NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 24 - HATI YANG TAK MAU JUJUR

Via Liana hampir tidak pernah kesiangan.

Itu bukan kebanggaan yang ia ucapkan dengan keras karena mengucapkan kebanggaan dengan keras adalah cara termudah untuk membuatnya runtuh di saat yang paling tidak tepat. Tapi fakta itu sudah cukup konsisten selama enam belas tahun hidupnya untuk ia anggap sebagai sesuatu yang bisa diandalkan tentang dirinya sendiri, seperti fakta bahwa ia tidak suka makanan terlalu manis dan tidak bisa menonton film horor tanpa menyembunyikan wajah di balik bantal meski tidak akan pernah mengakuinya kepada siapa pun.

Sampai Jumat ini.

Alarm Via berbunyi pukul enam. Ia mematikannya dengan cara yang sudah sangat terlatih, satu sentuhan tepat di tombol yang benar tanpa harus membuka mata sepenuhnya, lalu kembali ke posisi tidurnya dengan niat yang sangat murni untuk bangun tiga puluh detik lagi setelah tubuhnya menyesuaikan diri.

Ia membuka matanya pukul enam empat puluh tujuh.

Via menatap angka di layar ponselnya selama dua detik penuh.

Lalu langsung duduk.

"Astaga."

Ia sudah di kamar mandi dalam waktu kurang dari dua puluh detik, menyikat gigi dengan kecepatan yang tidak disarankan oleh siapapun yang pernah belajar tentang kesehatan gigi, mencuci muka dengan air dingin yang terlalu dingin untuk pagi hari tapi tidak ada waktu untuk menunggu air hangat.

Enam lima puluh dua. Seragam. Kancing. Rambut, disisir cepat, tidak sempurna tapi cukup rapi untuk tidak menarik perhatian yang tidak perlu.

Enam lima puluh delapan. Tas. Sudah dikemas semalam karena Via selalu mengemas tas malamnya meski bangunnya tidak selalu sesuai rencana.

Enam lima puluh sembilan. Sarapan. Tidak ada waktu. Via mengambil roti dari dapur, menggigitnya langsung dari bungkusnya, minum segelas air yang ia teguk terlalu cepat sampai sedikit tersedak, lalu berlari keluar rumah.

Bus sekolah lewat di depan gang pukul tujuh lewat tiga.

Via sampai di ujung gang pukul tujuh lewat dua.

Satu menit. Cukup.

Tapi di ujung gang, ia langsung melihat bahwa bus sudah hampir melewati titik berhentinya, sudah bergerak lebih dari yang seharusnya ketika penumpang masih berdiri di pinggir jalan.

Via berlari.

Bukan jogging. Berlari sungguhan, tas di punggung, roti setengah dimakan masih di tangan, sepatu yang belum sempat dikencangkan talinya dengan benar bunyi tepak-tepak di aspal. Beberapa orang yang berdiri di trotoar menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang campurannya terdiri dari kaget, kasihan, dan sedikit terhibur.

"Hei! Tunggu!"

Supir bus melihat Via dari spion, menghentikan bus setengah blok lebih jauh dari titik berhenti normalnya.

Via naik dengan napas yang sudah tidak teratur, menemukan tempat duduk kosong di dekat pintu karena tidak ada energi untuk berjalan lebih ke belakang, dan duduk dengan cara yang lebih menjatuhkan diri daripada duduk yang sebenarnya.

Beberapa siswa di sekitarnya menoleh.

Via menatap balik dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa tidak ada yang perlu dikomentari di sini dan semua orang lebih baik kembali ke urusan masing-masing.

Mereka kembali ke urusan masing-masing.

Via bersandar ke kursi, mengatur napasnya, dan menyelesaikan rotinya dengan cara yang tidak elegan tapi efektif.

Di luar jendela, Eldria City bergerak melewatinya dengan ritme pagi yang tidak terburu-buru meski Via baru saja berlari setengah blok untuk mengejarnya.

---

Gerbang sekolah.

Via sampai dengan dua menit sebelum gerbang ditutup, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam riwayat kehadiran sekolahnya selama dua tahun terakhir. Pak Budi penjaga gerbang menatapnya dengan ekspresi yang mengandung terkejut yang tidak ia sembunyikan dengan baik.

"Via? Hampir telat?"

"Hampir bukan telat, Pak," Via menjawab sambil berjalan masuk.

Pak Budi mendengus pelan. "Pertama kali dalam dua tahun."

"Pak Budi tidak perlu mencatatnya."

"Sudah kucatat."

Via tidak membalas itu dan langsung berjalan ke gedung utama dengan langkah yang sudah kembali ke kecepatan normalnya meski detak jantungnya belum sepenuhnya ikut normal.

Di lorong menuju kelasnya, ia berpapasan dengan beberapa orang. Menyapa secukupnya, mengangguk ke beberapa yang ia kenal, membalas senyum dengan senyum yang cukup untuk tidak terlihat tidak ramah tapi tidak cukup besar untuk mengundang percakapan lebih lanjut.

Via sampai di depan kelasnya.

Dan di sinilah masalah berikutnya dimulai.

Karena di depan kelas, berdiri dengan punggung bersandar santai ke dinding dan ponsel di tangan, ada seseorang yang mestinya tidak membuat Via perlu mengatur ekspresinya sebelum masuk ke ruangan yang sama.

Tapi selalu membuat Via perlu mengatur ekspresinya.

Mike Deman melihat ke atas dari ponselnya tepat ketika Via tiba di depan pintu.

"Pagi," ia berkata. Satu kata, nada yang sangat biasa, cara mengucapkan sapaan pagi yang tidak berbeda dari cara orang mengucapkan sapaan pagi kepada siapa pun.

Tapi untuk Via, tidak ada yang biasa dari seseorang berdiri di depan kelas dengan rambut yang rapi dengan cara yang menyebalkan dan seragam yang selalu kelihatan seperti baru disetrika bahkan di akhir hari.

"Pagi," Via menjawab. Nada yang sama biasanya. Ekspresi yang sama netralnya.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak satu sentimeter ke atas sebelum ia dorong kembali ke tempatnya.

Mike menyimpan ponselnya ke saku. "Kamu hampir telat?"

"Hampir bukan telat."

"Pak Budi tadi kelihatan terkejut waktu kamu masuk."

"Pak Budi sering terkejut oleh hal-hal kecil."

Mike tersenyum sedikit. Bukan senyum penuh yang ia pasang di depan banyak orang, lebih kecil dari itu, lebih pribadi. "Kamu baik-baik aja?"

Pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan di UKS Selasa lalu.

Dan seperti Selasa lalu, Via tidak langsung menjawab karena pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat dari yang seharusnya ketika datang dari orang tertentu dengan nada tertentu.

"Baik-baik aja," Via menjawab akhirnya. "Alarm."

"Oh." Mike mengangguk pelan. "Sering?"

"Tidak pernah." Via mendorong pintu kelas. "Pertama kali."

Ia masuk ke kelas sebelum Mike sempat berkata apapun lagi.

Atau lebih tepatnya, sebelum Via sendiri sempat mengatakan sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk dikatakan.

---

Pelajaran hari Jumat berjalan dengan ritme yang sudah sangat Via hafal.

Matematika di jam pertama, yang Via sebenarnya cukup suka meski tidak akan mengatakannya dengan nada antusias karena antusias terhadap pelajaran adalah sesuatu yang terasa tidak perlu diperlihatkan. Bahasa Indonesia di jam kedua dengan tugas membaca yang Via sudah kerjakan semalam. Istirahat pertama yang Via habiskan di bangkunya karena Ara sudah ke atap dan Via tidak mau ke kantin sendirian tapi juga tidak mau pergi ke atap karena atap siang hari sudah menjadi wilayah yang mengandung dinamika yang Via belum sepenuhnya siap menjadi bagian aktifnya.

Via mengeluarkan buku catatannya selama istirahat.

Bukan untuk belajar. Hanya untuk melakukan sesuatu dengan tangannya supaya pikirannya punya sesuatu yang bisa dipindahkan fokusnya ke sana.

Di halaman terakhir buku catatan itu, yang Via sisihkan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, ada daftar yang ia mulai tiga bulan lalu dan tidak pernah selesai karena tidak pernah ada titik akhir yang jelas.

*Hal-hal yang Via ketahui tentang dirinya sendiri:*

*1. Tidak suka minta tolong kalau bisa diselesaikan sendiri.*

*2. Marah lebih mudah dari sedih.*

*3. Peduli sama orang dengan cara yang tidak selalu kelihatan.*

Via membaca tiga poin itu.

Lalu menambahkan poin keempat yang sudah lama ia tahu tapi baru sekarang merasa cukup siap untuk dituliskan.

*4. Menyukai seseorang yang tidak menyukaimu balik itu tidak otomatis berhenti hanya karena kamu memutuskan untuk berhenti.*

Ia menatap kalimat itu.

Pena masih di tangannya, tintanya sudah kering di ujungnya tapi tangan yang memegangnya belum bergerak.

Via tidak pernah menipu dirinya sendiri tentang Mike. Ia tahu dari kapan, sudah sangat lama tahu, sudah cukup lama untuk menganggapnya sebagai fakta yang netral seperti fakta bahwa langit biru dan air mengalir ke bawah. Tidak perlu didramakan, tidak perlu diratapi, tidak perlu dijadikan sesuatu yang lebih besar dari yang sebenarnya.

Tapi fakta yang netral tidak selalu terasa netral.

Terutama ketika fakta itu berjalan di lorong sekolah dengan cara yang selalu tahu ke mana tujuannya. Terutama ketika fakta itu berdiri di depan kelas pagi tadi dan bertanya apakah Via baik-baik saja dengan nada yang terdengar seperti ia benar-benar ingin tahu jawabannya.

Via menutup buku catatannya.

Meletakkannya ke dalam tasnya.

Di sebelah kanannya, bangku Ara masih kosong karena Ara masih di atap. Di sisi kiri, bangku yang biasanya kosong karena memang tidak ada teman sekelas yang duduk di sana.

Via mengeluarkan ponselnya.

Membuka chat dengan Ara.

*Lagi di atap?*

Balasan datang cepat. *Iya. Kenapa?*

*Nggak. Cuma tanya.*

*Kamu di kelas? Nggak ke kantin?*

*Nggak mood.*

Tiga detik. *Aku turunin bekal untukmu kalau mau.*

Via menatap tawaran itu.

Ara menawarkan bekalnya. Yang berarti Ara tidak akan makan siang, atau sudah makan cukup dari porsinya sendiri dan sisanya mau diberikan ke Via, atau Ara membawa bekal ekstra karena sudah mengantisipasi ini.

Kemungkinan ketiga terasa paling masuk akal dan paling Ara.

*Nggak usah,* Via mengetik. *Aku bisa ke kantin.*

*Yakin?*

*Iya. Pergi makan sana.*

*Oke. Nanti cerita kalau ada apa-apa.*

Via meletakkan ponselnya.

Lalu berdiri, mengambil dompetnya dari saku tas, dan berjalan ke kantin karena duduk di kelas sendirian dengan pikiran yang tidak mau diajak diam ternyata bukan strategi yang sebaik yang ia bayangkan.

---

Kantin siang hari selalu ramai tapi Jumat siang punya kualitas ramainya sendiri, lebih ringan dari hari-hari lain di tengah minggu karena besok libur dan energi itu sudah terasa bahkan sebelum jam terakhir selesai.

Via mengambil nasi dengan lauk seadanya, membayar di kasir, dan mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai.

Ia menemukannya di meja pojok, bangku panjang yang hanya ditempati satu orang di ujungnya, seseorang yang sedang membaca sesuatu di ponselnya dengan setengah piring makan yang sudah hampir kosong di depannya.

Via duduk di sisi yang berlawanan.

Mulai makan.

Dua menit berlalu sebelum ia menyadari bahwa orang di ujung bangku yang sama itu mengangkat kepala dari ponselnya dan menatap ke arah Via.

Via mengangkat kepala juga.

Mike Deman menatapnya dari jarak empat kursi dengan ekspresi yang tidak terbaca sepenuhnya tapi mengandung sesuatu yang menyerupai pertanyaan. Ia menoleh ke sisi meja yang lain, ke kursi-kursi yang kosong di antara mereka, lalu kembali ke Via.

"Boleh pindah ke sini?" ia bertanya. Menunjuk kursi yang dua tempat dari Via.

Bukan kursi di sebelah langsung Via. Dua kursi jaraknya.

Via menatap kursi yang ditunjuk itu selama satu detik.

"Bebas," ia menjawab. "Kantin umum."

Mike berdiri, mengambil piring dan ponselnya, dan pindah ke kursi yang dua tempat dari Via. Duduk, meletakkan piringnya yang juga hampir kosong, dan kembali ke ponselnya.

Mereka makan di meja yang sama dengan dua kursi kosong di antara mereka dan tidak ada yang memulai percakapan.

Tiga menit berlalu seperti itu.

Kemudian Mike berkata, tanpa mengangkat kepala dari ponselnya, "Makanan hari ini terlalu asin lagi."

Via menatap lauk di piringnya. Mengunyah. "Iya."

"Sudah ketiga kalinya minggu ini."

"Aku hitung dua kali."

"Selasa kamu tidak sadar karena lagi ngomel sama Gill."

Via berhenti mengunyah sebentar. Menatap Mike yang masih menatap ponselnya. "Kamu perhatikan."

"Kantin kecil." Mike meletakkan ponselnya di meja menghadap bawah. "Susah untuk tidak memperhatikan."

"Hm."

Hening sebentar.

"Via," Mike berkata.

"Hm."

"Kamu baik-baik aja? Tadi kelihatan agak..."

"Agak apa."

"Tidak seperti biasanya."

Via menyendok nasinya. "Biasanya aku gimana."

"Lebih." Mike mencari kata yang tepat dengan cara yang terlihat lebih dari sekadar mencari kata. "Hadir. Tadi kamu kelihatan lagi di tempat lain."

Via menatap piringnya.

Pertanyaan itu lebih tepat dari yang Via harapkan dari percakapan siang hari di kantin yang dimulai dari keluhan soal ayam goreng yang terlalu asin.

"Alarm," Via menjawab. Jawaban yang sama dengan tadi pagi karena masih benar dan karena tidak ada jawaban lain yang lebih tepat yang mau ia keluarkan sekarang.

Mike menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk, menerima jawaban itu tanpa mendorong lebih jauh.

"Besok libur," ia berkata, kembali ke nada yang lebih ringan. "Kamu ada rencana?"

"Belum tahu." Via minum airnya. "Kamu?"

"Ada urusan keluarga pagi-pagi. Siang mungkin bebas."

"Hm."

"Kamu mau nggak, kalau siang nanti—" Mike berhenti.

Via menoleh ke arahnya.

Mike sudah mengambil ponselnya kembali, membuka sesuatu di layarnya, dengan cara yang terlihat seperti seseorang yang tiba-tiba sangat sibuk padahal satu detik lalu tidak. "Nggak, nggak jadi. Nanti ganggu rencanamu."

Via menatapnya.

Lalu menatap piringnya.

Di dalam dadanya ada sesuatu yang tadi sudah berhasil ia dorong kembali ke tempatnya sekarang bergerak lagi dengan cara yang tidak meminta izin dan tidak mau diajak kompromi.

Via menekan sesuatu itu ke bawah dengan cara yang sudah sangat terlatih.

"Mike," ia berkata.

"Hm."

"Kamu mau ngomong apa tadi."

Mike tidak langsung menjawab. Layar ponselnya sudah gelap karena tidak disentuh tapi ia masih menatap ke arahnya. "Nggak penting."

"Kalau nggak penting nggak perlu dimulai."

Mike menoleh ke Via.

Via menatap balik dengan ekspresi yang sudah sangat terlatih untuk tidak memperlihatkan lebih dari yang perlu diperlihatkan.

"Aku mau tanya kamu mau nggak temenin aku cari makan siang besok," Mike berkata akhirnya, dengan nada yang lebih langsung dari pembukaan tadi tapi tetap terukur. "Tapi kalau kamu sudah ada rencana nggak apa-apa."

Hening dua detik.

Via menarik napas pelan yang tidak terlihat karena ia pastikan tidak terlihat.

"Belum ada rencana," ia menjawab. Nada yang sama datar dan sama langsung. "Bisa."

Mike mengangguk. "Oke."

"Oke."

Dan mereka kembali ke makan siang masing-masing dengan dua kursi kosong di antara mereka dan kantin yang terus ramai di sekitar mereka dan percakapan yang sudah selesai dengan cara yang sangat tidak dramatis tapi meninggalkan sesuatu di Via yang tidak akan selesai semudah itu.

---

Pelajaran siang berjalan.

Via duduk di kelasnya, mencatat, menjawab pertanyaan guru dua kali karena memang tahu jawabannya dan karena aktif di kelas adalah kebiasaan yang sudah terbentuk terlalu lama untuk berhenti karena ada sesuatu lain yang sedang berjalan di kepala.

Ara kembali dari atap sebelum bel jam ketiga, duduk di sebelah Via, menatap Via sebentar dengan cara yang menyampaikan bahwa ia sedang menilai kondisi Via dari dekat.

"Kamu ke kantin?" Ara berbisik.

"Iya."

"Sendirian?"

Satu detik. "Nggak."

Ara menatap Via lebih lama.

Via tidak menoleh, fokus ke papan tulis di depan.

"Via," Ara berbisik lagi.

"Pelajaran mau mulai," Via memotong pelan.

Ara menutup mulutnya.

Dan Via berterima kasih untuk itu karena jika Ara melanjutkan pertanyaannya Via tidak yakin ia bisa menjawab dengan cara yang tidak memberikan lebih banyak informasi dari yang ia mau berikan kepada siapa pun hari ini termasuk dirinya sendiri.

---

Bel pulang berbunyi.

Via mengemas tasnya dengan kecepatan yang sudah biasa, berdiri, mengalungkan tali tas ke bahunya.

"Via," Ara memanggil dari sebelahnya. "Pulang bareng?"

"Iya."

Mereka berjalan keluar kelas bersama, menyeberangi arus siswa yang berhamburan ke berbagai arah, ke bawah tangga, ke lorong lantai satu, ke arah gerbang.

Di tengah perjalanan, Ara berkata pelan, "Kamu nggak cerita soal kantin tadi."

"Nggak ada yang perlu diceritain."

"Via."

"Ara."

"Kamu makan sama siapa."

Via berjalan tiga langkah sebelum menjawab. Tidak lama. Tapi cukup untuk Via memastikan bahwa nada yang akan ia gunakan sudah benar dan tidak akan memberikan informasi yang tidak ia rencanakan untuk diberikan.

"Mike," ia jawab. Datar. Faktual. Seperti menyebut nama cuaca.

Ara tidak langsung berkata apa-apa.

Mereka sampai di gerbang. Pak Budi mengangguk ke arah keduanya. Via mengangguk balik.

Di luar gerbang, Ara berkata, "Dan?"

"Dan makan. Terus pulang." Via menatap ke depan, ke jalan yang membawa mereka ke arah rumah masing-masing. "Itu aja."

Ara diam dua langkah.

Lalu dengan nada yang sangat hati-hati, terlalu hati-hati untuk tidak disadari oleh Via yang sudah sangat mengenal cara Ara berbicara ketika sedang mencoba tidak menyinggung, berkata, "Ngobrol soal apa?"

"Ayam goreng yang terlalu asin."

Ara berkedip.

Via menatap ke depan.

"Via," Ara berkata akhirnya, dengan nada yang bukan kasihan dan bukan analisis tapi sesuatu di antara keduanya yang lebih dekat ke sayang, "kamu baik-baik aja?"

Via menarik napas.

Di dadanya, sesuatu yang sudah ia dorong ke bawah berkali-kali hari ini bergerak lagi, pelan, dengan cara yang tidak keras tapi konsisten seperti air yang merembes melalui celah yang terlalu kecil untuk dilihat tapi cukup besar untuk dirasakan.

"Iya," ia menjawab.

Dan itu bukan kebohongan.

Tapi juga bukan keseluruhan jawabannya.

Via tahu perbedaan di antara keduanya. Tahu bahwa baik-baik aja dan sepenuhnya baik-baik aja adalah dua hal yang berbeda, tahu bahwa yang pertama bisa benar sementara yang kedua masih dalam perjalanan menuju dirinya.

Yang penting adalah ia sedang dalam perjalanan.

Dan perjalanan itu, meski tidak selalu lurus dan tidak selalu nyaman, sudah ia mulai sejak ia memilih untuk duduk di bangku taman bersama Ara dan bercerita dengan jujur tentang sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri.

"Iya," Via mengulang, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda, sedikit lebih penuh dari sebelumnya. "Aku baik-baik aja."

Ara mengangguk.

Tidak mendorong lebih jauh.

Mereka berjalan sampai perempatan, di mana jalan mereka berpisah seperti setiap hari, dan Via berbelok ke kiri dengan langkah yang sudah kembali ke kecepatan normalnya.

Di belakangnya, ia mendengar Ara berkata, "Via."

Ia menoleh setengah badan.

"Besok Sabtu. Hati-hati di jalan."

Via menatap Ara sebentar. Lalu mengangkat satu tangan ke udara, isyarat kecil yang artinya sudah sangat keduanya tahu.

Lalu berjalan.

Dan di sepanjang jalan pulang itu, di antara suara kota Eldria yang bergerak di sekitarnya dengan ritme yang tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di dalam kepala seorang cewek enam belas tahun dengan rambut hitam pendek dan langkah yang tidak minta maaf atas keberadaannya, Via membiarkan satu pikiran yang sudah seharian ia tahan untuk ada.

Bahwa mungkin, besok, ia tidak akan memesan ayam goreng.

Karena ia sudah cukup banyak mendengar tentang ayam goreng yang terlalu asin untuk hari ini.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!