Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYAWA BARU DITENGAH PRAHARA
Ketegangan yang sedari tadi menumpuk di pundak Rosa akhirnya mencapai titik batasnya. Tubuhnya yang semula dipaksa berdiri tegak demi melindungi Arlo, tiba-tiba limbung. Wajahnya yang pucat pasi semakin memutih, dan pandangannya mengabur.
"Sen... aku lemes..." ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan.
Sebelum Arsen sempat menyahut, kedua lutut Rosa melemas dan tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.
"Rosa!" teriak Arsen dengan suara yang pecah karena panik. Dengan sigap, ia menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam lantai.
Dito dan Rendy langsung tersentak dari tempat duduk mereka. Suasana rumah yang tadinya penuh debat hukum seketika berubah menjadi kepanikan medis.
"Ros! Bangun, sayang! Rosa!" Arsen menepuk-nepuk pipi istrinya dengan tangan yang gemetar. Ia segera menggendong Rosa ke sofa, membaringkannya dengan posisi kepala lebih rendah.
"Dit! Ambil air! Rendy, panggil dokter keluarga sekarang!" perintah Arsen cepat. Napasnya memburu, ia tidak pernah melihat Rosa sekalah ini. Ketakutan akan kehilangan Arlo dan tekanan dari masa lalu Arsen ternyata menghantam mental Rosa jauh lebih keras daripada yang terlihat.
Suster yang sedang menggendong Arlo langsung berlari mendekat, wajahnya juga tampak ketakutan. Arlo yang melihat ibunya terbaring diam mulai menangis kencang, menambah suasana pilu di ruang tengah itu.
"Ini airnya, Sen!" Dito datang membawa gelas, wajahnya yang tadi garang kini berubah penuh kekhawatiran. "Tenang, Sen. Rosa cuma syok berat. Tekanan darahnya pasti turun drastis."
Arsen tidak mendengar ucapan Dito. Ia hanya menatap wajah Rosa yang memejamkan mata erat, sambil menggenggam tangan istrinya yang terasa sedingin es. Di tengah kekacauan itu, Arsen menyadari satu hal: Hadi dan Laras tidak hanya mengancam status hukum Arlo, tapi mereka sudah mulai menghancurkan kesehatan dan ketenangan jiwa wanita yang paling ia cintai.
Kabar itu bagaikan petir di siang bolong bagi Arsen. Ia terpaku di sisi sofa, masih menggenggam tangan Rosa yang perlahan mulai memberikan reaksi kecil. Dito dan Rendy yang berdiri tidak jauh dari sana juga ikut terdiam, saling lirik dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara bahagia dan cemas yang luar biasa.
"Hamil, Dok?" tanya Arsen dengan suara serak, memastikan pendengarannya tidak salah di tengah kekacauan ini.
Dokter itu mengangguk sambil merapikan stetoskopnya. "Iya, Pak Arsen. Usia kandungannya baru sekitar enam minggu. Kondisi awal kehamilan memang sangat rentan terhadap perubahan hormon dan emosi. Pingsannya Bu Rosa tadi murni karena tekanan darah yang merosot akibat stres berlebih dan kelelahan fisik. Saya mohon, Pak, untuk sementara waktu Bu Rosa tidak boleh dibebani pikiran berat. Dia butuh istirahat total dan lingkungan yang tenang."
Arsen mencium tangan Rosa dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa karena mereka akan memiliki anak kedua, tapi di sisi lain, kenyataan bahwa mereka sedang diincar oleh Hadi Pramono membuat Arsen merasa sangat bersalah.
"Dengar itu, Sen?" bisik Dito, suaranya kini melunak. "Masalah ini bukan cuma soal Arlo lagi. Ada nyawa lain yang harus lo lindungi."
Rendy mendekat dan menepuk bahu Arsen pelan. "Sen, biar gue sama Dito yang urus semua di garis depan. Lo fokus jaga Rosa dan Arlo. Jangan biarkan satu pun berita soal Hadi atau Laras sampai ke telinga Rosa untuk beberapa hari ke depan."
Arsen menatap Rosa yang mulai membuka matanya perlahan. Rosa mengerjap, menatap langit-langit rumah sebelum pandangannya tertuju pada Arsen yang terlihat sangat emosional.
"Sen... aku kenapa?" tanya Rosa lirih, suaranya masih sangat lemah.
Arsen tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan badai yang berkecamuk di hatinya. "Kamu harus istirahat, sayang. Ada kabar bahagia... Arlo bakal punya adik. Tapi janji sama aku, kamu jangan mikirin apa-apa dulu ya? Cuma fokus ke kesehatan kamu dan anak-anak kita."
Mendengar kata "adik", setitik binar muncul di mata Rosa yang sayu, namun sedetik kemudian ia teringat pada ancaman di depan pagar tadi. Ia menggenggam tangan Arsen lebih erat, seolah meminta kepastian bahwa bayi di kandungannya dan Arlo akan tetap aman.
Arsen mengambil keputusan cepat. Rumah mereka sudah tidak aman lagi; Hadi tahu alamat ini, dan Laras bisa muncul kapan saja. Dengan kondisi Rosa yang sedang hamil muda, Arsen tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun.
"Kita pindah sekarang," ucap Arsen tegas kepada Dito dan Rendy. "Bukan ke vila, tapi ke rumah orang tua gue. Penjagaan di sana lebih ketat, dan nggak banyak orang tahu lokasi pastinya di dalam kompleks militer itu."
Arsen segera menginstruksikan suster untuk mengemas kebutuhan darurat Arlo dan Rosa. Dengan pengawalan ketat dari Dito dan satpam kantor, mereka berangkat saat hari mulai gelap agar tidak mencolok. Selama perjalanan, Arsen terus memeluk Rosa yang menyandarkan kepalanya di bahu Arsen, sementara Arlo tertidur pulas di pangkuan susternya di kursi belakang.
Sesampainya di rumah orang tua Arsen, suasana jauh lebih tenang. Ayah Arsen, seorang purnawirawan yang memiliki pengaruh dan ketegasan, langsung memerintahkan penjagaan di gerbang depan.
"Jangan khawatir, Rosa. Di sini kalian aman," ucap Ibu Arsen sambil merangkul menantunya itu masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan.
Setelah memastikan Rosa dan Arlo tenang, Arsen kembali ke ruang tamu menemui ayahnya, Dito, dan Rendy. Wajahnya yang tadi lembut di depan istri kini berubah menjadi sedingin es.
"Ayah sudah dengar semuanya dari Rendy," ucap Ayah Arsen sambil menatap putranya. "Hadi Pramono memang punya kuasa, tapi dia lupa kalau dia berurusan dengan keluarga yang tidak bisa diintimidasi. Kalau dia mau main kasar, kita layani."
Arsen mengangguk, lalu menatap Dito. "Dit, mulai besok, tutup semua akses komunikasi yang bisa menghubungkan Laras ke gue atau Rosa. Dan Rendy, percepat semua proses hukumnya. Gue mau status Arlo benar-benar tidak bisa diganggu gugat sebelum Rosa tahu seberapa bahaya sebenarnya pria itu."
"Siap, Sen. Gue bakal urus semua dari luar," jawab Dito mantap.
Di tengah keheningan malam di rumah orang tuanya, Arsen berdiri di balkon kamar, menatap gerbang depan. Ia merasa sedikit lega, namun ia tahu ini hanyalah ketenangan sebelum badai yang lebih besar datang.
Suasana di ruang tamu rumah orang tua Arsen yang tegang seketika berubah saat pintu depan terbuka lebar. Langkah sepatu laras yang berat dan berirama tegas terdengar di atas lantai marmer. Dana, kakak sulung Arsen, melangkah masuk dengan gagah mengenakan seragam loreng kebanggaannya. Aura kepemimpinannya langsung memenuhi ruangan, memberikan rasa aman yang instan bagi siapa pun di sana.
Dana baru saja kembali dari markas begitu mendengar kabar dari ayahnya bahwa rumah adiknya diganggu oleh orang asing. Ia melepas baretnya, menyelipkannya di pundak, lalu menatap satu per satu orang yang ada di sana dengan tatapan tajam yang terlatih.
"Ada apa ini? Siapa yang berani-berani bikin keributan di depan rumah adik saya sampai Rosa pingsan?" suara Dana berat dan penuh wibawa.
Arsen berdiri menyambut kakaknya. "Mas Dana..."
Dana menepuk bahu Arsen dengan keras, seolah menyalurkan kekuatan. "Ayah sudah cerita singkat di telepon. Hadi Pramono, ya? Pengusaha yang merasa bisa membeli segalanya dengan uang dan koneksi."
Dana menarik kursi, duduk di antara mereka tanpa melepaskan seragamnya. "Dengar, Sen. Di luar sana mungkin dia punya pengaruh. Tapi kalau dia sudah berani menginjakkan kaki di sini dengan niat mengancam keselamatan keluarga kita, dia salah alamat. Kompleks ini dalam pengawasan saya dan rekan-rekan. Tidak akan ada satu pun mobil SUV hitam atau orang suruhan yang bisa lewat dari gerbang utama tanpa seizin saya."
Dito dan Rendy tampak sedikit lebih tenang melihat kehadiran Dana. Mereka tahu, jika Dana sudah turun tangan dengan seragamnya, itu berarti perlindungan fisik bukan lagi masalah.
"Mas, kondisi Rosa lagi hamil," Arsen menambahkan dengan suara rendah. "Itu yang bikin aku paling takut."
Rahang Dana mengeras mendengar kabar kehamilan Rosa. "Hamil? Makin tidak ada alasan untuk membiarkan bajingan itu mendekat. Sen, kamu fokus urus Rosa dan Arlo di sini. Rendy, kamu urus urusan di pengadilan. Masalah keamanan dan 'pembersihan' di lapangan, itu bagian saya dan tim saya."
Dana menoleh ke arah jendela, menatap kegelapan malam dengan mata elang. "Saya mau lihat sejauh mana si Hadi itu berani melangkah kalau dia tahu siapa yang dia hadapi sekarang."