Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan sebentar
Annette tidak berhenti mengomeli Leon sepanjang perjalanan. Ia pikir rumahnya sangat dekat berjarak beberapa rumah saja dari rumah Leon. Nyatanya mereka baru sampai setelah satu jam perjalanan. Itu pun Annette digendong oleh Leon di tengah jalan karena sudah tidak kuat berjalan.
Leon hanya mendengarkan saja omelan itu tanpa berniat menjawab. Wajahnya dibuat sedatar mungkin agar tidak terlihat jika ia sedang menahan tawanya.
Ocehan Annette baru berhenti ketika mereka memasuki rumah yang begitu mewah. Mungkin dua kali atau tiga kali dari rumah Leon.
Di depan ada sebuah taman yang banyak sekali ditanami bunga-bunga mulai dari bunga dalam negeri sampai dari luar negeri yang pastinya harganya sangat mahal.
Ada beberapa patung kuda yang seperti siap berperang. Serta air mancur bersusun yang sangat indah.
Annette terpukau melihat itu semua. Tidak seperti Leon yang biasa saja.
"Tutup mulutmu, nanti ada lalat masuk" katanya sembari menutup mulut Annette dengan tangan. Annette hanya melirik dan menyingkirkan tangan Leon. Ia berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Leon dan beberapa pekerja yang sedang membersihkan halaman.
Para pelayan tidak heran melihat sikap Annette yang tidak menjawab sapaan mereka. Annette memang seperti itu. Jarang bicara jika tidak perlu dan terkesan sombong.
Sekali lagi mata Annette susah berkedip saat memasuki rumah yang seperti istana. Dinding dan lantai marmer yang katanya sangat mahal. Sangat berbeda jauh dari tempat tinggalnya di rumah perkebunan. Guci-guci dari emas memanjakan matanya serta bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan.
"Annette.. Kau pulang..." suara seorang pria menyapa Annette dari belakang tubuhnya.
Annette terdiam, menyiapkan hatinya sebelum berbalik badan dan melihat seperti apa rupa ayahnya. Ayah yang secara tidak langsung memberikan neraka dalam hidupnya.
"Iya, ayah. Aku pulang .." jawab Annette dengan wajah datar. Ia simpan dalam-dalam rasa kagumnya. Dan akan ia lanjutkan nanti jika tidak ada orang.
"Kemarilah, ayah merindukanmu.." kata Tuan Wiles merentangkan kedua tangannya.
Kaki Annette mulai melangkah ingin masuk ke dalam pelukan itu, namun seperti ada yang menahan dari dalam hatinya. Sulit dan berat.
Annette ingin berlari, sebuah kerinduan yang bercampur dengan benci tidak bisa ia bendung lagi. Tapi ia memutuskan untuk berjalan pelan sembari fokus mencerna bayangan yang kembali hadir dibenaknya.
Ayahnya mencintai nya juga seperti mencintai Emilie, itu yang dikatakannya. Tapi ayahnya jarang menurutinya. Ia lebih menuruti keinginan Emilie dan Vivian saja.
Setiap pulang dari berlayar ayahnya juga sering membelikan hadiah yang sama untuknya dan Emilie. Itulah sebabnya ia memiliki banyak barang mewah dan bagus. Tapi di dalam rumah ia tidak pernah dibelikan apa-apa oleh ibu tirinya.
"Aku merindukan mu, ayah" kata Annette. Kepalanya terasa sakit, ia hampir jatuh jika Tuan Wiles tidak menahan tubuhnya.
"Annette, kau kenapa ?" tanya Tuan Wiles cemas.
"Aku, aku..." belum sempat Annette menyelesaikan ucapannya, ia benar-benar pingsan dalam dekapan Tuan Wiles dan bersama dengan itu Leon masuk ke dalam.
"Paman, Annette kenapa ?" tanya Leon tidak kalah paniknya. Ia merasa bersalah karena mengajak Annette berjalan kaki jauh.
"Aku tidak tau, Leon. Ayo bantu aku membawa ke kamarnya," kata Tuan Wiles. Tapi Leon mengatakan jika ia bisa sendiri membawa Annette. Dan Tuan Wiles setuju lalu ia berjalan lebih dulu untuk menunjukkan dimana kamar Annette sekaligus membuka pintunya.
Annette dibaringkan di ranjang. Leon melepas sepatunya dan melonggarkan ikatan di bajunya. Seorang pelayan datang membawa air hangat dan minyak aromaterapi.
Leon duduk disebelah Annette dan mulai menggosok minyak tersebut ke area hidung Annette, barangkali Annette bisa sadar saat mencium aromanya.
Tuan Wiles juga mengambil kain yang diberi air hangat untuk menyeka wajah Annette, kemudian telapak tangan dan telapak kakinya.
"Apa kau tidak berencana menetap di sini ?" tanya Tuan Wiles.
Leon diam sesaat. Tangannya masih sibuk memijat pelipis Annette.
"Aku belum memikirkan itu, Paman. Aku senang tinggal di perkebunan," kata Leon menatap mata Tuan Wiles.
Terdengar helaan nafas panjang dari pria berusia empat puluh lima tahun itu.
"Kalau itu mau mu apa aku bisa melarang nya ? sifatmu sama dengan Robin," kata Tuan Wiles menyebutkan nama ayah Leon. Leon hanya mengangguk.
Tuan Wiles pamit pergi sebentar menyuruh pelayan menyiapkan hidangan untuk Leon dan Annette. Meskipun Leon mengatakan jika mereka akan pergi ke pesta sebentar lagi tapi Tuan Wiles tetap pergi.
Leon diam memikirkan pertanyaan Tuan Wiles. Kini pertanyaan itu mulai meracuni pikirannya. Ia yang sejak dulu memang berkeinginan selamanya hidup di perkebunan kini agak bimbang.
Apa ia sudah berlaku jahat dengan membawa Annette tinggal disana ?
Ia pandangi wajah istrinya yang damai. Kedua matanya mulai bergerak seperti akan sadar.
"Annette..." panggil Leon dan Annette pun segera membuka matanya.
Annette masih menyesuaikan pandangannya dengan pencahayaan. Ia memijat keningnya yang terasa berat.
Apa yang baru saja dilalui nya ? Apa hanya mimpi atau ia dilempar pada sebuah kejadian ?
Annette melihat dirinya yang dikelilingi oleh pria-pria yang tidak ia kenal. Atau mungkin itu memang dirinya di masa lalu.
Dari kejauhan ia melihat Vivian yang berteriak memerintahkan pria-pria itu untuk menodai Annette agar Annette diberi hukuman berat dan jika perlu diusir dari rumah nya.
Ia melihat senyum Vivian yang penuh dengan kemenangan lalu pergi meninggalkannya.
Annette hanya wanita lemah, tidak akan bisa membela dirinya. Vivian pikir sebentar lagi ia bisa menyingkirkan Annette dari kehidupannya.
Tapi tanpa ia duga, Annette adalah wanita yang cerdik. Ia mungkin tidak bisa bertarung atau melukai orang. Namun ia membawa sesuatu di balik gaunnya. Sebuah kantung kain yang berisi lada bubuk yang begitu pedih apabila terkena mata.
Dengan kemarahannya yang memuncak pada Vivian, Annette mengambil serbuk tersebut kemudian melemparkannya pada pria-pria yang menatap nya dengan tatapan lapar.
Mereka berteriak dan saling bertabrakan karena tidak bisa melihat jalan. Kesempatan itu digunakan oleh Annette untuk menjauh. Lalu Annette terbangun dan melihat Leon berada di sisinya.
"Annette, kenapa melamun ? Kalau aku perhatikan sejak kemarin kau sangat suka melamun. Apa kau lebih menyukainya daripada memandang suamimu yang tampan ini ?" tanya Leon, tangannya mengalihkan pandangan Annette agar hanya menatapnya saja.
Annette hanya tersenyum tanpa suara. Ia masih memikirkan mimpinya dan mencoba menghubungkan benang merahnya.
Lalu sebuah bayangan muncul lagi. Vivian terlihat sangat marah dan melemparkan guci-guci miliknya. Di hari itu Tuan Wiles pulang dari berlayar dan membawa kabar bahwa ia ingin menikahkan salah satu putrinya.
'Jadi ibu tiri itu berulang kali ingin melenyapkan Annette. Ya Tuhan kasihan sekali kau, Annette. Hidupmu pasti tidak bahagia. Kalau memang seperti itu, maka aku akan membalas perbuatan mereka semua,' tekad Annette dalam hati.
...
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪