat lemari pajangan.

"Ini bukan polah arwah yang sedang mengamuk. Ini sangat rapi. Seperti... sebuah pemetaan."

Lauren melangkah mendekati salah satu foto. Ia menyentuh bingkainya perlahan. Begitu jemarinya bersentuhan dengan kayu bingkai, sebuah visi kilat menghantam kepalanya. Ia melihat bayangan tangkas yang bergerak sangat cepat di dalam rumah mereka saat mereka sedang tidur. Bayangan itu tidak menyentuh barang-barang secara kasar. Ia bergerak seperti seorang pengintai yang sangat terlatih.

"Cari di belakang lemari, Lauren," instruksi Herza.

Lauren berlutut di samping lemari jati besar milik ibunya. Dengan sedikit bantuan energi birunya, ia menggeser lemari itu beberapa sentimeter. Maria dan Bram menatapnya dengan bingung, namun Lauren mengabaikannya. Di balik lemari, tepat di atas ubin, terdapat sebuah simbol kecil yang digoreskan dengan sangat presisi.

Simbol itu berbentuk kotak di dalam lingkaran, dengan sebuah titik di tengahnya. Goresannya sangat dalam, seolah dipahat menggunakan kuku yang sangat tajam.

"Apa itu, Lauren?" tanya Bram, suaranya tercekat. Ia ikut berlutut di samping putrinya.

"Ini penanda, Pa. Seseorang... atau sesuatu, sedang menandai rumah kita," jawab Lauren dengan suara datar.

Herza melayang mendekati simbol itu, wajahnya tampak ngeri. "Ini adalah simbol Sentinel. Di dunia kami, ini digunakan untuk mengunci sebuah area agar energi di dalamnya tidak bisa keluar. Mereka sedang membangun sangkar di sini."

Lauren merasakan gelombang amarah bercampur ketakutan. Rumah ini seharusnya menjadi tempat teramannya. Namun sekarang, musuhnya telah masuk ke dalam wilayah pribadinya dengan rencana yang jauh lebih cerdas daripada sekadar menakut-nakuti.

"Aku bisa merasakannya, Herza. Ada jejak energinya," kata Lauren.

Ia berdiri dan mulai berjalan perlahan. Ia mengikuti benang-benang abu-abu yang tadi ia lihat. Benang itu menuju ke dapur, lalu naik ke lantai dua, dan berakhir tepat di depan pintu kamarnya. Lauren membuka pintu kamarnya dengan kasar.

Di tengah kamarnya, udara tampak sedikit bergejolak. Lauren memfokuskan pandangannya. Di langit-langit kamarnya, terdapat simbol yang sama dengan yang ada di balik lemari, namun yang ini berpendar abu-abu kusam.

"Mereka menggunakan kamarku sebagai titik pusatnya," bisik Lauren.

"Lauren, dengarkan aku," Herza mendarat di depan Lauren, menatap matanya dalam-dalam.

"Ini bukan lagi gangguan dari entitas rendahan. Serangan-serangan sebelumnya hanya pengalihan. Mereka membiarkanmu berlatih, membiarkanmu merasa aman, sementara mereka menyiapkan jaring ini di sekelilingmu."

"Maksudmu, mereka sengaja membiarkanku merasa kuat?" tanya Lauren.

"Benar. Seorang petarung yang percaya diri adalah target yang lebih mudah dijebak daripada seseorang yang terus waspada," jelas Herza.

"Siapa pun yang merencanakan ini, dia mengenal psikologimu. Dia tahu kamu akan fokus pada medali itu dan mengabaikan detail di rumahmu."

Lauren mencengkeram pinggiran meja belajarnya hingga kukunya memutih. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan oleh pemain yang sangat handal. Setiap langkah yang ia ambil, setiap kemajuan yang ia capai, seolah-olah sudah diprediksi oleh dalang di balik semua ini.

"Siapa dalangnya, Herza? Kamu bilang kamu tahu nama kuno itu," tuntut Lauren.

Herza menunduk, arwahnya tampak sedikit meredup karena ketakutan.

"Namanya tidak boleh disebut sembarangan, Lauren. Tapi dia bukan sekadar hantu. Dia adalah arsitek dari kegelapan. Dia tidak berburu dengan taring, dia berburu dengan rencana."

Lauren kembali menatap simbol di langit-langitnya. Ia menjulurkan tangannya ke atas. Energi birunya berpendar hebat, jauh lebih terang dari biasanya. Ia mencoba menghapus simbol itu dengan kekuatannya, namun energinya seolah-olah terserap masuk ke dalam simbol tersebut, membuatnya berpendar lebih kuat.

"Jangan! Kamu justru memberinya makan!" teriak Herza.

Lauren menarik tangannya kembali. Ia terengah-engah. Simbol itu kini tampak berdenyut, seirama dengan detak jantung yang ia dengar di perpustakaan kemarin.

"Kita terjebak, kan?" bisik Lauren pelan.

Maria dan Bram berdiri di ambang pintu kamar, menatap putri mereka dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Mereka tidak bisa melihat simbol itu, namun mereka bisa merasakan atmosfer yang berubah menjadi sangat menyesakkan. Bram merangkul bahu Maria, keduanya tampak sangat kecil dan rapuh di tengah badai gaib yang sedang mengepung rumah mereka.

"Pa, Ma... jangan keluar dari rumah malam ini," kata Lauren tanpa menoleh.

"Ada apa sebenarnya, Sayang? Papa tidak mengerti," suara Bram bergetar.

Lauren berbalik, menatap kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa perisai lampu yang selama ini mereka agung-agungkan tidak ada gunanya lagi. Musuh mereka tidak takut pada cahaya lampu; mereka sedang membangun kegelapan mereka sendiri di dalam cahaya itu.

"Ada seseorang yang memimpin mereka, Pa. Dan dia sudah berada sangat dekat," jawab Lauren.

Malam itu, Lauren duduk di tengah kamarnya dengan lampu yang menyala terang. Namun, bagi Lauren, kamar itu terasa sangat gelap. Ia bisa merasakan jaring-jaring energi abu-abu itu semakin menebal di sekeliling dinding rumahnya. Herza berjaga di sudut ruangan, matanya tidak lepas dari jendela yang tertutup rapat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah loteng. Langkah itu lambat, berat, dan sangat ritmis. Bukan langkah kaki makhluk yang sedang merangkak, melainkan langkah kaki seseorang yang sedang berjalan santai di rumahnya sendiri.

Lauren berdiri, medali di sakunya mendadak menjadi sangat dingin, hampir membekukan pahanya. Ia menatap ke arah plafon. Langkah kaki itu berhenti tepat di atas kepalanya.

Sebuah suara bisikan halus, sangat jernih dan berwibawa, bergema di seluruh ruangan. Suara itu bukan berasal dari arwah yang menderita, melainkan suara seorang pria yang sangat tenang.

"Latihan yang bagus, Lauren. Tapi sekarang, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Lauren membeku. Ia mengenali otoritas dalam suara itu. Ini bukan sekadar gangguan gaib. Ini adalah undangan untuk masuk ke dalam sebuah ritual yang sudah disiapkan selama ribuan tahun.

"Herza... dia ada di atas," bisik Lauren.

Herza tidak menjawab. Arwah remaja itu tampak gemetar hebat, perlahan-lahan memudar seolah-olah energinya sedang ditekan oleh kehadiran yang jauh lebih superior di atas sana. Lauren menyadari satu hal yang mengerikan: dalang yang mereka takuti tidak lagi mengirim utusan.

Dia sendiri yang datang untuk menjemput kuncinya.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!