NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas

​Awal semester ganjil di kelas dua SMP seharusnya menjadi waktu bagi para siswa untuk mulai memikirkan kenangan masa remaja. Namun, bagi Bima dan Senara, ini adalah awal dari musim perburuan. Poin-poin prestasi akademik bukan lagi sekedar angka, melainkan tumpukan batu bata yang mereka susun untuk membangun benteng pertahanan. Siapa pun yang memiliki tumpukan paling tinggi di akhir semester, dialah yang akan memegang kunci menuju SMA terbaik di negeri ini.

​Di SMP Super Internasional, Bima memulai harinya dengan rutinitas yang membosankan namun mematikan. Pukul tujuh pagi, ia sudah duduk di perpustakaan sekolah yang sepi, mengulas materi Kalkulus yang sebenarnya baru akan diajarkan dua bulan lagi. Ia tidak bisa memberikan celah sedikit pun. Di sekolah ini, anak-anak orang kaya lainnya mulai menyewa konsultan pendidikan dari luar negeri untuk mengejar posisinya.

​"Bima, ini daftar proyek sains kolaborasi untuk bulan depan," ucap Darmono, guru Fisika sekaligus koordinator prestasi sekolah. Ia meletakkan sebuah map di depan Bima. "Sekolah ingin kamu memimpin tim. Jika proyek ini menang di tingkat provinsi, poinmu akan sulit dikejar oleh siapa pun di angkatan ini."

​Bima menatap map itu dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. "Siapa saja anggota timnya, Pak?"

​"Pilih saja siapa pun yang kamu mau, semua anak di sekolah ini akan merasa terhormat jika satu tim denganmu," jawab Darmono dengan nada yang terdengar seperti penjilat.

​Bima mendengus pelan. Ia tahu bahwa satu tim dengannya berarti ia yang akan mengerjakan sembilan puluh persen tugasnya, sementara yang lain hanya akan menumpang nama dan membayar biaya operasional. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya butuh poin itu, ia butuh daftar prestasinya terlihat begitu berkilau sehingga ayahnya tidak punya alasan untuk mencaci-makinya saat makan malam singkat mereka yang langka.

​"Saya akan kerjakan sendiri, Pak. Saya tidak butuh tim yang hanya akan memperlambat logika saya," ujar Bima dingin.

​Darmono tertegun, namun ia hanya bisa mengangguk. Di sekolah ini, Bima adalah aset yang lebih berharga daripada gedung laboratorium itu sendiri.

​Di belahan kota yang lain, Senara sedang berdiri di depan papan pengumuman SMP Negeri 12. Namanya tercantum sebagai peringkat satu umum untuk hasil tes diagnostik awal semester. Namun, di bawah namanya, ada coretan spidol merah yang bertuliskan. "Anak kesayangan guru, pantas saja, dapat bocoran soal."

​Senara menghela napas, ia menghapus coretan itu dengan ujung seragamnya yang kasar. Tuduhan seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, Senara harus belajar di antara suara gaduh tetangganya yang bermain kartu atau suara tv tua yang volumenya dipaksakan maksimal.

​"Nara, dipanggil Bu kepsek ke ruangan," lapor seorang siswa dengan nada malas.

​Senara merapikan rambutnya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Di sana, ia ditawari sebuah tantangan yang berat.

​"Senara, sekolah kita terpilih untuk ikut Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). Tapi, jujur saja, anggaran sekolah sangat terbatas. Sekolah tidak bisa membelikan alat-alat laboratorium yang canggih atau bahan kimia mahal," ucap Maria, kepala sekolah, dengan raut wajah menyesal. "Tapi jika kamu bisa memenangkan ini dengan bahan-bahan seadanya, poinmu untuk jalur prestasi SMA akan sangat aman. Kamu tahu sendiri, sainganmu dari sekolah elit itu pasti punya fasilitas lengkap."

​Senara terdiam sejenak. Ia memikirkan Bima, ia membayangkan Bima sedang duduk di lab mewahnya dengan mikroskop elektron dan sensor laser terbaru. Sementara dia? Dia mungkin hanya punya botol plastik bekas dan kertas lakmus sisa tahun lalu.

​"Saya akan coba, Bu. Saya akan cari cara agar logika saya lebih kuat daripada alat-alat mahal mereka," jawab Senara dengan keyakinan yang dipaksakan.

​Setelah informasi lomba itu, kehidupan mereka berubah menjadi seperti mesin. Bima menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli jurnal-jurnal penelitian internasional agar proyek sainsnya memiliki landasan teori yang tak terbantahkan. Ia sering berada di laboratorium sekolah hingga penjaga sekolah harus mengusirnya pulang pada pukul tujuh malam.

​Suatu sore, Bima sedang mengamati reaksi kimia di dalam tabung reaksi ketika asisten ayahnya menelpon.

​"Tuan Muda, Tuan Adi berpesan agar Anda tidak hanya fokus pada satu proyek. Beliau ingin Anda juga mengambil sertifikasi bahasa Mandarin tingkat lanjut semester ini. Beliau bilang, juara sains saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin perusahaan di masa depan."

​Bima melempar pipetnya ke meja. "Bilang pada Papa, aku bukan robot yang bisa diprogram dengan sepuluh perintah sekaligus!"

​"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menyampaikan pesan. Beliau bilang, jika Anda tidak bisa melakukannya, mungkin liburan akhir tahun Anda ke Swiss harus dibatalkan dan diganti dengan kelas tambahan."

​Bima mematikan teleponnya dengan kasar. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca laboratorium. Ia terlihat lelah, kantung matanya menghitam, dan wajahnya tampak lebih tua dari remaja usia empat belas tahun lainnya. Namun, ia kembali mengambil pipetnya. Ketakutannya akan kekecewaan ayahnya jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.

​Di tempat lain, Senara sedang mengumpulkan sampel air sungai yang kotor di dekat pasar, ia menggunakan botol bekas selai yang sudah dibersihkan. Rencananya adalah membuat alat filtrasi air bertenaga surya dari barang-barang bekas untuk proyek LKIR-nya.

​Bau air sungai itu sangat menyengat, dan beberapa orang pasar meneriakinya karena dianggap menghalangi jalan.

​"Ngapain sih, Dek, main air got kok pakai seragam?" ejek seorang pedagang sayur.

​Senara tidak membalas, ia fokus mencatat tingkat kekeruhan air tersebut. Tiba-tiba, gerimis turun. Senara buru-buru membungkus botol-botolnya dengan plastik. Ia harus berjalan kaki satu kilometer menuju warnet terdekat untuk mencari jurnal pendukung, karena ia tidak punya kuota internet di ponselnya yang layarnya retak.

​Di warnet, Senara duduk di pojok yang paling gelap agar tidak diganggu. Ia hanya punya uang lima ribu rupiah, yang berarti ia hanya punya waktu satu jam untuk mengunduh semua materi yang ia butuhkan. Jarinya bergerak sangat cepat di atas keyboard yang tombolnya sudah terkelupas.

​Saat sedang asyik membaca sebuah artikel ilmiah internasional, ia melihat sebuah nama yang familiar di kolom komentar diskusi jurnal tersebut. Bima_Wijaya99.

​Bima sedang mendebat seorang profesor dari universitas di luar negeri tentang teori termodinamika. Komentarnya sangat tajam, sombong, dan menunjukkan betapa banyak buku yang sudah ia baca.

​Senara tersenyum getir. "Jadi kamu ada di sini juga, Bima? Kamu sedang membangun bentengmu dengan emas, ya?"

​Senara ingin membalas komentar itu, ingin menunjukkan bahwa logika Bima memiliki celah. Namun, pengingat waktu di layar monitor warnet berbunyi. Waktunya habis, ia harus pergi sebelum tagihannya membengkak.

​Minggu berikutnya, sekolah mereka mengadakan "Simulasi Ujian Gabungan" yang diikuti oleh beberapa sekolah menengah di wilayah tersebut. Meskipun hanya simulasi, bagi Bima dan Senara, ini adalah medan latihan untuk saling menjatuhkan mental.

​Hasilnya keluar tiga hari kemudian. Di papan pengumuman gabungan yang diunggah secara online, nama mereka kembali berdampingan.

​1. Bima Arkana Adhikara Wijaya (Skor: 99,5)

Senara Zafira Atmaja (Skor: 99,2)

​Hanya selisih 0,3 poin.

​Bima menatap layar ponselnya di dalam mobil, ia tidak merasa lega meskipun berada di peringkat satu, selisih itu terlalu tipis. Itu artinya, satu kesalahan kecil saja dalam memilih jawaban pilihan ganda bisa membuatnya terjungkal.

​"Dia mengejarku lagi," desis Bima. "Bahkan tanpa buku-buku mahal, dia bisa mendapatkan skor 99,2?"

​Sementara itu, Senara yang melihat hasil itu di ponsel milik temannya, merasa sedikit kecewa namun tetap bersemangat. "0,3 poin... sedikit lagi. Aku hanya butuh lebih banyak waktu untuk belajar, dan aku akan melampauinya."

​Persaingan mereka di awal semester ini menjadi semakin personal. Mereka berdua sama-sama menimbun nilai, menimbun prestasi, dan menimbun rasa lelah. Di sekolah masing-masing, mereka dipuja sebagai bintang, namun di dalam hati, mereka merasa seperti tahanan yang sedang berusaha membeli kebebasan dengan nilai-nilai sempurna.

​Luka batin mereka belum sembuh, malah tertutup oleh tumpukan kertas ujian dan laporan praktikum. Dan mereka tidak sadar, bahwa semakin tinggi mereka membangun benteng itu, semakin keras pula benturan yang akan terjadi saat mereka akhirnya bertemu kembali di lomba tingkat provinsi bulan depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!