Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Bebuyutan
Mobil Rolls-Royce hitam milik Michael melaju membelah kemacetan kota yang mulai gelap. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa dingin—sedingin wajah Michael yang terus menatap layar tabletnya. Sementara itu, Shaneen duduk di sampingnya sambil sibuk memoleskan lip gloss, sesekali mengeluh tentang AC mobil yang menurutnya "merusak kelembapan kulitnya."
"Michael, besok lusa temani aku ke pesta pembukaan galeri tante Linda, ya? Masa aku datang sendiri? Malu dong!" Rengek Shaneen sambil menyenggol lengan Michael.
"Aku sibuk, Shaneen. Pergi saja dengan supir," jawab Michael tanpa menoleh.
Shaneen mendengus keras, sengaja menyandarkan kepalanya ke bahu Michael. "Kamu mah gitu! Selalu sibuk! Padahal aku sudah cantik begini—"
Citttt!
Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak hingga Shaneen terlempar ke depan. Beruntung, Michael dengan refleks cepat menangkap bahu Shaneen agar tidak menghantam kursi depan.
"Ada apa?!" Bentak Michael pada supir di depan.
"Tuan, ada dua motor besar yang menutup jalan di depan... mereka membawa senjata!"
Mata Michael menyipit. Ia segera merogoh saku jasnya, menarik sebuah pistol semi-otomatis dengan gerakan yang sangat terlatih. "Tetap di bawah, Shaneen! Jangan bergerak kalau kau masih mau hidup!"
Shaneen menjerit sekencang mungkin, "Aaaaa! Michael! Itu apa?! Jangan tembak-tembakan, aku takut!"
Shaneen segera meringkuk di bawah jok mobil, menutupi kepalanya dengan tas branded seolah-olah dia sangat ketakutan. Namun, di balik tas itu, mata Shaneen berubah tajam sepekat malam. Ia mengintip sedikit melalui celah kaca film yang gelap.
‘Tiga orang di kanan, dua di kiri. Amatir,’ batin Shaneen dingin.
Suara rentetan peluru mulai menghujani badan mobil yang untungnya berlapis baja. Michael membuka sedikit pintu mobil, memberikan tembakan balasan yang presisi. Namun, seorang penyerang berhasil mendekat dan mencoba memecahkan kaca jendela di samping Shaneen dengan martil baja.
"Michael, dia mau masuk! Tolong!" Teriak Shaneen dengan nada melengking.
Michael yang sedang sibuk menembak ke arah depan, terpaksa berbalik untuk melindungi Shaneen. Namun, sebelum Michael sempat menarik pelatuknya, Shaneen sengaja "tersandung" saat mencoba pindah posisi. Kakinya yang mengenakan high heels runcing itu menendang pintu mobil dengan tenaga yang sangat besar hingga pintu itu terbuka menghantam si penyerang sampai terpental lima meter ke aspal.
"Ups! Pintunya kok kebuka sendiri, Michael!" Seru Shaneen dengan wajah pucat yang dibuat-buat.
Michael terpaku sejenak. Pintu itu berat, tidak mungkin terbuka sekuat itu hanya karena tersandung. Tapi ia tidak punya waktu untuk berpikir. Ia segera menghabisi sisa penyerang yang ada.
Setelah keadaan tenang dan para penyerang melarikan diri, Michael kembali masuk ke mobil dengan napas memburu. Ia menatap Shaneen yang masih gemetar di bawah jok.
Michael menghela napas, lalu tangannya terulur untuk menjentik dahi Shaneen pelan—kali ini lebih lembut dari biasanya. "Sudah aman. Keluar dari sana. Kau mengotori gaun mahalmu."
"Akh, sakit tau! Michael... aku takut banget! Tadi itu siapa? Apa mereka mau mencuri tas ku?" Shaneen merangkak naik, memeluk lengan Michael erat-erat sambil menangis tanpa air mata.
Michael hanya diam, membiarkan Shaneen bergelayut di lengannya. Ia meraba-raba saku celananya, mencari ponsel untuk memanggil tim pembersih. Namun, pikirannya terganggu. Bau wangi dari tubuh Shaneen yang tengah menempel padanya saat ini mengingatkannya pada malam itu—malam saat si Perempuan Gila menyelamatkannya.
Anehnya, aroma parfum vanilla mahal milik Shaneen yang sedang menangis ini, terasa sangat identik dengan aroma samar yang ia cium dari balik dress wanita bertopeng setahun lalu.
‘Tidak mungkin,’ batin Michael menggelengkan kepala. ‘Wanita itu adalah singa, sedangkan Shaneen hanyalah kelinci manja yang menangis karena takut pintunya terbuka.’
Shaneen yang sedang menyembunyikan wajahnya di dada Michael tersenyum tipis. ‘Hampir saja. Lain kali aku harus lebih hati-hati menendang pintu itu.’
‘Tapi mereka siapa? Berani sekali mereka, awas saja!’ batin Shaneen. Shaneen yang merasa Michael menatapnya pun mencondongkan wajahnya keatas.
"Ada apa?" Shaneen mengedipkan satu mata centilnya pada Michael. Michael dengan cepat langsung membuang muka. Hampir saja aksi gilanya itu ketahuan, sejak tadi dia berusaha untuk mencium wangi dari rambut hitam ash grey milik Shaneen.
"Tidak apa-apa," jawabnya kembali menatap keluar kearah jendela mobil.
Shaneen menyipitkan matanya, pikiran menebak-nebak, ada apa sih sebenarnya? Dia terlihat sangat penasaran padaku, haha.
"Katakan!" Ucap Shaneen kembali.
"Katakan apa?" Kali ini Michael beralih pandangan menatap Shaneen.
"Ya katakan saja apa yang kamu pikirkan!" Ucapnya kembali.
"Tidak ada! Dan tidak ada yang perlu ditanyakan padamu!"
Shaneen memutar bola matanya dengan malas. Daripada dirinya penasaran dengan pikiran Michael, mendingan dia memikirkan cara agar melawan kosa kata yang akan Clara tuturkan padanya di pertemuan nanti. Wanita itu, wanita yang selalu membuat Shaneen naik darah. Manusia menyebalkan kedua setelah Michael. Satu-satunya musuh bebuyutan sejak SMA.
Bagaimana tidak, Clara sangat menyukai Michael. Dan tiba-tiba syok berat mendengar kalau Shaneen—musuhnya akan segera menikah dengan pangerannya. Tentu hal ini sama saja dengan mengibarkan bendera perang. Linda ibu dari Clara sengaja mengundang perwakilan keluarga Tizon semata-mata ingin melihat seperti apa wajah Shaneen yang telah berhasil menjadi serangga pengganggu bagi kehidupan putrinya.