"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Meskipun Velia sudah memberi Seana banyak nasehat semalam, hingga Seana sama sekali tidak bisa tidur. Tetapi karena desakan Sanzio, baik pria itu maupun Seana harus tetap tinggal bersama selama pernikahan palsu mereka masih berlaku. Seana adalah orang yang terlalu jujur sehingga Velia takut jika sahabatnya itu akan membocorkan rahasia mereka secara tidak sengaja.
"Aku ngga yakin, tapi selama Pak Zio ngga banyak nanya soal malam di kamar hotel itu, seharusnya itu bukan masalah." Jawab Seana.
"Emangnya lo tau kalau dia ngga bakalan banyak nanya?." Tanya Velia. Seana menatap Velia dengan raut wajah panik. Tetapi Velia kemudian menghela napasnya."Lo lupa, gue pernah bilang apa sama lo?."
"Apa?." Seana mengernyitkan dahinya.
"Kalau Pak Zio mulai nanya tentang hal itu, lo harus berusaha mengakhiri topik itu secepat mungkin. Lo ngga boleh biarin dia mikirin tentang hal itu sedetik pun! Kalau Pak Zio terus mikirin itu, kita berdua bisa kacau. Inget itu, Seana!." Kata Velia dengan tegas.
Seana menganggukkan kepalanya dengan tegas." Ya, aku ngga akan lupa kata-kata kamu."
"Lo ngga boleh biarin Pak Zio mikirin itu sedetik pun!." Katanya lagi.
"Iya aku paham, Velia cantik." Seana kembali menganggukkan kepalanya.
Mereka tahu betapa cerdiknya Sanzio. Jika Seana mencoba menghindari topik tersebut, pria itu pasti akan menyadari sesuatu! Velia terdiam karena takut sekaligus khawatir. Sebelumnya, Seana hanya perlu berurusan dengan Sanzio ditempat kerja, tetapi sekarang Seana juga harus menghadapi Sanzio di malam hari. Orang cenderung akan melakukan kesalahan yang seharusnya tidak mereka lakukan pada waktu-waktu seperti itu.
Velia menarik napasnya dalam-dalam, lalu bertanya dengan nada pasrah. "Seana, gue berharap lo ngga akan seret nama gue. Karena lo sendiri tau, kalau gue ikut terlibat, otomatis bokap gue juga kena dan itu pasti berimbas ke bisnisnya. Jadi, kejayaan perusahaan bokap gue ada ditangan lo."
Keduanya sudah terlibat dalam masalah ini, sejauh ini. Jadi Velia tidak bisa berbuat apa-apa, selain menerima kenyataannya itu.
Seana mengangguk sekali lagi. "Makasih, kamu udah dengerin aku cerita waktu itu dan bantuin aku merusak barang buktinya. Tanpa kamu, mungkin sekarang aku udah ketahuan. Kamu jangan khawatir, andai terjadi sesuatu, aku ngga akan bawa-bawa nama kamu. Ini rahasia kita berdua." Kata Seana penuh keyakinan.
Ya, itu sama sekali bukan urusan Velia. Sanzio selalu teliti dalam melakukan sesuatu. Seana telah menjadi asistennya selama ini, jadi Velia mungkin tahu apa yang mampu dilakukan Seana. Jika Sanzio mengetahui bahwa Velia juga terlibat dalam bukti rekaman yang rusak, Sanzio pasti akan menyelidikinya secara detail. Selain itu, Velia tahu betapa cerobohnya Seana.
"Huh!." Velia menghela napas. Dia benar-benar khawatir pada Seana. Velia memberi nasehat sahabatnya beberapa nasehat terakhir.
Seana sedang dalam suasana hati yang baik, jadi dia menyetujui apa pun yang Velia katakan padanya. Dan Seana juga tidak menangis. Velia agak tidak bisa berkata-kata ketika melihat wajah ceria Seana, padahal keadaan mereka belum aman.
"Kok lo keliatan bahagia banget? Beda dari sebelumnya."
Biasanya Seana akan menangis ketakutan atau cemberut karena mengingat hal seperti ini, tetapi Seana tidak terlihat ketakutan hari ini.
"Karena aku bakalan jadi kaya raya setelah pernikahan palsu ini berakhir." jawab Seana dengan senyum cerah diwajahnya.
Seana akan menjadi kaya raya? Semua karyawan di sini mengenal Seana sebagai orang yang paling sederhana, dan kadang dianggap miskin hanya karena punya banyak hutang dan masih memiliki cicilan rumah, tetapi sekarang Seana mengatakan yang sebaliknya?
Seana lalu bercerita tentang Sanzio yang berjanji akan memberinya uang kompensasi sebesar lima miliar, serta uang bulanan sebesar tiga puluh juta.
Setelah mengetahui hal itu, Velia sekarang memahami perasaan Seana, rasa takut tidak akan terasa apa-apa ketika uang besar sudah terlibat. "Kalau gitu lo harus bertahan demi uang yang menggiurkan itu."
"Kan, emang udah aku lakuin."
Seana harus mendapatkan uang lima miliar itu, apa pun yang terjadi.
....
Kabar tentang Mike yang akan pensiun akhir tahun ini, entah bagaimana bisa menyebar dengan cepat, dan kabar tentang promosi untuk menjadi asisten eksekutif juga menyebar ke seluruh departemen perusahaan. Tak lama lagi, perebutan jabatan tersebut pun di mulai.
Dua karyawan yang berpeluang dipromosikan adalah Melani, yang kemampuannya selalu di puji oleh Mike, dan Ardila, salah satu karyawan yang sangat mahir dalam menjaga hubungan baik dengan para klien besar.
Setumpuk berkas tebal dibanting ke meja kerja Seana, meski terkejut, Seana mendongak, pandangannya bertemu dengan tatapan acuh tak acuh Melani. Seana mengernyitkan dahinya. "Apa ini?."
Melani memainkan kuku-kukunya cantiknya. Rambut pendeknya mencapai pundaknya, dan bibirnya dipoles dengan lipstik semerah mawar. Wanita itu tampak cakap dan bergaya. Dia tersenyum sinis, ketika menatap Seana. "Seana, kirim dokumen-dokumen ini ke Enfield Corporation, tolong!."
Meskipun Melani mengatakan kata "tolong", tetapi ada nada memerintah dalam suaranya.