"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Penyerangan di Apartemen
Bab 10: Penyerangan di Apartemen
Malam itu, Jakarta Pusat dibalut hujan rintik yang menyamarkan suara ban mobil di atas aspal basah. Alana berdiri di balkon apartemen rahasianya—sebuah unit penthouse yang disewa Tuan Wijaya atas nama perusahaan cangkang untuk menyembunyikan putrinya dari teror pesan singkat yang kian menggila.
Alana menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya masih sisa pucat akibat demam kemarin, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Kejadian semalam, saat Kenzi merawatnya dengan ketenangan mekanis yang aneh, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Nona, segera menjauh dari kaca. Jarak pandang dari gedung seberang terlalu ideal untuk optik jarak jauh," suara Kenzi memecah keheningan.
Kenzi berdiri di tengah ruang tamu yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu. Baginya, kegelapan adalah sekutu data. Ia sedang mengenakan rompi taktis tipis di balik kemeja hitamnya, tangannya memegang tablet yang menampilkan diagram panas (heat map) dari sensor gerak yang ia pasang di lorong darurat.
"Kau terlalu paranoid, Kenzi," gumam Alana, meski ia tetap melangkah mundur ke area tengah ruangan. "Ini lantai tiga puluh. Siapa yang akan—"
Kalimatnya terputus oleh suara thud yang sangat pelan dari arah pintu masuk. Hampir tidak terdengar oleh telinga manusia biasa, namun bagi Kenzi, itu adalah frekuensi yang sudah ia tunggu.
Analisis Akustik: Suara gesekan logam pada kunci elektronik. Waktu intrusi: 0,4 detik. Jumlah penyusup terdeteksi: Tiga.
"Tiarap!" Kenzi menerjang Alana, menarik gadis itu ke belakang sofa beton bergaya minimalis.
Brak!
Pintu depan meledak ke dalam. Bukan dengan bahan peledak, melainkan dengan tendangan bertenaga hidrolik yang menghancurkan engsel baja. Dua pria bertopeng dengan seragam taktis serba hitam masuk dengan gerakan terlatih. Mereka tidak membawa senjata api—terlalu bising untuk lingkungan elit ini—melainkan pisau taktis dan tongkat listrik bertegangan tinggi.
"Tetap di sini. Jangan bergerak satu milimeter pun dari balik sofa ini," bisik Kenzi. Matanya berkilat dingin.
Kenzi bangkit dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Sebelum penyusup pertama sempat menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan, Kenzi sudah berada dalam jarak jangkauannya.
Penyusup pertama mengayunkan tongkat listriknya. Kenzi tidak menghindar jauh; ia justru merapat. Dengan teknik close quarters combat (CQC) yang brutal, Kenzi menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar suara tulang retak, dan menggunakan tubuh lawan tersebut sebagai perisai saat penyusup kedua menusukkan pisau komandonya.
Srak!
Pisau itu menancap di bahu rekannya sendiri. Kenzi tidak membuang waktu. Ia memberikan tendangan lateral tepat ke tempurung lutut penyusup kedua, meruntuhkan keseimbangannya dalam hitungan detik.
"Logika bertarung kalian lemah," ujar Kenzi datar. Ia mencabut pisau dari bahu mayat yang ia pegang dan melemparkannya dengan akurasi 100% ke arah tangan penyusup kedua yang hendak meraih alat komunikasi.
Namun, ancaman sebenarnya baru saja muncul. Dari jendela balkon yang tadi ditempati Alana, penyusup ketiga masuk. Dia lebih besar, lebih tenang, dan membawa aroma profesionalisme yang berbeda. Lawan bisnis Wijaya tidak main-main—ini adalah pembunuh bayaran tingkat "Viper".
"Kenzi... ada satu lagi di belakangmu!" Alana berteriak dari balik sofa, suaranya gemetar.
Kenzi berputar. Viper itu menyerang dengan rangkaian pukulan linier yang sangat cepat. Ruang sempit apartemen menjadi medan perang yang mematikan. Meja kaca hancur berkeping-keping saat tubuh Viper terlempar mengenainya, namun pria itu segera bangkit.
Analisis Target: Viper. Gaya bertarung: Krav Maga modifikasi. Kondisi fisik: 95%. Estimasi waktu eliminasi: 45 detik.
Viper mengeluarkan kawat filamen tipis dari pergelangan tangannya. Senjata pembunuh senyap. Ia mengayunkannya ke arah leher Kenzi. Kenzi mundur, punggungnya menabrak dinding kayu. Kawat itu memotong sandaran kursi kulit seperti memotong mentega.
"Kau lumayan untuk seorang pengawal rumah tangga," geram Viper.
Kenzi menyipitkan mata. Ia meraih lampu meja logam di dekatnya. Bukan untuk memukul, melainkan untuk menggunakan kabelnya sebagai konduktor. Dalam manuver yang sangat teknis, Kenzi membiarkan Viper mendekat, lalu ia menyambar tongkat listrik milik penyusup pertama yang tergeletak di lantai.
Kenzi menyambungkan arus listrik dari tongkat itu ke kaki meja logam yang kini disentuh oleh Viper yang sedang memegang kawat logam.
Zzap!
Arus listrik ribuan volt merambat melalui kawat filamen langsung ke jantung Viper. Pria itu kejang-kejang sesaat sebelum ambruk, aromanya hangus memenuhi ruangan.
Hening kembali menyelimuti apartemen, hanya menyisakan suara deru hujan dan napas Alana yang tersengal. Kenzi berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit sobek di bagian lengan. Ia memeriksa denyut nadi ketiga penyusup tersebut dengan ujung sepatunya.
Status: Satu eliminasi permanen, dua lumpuh total.
"Kenzi..." Alana merangkak keluar dari balik sofa. Ia menatap kekacauan di depannya dengan mata terbelalak. Darah, pecahan kaca, dan mayat di tengah kemewahan. "Kau... kau membunuhnya?"
Kenzi menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan, tidak juga kemenangan. Hanya kekosongan yang mengerikan. "Saya menetralisir ancaman. Dalam kalkulasi saya, membiarkan dia hidup hanya akan membahayakan Anda di masa depan."
Alana mendekati Kenzi, kakinya gemetar. Ia melihat Kenzi memeriksa luka gores kecil di pipinya sendiri dengan ekspresi yang sama seperti saat ia memeriksa suhu tubuh Alana kemarin.
"Siapa sebenarnya kau?" bisik Alana. "Bodyguard biasa tidak bertarung seperti itu. Kau bergerak seolah-olah... seolah-olah kau sudah tahu setiap gerakan mereka sebelum mereka melakukannya."
Kenzi menatap Alana. Untuk sesaat, ia ingin memberikan jawaban jujur tentang pelatihannya di organisasi gelap, tentang dendam ayahnya, tentang alasan mengapa ia begitu efisien dalam mencabut nyawa. Namun, logikanya segera memblokir keinginan itu.
"Saya adalah hasil dari investasi besar Ayah Anda untuk memastikan Proyek Phoenix tidak terhenti karena kematian putrinya," jawab Kenzi kaku.
"Bohong!" Alana meraih kerah kemeja Kenzi, memaksa pria itu menatapnya. "Ayahku tidak pernah menemukan orang seperti ini. Kau punya agenda sendiri, kan? Katakan padaku!"
Tepat saat itu, alarm apartemen mulai melolong. Keamanan gedung telah mendeteksi intrusi. Kenzi tahu ia harus segera membawa Alana pergi sebelum polisi datang dan mengajukan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
"Agenda saya adalah menjaga Anda tetap hidup, Nona. Setidaknya untuk malam ini," Kenzi menarik tangan Alana dari kerahnya. Ia menggendong gadis itu ala bridal style untuk menghindari pecahan kaca di lantai.
"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" protes Alana, meski wajahnya merona merah karena kedekatan fisik yang mendadak ini.
"Waktu kita adalah 180 detik sebelum akses lift dikunci secara otomatis. Berdebat adalah penggunaan waktu yang tidak efisien," Kenzi berjalan menuju pintu darurat dengan langkah stabil, seolah beban Alana tidak lebih berat dari sehelai bulu.
Di dalam tangga darurat yang remang-remang, Alana menyandarkan kepalanya di bahu Kenzi. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu. Stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja melakukan pembantaian.
Dia benar-benar mesin, pikir Alana dengan rasa getir. Namun, entah mengapa, di dalam pelukan "mesin" ini, ia merasa jauh lebih aman daripada di dalam pelukan ayahnya sendiri.
Kenzi terus menuruni tangga, namun monolog internalnya mulai bergejolak. Risiko paparan identitas: Meningkat. Musuh mulai mengirim aset tingkat tinggi. Aku harus mempercepat pengambilan data dari brankas Wijaya sebelum rumah ini menjadi zona perang total.
Malam itu, Alana menyadari satu hal: Bahaya terbesar bukanlah orang-orang bertopeng yang mendobrak pintunya, melainkan pria yang kini sedang mendekapnya erat-erat.