"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azeus Yang kesepian
"Ze, kita balik dulu ya? Udah jam dua pagi," pancing Raka, mencoba memecah kesunyian.
"Hm. Balik aja. Gue nggak apa-apa sendiri," jawab Azeus singkat. Suaranya dingin dan datar. Tak ada lagi nada narsis atau sombong yang biasanya jadi ciri khasnya.
Dia cuma duduk bersandar, kakinya yang masih dibalut perban rapi dari rumah sakit tadi pagi dilonjorkan di atas kursi kecil.
Keempat temannya saling lirik. Dion menggeleng pelan. Mereka tahu, di balik sikap dingin itu, Azeus sedang hancur. Apalagi sekarang dia nggak punya akses ke rumahnya sendiri.
"Gue nggak balik deh. Males, di rumah nyokap pasti ngomel liat jaket gue robek," celetuk Gathan sambil melempar kunci motornya ke meja, mencari-cari alasan.
"Gue juga nginep. Stok kopi di sini masih banyak, sayang kalau nggak diabisin," tambah Dion sambil menarik bantal lusuh ke sofa.
Azeus akhirnya menoleh, menatap mereka dengan tatapan tajam yang kosong.
"Gue bilang balik ya balik. Gue bukan anak kecil yang perlu dijagain."
"Emang bukan," Raka mendekat, lalu duduk di lantai di samping kursi kaki Azeus.
"Tapi lo itu lagi cedera, Ze. Tadi kata dokter kaki lo harus dipantau, takutnya bengkak atau lo demam karena luka dalam. Kalau lo pingsan sendirian di sini, siapa yang mau gotong tubuh lo yang berat ini?"
Azeus terdiam, tidak mampu mendebat lagi.
"Udah, jangan banyak protes," sahut Raka lagi sambil menyelimuti kaki Azeus dengan kain bersih agar tidak kedinginan.
"Malam ini kita semua di sini. Basecamp ini rumah lo sekarang. Kalau lo butuh apa-apa, atau kalau lo mulai mikir yang aneh-aneh soal cewek itu... kita ada di sini buat dengerin."
Azeus membuang muka ke arah jendela yang gelap. Menahan matanya yang berkaca kaca, Cowok yang biasanya paling petantang-petenteng itu kini hanya bisa mengepalkan tangan erat-erat.
Rasa hangat dari perhatian teman-temannya perlahan menusuk relung hatinya yang paling dalam, membuatnya sadar bahwa meski dunianya runtuh, ia tidak benar-benar berdiri sendirian di reruntuhan itu.
^^^^
Pahi hari...
Suara deru motor teman-temannya perlahan menghilang, berganti dengan suara kicauan burung yang terasa mengejek kesunyian di dalam Basecamp. Raka, Dion, dan yang lainnya harus pergi ke kampus untuk kelas pagi. Mereka sempat menawari Azeus untuk dibelikan sarapan, tapi Azeus menolak dengan dalih masih kenyang.
Kini, Azeus benar-benar sendiri.
Ia mencoba menggerakkan kakinya. Rasa nyeri yang berdenyut hebat langsung menjalar hingga ke pinggang, memaksanya kembali bersandar pada sofa usang. Ia merogoh dompet kulitnya.
Salah satu hal berharga yang tersisa selain pakaian di badannya. Di dalamnya masih ada beberapa lembar uang ratusan ribu, sisa uang tunai yang belum sempat masuk ke rekening yang kini diblokir ayahnya.
Azeus menatap uang itu dengan getir. Uang ini mungkin cukup untuk makan beberapa hari, tapi tidak cukup untuk membeli kembali rasa tenang yang hilang.
Ia meraih ponselnya, ibu jarinya bergerak gelisah di atas layar. Secara refleks, ia mencari kontak yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia hubungi.
"Mama"
Nama itu tertera di sana, tapi terakhir kali mereka bicara adalah enam bulan lalu, itu pun hanya pesan singkat selamat ulang tahun yang terasa sangat formal. Azeus teringat saat usianya 12 tahun, saat dunia kecilnya hancur karena pertengkaran hebat di ruang tamu yang berakhir dengan koper-koper yang dibawa pergi. Ibunya memilih memulai hidup baru di luar negeri bersama suami barunya, meninggalkan Azeus di bawah asuhan Ayahnya yang keras dan dingin.
"Seharusnya kamu di sini, Ma..." bisik Azeus parau.
Matanya mulai memanas. Di saat kakinya hancur, hatinya hancur karena rasa bersalah pada Aluna, dan Ayahnya memperlakukannya seperti sampah, Azeus merindukan pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan lagi selama satu dekade. Ia membayangkan jika ibunya ada di sini, mungkin kepalanya akan diusap, mungkin ia tidak akan ditampar berkali-kali di lorong rumah sakit tadi malam.
Ia membuka galeri foto, melihat satu-satunya foto lama mereka yang masih ia simpan. Foto buram saat ia masih kecil, tertawa tanpa beban.
Azeus segera mematikan ponselnya dan melemparnya ke samping. Rasa sepi itu kian mencekik. Di tengah ruangan yang penuh dengan suku cadang motor dan poster balap, Azeus merasa seperti bocah 12 tahun yang kembali ditinggalkan di sudut rumah yang kosong.
Ia memejamkan mata, namun bayangan darah Aluna dan wajah murka ayahnya kembali menghantui. Di Basecamp ini, Azeus sadar. dia tidak hanya kehilangan fasilitas dan rumah, tapi dia juga kehilangan arah untuk pulang.
^^^
Azeus kembali mengambil benda kotak itu dan menatap layar ponselnya cukup lama sebelum jemarinya yang gemetar akhirnya menekan tombol hijau. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia balapan. Ia mengira panggilan itu akan masuk ke kotak suara, namun pada nada sambung ketiga, klik suara terdengar.
"Halo? Azeus? Sayang?"
Suara itu. Lembut, hangat, dan sangat akrab di telinga Azeus meski sudah ribuan kilometer dan bertahun-tahun memisahkan mereka. Azeus tercekat, tenggorokannya terasa seperti disumbat batu besar.
"Ma..." suaranya pecah, hanya berupa bisikan parau.
"Mama sudah dengar beritanya, Nak. Mama lihat di portal berita lokal tadi pagi. Kamu tidak apa-apa? Kaki kamu gimana? Mama khawatir banget," suara ibunya terdengar bergetar di seberang sana, penuh kecemasan yang tulus.
Mendengar perhatian itu, pertahanan Azeus hancur. Ia yang dikenal sebagai pemimpin geng yang badboy dan tak tersentuh, kini hanya bisa menunduk dalam kesunyian Basecamp, membiarkan air mata menetes tanpa suara membasahi celana jinnya.
"Zeze nggak apa-apa, Ma. Tapi... ada orang lain yang jadi korban. Ayah marah besar. Dan Zeze diusir."
Zeze adalah Nama kecil Azeus .
"Mama tahu sifat Ayahmu, Nak. Dia keras kepala," helas ibunya dari kejauhan.
"Maafin Mama ya, Nak. Mama belum bisa pulang ke Indonesia sekarang, ada urusan keluarga di sini yang belum bisa ditinggal. Mama minta maaf belum bisa ada di samping kamu buat meluk kamu."
Azeus menutup matanya rapat-rapat, merasakan sesak yang luar biasa. "Nggak apa-apa, Ma. Denger suara Mama aja Zeus udah ngerasa... mendingan."
"Dengar, Sayang. Mama tahu Ayahmu pasti blokir semua fasilitasmu kan. Mama nggak mau kamu kelaparan atau kesusahan. Kirim nomor rekening salah satu temanmu yang paling kamu percaya sekarang ya. Mama bakal kirim uang buat pegangan kamu."
"Nggak usah, Ma. Zeus masih ada uang tunai—"
"Jangan membantah Mama kali ini, Azeus," potong ibunya dengan nada manis namun tegas.
"Ini bukan soal uang, ini cara Mama jagain kamu dari sini. Pakai uang itu buat tanggung jawab ke gadis itu juga, ya? Titip maaf Mama buat dia."
"Suami mama gak marah, kirim uang buat aku?" Azeus ragu, takut kiriman uang itu memicu pertengkaran untuk mereka.
"Papa disini orang baik kok, gak usah kawatir. Yaudah, mama tutup telpon nya ya? nanti kirim no rekeningnya kesini"
Azeus mengangguk pelan, seolah ibunya bisa melihatnya. Percakapan itu singkat, namun cukup untuk membalut luka di hati Azeus yang jauh lebih dalam daripada luka di kakinya. Setelah telepon ditutup, Azeus menatap layar ponselnya yang gelap dengan senyum tipis yang getir, merasa sedikit pulang meski fisiknya masih terbuang.