Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Enam bulan kemudian, aula SMA Garuda dipenuhi oleh lautan toga biru tua. Aroma bunga sedap malam dan parfum mahal bercampur dengan rasa haru yang menyesakkan dada. Hari ini adalah hari kelulusan, momen yang dulu sangat ingin aku percepat agar bisa lari dari kota ini, namun kini terasa seperti gerbang yang berat untuk dilewati.
Aku berdiri di depan cermin besar toilet sekolah, merapikan kebaya kutubaru berwarna broken white yang dipadukan dengan kain batik parang. Di leherku, kalung kunci perak dari Arkan berkilau terkena lampu ruangan.
"Nara! Ayo, barisan kelas kita udah mau masuk aula!" seru Tasya yang tampil cantik dengan sanggul modernnya.
Aku mengangguk, namun mataku tetap tertuju pada ponsel di tangan. Belum ada pesan masuk dari Jakarta sejak tadi pagi.
Upacara Kelulusan
Acara berlangsung khidmat. Namaku dipanggil ke atas panggung sebagai salah satu lulusan terbaik jurusan IPA. Saat bersalaman dengan Kepala Sekolah, mataku menyisir barisan kursi undangan. Di sana ada Mama yang menghapus air mata bangga, dan Kak Pandu yang tampil gagah dengan kemeja batiknya, sibuk memotretku dengan kamera DSLR-nya.
Namun, satu kursi di samping Kak Pandu kosong.
"Dia nggak bisa dateng ya, Kak?" tanyaku lewat gerak bibir saat aku kembali ke kursi.
Kak Pandu hanya mengangkat bahu, wajahnya tampak datar, membuat hatiku sedikit mencelos. Arkan bilang minggu ini dia ada ujian studio maket yang sangat padat. Aku berusaha maklum, tapi tetap saja, ada bagian dari diriku yang merasa "asuransi" ini sedang absen di momen pentingku.
Setelah upacara selesai, kerumunan siswa mulai berhamburan ke lapangan untuk sesi foto terakhir. Aku berdiri di bawah pohon mahoni tempat Arkan dulu sering menungguku.
"Selamat ya, Dek. Akhirnya resmi jadi pengangguran terdidik," goda Kak Pandu sambil merangkul bahuku.
"Makasih, Kak. Mama mana?"
"Lagi ngambil konsumsi di kantin sama wali murid lain," jawab Kak Pandu. Ia kemudian merogoh saku celananya. "Eh, Arkan nitip ini. Katanya kalau dia nggak sempet telpon, baca ini aja."
Ia menyodorkan sebuah gulungan kertas kalkir yang diikat dengan pita biru. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Di sana bukan surat cinta, melainkan sebuah denah lokasi yang digambar dengan teknik arsitektur yang sangat rapi. Ada garis panah merah yang mengarah ke: Markas Rahasia.
Di bawahnya tertulis kecil: "Hadiah kelulusan lo ketinggalan di meja sketsa. Ambil sendiri, Tuan Putri. Gue lagi asistensi dosen, nggak bisa anter."
Aku mendengus pelan, sedikit kecewa karena dia bahkan tidak menelepon. Dengan perasaan campur aduk, aku meminta Kak Pandu mengantarku ke gudang tua itu.
"Gue tunggu di luar ya, mau ngerokok bentar," ucap Kak Pandu saat kami sampai di depan pintu besi yang berderit itu.
Aku masuk sendirian. Ruangan itu remang-remang, hanya cahaya matahari sore yang menerobos dari ventilasi atas. Namun, aroma cat kayu dan parfum maskulin yang sangat kukenal mendadak terasa begitu kuat. Jantungku berdetak kencang saat melihat meja sketsa di tengah ruangan.
Di atas meja itu, ada sebuah kotak kayu besar. Begitu aku membukanya, isinya membuatku menutup mulut karena terkejut. Sebuah maket apotek modern dengan papan nama kecil di depannya: "Apotek Nara "
"Bagus nggak rancangannya? Gue bikin itu tiga minggu nggak tidur," sebuah suara rendah terdengar dari balik tirai kanvas di sudut ruangan.
Aku berbalik. Arkan berdiri di sana. Masih memakai kemeja rapi, tapi wajahnya tampak sangat lelah—dan sangat bahagia. Ia memegang sebuah buket besar bunga Daisy asli yang masih segar.
"Arkan! Lo bilang nggak bisa dateng!" teriakku, langsung menghambur ke pelukannya.
"Mana mungkin gue lewatin hari di mana Tuan Putri gue resmi jadi calon Apoteker?" ia tertawa, membalas pelukanku erat, hingga bau kemejanya yang bercampur keringat dan aroma Jakarta terasa begitu nyata. "Maaf ya telat. Pesawat gue delay dua jam, terus gue harus mampir ambil bunga ini dulu."
Aku melepaskan pelukan, menatap maket apotek impianku di atas meja. "Ini hadiah kelulusannya?"
"Itu janji, Ra. Janji kalau gue bakal terus bangun masa depan kita, seberapa pun jauhnya gue harus pergi," Arkan mengecup keningku. "Lulus SMA itu bab penutup masa remaja kita yang berantakan. Sekarang, ayo kita tulis bab dewasa kita yang lebih berani. Lo di Farmasi, gue di Arsitektur. Kita jadi tim paling solid, oke?"
Aku mengangguk mantap, menggenggam gantungan daisy di tanganku yang kini terasa seperti medali kemenangan sejati. Hari ini aku lulus, bukan hanya dari sekolah, tapi dari rasa takutku sendiri.
Di luar, suara Kak Pandu berteriak, "Woy! Udah jam lima! Inget aturan rumah ya!" Kami berdua tertawa, melangkah keluar markas dengan tangan bertautan, siap menghadapi dunia yang lebih luas dengan asuransi cinta yang tak akan pernah habis.