Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 23 - HATI YANG TAK MAU DI AJAK SERIUS
Senin pagi di Eldria International selalu punya energi yang berbeda dari hari-hari lainnya.
Bukan energi yang baik atau buruk. Hanya energi yang lebih besar dari biasanya, seperti seluruh sekolah mengambil napas dalam-dalam selama dua hari lalu menghembuskannya sekaligus begitu gerbang dibuka. Ramai dari pagi, lorong-lorong sudah penuh bahkan sebelum bel pertama, dan suara-suara yang tumpang tindih dari berbagai arah menciptakan kebisingan yang sudah sangat familiar tapi tidak pernah benar-benar mudah untuk langsung masuk ke dalamnya setelah dua hari yang lebih sepi.
Ara tiba dengan ritme yang sudah kembali ke versi sekolahnya.
Rambut rapi, seragam bersih, langkah yang tahu arahnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Senin-Senin sebelumnya, sesuatu yang tidak terlihat dari luar tapi Ara rasakan dari dalam. Seperti ada ruang kecil di dadanya yang minggu ini terasa sedikit lebih lapang dari sebelumnya, dan lapang itu bukan kosong, tapi cukup untuk bernapas dengan lebih mudah.
Via sudah ada di bangkunya ketika Ara masuk.
Duduk dengan postur yang sudah menunjukkan bahwa ia sudah sepenuhnya terjaga dan sudah dalam mode siap menghadapi hari, buku catatan terbuka meski pelajaran belum mulai, pena berputar-putar di antara jarinya dengan cara yang menandakan bahwa pikirannya sedang aktif meski tangannya tidak sedang melakukan apa-apa yang berarti.
"Pagi," Ara meletakkan tasnya.
"Pagi." Via menoleh. Memindai Ara dari kepala sampai bahu dengan cara yang cepat dan tidak mencolok tapi Ara sudah terlalu kenal Via untuk tidak menyadarinya. "Kamu keliatan beda."
Ara duduk. "Beda gimana?"
"Lebih ringan." Via berkata itu dengan nada yang netral, bukan pujian bukan komentar, hanya observasi yang disampaikan karena memang ada. "Akibat minimarket semalam?"
"Iya."
"Gill ada?"
"Iya. Sama Fio."
Via mengangguk pelan, kembali ke buku catatannya. "Bagus."
Satu kata. Tapi dari Via, satu kata yang tepat selalu lebih dari cukup.
Ara membuka tasnya, mengeluarkan buku catatannya, dan baru saja meletakkannya di meja ketika ponselnya bergetar di saku seragamnya. Ia mengambilnya, membuka layar di bawah meja supaya tidak terlalu mencolok.
Notifikasi dari nomor yang baru seminggu ada di daftar kontaknya.
*Gill (Jangan Minta Hotspot Lagi): Bekalnya.*
Dua kata. Tanpa konteks tambahan. Tapi Ara langsung mengerti karena konteksnya sudah ada sejak minggu lalu dan sudah menjadi semacam rutinitas yang tidak pernah dideklarasikan tapi berjalan sendiri.
Ia mengetik: *Di tas. Sini ambil.*
Balasan datang dalam waktu kurang dari sepuluh detik. *Aku di depan pintu.*
Ara mengangkat kepala.
Dan memang, di ambang pintu kelas XI-A, Gill berdiri dengan tas di punggung dan tangan kiri memegang sesuatu yang dari jarak ini terlihat seperti kotak susu.
Mata mereka bertemu sebentar.
Gill berjalan masuk.
Via di sebelah Ara berhenti memutar penanya.
Gill menghampiri meja Ara, meletakkan kotak susu di sudut meja seperti biasanya, dan mengulurkan tangannya dengan cara yang tidak menjelaskan apa-apa tapi sudah sangat jelas maksudnya.
Ara membuka resleting samping tasnya, mengeluarkan kotak bekal, dan memberikannya ke Gill.
"Telur dadar lagi?" Gill bertanya, memeriksa berat kotak itu sebentar.
"Ayam," Ara menjawab.
"Hm." Gill mengangguk seperti seseorang yang menerima laporan briefing pagi dengan puas. "Baik."
"Selamat makan."
Gill sudah berbalik untuk pergi ketika Via bersuara dari bangkunya.
"Hei, Gill."
Gill berhenti. Menoleh ke Via dengan ekspresi yang netral dan menunggu.
Via menatapnya balik dengan ekspresi yang sama netralnya. "Fio bawa bekal atau hanya uang jajan sekolah?"
Sesuatu yang sangat kecil berubah di wajah Gill. Bukan terkejut, lebih seperti seseorang yang tidak mengantisipasi pertanyaan itu dari arah ini. "Bawa bekal."
"Bagus." Via kembali ke buku catatannya. "Anak kecil tidak boleh terlalu banyak jajan."
Gill menatap Via selama dua detik.
Lalu mengangguk satu kali, sangat pelan. "Iya."
Dan berjalan keluar kelas.
Ara menunggu sampai langkah Gill tidak terdengar lagi di lorong sebelum menoleh ke Via. "Kamu tanya soal Fio."
"Aku tanya soal asupan gizi anak di bawah umur," Via mengoreksi, masih tidak mengangkat kepala dari bukunya. "Itu tanggung jawab sosial."
"Via."
"Hm."
"Kamu tanya soal Fio."
Via akhirnya menoleh. Menatap Ara dengan ekspresi yang sangat terkontrol. "Aku cuma ingin tahu apa dia baik-baik aja."
"Kamu belum pernah ketemu Fio."
"Kamu cerita soal dia. Anak enam tahun yang suka es krim dan suka bicara jujur tanpa filter." Via mengangkat bahunya tipis. "Itu sudah cukup alasan untuk khawatir soal jajanannya."
Ara menatap sahabatnya itu.
Via sudah kembali ke buku catatannya sebelum Ara selesai menatapnya, tapi ada sesuatu di sudut bibir Via yang bergerak sedikit ke atas sebelum berhasil dikembalikan ke posisi netralnya.
Ara memilih untuk tidak mengomentari itu.
Menyimpannya saja di tempat yang sama dengan hal-hal kecil lain yang ia kumpulkan tanpa tahu pasti untuk apa, tapi sudah yakin bahwa suatu hari nanti semuanya akan masuk akal.
---
Siang itu di atap, Gill sudah ada duluan ketika Ara tiba.
Ini sudah menjadi pola yang tidak perlu dibicarakan, seperti kursi favorit di perpustakaan yang tidak pernah ditempel nama tapi selalu dianggap milik orang yang sama. Sudutnya, sudut Ara, sudut Gill, jarak di antara keduanya yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Semua sudah menemukan proporsinya sendiri tanpa ada yang pernah mengukurnya.
Ara duduk, membuka bekalnya.
Gill bermain ponsel dengan kotak bekal Ara di sampingnya, sudah setengah kosong.
"Ayamnya enak," ia berkata tanpa mengangkat kepala.
"Ibu yang kasih bumbu, aku yang goreng."
"Matangnya rata."
"Terima kasih."
Hening yang sudah sangat familiar turun di antara mereka. Bukan kosong, tapi penuh dengan hal-hal yang tidak perlu diucapkan karena sudah ada.
Ara makan beberapa suapan sebelum teringat sesuatu. "Gill."
"Hm."
"Sabtu depan. Pentas seni Fio." Ara menatap bekalnya. "Jam berapa kita berangkat?"
Gill tidak langsung menjawab. Jarinya berhenti bergerak di layar ponselnya. "Tergantung jarak dari rumahmu ke sekolah Fio."
"Aku tidak tahu jaraknya."
"Nanti aku kirim lokasinya."
Ara menoleh ke Gill. "Kamu akan kirim lokasi."
"Iya."
"Lewat chat."
"Iya."
"Berarti kamu akan chat aku duluan."
Gill menatap layar ponselnya yang sudah tidak ia sentuh selama beberapa detik. Sesuatu di rahangnya bergerak sedikit. "Aku akan kirim lokasi. Itu berbeda dari chat."
"Secara teknis kamu tetap harus buka chat kita duluan untuk kirim lokasi."
"Ara."
"Hm?"
"Makan bekalmu."
Ara tersenyum ke kotak bekalnya. "Oke."
Gill kembali ke ponselnya.
Dua menit berlalu dengan tenang sebelum Gill berkata, tanpa konteks dan tanpa membuka percakapan dengan cara apapun yang memberi peringatan, "Kamu tadi pagi chat aku duluan."
Ara mengangkat kepala. "Iya. Seperti yang aku bilang semalam."
"Kamu bilang mau kirim pesan supaya aku punya nomormu."
"Iya."
"Tapi kemudian kamu juga kirim pagi."
"Karena memang pagi."
"Dan tanya, 'lagi apa' setelah itu?"
Ara menatap Gill yang masih menatap layar ponselnya, bukan ke arah Ara, tapi cara ia mengucapkan rangkaian fakta itu memperlihatkan bahwa ia sudah memperhatikan lebih dari yang ia perlu perhatikan untuk seseorang yang katanya tidak terlalu peduli dengan banyak hal.
"Itu masalah?" Ara bertanya.
"Tidak."
"Tapi kamu sebut."
"Aku hanya menyatakan fakta."
"Fakta bahwa aku yang chat duluan?"
"Fakta bahwa kamu chat lebih dari sekali."
Ara menyimpan sendoknya sebentar, menatap Gill dari sudut matanya. "Kamu menghitung."
Dua detik hening. "Tidak."
"Gill."
"Makan bekalmu, Ara."
"Kamu menghitung berapa kali aku chat."
"Aku tidak menghitung. Aku hanya ingat."
"Bedanya apa?"
Gill akhirnya menoleh ke Ara dengan ekspresi yang sudah memutuskan bahwa percakapan ini perlu dihentikan sebelum ia mengatakan sesuatu yang lebih banyak dari yang ia rencanakan. "Bedanya signifikan. Dan kamu tahu itu."
Ara menatapnya beberapa detik.
Lalu kembali ke bekalnya dengan senyum yang ia sembunyikan di balik suapan berikutnya karena memperlihatkannya sekarang terasa seperti terlalu menang.
---
Selasa.
Ara membawa bekal dua kotak, satu untuk dirinya dan satu untuk Gill, dan ketika Gill datang ke kelasnya pagi itu dengan susu kotak seperti biasa, ia menyerahkan kotak bekal sambil berkata, "Ada lebih banyak dari biasanya."
Gill mengambilnya. Melihat beratnya. "Porsi ekstra?"
"Ya," Ara berkata dengan nada yang sangat datar. "Aku menambahkan punyaku ke punyamu."
Gill menatapnya. "Kenapa?"
"Aku mau makan lebih di kantin."
"Kamu tidak suka kantin."
"Aku tidak bilang begitu."
"Kamu membawa bekal setiap hari karena menghindari kantin."
Ara membuka mulutnya. Menutupnya. "Hari ini aku mau coba kantin lagi."
Gill menatapnya selama tiga detik dengan cara yang sudah sangat Ara kenal sebagai cara Gill memproses sesuatu yang tidak sepenuhnya ia percaya tapi tidak punya bukti yang cukup untuk dibantah secara langsung.
"Oke," ia berkata akhirnya.
Lalu berjalan keluar kelas.
Via yang menyaksikan seluruh pertukaran itu dari bangkunya menunggu sampai Gill benar-benar tidak terlihat sebelum bersuara. "Kamu sengaja buat bekalnya dua kali lebih banyak supaya dia kenyang."
"Tidak."
"Ara."
"Hm?"
"Kamu sengaja?"
Ara tidak menjawab.
Via mengangguk pelan dengan ekspresi seseorang yang sudah menarik kesimpulan dan tidak membutuhkan konfirmasi verbal. "Oke."
"Via jangan—"
"Aku tidak bilang apa-apa." Via sudah membuka buku catatannya. "Aku hanya mengobservasi."
"Observasi itu sudah cukup."
"Aku tahu." Via menuliskan sesuatu di bukunya. "Tapi untuk catatan, itu manis."
Ara menatap meja di depannya.
"Jangan bilang ke siapa pun," ia berkata akhirnya.
"Siapa juga yang mau aku ceritain." Via membalik halaman bukunya. "Gill? Dia pasti sudah tahu."
Ara menatap Via.
Via menatap balik dengan ekspresi yang sangat netral. "Dia tidak bodoh, Ara. Dia hanya pura-pura tidak tahu karena membiarkanmu melakukannya dengan caramu sendiri."
Ara diam.
Via kembali ke bukunya. "Yuk, pelajaran mau mulai."
---
Rabu.
Gill datang ke kelas XI-A dengan kotak susu seperti biasa.
Tapi pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Bukan dari Gill. Dari kelas.
Beberapa siswa, yang minggu lalu masih menatap Gill dengan tatapan yang mengandung berbagai macam pertanyaan dan skeptisisme, sekarang menatap dengan cara yang sudah sedikit berbeda. Masih memperhatikan, tapi kuantitas ketidakpercayaannya sudah berkurang.
Seminggu lebih menyaksikan kotak susu di pagi hari dan bekal yang berpindah tangan dan percakapan singkat yang selalu terlihat seperti dua orang yang sudah sangat terbiasa satu sama lain, rupanya cukup untuk menggeser perspektif dari ini 'tidak mungkin nyata' ke 'mungkin ini nyata.'
Ara memperhatikan pergeseran itu.
Gill tidak memperhatikan. Atau mungkin memperhatikan tapi tidak mau membuang energi untuk memikirkannya.
"Orang-orang mulai percaya," Ara berkata ketika Gill hendak berbalik.
Gill menoleh. "Percaya apa?"
"Kita." Ara mengangguk ke arah kelas yang sedang pura-pura tidak memperhatikan. "Mereka sudah tidak se-skeptis minggu lalu."
Gill memindai kelas sebentar dengan cara yang singkat. Lalu kembali ke Ara. "Dan?"
"Dan aku rasa itu bagus."
"Untuk situasinya."
Ara menatapnya. "Iya. Untuk situasinya."
Hening satu detik di antara mereka, hening yang mengandung sesuatu yang tidak perlu diucapkan tapi sudah ada di sana sejak malam di minimarket ketika Gill berkata mari lanjutkan sampai kamu tahu apa itu.
"Gill," Ara berkata pelan.
"Hm."
"Sabtu. Kamu jadi kirim lokasi?"
Gill menatapnya. "Aku bilang iya."
"Aku hanya memastikan."
"Aku tidak pernah bilang sesuatu yang tidak akan aku lakukan."
Ara mengangguk. "Aku tahu."
Gill berbalik dan berjalan keluar.
Dan Ara duduk di bangkunya, kotak susu di sudut meja, buku catatan belum dibuka, menatap pintu yang sudah tertutup di belakang Gill dengan sesuatu di dadanya yang sudah tidak asing lagi tapi masih belum sepenuhnya ia beri nama.
Belum.
Tapi sudah dekat.
---
Kamis siang di atap.
Langit Eldria hari ini punya awan tipis yang tidak cukup banyak untuk menghalangi matahari tapi cukup untuk membuat cahayanya lebih lembut dari biasanya. Angin bergerak dengan ritme yang tidak konsisten, kadang kencang sebentar lalu berhenti, lalu kencang lagi dari arah yang berbeda.
Gill duduk di sudutnya dengan ponsel di tangan dan setengah bungkus biskuit di pangkuannya.
Ara duduk di sudutnya dengan bekal yang hari ini lebih bervariasi karena semalam ibunya memasak lebih banyak dari biasanya dan menyuruh Ara membawa sisanya.
Mereka makan dalam hening yang sudah tidak membutuhkan pengantar.
"Gill," Ara berkata setelah beberapa menit.
"Hm."
"Fio tadi malam bilang apa soal persiapan pentas seninya?"
Gill melirik ke arahnya sebentar. "Kostumnya sudah jadi. Karton dan cat hijau. Dia ikut mengecat tapi catnya kena baju."
"Bajunya?"
"Iya."
Ara menahan sesuatu di bibirnya. "Terus?"
"Bajunya hijau di beberapa titik."
"Tapi kostum pohonnya sudah jadi?"
"Jadi. Meski agak miring di satu sisi."
"Fio tidak keberatan?"
"Awalnya dia terlihat bimbang. Lalu dia bilang pohon di alam nyata juga tidak selalu lurus." Gill mengambil biskuit dari bungkusnya. "Itu argumen yang cukup bagus untuk anak enam tahun."
Ara akhirnya tidak bisa menahan senyumnya sepenuhnya. "Fio memang selalu punya argumen yang bagus."
"Terlalu bagus kadang." Gill menawarkan biskuit ke arah Ara. "Dia bilang kalau Sabtu kamu nonton dan akting dia bagus, kamu harus traktir es krim."
Ara mengambil biskuit. "Deal."
"Akan aku sampaikan."
"Gill."
"Hm."
"Kamu mau ikut traktir juga?"
Gill menatap layar ponselnya yang sudah mati karena tidak disentuh beberapa menit. Lalu menyalakannya, lebih sebagai sesuatu untuk dilakukan daripada karena ada yang perlu dilihat. "Aku yang antar kau ke sana."
"Itu berbeda."
"Aku beli cone-nya. Kamu beli topping-nya."
Ara menatapnya. "Itu cara yang sangat spesifik untuk berbagi biaya."
"Efisien."
"Atau pelit."
Gill menoleh ke Ara dengan ekspresi yang datar tapi matanya mengandung sesuatu yang sudah Ara pelajari cara membacanya. "Cone tanpa topping itu sudah es krim. Topping tanpa cone itu hanya tumpukan bahan."
"Jadi kamu bagian yang penting."
"Fondasi."
"Gill."
"Hm."
"Itu cara yang sangat berbelit-belit untuk bilang kamu mau traktir es krim Fio."
Gill diam dua detik.
"Beli cone-nya saja," ia berkata akhirnya.
Ara tertawa kecil, suara yang keluar lebih bebas dari yang biasanya ia keluarkan di tempat lain, lebih nyata, lebih miliknya sendiri.
Gill menatapnya dari sudut matanya.
Tidak berkata apa-apa.
Tapi jarinya yang tadi sudah hendak bergerak di layar ponselnya berhenti di tempatnya, dan ia membiarkan beberapa detik itu berlalu begitu saja tanpa mengisinya dengan sesuatu yang lain.
Membiarkan tawa itu ada.
Di antara mereka dan langit Eldria yang berawan tipis dan angin yang datang dan pergi tanpa permisi.
---
Jumat pagi.
Ponsel Ara berbunyi pukul enam tiga puluh dengan notifikasi dari kontak yang namanya masih *Gill (Jangan Minta Hotspot Lagi).*
Sebuah pin lokasi.
Di bawahnya, satu baris teks.
*Besok. Datang ke sini jam 8. Biar tidak terlambat.*
Ara menatap pin lokasi itu, menekannya, melihat nama tempatnya. Sebuah minimarket, yang berbeda dari minimarket biasa mereka, letaknya di antara rumah Ara dan sekolah Fio jika ditarik garis lurus.
Ia sudah memikirkan titik tengah.
Ara meletakkan ponselnya di meja, menatap langit-langit kamarnya yang sudah mulai terang karena jendela terbuka dan pagi sudah masuk dengan caranya yang tidak menunggu diizinkan.
Ia mengetik balasan.
*Oke. Aku di sana jam 8.*
Dua menit kemudian. *Jangan terlambat.*
*Aku tidak pernah terlambat.*
*Aku tidak yakin itu.*
*Yakinlah.*
Tiga detik. *Bagus.*
Ara tersenyum ke ponselnya.
Lalu mengetik satu hal lagi sebelum bangun dari kasur untuk memulai hari terakhir sekolah sebelum Sabtu. Sesuatu yang kecil dan tidak terlalu penting tapi tiba-tiba terasa seperti perlu diucapkan.
*Gill.*
*Apa.*
*Selamat pagi.*
Balasan datang lebih cepat dari kemarin. Lebih cepat dari Senin. Lebih cepat dari setiap pagi sebelumnya.
*Pagi.*
Hanya itu.
Tapi cukup.
Dan Ara bangkit dari kasurnya untuk memulai hari Jumat dengan langkah yang sudah tahu ke mana arahnya, bukan hanya untuk hari ini tapi untuk besok juga, dan mungkin untuk hari-hari setelahnya yang masih belum punya bentuk tapi sudah tidak terasa seperti sesuatu yang perlu ditakutkan.