NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: BAYANGAN BARU

Kemenangan Ha-neul atas Goo Do-shik menyebar cepat di Lingkaran Darah.

Dalam dua hari, namanya menjadi perbincangan di setiap sudut arena. "Bocah kurus dengan pedang kayu" — itu julukan yang diberikan para penjudi. Ada yang menyebutnya "Hantu", karena gerakannya yang sulit ditebak. Ada juga yang memanggilnya "Tusukan Maut", merujuk pada jurus pamungkasnya yang melumpuhkan lawan dalam sekejap.

Ha-neul tidak peduli dengan julukan-julukan itu. Ia hanya peduli pada satu hal: uang.

Kemenangan pertamanya memberinya seratus koin perak — cukup untuk membayar sewa losmen tiga bulan, membeli makanan bergizi, dan masih ada sisa. Tapi ia tahu, uang itu tidak akan bertahan selamanya. Ia harus terus bertarung, terus menang, terus mengumpulkan.

Tapi Hyeol-geon punya pendapat lain.

"Kau tidak bisa terus-terusan bertarung di arena."

Malam itu, Ha-neul duduk di atap losmen, memandangi lampu-lampu kota yang berkelip-kelip di kejauhan. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma asap dan rempah dari pedagang kaki lima.

"Kenapa tidak? Uangnya lumayan."

"Karena kau menarik perhatian. Semakin sering kau menang, semakin banyak orang yang penasaran. Termasuk orang-orang yang mungkin mengenali teknikmu."

Ha-neul terdiam. Ia mengerti maksud gurunya. Teknik Bayangan Meridian adalah warisan Iblis Pedang — sesuatu yang tidak boleh diketahui sembarang orang. Jika ada yang mengenali, bisa berabe.

"Tapi kita butuh uang."

"Aku tahu. Makanya, jangan bertarung terlalu sering. Mungkin seminggu sekali. Atau dua minggu sekali. Cari sumber penghasilan lain."

"Sumber lain?"

"Iya. Misalnya, kau bisa jadi pengawal kargo. Atau jadi guru bela diri keliling. Atau..." Hyeol-geon terdiam sejenak. "...cari harta karun."

Ha-neul mengangkat alis. "Harta karun?"

"Dulu, saat masih hidup, aku menyembunyikan beberapa benda di berbagai tempat. Salah satunya tidak jauh dari sini."

"Serius?!"

"Iya. Tapi itu bukan harta biasa. Itu adalah... peninggalan." Suara Hyeol-geon berubah serius. "Benda-benda yang bisa membantumu meningkatkan kemampuan. Tapi juga bisa membahayakanmu jika jatuh ke tangan yang salah."

Ha-neul diam, mempertimbangkan. Harta karun peninggalan Iblis Pedang pasti sangat berharga. Tapi juga pasti sangat berbahaya.

"Di mana lokasinya?"

"Di utara. Sekitar tiga hari perjalanan dari sini. Tapi kau tidak bisa pergi sekarang. Tinggalkan Soo-ah sendirian terlalu lama? Tidak aman."

"Jadi aku harus tunggu sampai dia cukup kuat?"

"Atau sampai kau punya teman yang bisa dipercaya."

Ha-neul menghela napas. Semua butuh waktu. Tapi waktu adalah sesuatu yang tidak bisa ia beli dengan uang.

---

Keesokan harinya, Soo-ah pamit pergi ke toko herbal. Ia sudah bicara dengan pemilik toko — seorang wanita tua bernama Mak Nyonya Song — dan diterima sebagai asisten paruh waktu. Gajinya kecil, hanya sepuluh koin tembaga sehari, tapi ia senang karena bisa belajar.

"Oppa, Soo-ah pergi dulu," katanya sambil menyisir rambut dengan jepit perak peninggalan ibu — jepit yang dulu sempat diambil Dae-ho.

"Tunggu." Ha-neul memanggil. Ia merogoh kantong, mengeluarkan beberapa koin perak. "Ini buat jaga-jaga. Kalau ada perlu, beli."

Soo-ah menggeleng. "Nggak usah, Oppa. Soo-ah dapat uang sendiri nanti."

"Bawa saja. Untuk jaga-jaga."

Soo-ah akhirnya menerima, tersenyum. "Oppa baik banget."

"Sudah, pergi sana. Jangan telat pulang."

Setelah Soo-ah pergi, Ha-neul duduk sendirian di kamar. Losmen itu sunyi — kebanyakan penghuni bekerja di siang hari. Ia bisa mendengar suara orang menjemur pakaian di lantai atas, dan suara pedagang asongan dari gang.

"Kau sendiri," suara Hyeol-geon. "Waktunya latihan."

Ha-neul tersenyum. Ia suka saat gurunya mengajak latihan. Itu membuatnya lupa pada semua masalah.

---

Di atap losmen, Ha-neul berlatih dengan pedang kayunya. Hyeol-geon memberi instruksi dari dalam cincin, sesekali keluar untuk menunjukkan gerakan.

"Tusukanmu sudah cukup baik. Tapi kau masih terlalu bergantung pada satu jurus. Iblis Pedang Seratus Bayangan punya seratus jurus, bukan satu."

"Ajari aku jurus kedua, Guru."

"Kau belum siap. Jurus kedua membutuhkan aliran Qi yang lebih stabil. Segelmu masih terlalu kuat."

Ha-neul menggerutu. "Kapan kira-kira segel itu bisa terbuka?"

"Tergantung. Mungkin setahun. Mungkin lima tahun. Mungkin..." Hyeol-geon tidak melanjutkan.

"Mungkin tidak pernah?"

"Mungkin."

Ha-neul diam. Ia menatap pedang kayu di tangannya. Selama ini ia bertarung dengan mengandalkan kecepatan dan ketepatan — bukan kekuatan. Tapi cepat atau lambat, ia akan bertemu lawan yang juga cepat, juga tepat. Saat itu, tanpa kekuatan sejati, ia akan kalah.

"Tapi jangan berkecil hati. Ada cara lain."

"Cara apa?"

"Ramuan. Obat-obatan tertentu bisa memperkuat tubuh, membuka meridian secara paksa. Tapi risikonya besar."

"Risiko apa?"

"Bisa mati. Atau lumpuh. Atau meridianmu hancur total."

Ha-neul menghela napas. Semua pilihan berisiko. Tapi bukankah hidupnya sejak lahir sudah penuh risiko?

---

Sore harinya, saat Ha-neul sedang beristirahat, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Ia waspada. Jarang ada orang yang mengetuk kamarnya. Ia mendekat, mengintip lewat celah pintu.

Seorang pria paruh baya berdiri di luar. Pakaiannya rapi, jubah hitam dengan sulaman perak. Wajahnya tenang, berwibawa. Di belakangnya, dua orang pengawal berdiri dengan sikap waspada.

Ha-neul membuka pintu sedikit. "Ada perlu apa?"

Pria itu tersenyum ramah. "Maaf mengganggu. Apakah Anda Kang Ha-neul, petarung yang kemarin mengalahkan Goo Do-shik?"

Ha-neul menegang. "Siapa Anda?"

"Oh, maaf. Saya lupa memperkenalkan diri." Pria itu membungkuk sopan. "Nama saya Jin Dae-hyun. Saya pemilik dari Arena Naga Emas di kota sebelah. Saya datang dengan tawaran."

Ha-neul mengerutkan kening. Arena Naga Emas? Ia pernah dengar dari percakapan di Lingkaran Darah — arena yang lebih besar, lebih bergengsi, dengan hadiah lebih besar.

"Tawaran apa?"

"Bergabung dengan arena saya. Saya dengar Anda bertarung dengan gaya yang unik. Saya pikir, bakat seperti Anda akan lebih dihargai di tempat saya." Jin Dae-hyun tersenyum. "Hadiahnya lebih besar. Lawannya lebih kuat. Dan fasilitasnya lebih baik."

Ha-neul diam. Ia bisa merasakan Hyeol-geon mengawasi dari dalam cincin.

"Beri saya waktu untuk berpikir."

"Tentu, tentu." Jin Dae-hyun mengeluarkan kartu nama dari kayu. "Ini alamat saya di Kota Selatan. Saya akan di sini sampai akhir minggu. Jika berminat, datanglah."

Ia menyerahkan kartu itu, lalu pergi dengan pengawalnya.

Ha-neul menutup pintu, menatap kartu di tangannya.

"Apa kau percaya dia?" tanya Hyeol-geon.

"Belum. Tapi tawarannya menarik."

"Terlalu menarik. Biasanya itu jebakan."

"Mungkin. Tapi aku harus cari tahu."

---

Malam harinya, Ha-neul menceritakan kejadian itu pada Soo-ah.

Adiknya mendengarkan dengan saksama. Setelah Ha-neul selesai, ia bertanya, "Oppa mau ambil tawaran itu?"

"Belum tahu. Aku harus selidiki dulu."

"Kalau Soo-ah, Soo-ah curiga." Soo-ah mengerutkan kening. "Orang asing datang tiba-tiba, nawarin kerjaan enak. Biasanya ada maksud lain."

Ha-neul tersenyum. "Kau pintar."

"Karena Oppa yang ngajarin."

Ha-neul tertawa pelan. Lalu ia berkata, "Besok Oppa akan ke Arena Naga Emas. Lihat-lihat dulu. Kau di sini jaga diri."

"Soo-ah ikut."

"Tidak. Ini penyelidikan. Kalau ada apa-apa, Oppa harus bisa lari cepat. Kalau kau ikut, Oppa jadi khawatir."

Soo-ah cemberut, tapi akhirnya mengangguk. "Oppa janji hati-hati."

"Janji."

---

Keesokan harinya, Ha-neul pergi ke Arena Naga Emas.

Tempat itu ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan. Bangunan bertingkat tiga dengan ornamen naga di setiap sudut. Di depannya, plaza luas dengan air mancur. Penjaga berseragam rapi berjaga di pintu masuk.

Ha-neul mendekat. Seorang penjaga menyambutnya. "Ada keperluan?"

"Saya diundang Tuan Jin Dae-hyun."

Penjaga itu mengamatinya. "Nama?"

"Kang Ha-neul."

Penjaga itu mengangguk. "Tunggu sebentar."

Ia masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, seorang pria berpakaian rapi keluar. "Kang Ha-neul? Tuan Jin menunggu. Silakan ikut saya."

Ha-neul mengikuti pria itu masuk. Di dalam, arena itu luas — jauh lebih luas dari Lingkaran Darah. Tribunnya bertingkat-tingkat, mampu menampung mungkin seribu orang. Di tengah, arena pertarungan berukuran besar, dengan lantai batu yang rata.

Di kantor Jin Dae-hyun, pria itu menyambutnya dengan hangat.

"Ah, Kang Ha-neul! Senang Anda datang." Ia mempersilakan duduk. "Mau minum teh?"

"Tidak, terima kasih. Saya langsung ke tujuan."

Jin Dae-hyun tersenyum. "Tegas. Saya suka." Ia duduk di kursinya. "Baik, saya tawari Anda kontrak. Enam bulan. Anda bertarung minimal dua kali sebulan. Hadiah minimal lima puluh koin emas per pertarungan, plus bonus jika menang. Menginap dan makan ditanggung."

Ha-neul terkejut. Lima puluh koin emas? Itu lima kali lipat dari hadiah di Lingkaran Darah.

"Kedengarannya terlalu bagus."

Jin Dae-hyun tertawa. "Memang. Tapi ada syaratnya."

Ha-neul sudah menduga. "Apa?"

"Anda harus menunjukkan teknik Anda di depan juri kami. Saya ingin memastikan Anda layak dapat hadiah sebesar itu."

Ha-neul diam. Itu berarti ia harus bertaruh di depan orang-orang yang mungkin mengenali tekniknya. Tapi jika ia menolak, tawaran ini hilang.

"Terima," suara Hyeol-geon tiba-tiba. "Tapi minta pertarungan tertutup. Hanya juri dan beberapa orang."

Ha-neul mengangguk dalam hati. "Saya setuju, tapi dengan syarat: pertarungan uji coba dilakukan tertutup. Hanya juri dan Anda."

Jin Dae-hyun mengangkat alis. Lalu tersenyum lebar. "Pintar. Anda tahu cara melindungi diri." Ia mengangguk. "Setuju. Besok malam, di arena ini, setelah tutup. Saya akan hadirkan tiga juri terbaik saya."

"Baik."

Ha-neul berdiri, siap pergi. Tapi Jin Dae-hyun memanggil.

"Kang Ha-neul."

Ia menoleh.

"Anda tahu, saya sudah melihat banyak petarung. Tapi Anda berbeda. Bukan karena teknik Anda, tapi karena mata Anda." Jin Dae-hyun tersenyum misterius. "Mata Anda seperti orang yang sudah kehilangan segalanya. Itu membuat Anda berbahaya."

Ha-neul tidak menjawab. Ia hanya membungkuk sopan, lalu pergi.

---

Di luar, ia menarik napas lega.

"Kau tahu, itu bisa jebakan," kata Hyeol-geon.

"Aku tahu. Tapi kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu."

"Berani. Tapi hati-hati. Aku akan awasi dari cincin."

Ha-neul mengangguk. Ia melangkah pulang, melewati keramaian kota yang mulai ramai menjelang sore.

Di langit, awan kelabu mulai berkumpul. Tanda hujan akan turun.

Tanda badai baru akan datang.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!