mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Ruang Rahasia
Kereta api melaju meninggalkan Solo saat matahari mulai merangkak naik di ufuk timur.
Kalara duduk di kursi dekat jendela, menatap sawah-sawah yang berlarian ke belakang, tapi matanya kosong. Pikirannya masih tertinggal di rumah joglo Laweyan, pada kata-kata Nenek Siti yang terus berulang di kepala seperti kaset rusak.
"Mereka dibunuh."
Di sampingnya, Arsya diam dengan kepala bersandar di kursi. Matanya terpejam, tapi Kalara tahu ia tidak tidur. Otot rahangnya mengencang setiap beberapa menit, tangan di pangkuannya sesekali mengepal lalu mengendur.
Sejak tadi malam, mereka hampir tidak bicara. Bukan karena marah atau canggung, tapi karena kata-kata sudah tidak cukup. Kebenaran yang mereka temukan terlalu besar untuk diungkapkan dengan kalimat-kalimat biasa.
Kereta memasuki terowongan. Gelap sesaat, lalu terang lagi.
"Kak," panggil Kalara lirih.
Arsya membuka mata. "Hm?"
"Aku takut."
Arsya menoleh. Wajah Kalara pucat, matanya sembab. Ia meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat.
"Aku juga."
"Mereka jahat, Kak. Keluarga kita sendiri."
"Iya."
"Bagaimana kalau kita tidak bisa membuktikan apa-apa? Bagaimana kalau semua bukti sudah dimusnahkan? Bagaimana kalau mereka..." Kalara berhenti, suaranya pecah.
Arsya menariknya ke dalam pelukan. Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi kakak yang harus melindungi. Bukan lagi arsitek dingin yang menjaga jarak dengan semua orang.
"Kita akan coba," bisiknya. "Se bisa kita. Dan apa pun hasilnya, setidaknya kita sudah tahu kebenaran."
"Tapi kebenaran ini menyakitkan."
"Lebih baik sakit karena tahu, daripada sakit karena terus bertanya-tanya."
Kalara menangis di bahu Arsya. Pelan, tertahan, tapi nyata. Penumpang lain di gerbong mungkin melihat, tapi mereka tidak peduli.
Jakarta menerima mereka dengan langit mendung.
Pukul dua siang, mereka tiba di Stasiun Gambir. Hujan gerimis menyambut, membuat suasana semakin muram. Mereka naik taksi menuju rumah kontrakan Kalara, di mana mereka berencana menyusun strategi.
Kamar Kalara yang biasanya berantakan dengan sampel kain dan buku desain, hari ini terasa lebih sumpek. Arsya duduk di lantai, bersandar di dinding, sementara Kalara mondar-mandir sambil berpikir.
"Kita harus cari tahu apa yang disembunyikan kakek di rumah itu," kata Kalara. "Nenek bilang, sebelum mereka diambil, mereka sempat mengirim sesuatu."
"Tapi rumah itu sudah kita geledah. Kamar pembantu, gudang bawah tanah, semua sudah."
"Pasti ada tempat lain. Rumah itu besar. Mungkin ada ruang rahasia."
Arsya mengerutkan kening. "Ruang rahasia?"
"Iya. Rumah-rumah tua zaman dulu sering punya ruang tersembunyi. Untuk menyimpan barang berharga, atau... untuk bersembunyi."
"Kau pernah menemukan sesuatu di denah rumah?"
Kalara membuka laptop, mencari file denah rumah Menteng. Ia memperbesar setiap detail, memeriksa setiap sudut.
"Lihat ini." Ia menunjuk layar. "Di belakang kamar pembantu, ada ruang kecil yang tidak tercantum di denah utama. Mungkin gudang, atau..."
"Atau ruang rahasia."
Mereka bertukar pandang. Satu tujuan: kembali ke rumah itu malam ini.
Pukul sembilan malam, Jakarta basah oleh hujan.
Arsya dan Kalara tiba di depan rumah Menteng. Lampu-lampu mati, hanya cahaya bulan yang temaram menembus awan. Pagar besi itu berderit saat dibuka.
"Kamu yakin Pak Willem tidak ada?" bisik Kalara.
"Yakin. Tadi sore aku telepon, katanya ada acara keluarga di luar kota sampai besok."
Mereka masuk, menyalakan senter dari ponsel masing-masing. Rumah itu terasa berbeda di malam hari—lebih dingin, lebih angker. Bayangan-bayangan menari di dinding setiap kali lampu senter bergerak.
"Mari." Arsya memimpin menuju kamar pembantu di lantai dua.
Kamar itu sama seperti sebelumnya. Sepi, berdebu, dengan jendela menghadap ke halaman belakang. Tapi kali ini mereka datang dengan tujuan berbeda.
"Di mana pintu rahasianya?" Kalara memeriksa dinding, mengetuk-ngetuk perlahan. Suara ketukan di dinding kayu terdengar sama di mana-mana.
Arsya melakukan hal yang sama di sisi lain. Beberapa menit berlalu, tidak ada hasil.
"Mungkin di lantai," kata Arsya. "Atau di langit-langit."
Kalara mengarahkan senter ke langit-langit. Papan-papan kayu tua dengan beberapa retakan. Tapi tidak ada tanda-tanda pintu.
Lalu matanya tertumbuk pada lemari kecil di sudut ruangan. Lemari yang sama yang kemarin ia buka, yang berisi debu dan bangkai serangga.
"Kak, bantu aku pindahkan lemari ini."
Mereka berdua mendorong lemari itu. Berat, tapi bisa digeser. Dan di baliknya—sebuah pintu kecil, setinggi setengah meter, tersembunyi di balik dinding.
"Astaga," bisik Arsya. "Kau benar."
Pintu itu tidak bergagang, hanya celah tipis di dinding. Arsya mencoba mendorongnya. Tidak bergerak. Ditarik? Tidak juga.
"Mungkin pakai kunci khusus," kata Kalara. "Atau mekanisme rahasia."
Ia meneliti sekeliling pintu. Di dinding samping, ada ukiran kayu kecil—dua hati menyatu. Sama persis dengan ukiran di kotak kayu.
"Coba kotaknya," bisik Kalara.
Arsya mengeluarkan kotak kayu dari tasnya. Ia mendekatkan ukiran di kotak dengan ukiran di dinding. Tepat sama.
Lalu, tanpa sengaja, jarinya menyentuh ukiran di dinding. Dan ukiran itu—bergerak. Seperti tombol.
Klik.
Pintu kecil itu terbuka sedikit, mengeluarkan bau apak dan tanah basah.
Lubang di balik pintu itu gelap gulita.
Arsya memasukkan kepala, menyorotkan senter. Sebuah ruangan kecil, hanya sekitar 2x2 meter. Lantai tanah, dinding bata kuno. Dan di sudut ruangan, sebuah peti kayu tua.
"Aku masuk duluan," kata Arsya. "Kau tunggu di sini."
"Hati-hati."
Arsya merangkak masuk. Ruangan itu sempit, langit-langitnya rendah. Ia hampir tidak bisa berdiri. Debu beterbangan setiap gerakan. Ia meraih peti itu, mencoba membukanya. Terkunci.
"Kara, bawa kotaknya."
Kalara merangkak masuk, menyerahkan kotak kayu. Arsya membandingkan ukiran di kotak dengan ukiran di peti. Lagi-lagi sama. Ia menekan ukiran di peti, dan—klik—peti terbuka.
Di dalamnya, bukan emas atau permata. Tapi surat-surat. Puluhan surat, diikat dengan pita merah yang sudah luntur. Dan sebuah buku harian bersampul kain biru.
Arsya mengeluarkannya dengan hati-hati. Tangan mereka gemetar.
"Bawa keluar," bisik Kalara. "Jangan baca di sini."
Mereka merangkak keluar, kembali ke kamar pembantu. Udara di kamar itu terasa lebih segar setelah berada di ruang rahasia. Mereka duduk di lantai, surat-surat dan buku harian di depan mereka.
"Kita baca?" tanya Kalara.
Arsya mengangguk. "Kita baca bersama."
Buku harian itu milik Rarasati.
Halaman pertama bertanggal 2 Maret 1998—hari pertama ia bekerja di rumah ini. Tulisannya rapi, bulat-bulat khas wanita.
"Hari pertama di rumah besar ini. Aku takut, tapi juga lega. Di sini tidak ada yang kenal aku. Tidak ada yang tahu masa laluku. Aku bisa mulai baru. Tapi rindu pada anakku—Kara—sangat menyiksa. Ia baru tiga tahun. Apa ia ingat aku? Apa ia tahu bahwa aku ibunya?"
Kalara menangis. Ibunya rindu padanya. Ibunya tidak pernah melupakannya.
Mereka membuka halaman-halaman berikutnya. Rarasati menulis tentang kesehariannya, tentang teman-teman sesama pembantu, tentang kebaikan majikan—kakek Willem. Juga tentang kesepiannya.
"15 Juni 1998
Hari ini Asmara datang. Aku tidak menyangka. Katanya ia sengaja mencari alamatku. Ia ingin bertemu, ingin melihatku. Aku tahu ini salah. Tapi aku juga rindu. Ia satu-satunya orang yang tahu siapa aku sebenarnya. Satu-satunya yang juga merasakan sakit yang sama."
"3 September 1998
Asmara datang lagi. Kita bicara lama. Tentang Kara, tentang anaknya yang baru lahir—Arsya, katanya. Ia menikah dengan wanita pilihan keluarga, tapi tidak bahagia. Aku juga tidak bahagia. Kenapa hidup begini kejam?"
Arsya membaca dengan mata berkaca-kaca. Jadi Asmara tahu tentang dirinya. Asmara tahu bahwa ia adalah ayahnya, meskipun tidak bisa mengaku.
"12 Desember 1998
Malam ini kita terlanjur. Aku tahu ini dosa. Tapi saat bersama Asmara, aku merasa utuh. Seperti tidak ada yang salah. Seperti kita memang ditakdirkan bersama. Tapi besok, saat sadar, rasa bersalah datang lagi. Kenapa Tuhan menghukum kita dengan cinta begini?"
Halaman demi halaman, mereka membaca kisah cinta terlarang yang menyakitkan. Dua manusia yang terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya, tapi tidak bisa melawan.
"17 Oktober 1999
Aku hamil lagi. Aku takut. Asmara juga takut. Kita tidak tahu harus bagaimana. Kali ini tidak bisa disembunyikan. Perutku akan mulai membesar. Majikan akan tahu. Keluarga besar akan tahu. Kita akan dihukum."
"1 November 1999
Asmara punya rencana. Kita akan kabur. Bawa anak-anak kita—Kara dan Arsya—pergi dari semua ini. Mulai hidup baru di tempat yang tidak ada yang kenal kita. Aku takut, tapi juga berharap. Mungkin ini satu-satunya jalan."
Mereka berhenti. Tanggal 1 November. Rencana kabur. Membawa anak-anak.
Tapi kenyataannya, mereka pergi tanpa anak-anak.
Lalu di halaman berikutnya, tanggal 10 November 1999:
"Rencana kita ketahuan. Keluarga besar tahu. Ayah—kakek Kara—datang ke rumah ini. Ia marah besar. Asmara dipukuli. Aku diancam. Mereka bilang, jika kami tidak menghentikan ini, anak-anak kami akan celaka. Aku takut. Aku lebih baik mati daripada melihat Kara atau Arsya terluka."
"13 November 1999
Asmara datang dengan wajah babak belur. Keluarganya juga mengancam. Mereka memberi ultimatum: kami harus pergi, jauh, dan tidak pernah kembali. Tapi tidak dengan anak-anak. Anak-anak harus tinggal. Mereka bilang, anak-anak hasil dosa tidak pantas hidup bersama kami."
Kalara dan Arsya saling pandang. Air mata mengalir di pipi keduanya.
"14 November 1999
Ini mungkin catatan terakhirku. Besok kami akan pergi. Tidak dengan anak-anak. Itu syaratnya. Aku hancur. Tapi lebih baik mereka hidup tanpa kami, daripada mati karena kami. Aku menulis surat untuk Arsya, menyimpannya di kotak kayu ini. Semoga suatu hari ia temukan. Semoga ia mengerti. Aku sayang dia. Aku sayang Kara. Aku sayang Asmara. Maafkan kami."
Halaman berikutnya kosong.
Tidak ada catatan setelah itu.
Tapi di bagian belakang buku harian, terselip selembar kertas lain. Bukan tulisan Rarasati. Tinta berbeda, tulisan lebih kasar. Dan di atasnya, ada kop surat keluarga besar.
"Perjanjian Penghapusan Aib"
Isinya singkat, mengerikan:
"Demi menjaga nama baik keluarga, Rarasati binti Sastrowijaya dan Asmara bin Sastrowijaya harus dipisahkan selamanya. Mereka akan dikirim ke tempat yang tidak bisa kembali. Anak-anak mereka akan diasuh oleh keluarga yang ditunjuk dan tidak akan diberitahu tentang asal-usulnya. Barang bukti apa pun tentang hubungan ini harus dimusnahkan atau disembunyikan."
Di bawahnya, tanda tangan kakek Kalara—kakek buyut mereka—dan beberapa anggota keluarga lain.
Tanggal: 15 November 1999.
Mereka tidak kabur. Mereka tidak pergi sukarela.
Mereka dibuang. Dihabisi. Dihilangkan.
Demi nama baik keluarga.
Arsya meremas kertas itu dengan tangan gemetar.
"Bajingan," desisnya. "Bajingan semua."
Kalara tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menangis, memeluk buku harian ibunya erat-erat.
Dua puluh tiga tahun. Selama dua puluh tiga tahun mereka hidup dalam kebohongan. Selama dua puluh tiga tahun, orang tua mereka dianggap pergi sukarela, padahal...
"Kita harus lapor polisi," kata Arsya akhirnya.
"Kak, ini keluarga kita sendiri. Keluarga besar kita. Kakek, buyut, paman-paman kita."
"Mereka pembunuh."
Kalara diam. Arsya benar. Tapi melaporkan keluarga sendiri—keluarga besar yang masih punya pengaruh dan kekuasaan—bukan perkara mudah.
"Mereka sudah mati semua, Kak. Kakek, buyut. Yang masih hidup mungkin tidak tahu."
"Tapi keadilan tetap harus ditegakkan. Setidaknya, kita tahu kebenaran. Setidaknya, kita bisa memakamkan mereka dengan layak kalau... kalau kita temukan jenazahnya."
Kalara menghela napas. "Dulu mereka dikirim ke mana? Surat itu tidak bilang."
Arsya membaca ulang surat perjanjian itu. Mencari petunjuk. Di sudut bawah, ada tulisan kecil yang hampir pudar:
"Dikirim ke perkebunan di luar Jawa. Koordinat terlampir."
Koordinat.
Mereka mencari di dalam peti, di antara surat-surat. Dan menemukannya—selembar kertas lain, dengan tulisan tangan:
"Perkebunan Kopi Lawu. Lereng Gunung Lawu, sebelah timur. Bangunan tua di belakang kebun."
Dan sebuah koordinat GPS: -7.6289, 111.1925.
Mereka saling pandang. Gunung Lawu. Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Mungkin mereka dikubur di sana," bisik Kalara.
"Atau mungkin masih ada yang bisa kita temukan."
Arsya melipat kertas itu, menyimpannya di saku. "Kita harus ke sana."
"Sekarang?"
"Besok. Kita butuh persiapan. Dan kita harus hati-hati. Keluarga besar mungkin masih punya mata di mana-mana."
Kalara mengangguk. Ia menatap buku harian di tangannya, lalu menatap Arsya.
"Kak, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak menyerah. Untuk menemaniku. Untuk menjadi kakak yang baik."
Arsya meraih tangannya. "Kita sama-sama, Dik. Kita sama-sama mencari. Dan kita sama-sama kehilangan."
Mereka duduk diam di kamar pembantu itu, di bawah cahaya senter yang mulai redup. Di luar, hujan reda. Di dalam, hati mereka masih badai.
Tapi setidaknya, mereka tidak sendiri.
Bersambung...