NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Fakta.

"Gani, tolong. Hanya kau yang bisa kuandalkan sekarang," suara Nana bergetar di telepon, namun ada nada ketegasan yang belum pernah didengar Gani sebelumnya.

"Na, kau tahu kan Pak Aska sudah memblokir semua aksesmu ke sistem Stellar? Bahkan aku diperingatkan untuk tidak berhubungan denganmu selama investigasi," bisik Gani di seberang sana, suaranya terdengar cemas. Tampaknya dia sedang bersembunyi di ruang server atau pantry.

"Aku tidak butuh akses sistem utama, Gan. Aku butuh kau memeriksa buku manual log keamanan di pos parkir belakang. Kau tahu Pak Satpam sering lupa menginput data ke komputer, tapi mereka selalu mencatat plat nomor kendaraan yang masuk ke lift barang secara manual," Nana menjelaskan dengan cepat. "Cek pukul sepuluh sampai dua belas malam. Cari mobil yang tidak asing."

Hening sejenak. Nana bisa mendengar deru napas Gani yang ragu.

"Oke, oke. Aku akan coba. Tapi kalau aku dipecat, kau harus menjamin makanku selama setahun!" canda Gani dengan nada getir sebelum mematikan telepon.

Sementara itu, di kantor firma hukumnya, Aska duduk di balik meja besarnya. Di hadapannya, Vanya sedang menyesap kopi dengan tenang.

"Aska, kau terlalu keras padanya," ujar Vanya lembut, meski matanya berkilat senang. "Wajar jika gadis seumurannya ceroboh. Dia belum pernah memegang proyek sebesar ini."

Aska tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan rekaman CCTV lorong kantor Nana semalam. Ia memutar ulang bagian di mana Nana keluar.

"Aku tidak benci kecerobohannya, Vanya," suara Aska terdengar berat dan dingin. "Aku benci kenyataan bahwa dia tidak waspada setelah semua peringatan yang kuberikan. Di duniaku, satu detik tanpa waspada bisa menghancurkan reputasi seumur hidup."

"Lalu, apa rencanamu? Richard menuntut kejelasan sore ini," tanya Vanya. "Ayahku bilang, jika Stellar tidak bisa mengamankan naskah itu, firma kami siap mengambil alih aspek legalnya dengan tim yang lebih ... berpengalaman."

Aska melirik Vanya. "Aku tidak akan melepaskan proyek ini. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mencuri apa yang sudah kubangun."

Ponsel Aska bergetar. Sebuah pesan dari Siska: "Pak, Bu Tusi dan Tris sedang berada di depan. Mereka bersikeras ingin bertemu Bapak."

Aska menghela napas panjang. "Suruh mereka masuk."

Tusi masuk dengan wajah sembap, diikuti Tris yang menunduk lesu. Begitu melihat Vanya, Tusi sedikit merapikan penampilannya, mencoba tetap terlihat bermartabat di depan calon menantu impiannya itu.

"Aska! Kau keterlaluan!" Tusi langsung menyerang. "Bagaimana bisa kau menuduh adikmu sendiri mencuri di kantor Nana? Tris bersamaku semalam!"

Aska berdiri, tatapannya menghunus langsung ke arah Tris. "Ibu jangan berbohong untuknya. Aku tahu Tris keluar rumah pukul sepuluh malam menggunakan mobil lama Ayah. Dan sistem GPS di mobil itu menunjukkan dia berhenti di area sekitar gedung Stellar Komik selama empat puluh menit."

Wajah Tris pucat pasi. Ia tidak menyangka Aska bahkan memasang pelacak di mobil tua ayahnya.

"A-aku hanya lewat sana, Bang! Aku ingin bertemu temanku di kafe sebelah!" bela Tris terbata-bata.

"Lalu kenapa kau mengenakan hoodie hitam yang sama dengan pria di CCTV ini?" Aska memutar layar monitornya, memperlihatkan cuplikan pria misterius itu.

Vanya sedikit menegang di kursinya. Ia tidak menyangka Aska akan secepat itu memojokkan adiknya sendiri. Namun, Vanya tetap tenang. Ia tahu Tris sudah membuang flashdisk dan membakar naskah itu di tempat sampah umum. Tanpa barang bukti fisik, Aska tidak bisa membuktikan apa-apa secara hukum.

***

Di apartemennya, Nana baru menerima pesan gambar dari Gani. Sebuah foto dari buku log manual satpam. Di sana, tercatat sebuah plat nomor mobil: B 1204 TED.

"Mobil Ayah," bisik Nana.

Nana segera menyambar jaketnya. Ia tahu ke mana Tris biasanya pergi jika sedang stres atau merasa menang: sebuah gudang tua milik teman geng motornya di pinggiran Jakarta. Tempat itu sering digunakan Tris untuk menyimpan barang-barang "gelap" agar tidak ketahuan Aska.

Nana sampai di gudang itu satu jam kemudian. Dengan keberanian yang tersisa, ia mengintip melalui celah pintu. Di sana, Tris sedang tertawa bersama seorang temannya, memegang sebuah flashdisk merah, flashdisk milik Nana.

"Abangku pikir dia pintar," ejek Tris sambil melemparkan flashdisk itu ke atas meja. "Dia tidak tahu kalau aku belum membuang ini. Vanya bilang buang saja, tapi aku pikir ini bisa kujual ke studio saingan Richard. Lumayan untuk bayar cicilanku."

Nana gemetar karena marah. Ternyata bukan hanya sabotase, Tris berniat mengkhianati kinerja kakaknya sendiri demi uang. Nana segera mengeluarkan ponselnya, merekam pembicaraan itu.

Namun, kakinya tidak sengaja menyenggol kaleng kosong. Klang!

"Siapa di sana?!" teriak Tris.

Nana panik. Ia berbalik untuk lari, namun Tris lebih cepat. Pria itu menarik rambut Nana dan menyeretnya masuk ke dalam gudang.

"Oh, lihat siapa yang datang," Tris menyeringai kejam. "Mantan tunanganku yang malang. Kau ingin menjadi pahlawan, Na? Kau ingin membuktikan pada Aska bahwa kau suci?"

Tris merebut ponsel Nana dan membantingnya hingga hancur. "Sekarang, tidak ada bukti. Dan tidak ada yang akan menolongmu. Aku akan memastikan Aska semakin membencimu karena kau 'menghilang' di saat investigasi berlangsung. Dia akan menganggapmu kabur karena bersalah."

"Kau gila, Tris!" teriak Nana. "Aska akan tahu!"

"Aska hanya percaya pada bukti, Na. Dan saat ini, buktinya adalah kau ceroboh, dan naskah itu hilang. Siapa suruh kau menolakku," Tris mengangkat tangannya, hendak menampar Nana.

"Lepaskan dia."

Sebuah suara dingin dan berat menggelegar dari pintu gudang yang terbuka lebar. Aska berdiri di sana, dikawal oleh dua orang keamanan berbadan tegap. Wajahnya tidak lagi dingin, kali ini wajahnya memancarkan kemarahan murni yang mematikan.

Di belakangnya, Siska tampak sedang memegang ponsel yang tersambung dengan pelacak GPS dari jam tangan yang pernah Aska berikan pada Nana (yang ternyata memiliki tracker tersembunyi sebagai bagian dari proteksi Aska).

Aska melangkah masuk. Ia tidak melihat ke arah Tris, matanya hanya tertuju pada Nana yang tersungkur di lantai dengan sudut bibir yang berdarah.

"Bang..." bisik Nana lemas.

Aska melepas jasnya, melemparkannya ke arah Siska, lalu berjalan mendekati adiknya. Tanpa peringatan, sebuah pukulan mentah mendarat di rahang Tris, membuatnya tersungkur menghantam meja kayu.

"Aku bisa memaafkanmu karena mencuri uangku, Tris," ujar Aska sambil mencengkeram kerah baju adiknya dan mengangkatnya dengan satu tangan. "Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu karena menyentuh apa yang menjadi tanggung jawabku."

Tris terbatuk darah. "Abang... dia hanya orang asing... kenapa kau membela dia daripada aku?"

"Karena dia punya martabat yang tidak akan pernah kau mengerti," jawab Aska dingin. Ia lalu menoleh ke arah Siska. "Ambil flashdisk itu. Dan panggil polisi. Aku ingin adikku sendiri yang merasakan bagaimana rasanya berada di balik jeruji besi atas tuduhan pencurian dan penganiayaan."

Nana tertegun. Aska benar-benar akan memenjarakan adiknya sendiri demi dia?

Aska berjalan menghampiri Nana, lalu membantunya berdiri. Ia tidak memeluknya, namun tangannya memegang bahu Nana dengan sangat erat, seolah memastikan gadis itu tidak akan jatuh lagi.

"Kau ceroboh, Nana," bisik Aska di telinga Nana, suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan. "Sangat ceroboh hingga kau hampir kehilangan nyawamu."

"Aku hanya ingin membuktikannya padamu, Bang," sahut Nana di tengah isakannya.

Aska menatap mata Nana dalam-diam. "Aku sudah tahu sejak awal itu Tris. Aku hanya ingin melihat seberapa jauh kau akan berjuang untuk martabatmu sendiri. Dan hari ini, kau sudah melakukannya."

Namun, di tengah momen itu, ponsel Aska berdering. Sebuah panggilan dari Vanya.

Aska mengangkatnya, suaranya kembali menjadi es. "Pencurinya sudah ditemukan, Vanya. Dan jangan coba-coba mencampuri urusan ini lagi, atau firma hukum ayahmu akan menghadapi gugatan karena keterlibatanmu dalam menghasut tindak pidana."

Nana tersentak. Aska bahkan tahu keterlibatan Vanya?

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!