NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Sentuhan yang Lama Tertahan

Malam itu ICU lebih tenang dari biasanya.

Lampu redup. Suara monitor berdetak stabil. Aroma antiseptik memenuhi udara.

Alexander Alejandro Castillo berdiri di depan pintu kaca beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk.

Untuk pertama kalinya… ia merasa takut.

Bukan takut kalah.

Bukan takut kehilangan.

Tapi takut melihat kenyataan bahwa gadis yang selalu bersinar itu kini terbaring tak berdaya.

Ia mengenakan gaun pelindung dan masker, lalu berjalan perlahan mendekati tempat tidur.

Di sana, Valeria Hernández terbaring pucat. Selang infus, monitor jantung, oksigen—semuanya mengelilinginya seperti pagar rapuh antara hidup dan takdir.

Alexander berdiri di samping ranjang.

Tangannya gemetar.

Selama ini ia selalu menjaga jarak. Selalu menahan perasaan. Selalu membiarkan ego dan gengsi berdiri di antara mereka.

Namun malam ini… semua itu runtuh.

Perlahan, ia memberanikan diri menyentuh tangan Valeria.

Dingin.

Rapuh.

Begitu kecil di dalam genggamannya.

Jantungnya terasa diremas.

“Valeria…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

Ia menelan ludah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.

“Aku di sini.”

Hening.

Hanya bunyi monitor yang menjawab.

Alexander menarik kursi dan duduk di sampingnya. Tangannya tak melepas genggaman itu.

“Aku ingat pertama kali kita bertemu di penerbangan pertamamu, kamu perempuan pertama yang membuatku kagum.,” ia mulai bercerita pelan. “Kau manis, dan lucu saat takut terbang.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan kau benar.”

Ia menghela napas panjang.

“Kau selalu benar dalam hal-hal yang tidak ingin kuakui.”

Matanya menatap wajah Valeria lekat-lekat.

“Aku merindukan caramu menatapku dengan lembut. Merindukan suaramu saat menyapaku. Merindukan caramu tertawa kecil saat aku salah menyebut istilah medis.”

Suara Alexander mulai bergetar.

“Bangunlah… dan tersenyumlah untukku lagi.”

Ia menggenggam tangan itu lebih erat.

“Kau tahu? Semua orang di luar sana menunggumu. Orang tuamu. Daniel. Bahkan Profesor Eduardo, ya dia Ayahku yang jarang turun tangan pun berjuang untukmu.”

Ia terdiam sejenak.

Dan untuk pertama kalinya… ia jujur.

“Aku juga berjuang. Tapi bukan hanya sebagai teman.”

Air mata akhirnya jatuh.

“Aku mencintaimu, Valeria.”

Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa rencana, tanpa perhitungan.

“Aku tidak peduli siapa yang kau pilih nanti. Aku tidak peduli apakah aku harus bersaing atau mundur. Aku hanya ingin kau hidup.”

Monitor tetap berdetak stabil.

Namun di ujung jarinya, Alexander merasa sesuatu.

Seperti getaran kecil.

Ia membeku.

“Valeria?”

Tidak ada gerakan jelas. Mungkin hanya refleks. Mungkin hanya perasaannya sendiri.

Tapi ia memilih percaya.

“Kau dengar aku, kan?”

Ia mendekatkan wajahnya sedikit.

“Kalau kau membuka mata… aku berjanji tidak akan lagi menyembunyikan perasaanku.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Namun kali ini, Alexander tidak merasa sendirian.

Ia duduk lebih lama, menceritakan banyak hal—

Tentang rencananya setelah lulus.

Tentang keinginannya membuka klinik kecil di desa seperti tempat Valeria dibesarkan.

Tentang bagaimana ia diam-diam mengagumi kelembutan gadis itu saat menangani pasien anak.

Ia berbicara seolah Valeria sedang mendengarkan dengan mata terpejam.

Karena di lubuk hatinya, ia percaya—

Cinta yang tulus bisa menembus batas kesadaran.

Dan di sela bunyi mesin yang stabil itu…

Alexander hanya memohon satu keajaiban kecil.

Agar gadis yang ia rindukan itu…

Membuka matanya.

Tapi masih tetap setia untuk tidur.

"Valeria, apa kamu khawatir aku kecelakaan seperti waktu itu? dan kalo itu terjadi lagi kepadaku, maukah kamu bangun untukku." air matanya menetes di sela-sela jemaat Valeria.

"Aku akan melakukannya untukmu, agak kamu panik dan khawatir. Kamu pasti akan bangun kan untukku".

Ada pergerakan lagi di jemarinya.

Alexander terdiam.

Ini nyata.

Atau hanya perasaannya saja.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!