NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07

Adinata Residence berdiri dalam diam yang terjaga.

Bukan sekadar kawasan hunian, melainkan ruang yang dibangun dengan batas yang jelas--siapa yang boleh masuk, dan siapa yang tidak.

Hanya lima unit rumah yang berdiri di dalamnya. Masing-masing megah, menjulang tiga lantai, dengan garis arsitektur tegas yang lebih menekankan fungsi daripada sekadar kemewahan.

Jarak antar rumah tidak dibuat rapat. Justru sebaliknya--lapang, seolah setiap penghuni diberi ruang untuk tetap berdiri sendiri, bahkan dalam lingkar keluarga yang sama.

Halaman luas terbentang di tiap unit. Taman tertata rapi, hijau yang dipangkas presisi. Kolam renang memantulkan langit tanpa riak, nyaris seperti kaca yang tak tersentuh.

Sunyi.

Bukan karena kosong, tapi karena terkendali.

Semua yang tinggal di sana memiliki satu nama yang sama--Adinata.

Tidak ada orang luar. Tidak ada kebetulan.

Dan di antara lima rumah itu, unit nomor tiga berdiri sedikit berbeda.

Bukan dari bentuknya, melainkan dari cara mencapainya.

Sebuah jalur memutar dibangun khusus, menyusuri sisi luar kawasan, menghindari jalan utama yang digunakan penghuni lain. Akses khusus yang tidak ditawarkan--ia diminta. Dan hanya satu orang yang menggunakannya.

Sagara Deva Adinata.

Rumahnya tetap berada di dalam lingkar yang sama. Namun caranya masuk, selalu berbeda.

Saat itu, siang mendekati terik, ketika

Mobil hitam meluncur masuk melalui jalur memutar, tanpa melewati gerbang utama Adinata Residence.

Tidak ada penjagaan terbuka di sana. Sistem keamanan bekerja tanpa suara--membaca, mengenali, lalu memberi akses tanpa pertanyaan.

Di kursi penumpang, Shafiya duduk diam.

Sejak keluar dari rumah sakit, ia tidak banyak bicara. Tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang tak ingin tumpah.

Agam tidak menoleh.

Matanya lurus ke depan, fokus pada waktu. 10.57.

Lima menit kemudian.

Mobil berhenti halus di depan unit nomor tiga.

Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung bergerak.

Sepersekian detik hening menggantung di dalam kabin. Agam menarik napas sekali. Terukur.

Lalu ia menoleh.

“Mulai dari sini, tidak ada ruang untuk kembali."

Kalimat itu tidak tinggi. Tidak menekan. Tapi cukup untuk membuat Shafiya menegang.

Gadis itu menoleh pelan.

“Kalau saya menolak?” Ia masih ragu, bahkan juga takut. Berharap ada arah pulang.

Agam menatapnya lurus. Dalam. Tanpa emosi yang bisa dibaca.

“Kamu sudah tidak bisa menolak."

Sunyi. Shafiya diam.bBukan karena setuju.

Tapi karena ia tahu--tidak ada jalan yang benar-benar terbuka untuknya sejak tadi.

Agam membuka pintu lebih dulu. Keluar, berdiri, lalu berjalan memutar.

Pintu di sisi Shafiya terbuka.

“Turun.”

Kali ini tidak ada pilihan yang disamarkan.

Shafiya menatapnya sejenak. Lalu, dengan napas yang masih tertahan di dada, ia turun.

"Mulai saat ini, namamu, Ariana."

Shafiya tersentak. Informasi belum utuh sampai dalam benak. Tapi Agam sudah memberi isyarat. Langkah beranjak.

Di depan mereka, pintu utama sudah terbuka.

Dan seseorang telah menunggu.

Dokter Raka berdiri di ambang, rapi, tenang--seolah waktu bukan masalah baginya.

Padahal ia sudah tiba sepuluh menit lebih awal.

Tatapan Raka langsung jatuh pada Shafiya.

Sekilas. Tapi cukup untuk membaca.

Cukup untuk menyadari--keberadaan gadis itu bukan rencana yang bersih.

Ia lalu beralih ke Agam. Bertanya tanpa kata.

"Ariana." Agam memberi isyarat ke Shafiya.

Raka diam, sesaat. Tidak ada waktu untuk bertanya lebih jelas.

Agam melangkah mendekat, melewati Raka.

“Dia di dalam?”

Raka mengangguk sekali.

“Dia sudah menunggu."

Agam mengangguk. Sesaat ambil napas, sebelum sama-sama melangkah bersamaan dengan Raka. Udara terasa lebih berat.

Karena kali ini--tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap untuk apa yang akan terjadi di dalam.

Pintu utama terbuka tanpa suara.

Langkah Agam lebih dulu masuk. Terukur, tanpa ragu. Shafiya mengikuti satu langkah di belakang.

Udara di dalam rumah itu terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih berat.

Dan di sana--Sagara sudah berdiri.

Bukan menyambut. Hanya berdiri di tengah ruang, dengan jarak yang sengaja dibiarkan.

Tatapannya langsung jatuh pada satu titik.

Shafiya.

Tidak berpindah. Tidak tergesa.

Juga tidak memberi ekspresi.

Seolah ia sedang membaca sesuatu yang tidak kasat mata.

Raka berdiri tak jauh dari sana. Diam. Mengawasi.

Agam juga berhenti. Tidak lagi bergerak maju.

Dan Shafiya--langkahnya terhenti dengan sendirinya.

Bukan karena diperintah.

Tapi karena tatapan Sagara itu.

Hening turun.

Tidak ada yang memperkenalkan.

Tidak ada yang memberi penjelasan.

Hingga Sagara melangkah satu kali. Berhenti.

Jarak mereka kini terasa lebih sempit, meski masih jauh untuk disebut dekat.

Tatapannya turun sesaat. Lalu kembali ke mata Shafiya. Lebih tajam. Lebih dalam.

Seolah memastikan.

Atau… membantah sesuatu yang bahkan belum diucapkan.

“Ariana.”

Satu kata. Datar.

Tanpa penekanan.

Tanpa pertanyaan.

Tapi justru terdengar menekan.

Shafiya tidak menjawab.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena ada sesuatu dalam cara lelaki itu menyebut nama--yang membuatnya ragu… apakah itu benar ditujukan untuknya, atau tidak.

“Kau terlambat.”

Masih dengan nada yang sama. Tenang dan dingin. Seolah keterlambatan itu bukan soal waktu--tapi soal sesuatu yang lebih besar.

Agam menahan napas. Ia tahu kata itu untuknya.

Di tempatnya, Raka tidak bergerak.

Dan Shafiya, saat itu ia benar-benar merasa… berada di tempat yang tidak seharusnya.

Sagara akhirnya berpaling. Satu detik saja.

Cukup untuk menarik jarak kembali.

“Masuk.”

Bukan ajakan.

Bukan pula perintah keras.

Tapi sesuatu di antaranya--sesuatu yang tidak memberi pilihan lain pada mereka selain patuh.

Dan tanpa menunggu, ia berjalan lebih dulu.

Meninggalkan tiga orang di belakangnya.

Seolah yakin--mereka akan mengikuti.

Sagara berhenti di ambang ruang kerja.

Ia tidak langsung masuk.

“Agam. Raka.”

Suaranya rendah. “Cukup sampai sini.”

Tidak ada penjelasan tambahan.

Tatapannya lalu bergeser sedikit ke Shafiya.

“Dia ikut aku."

Begitu Shafiya masuk, pintu lalu tertutup.

Hening langsung berubah jenis.

Lebih sempit. Lebih personal.

Sagara tidak duduk.

Ia berdiri di balik meja, sementara Shafiya--atau siapa pun ia saat ini--masih berdiri di dekat pintu.

Jarak itu… terasa disengaja.

“Nama.” Langsung. Tanpa basa-basi.

Shafiya menelan napas. Dadanya naik turun pelan. Pikirannya bekerja cepat:

Tentang didikan ayahnya.

Prinsip yang tak pernah ditawar.

Kejujuran. Lingkungan tempat ia dibesarkan.

Dan kenyataan yang sedang ia pijak sekarang. Semua menggiring pada satu kesimpulan: ia tak bisa menjadi, ataupun memakai nama orang lain.

Gadis itu mendongak.

Menatap lelaki di depannya yang bahkan tidak memberinya ruang untuk bersembunyi.

“...Elara.”

Ia sebutkan namanya.

Bukan Shafiya. Bukan sebagai Ariana.

Hening. Tidak tampak keterkejutan di wajah Sagara. Tidak ada respon langsung.

Tapi justru itu yang membuatnya lebih berat.

Sagara menatapnya. Tatapan yang tidak berubah.

“Elara,” ulangnya pelan.

Bukan mempertanyakan. Hanya mengulang.

Tepatnya seperti … menguji bagaimana nama itu terdengar. “Bukan Ariana.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Datar, tapi tepat sasaran.

Jantung Shafiya berdegup lebih keras.

Ia tidak menjawab.

Sagara melangkah satu kali, mendekat.Tidak terlihat agresif. Tapi cukup untuk membuat ruang gerak terasa menyempit.

“Menarik.” Satu kata terucap singkat.

Ia memiringkan kepala sedikit.

Mengamati gadis di depannya.

“Orang biasanya berbohong dengan rapi.”

Jeda ia ambil dengan sengaja.

“Bukan setengah seperti ini.”

Shafiya menggenggam ujung jemarinya sendiri.

Ia tahu … ia sedang dibaca. Dinilai.Bukan sekadar didengar.

“Saya tidak berbohong.”

Shafiya menjawab Pelan. Tapi jelas.

Namanya memang: Shafiyya Elara Hanum.

Sagara tidak langsung menyahut.

Tatapannya turun sekilas--ke tangan yang saling menggenggam itu.

Lalu kembali ke wajahnya.

“Juga tidak sepenuhnya jujur."

Dan kalimat itu--tidak menghukum. Tidak menghakimi. Tapi… membuka sesuatu yang tidak bisa Shafiya tutupi lagi.

“Kenapa tetap datang?”

Akhirnya, Sagara ucapkan pertanyaan.

Bukan lagi tentang nama. Bukan tentang identitas. Tapi tentang pilihan.

Mengapa Shafiyya tetap memilih datang.

Padahal ia bukan Ariana.

Shafiya terdiam.

Belum bisa menjawab.

Hening itu belum selesai.

Pertanyaan Sagara masih menggantung di udara--Kenapa tetap datang?

Namun sebelum jawaban sempat lahir. Ketukan terdengar.

Singkat. Terukur. Mendesak.

Sagara tidak menoleh, hanya memberi perintah.

“Masuk.”

Pintu terbuka.

Asistennya masuk dengan langkah cepat, tapi tetap terjaga. Wajahnya tidak panik--tapi terlalu tegang untuk disebut biasa.

“Saya perlu bicara, sekarang.”

Sagara menatapnya, satu detik.

Cukup untuk membaca bahwa ini memang bukan hal yang bisa ditunda.

“Katakan.”

Asisten itu menelan napas.

Lalu meletakkan satu tablet di atas meja.

Satu file terbuka.

“Identitas Ariana… sudah terverifikasi.”

Sagara menatap benda pipih itu sekilas, lalu diam. Satu isyarat yang dipaham oleh asistennya, bahwa ia harus menjelaskan, bukan membiarkan si bos besar membacanya sendiri.

"Ariana sudah meninggal, Tuan."

Sagara tidak menyela.

"Empat minggu lalu. Sebuah kecelakaan, ia meninggal di tempat."

Tidak ada yang jatuh--benda atau apapun, karena terkejut. Tidak ada suara keras.

Tapi sesuatu di ruangan itu--seperti runtuh tanpa bunyi.

Sagara tidak langsung bereaksi.

Tatapannya turun ke layar.

Membaca. Memastikan sendiri. Sekali saja.

Lalu layar itu ditutup perlahan.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya.

Tidak ada amarah.

Tidak ada keterkejutan yang kasat mata.

Hanya satu hal--rahangnya mengeras.

Sagara berbalik. Langkahnya menuju pintu.

Berhenti sesaat.

Tanpa menoleh ke arah Shafiya, ia berkata."

“Tunggu di sini.”

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!