Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pukul 14.10 WIB
Shelter Kilometer Lima
Shelter itu jauh dari kata mewah.
Hanya atap seng berkarat yang ditopang empat tiang kayu, lantai semen yang mulai retak dan ditumbuhi lumut, serta dua bangku panjang dari papan kayu yang warnanya sudah memudar. Tapi di kilometer lima, setelah lebih dari dua jam mendaki dengan carrier berat di punggung, tempat itu terasa seperti istana.
Carrier dijatuhkan satu per satu dengan suara lega.
Zidan langsung merebahkan diri di bangku panjang, meluruskan kaki sambil menatap atap seng.“Kalau ini jadi rumah gue sekarang, tolong bilang ke Ibu gue kalau gue bahagia di sini.”
“Lo belum setengah jalur,” kata Runa santai sambil membuka botol minumnya.
“Runa… gue butuh dua menit buat pura-pura lupa fakta itu.”
“Dua menit tidak mengubah jarak.”
“Tapi mengubah kondisi mental gue.”
Runa berpikir sejenak.“…Secara tidak langsung, itu masuk akal.”
“TERIMA KASIH,” kata Zidan dramatis.
Rehan sudah membuka carrier-nya. Ia mengeluarkan kotak makan yang dibungkus bubble wrap rapi terlalu rapi untuk ukuran pendakian.
Salsabilla menatap curiga.
“Rehan… itu apa?”
“Nasi set restoran Jepang.”
Hening.
“Lo bawa bento ke gunung?” tanya Salsabilla pelan.
“Ada salmon teriyaki, edamame, sama miso soup di thermos.”Jelas Rehan
“REHAN.”
“Gue juga bawa onigiri cadangan.”
Zidan langsung bangkit duduk.
“Ini yang lo maksud logistik matang?!”
“Makanan bergizi, higienis, dan terencana,” jawab Rehan tenang.
“Lo bawa MISO SOUP ke gunung!”
“Thermosnya anti bocor”
“ITU BUKAN POINNYA!”
Yazid duduk di ujung bangku sambil mengeluarkan bekalnya: nasi sederhana, cokelat energi, dan dua pisang. Praktis dan jelas dibuat untuk mendaki.
Ia melirik bento Rehan, lalu makanannya sendiri.
“Tukar?” tanyanya datar.
Rehan tertawa kecil. “Nggak.”
“Oke.”
Runa membuka sandwich yang sudah ia siapkan sesuai kebutuhan kalori pendakian. Energy bar dan jeruk kupas tersusun rapi di sampingnya.
Salsabilla mengeluarkan roti isi dan keripik kentang, ekspresi seseorang yang sadar pilihannya kurang ideal tapi sudah terlanjur.
Lalu Zidan membuka klip bag bening.
Rendang kering.
Aroma rempah langsung memenuhi shelter.
Semua kepala menoleh bersamaan.
“Itu… rendang Bu Ratna?” Rehan hampir tidak percaya.
“Dua kilo dari rumah,” jawab Zidan bangga. “Ibu nitip buat kalian juga.”
Ia mengeluarkan beberapa klip bag lain dengan label tulisan tangan.
Yazid biar kuat naik.
Runa tawarin duluan, dia pasti nggak minta.
Rehan terima kasih sudah jaga Zidan.
Salsabilla makan ya, jangan cuma foto.
Salsabilla membaca labelnya lalu menunduk sebentar, berkedip cepat.
Rehan tersenyum kecil, ekspresinya melembut.
Yazid menerima bagiannya dengan kedua tangan, diam lebih lama dari biasanya.
Runa mengangguk ringan. “Bu Ratna memahami karakter orang dengan sangat akurat.”
“Ibu gue itu Google versi kearifan lokal,” kata Zidan.
“Bukannya kemarin Bu Kantin?”
“Itu versi standar. Ibu gue versi premium.”
Mereka makan bersama dengan pemandangan lembah terbuka di sisi utara. Hamparan hijau terlihat seperti lukisan hidup, awan bergerak pelan di bawah mereka.
Tawa muncul di antara ledekan soal bento Rehan, rendang yang habis terlalu cepat, dan perdebatan apakah Yazid makan pelan karena menikmati atau memang begitu gaya makannya.
Ada sesuatu yang tidak diucapkan, tapi dirasakan semua orang.
Momen sederhana yang terasa sempurna.
Mereka belum tahu, momen seperti ini sering datang bersama harga yang tidak terlihat sejak awal.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪