NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Tiga bulan kemudian

Sudah hampir tiga bulan sejak Amara meninggalkan segalanya di Jakarta. Rumah besar kedua milik keluarga Marvionne di pinggiran kota Bandung kini menjadi tempat ia berlindung dari masa lalu. Dinding putih beraroma bunga sedap malam, dan suara gemericik air di taman belakang, semuanya terasa tenang, tapi bukan berarti hatinya ikut tenang.

Amara duduk di teras, mengelus perutnya yang mulai membesar. Langit sore menggantung lembut di atasnya, warna jingga merona di antara dedaunan mangga yang menua. Zico berdiri tak jauh dari sana, menatapnya dengan diam.

“Dokter bilang kondisi Nona dan bayi stabil. Tapi … Nona masih sering begadang.”

Amara menatap jauh ke arah gerbang.

“Tidurku tidak sulit, Zico. Yang sulit itu … melupakan.”

Zico menunduk, dia tahu, setiap kali Amara menatap langit dengan cara seperti itu, hatinya pasti sedang berperang antara cinta dan kebencian.

“Bagaimana keadaan perusahaannya?” tanya Amara pelan.

“Masih kacau, semua jalur penerbangan Wirantara ditangguhkan. Sahamnya turun, dan beberapa dewan direksi mulai mundur.”

Amara mengangguk pelan. “Aku tidak menginginkan kehancurannya, Zico. Aku hanya ingin dia sadar.”

“Sadar akan apa, Nona?”

“Bahwa cinta … bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang berani percaya.”

Hening sejenak, hanya suara burung petang yang memecah udara di antara mereka. Tuan Edward Marvionne, pria tua dengan rambut perak dan langkah pelan, muncul dari arah pintu utama.

“Amara,” panggilnya lembut. “Kau tidak boleh terlalu banyak pikiran. Bayi itu butuh ibunya yang kuat.”

Amara tersenyum, memegang tangan kakeknya.

“Aku berusaha, Kek. Aku hanya ... belum tahu apakah nanti dia akan punya ayah yang baik atau tidak.”

Edward menatap cucunya lama. “Jika dia ditakdirkan, maka ayahnya akan datang bukan untuk meminta maaf, tapi untuk memperbaiki diri.”

Kalimat itu menggantung di udara hangat, tapi menyesakkan. Amara menunduk, mengusap lembut perutnya yang mulai menonjol.

“Kalau begitu, aku akan menunggu … tapi tidak untuknya kembali. Aku menunggu hari di mana aku tak lagi menangis saat mengingatnya.”

Zico memalingkan wajahnya, menyembunyikan sesuatu yang tak bisa ia katakan, perasaan yang perlahan tumbuh, tapi ia tahu tak akan pernah sebanding dengan luka yang Amara bawa. Langit kian gelap, dan angin sore mulai dingin. Namun, di tengah kesunyian itu, Amara tampak lebih kuat daripada sebelumnya. Dia bukan lagi istri yang menunggu penjelasan.

Sudah tiga bulan sejak kepergian Amara. Dan selama itu pula, Shaka Wirantara hidup seperti orang yang kehilangan arah. Perusahaan yang dulu ia banggakan kini berada di ambang kehancuran.

Setiap hari, ia menatap jendela ruang kerjanya, menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.

“Sudah dapat kabarnya?”

Suara Shaka berat dan serak ketika bertanya pada Haris yang berdiri di hadapannya. Haris menunduk, wajahnya tampak lelah.

“Tidak ada, Kapten. Semua akses data tentang Bu Amara sudah tertutup rapat. Bahkan sistem pelacakan pribadi kita pun diblokir. Orang-orang keluarga Marvionne sepertinya memang tak ingin Bu Amara ditemukan oleh kita.”

Shaka menatap layar laptopnya yang kosong, menahan emosi yang menyesakkan di dada.

“Tuan Edward…” gumamnya pelan, “dia sengaja menghilangkan semua jejak Amara dari hidupku.”

Haris menatap bosnya dengan hati-hati. “Apa kita lanjutkan pencarian lewat jalur pribadi?”

“Tidak,” jawab Shaka dengan nada datar, tapi penuh tekanan.

“Kalau aku melibatkan orang lain, mereka bisa menganggap ini provokasi. Aku tidak ingin memperburuk hubungan dua keluarga.”

Dia berdiri, mendekati jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang mendung. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.

“Tapi aku juga tidak akan berhenti. Aku tahu dia di luar sana. Aku tahu Amara masih hidup, dan … membawa anakku.”

Haris diam, dia tahu, di balik ketenangan Shaka, ada badai yang tak bisa dipadamkan.

Suatu malam, saat Shaka pulang ke rumah besar keluarga Wirantara, ia berdiri lama di depan kamar yang dulu mereka tempati bersama. Di atas ranjang masih terlipat selimut yang Amara gunakan.

Di meja rias masih ada sisir dan bros kecil yang ia tinggalkan. Shaka duduk di tepi ranjang itu, menunduk dan menatap kosong.

“Amara…” suaranya bergetar.

“Kalau aku diberi kesempatan sekali saja, aku ingin menebus semuanya … bahkan jika aku harus kehilangan segalanya untuk bisa melihatmu lagi.”

Haris berdiri di depan pintu, tak berani mendekat. Ia tahu, malam-malam seperti ini adalah malam paling berat bagi Shaka.

Malam di mana Kapten Shaka Wirantara, pria yang dulu dikenal kuat dan tegas, berubah menjadi hanya seorang pria yang menyesal telah kehilangan cintanya.

Di balik pintu, Karina memperhatikannya dari ujung koridor mata wanita itu memantulkan niat yang tak biasa. Shaka menyalakan lampu kamarnya, melepas jasnya, lalu duduk di tepi ranjang dengan napas lelah. Botol minuman di meja sudah separuh habis. Ia tak menyadari Karina yang pelan-pelan membuka pintu.

“Mas Shaka,” suara lembut itu menggoda, penuh nada menggoda. “Kamu masih belum bisa melupakannya, ya?”

Shaka mendongak, menatap Karina tanpa ekspresi.

“Pergi, Karina. Aku sedang tidak ingin bicara.”

Namun Karina malah mendekat, langkahnya ringan tapi berani.

“Kenapa kamu terus menyiksa diri sendiri? Aku di sini, Mas Shaka. Aku yang selalu di sini waktu semua orang pergi darimu.”

Tangannya menyentuh bahu Shaka, lalu merayap turun ke dadanya. “Biarkan aku menghapus luka itu…”

Shaka menepis kasar, berdiri dengan wajah muram.

“Jangan lakukan ini.”

“Tapi aku mencintaimu!” Karina meninggikan suara. “Kenapa kamu selalu menolak? Apa aku kurang sempurna dibandingkan perempuan itu?”

“Karina!” bentak Shaka. “Jangan menyebutnya, karena kau tak pantas!”

Air mata Karina jatuh, tapi di balik itu ada api kecil yang mulai menyala. Ia berjalan cepat, mendorong dada Shaka dengan marah.

“Kalau kamu benar-benar ingin melupakan Mbak Amara, buktikan! Aku di sini, Mas Shaka! Aku yang kamu bawa ke rumah ini! Aku yang kamu minta tinggal di sini!”

Pertengkaran mereka pecah. Suara bentakan dan gesekan keras terdengar hingga keluar kamar. Merlin, yang sejak tadi belum tidur, keluar dari ruang tengah dengan wajah tegang.

“Karina!” serunya dari ambang pintu kamar Shaka. “Apa yang kau lakukan?!”

Karina membalik tubuhnya, napasnya terengah. “Aku hanya ingin Mas Shaka berhenti menyiksa dirinya sendiri! Kenapa kalian semua selalu membelanya!?”

Shaka berusaha menenangkan keadaan, tapi suaranya justru semakin dalam dan berat.

“Cukup, Karina. Jangan buat masalah lagi.”

Namun Karina justru berteriak, suaranya menggema hingga membuat seluruh rumah terdiam.

“Kau yang memohon padaku, Mas Shaka! Kau yang membawa aku ke sini, bukan aku yang meminta!”

Merlin membeku di tempat. Sorot matanya tajam menatap putranya.

“Apa maksudnya itu, Shaka?”

Shaka terdiam beberapa detik, menelan ludah dengan wajah penuh tekanan.

“Aku … memang membawanya ke sini. Tapi bukan karena alasan yang kau pikirkan, Karina.”

Dia menatap ibunya dalam-dalam. “Aku kira … Karina adalah orang yang menyelamatkanku waktu penyerangan di tol malam itu.”

Wajah Merlin menegang. “Penyerangan? Maksudmu … saat mobilmu diserang orang tak dikenal beberapa tahun lalu?”

Shaka mengangguk pelan. “Ya, aku salah mengira.”

“Dan yang sebenarnya menolongmu adalah…?” suara Merlin bergetar.

“Amara.” Satu kata itu keluar perlahan, tapi cukup membuat ruangan itu membeku.

Merlin menutup mulutnya, air mata menetes tanpa sadar. Sementara dari arah tangga, langkah Tuan Wirantara terdengar mantap. Ia muncul, berdiri di depan pintu kamar dengan wajah penuh kekecewaan.

“Ayah tahu itu sejak awal,” suaranya berat tapi tenang. “Tuan Edward sendiri yang memberi tahu kami tentang kejadian itu. Makanya kami menyetujui perjodohanmu dengan Amara.”

Shaka memejamkan mata, menunduk penuh sesal.

“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?”

“Karena kamu tidak pernah mau mendengar,” jawab Tuan Wirantara tegas. “Kamu terlalu sibuk menuruti egomu. Amara sudah menanggung semuanya ... bahkan luka di lehernya itu adalah bukti. Apa kamu tidak pernah memperhatikan?”

Kalimat itu menampar Shaka dengan keras. Luka di leher Amara, diaa teringat sesuatu, luka yang sama juga pernah dilihatnya di leher Karina, dan itu yang membuatnya salah paham selama ini.

Seketika, Karina terkekeh pelan di tengah ketegangan itu.

“Ternyata itu alasannya…” ujarnya dengan nada sinis, lalu menatap Shaka tajam.

“Luka di leherku bukan karena aku menolongmu, Mas Shaka. Itu karena aku diserang waktu tinggal di jalan. Hidup di jalan itu keras. Aku cuma memanfaatkan kesempatan waktu tahu kamu mencari seseorang yang menyelamatkanmu. Kebetulan aku ada di lokasi yang sama malam itu.”

Kata-katanya jatuh seperti pisau yang menusuk dada Shaka.

Rahangnya mengeras, tubuhnya menegang, dan semua hal yang ia perjuangkan tiba-tiba terasa sia-sia. Merlin hanya bisa memejamkan mata, menahan amarah dan kekecewaan yang menumpuk.

Sementara Tuan Wirantara memalingkan wajah, suaranya pelan tapi menusuk,

“Sekarang kamu tahu, Shaka … berapa banyak kesalahan yang sudah kamu buat sendiri.”

Shaka menatap lantai kosong di bawah kakinya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia benar-benar kehilangan segalanya.

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!