NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Akad di Balik Lensa

Cerita ini akan fokus pada pembangunan kembali kehidupan Arlan dan Adelia dari titik nol secara finansial, namun kaya secara visi, serta dinamika pernikahan mereka yang sederhana namun penuh tantangan.

​Pagi di Jakarta Timur tidak pernah sesunyi di Uluwatu, namun bagi Adelia, suara kicauan burung di dahan pohon mangga tua di halaman belakang rumah ibunya terasa jauh lebih sakral daripada musik orkestra manapun. Hari ini bukan tentang karpet merah, bukan tentang gaun safir seharga puluhan juta, dan pastinya bukan tentang lampu blitz wartawan yang haus akan skandal. Hari ini adalah tentang sebuah janji yang diucapkan di depan wali dan saksi yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang.

​Adelia menatap pantulan dirinya di cermin rias sederhana. Ia mengenakan kebaya putih tulang dengan brokat halus hasil jahitan penjahit langganan ibunya di pasar dekat rumah. Tidak ada tiara berlian, hanya ronce melati yang wanginya menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Di sampingnya, ibunya mengusap bahunya lembut.

​"Arlan sudah datang, Del. Dia terlihat tampan, meski wajahnya pucat sekali karena gugup," bisik ibunya sambil terkekeh pelan.

​Adelia tersenyum tipis. Arlan sang "Naga", sutradara yang bisa membentak seratus kru di tengah badai pelabuhan, ternyata bisa dibuat ciut oleh seorang penghulu dan selembar teks ijab kabul.

​Di ruang tamu yang telah disulap menjadi ruang akad sederhana dengan alas karpet tebal dan hiasan bunga sedap malam, Arlan duduk bersila. Ia mengenakan beskap putih dengan kain batik motif parang. Tangannya yang biasa memegang kamera kini berkeringat dingin. Ia menoleh sekilas saat Adelia dituntun keluar oleh sang ibu. Jantung Arlan seolah berhenti berdetak—bukan karena tuntutan estetika visual, tapi karena kesadaran bahwa wanita di depannya adalah satu-satunya manusia yang tetap berdiri saat dunianya runtuh berkali-kali.

​"Saudara Arlan Wijaya bin Surya Wijaya...." sang penghulu memulai prosesi.

​Arlan menarik napas dalam. Saat ia menjabat tangan wali Adelia, ia tidak lagi merasa seperti anak buangan klan Wijaya. Ia merasa seperti pria baru.

​"Saya terima nikahnya dan kawinnya Adelia Paramita binti almarhum Hadi Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

​Suara Arlan lantang, bergema di ruangan kecil itu. Kata "Sah" yang diucapkan para saksi terasa seperti bunyi clapperboard terakhir yang menandakan selesainya film masa lalu mereka yang kelam, dan dimulainya adegan pertama dari hidup yang baru.

​Setelah prosesi akad yang khidmat, pesta kecil diadakan di halaman belakang. Menu makanannya adalah masakan rumah: rendang buatan ibu Adelia, ayam goreng lengkuas, dan es kelapa muda. Tidak ada kaviar atau sampanye. Reihan Malik datang mengenakan kemeja batik kasual, tertawa paling keras di antara tamu yang sedikit itu.

​"Siapa sangka, sutradara paling jenius se-Asia Tenggara menikah di bawah pohon mangga," canda Reihan sambil menyalami Arlan. "Tapi jujur, ini pesta terbaik yang pernah kudatangi. Tidak ada akting di sini."

​Arlan tertawa, merangkul bahu sahabatnya itu. "Uangnya sudah habis buat bayar royalti ke Paman Hendra, Rei. Ini modal terakhir yang tersisa di dompet."

​"Tapi kamu punya harta yang lebih besar, Lan," balas Reihan serius, melirik Adelia yang sedang sibuk melayani tamu-tamu sepuh.

"Jaga dia. Dan jaga studio kita. Aku dengar kalian mau mulai dari awal?"

​Arlan mengangguk. "Ya. Kami kembali ke Jakarta, tapi tidak ke kantor mewah di SCBD itu lagi. Kami sudah menyewa sebuah ruko kecil di daerah pinggiran Selatan. Lantai satu untuk studio, lantai dua untuk tempat tinggal kami."

​Adelia mendekat, membawakan piring kecil berisi potongan rendang untuk Arlan. "Bahas kerjaan terus. Hari ini cuti, Arlan."

​"Hanya sebentar, Nyonya Wijaya," goda Arlan, yang membuat pipi Adelia merona merah.

​Sore harinya, setelah tamu terakhir pulang, Arlan dan Adelia duduk di bangku kayu di halaman belakang. Sisa-sisa bunga melati masih harum di udara. Mereka menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

​"Kita benar-benar memulainya dari bawah lagi, ya?" tanya Adelia pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.

​"Bukan dari bawah, Adel. Dari fondasi yang benar," koreksi Arlan. "Dulu kita membangun di atas pasir yang dipenuhi intrik keluargaku. Sekarang, kita membangun di atas tanah kita sendiri. Ruko itu mungkin kecil, tidak ada AC pusat, dan mungkin kita akan sering mendengar suara pedagang lewat saat sedang editing, tapi itu milik kita. Tanpa utang, tanpa jaminan, tanpa Hendra."

​Adelia menghela napas lega. "Aku sudah mengemasi barang-barang dari apartemen lama. Besok kita mulai pindahan ke ruko itu?"

​"Besok. Dan lusa, tim 'Resonansi' akan datang untuk rapat pertama. Kita punya banyak rencana untuk mendatangi sekolah-sekolah film di pinggiran. Uang mungkin tidak banyak, tapi semangat mereka adalah bahan bakar kita."

​Arlan meraih tangan Adelia, melihat cincin emas sederhana di jari manisnya. "Maaf ya, maharnya hanya segitu. Aku janji, suatu saat aku akan membelikanmu sesuatu yang lebih layak."

​"Arlan, dengar," Adelia menangkup wajah suaminya. "Mahar terbaikmu adalah saat kamu merobek kontrak Hendra dan memilih aku. Aku tidak butuh emas batangan. Aku hanya butuh kamu tetap menjadi Arlan yang punya hati di balik lensa kameranya."

​Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masa depan. Tidak ada rasa takut akan kemiskinan, karena mereka sudah pernah mencicipi titik terendah dan berhasil selamat. Keberhasilan film Detak Jakarta di platform global memang memberikan nama besar, namun secara finansial, uangnya mengalir ke kantong Hendra Wijaya sebagai kompensasi kebebasan mereka. Mereka adalah "pemenang yang bangkrut", namun mereka merasa jauh lebih kaya daripada saat memiliki saldo miliaran namun jiwa yang tertekan.

​Di dalam rumah, ibu Adelia menatap mereka dari balik jendela dengan air mata bahagia. Ia tahu putrinya telah menemukan pria yang tepat—bukan karena hartanya, tapi karena keberaniannya untuk melepaskan segalanya demi sebuah kebenaran.

​Saat bintang mulai muncul satu per satu di langit Jakarta, Arlan berbisik, "Selamat datang di kehidupan baru, Partner."

​"Selamat datang di realita, Sutradara," balas Adelia sambil tersenyum.

​Babak pertama pernikahan mereka telah dimulai. Tanpa skenario, tanpa sutradara selain takdir, dan tanpa akhir yang pasti. Namun bagi mereka berdua, itulah keindahan dari sebuah awal yang jujur.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!