“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Tak Pernah Sampai
"Wah, sesederhana ini tekniknya?"
Suara Fang Yi memecah keheningan malam, disusul tawa renyah yang sedikit bergema. Ia mulai menyeka keringat yang membasahi pelipisnya, sama sekali tidak menyadari ironi yang sedang terjadi. Baginya, teknik itu tampak mudah, namun kenyataannya, dunialah yang tidak masuk akal dalam memandang bakatnya.
Di dalam pembuluh darahnya, kini mengalir Qi murni yang setara enam puluh tahun kultivasi—sebuah kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh para petapa yang menghabiskan seumur hidup di puncak gunung. Meski tangannya masih kaku dan pengalamannya sehijau daun muda, potensi mentah Fang Yi adalah sebilah pedang yang belum diasah. Jika teknik pemberian Ming itu terus ditempa dalam api pertempuran, sosok pemuda penginapan ini akan menjadi badai yang mampu menumbangkan sang Pemimpin Aliansi Murim sekalipun.
"Hmm, lalu sekarang apa? Tidur sajalah, badanku terasa ingin copot," gumamnya. Ia menutup kitab itu dengan khidmat lalu segera memadamkan lilin, dan ia mulai melangkah masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan. Di sana, adiknya sudah terlelap. Fang Yi berbaring di sampingnya, membiarkan rasa lelahnya larut dalam rutinitas hangat yang selalu menjadi jangkar bagi hidupnya setelah kepergian orang tua mereka.
Namun, di belahan dunia yang lain, kedamaian itu hanyalah sisa-sisa waktu yang dipinjam.
"Itu mereka, Ketua Aliansi! Regu patroli kita yang belum kembali!" Sebuah teriakan parau merobek kesunyian goa.
Pemimpin Aliansi Murim berdiri mematung di bawah remang cahaya obor yang menari. Matanya menatap tajam dua jasad yang tergeletak kaku dengan posisi yang tak lazim. "Tebasan yang sangat presisi... mereka mati bahkan sebelum menyadari pedang telah menebas tubuh mereka," gumamnya, suaranya berat dengan kecemasan. Ia merasakan sisa energi dingin yang tertinggal di udara. "Mungkin dia setingkat denganku, atau mungkin lebih tinggi. Perintahkan seluruh pasukan untuk menyisir setiap jengkal Desa Puncak Teratai. Iblis ini tidak boleh lolos!"
Tanpa mereka sadari, sang pemburu yang mereka cari sudah bergerak jauh lebih cepat melampaui kepungan mereka. Shang Lun melesat bagaikan bayangan di antara rimbun pepohonan, matanya tertuju pada satu titik: Desa Giok Seribu Awan. "Hampir sampai ya?" bisiknya dingin, kakinya terus membelah semak menuju satu-satunya kehidupan yang ia incar.
Fajar akhirnya menyelinap masuk melalui celah jendela kayu yang mulai lapuk. Desa mulai terbangun dengan suara kokok ayam yang saling bersahutan. Di dalam rumah mungil itu, Fang Yi dan Fang Yu membuka mata mereka secara bersamaan, seolah masih terjerat dalam sisa-sisa mimpi.
"Kakak? Kenapa semalam pulangnya lama sekali?" tanya Fang Yu, suaranya serak khas anak kecil, sambil merangkak mendekat dan memeluk lengan kakaknya.
"Ah... maaf ya. Ada sedikit pekerjaan tambahan dari Paman Ying semalam," jawab Fang Yi sambil menguap lebar. Namun, dahinya mengernyit saat merasakan sesuatu yang lembap di lengan bajunya. "Eh? Kenapa basah lagi?"
Fang Yu mendongak, menunjukkan senyum tak berdosa sambil mengusap sisa air liur di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Hehe..."
"Astaga, Yu-er! Setiap tidur, kamu selalu saja meninggalkan jejak seperti ini," keluh Fang Yi sambil tertawa, meski tangannya justru bergerak mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih.
"Aku... aku kan tidak sengaja, Kak!" bela Fang Yu dengan nada manja, jurus andalan anak berusia lima tahun untuk meluluhkan hati sang kakak.
Fang Yi bangkit dan merapikan pakaian lusuhnya. "Kakak mau mandi dulu, lalu langsung ke penginapan. Kamu jaga rumah baik-baik, mengerti?"
Fang Yu menatapnya dengan mata bulat yang bening, isyarat akan harapan. "Nanti pulangnya jangan malam lagi, ya?"
Fang Yi tersenyum tulus, mencubit pipi adiknya dengan gemas. "Janji. Sore nanti Kakak sudah di rumah. Kita akan makan malam bersama, oke?" Fang Yi tidak pernah menyangka bahwa itu adalah janji terakhir yang akan ia ucapkan kepada satu-satunya harta berharga yang ia miliki di dunia ini.
"Hmm... jadi ini jantung wilayah barat? Cukup luas untuk sebuah tempat pemakaman," bisik Shang Lun dingin. Tangannya bergerak perlahan, melepas ikatan pada sarung pedang besarnya yang hitam legam.
Blazh!
Tanpa peringatan, tanpa basa-basi. Shang Lun mengayunkan senjatanya, melepaskan gelombang Qi hitam pekat khas Sekte Iblis yang membelah udara. Ia mulai bergerak membabi buta. Tak ada belas kasihan; warga desa yang sedang menjemur pakaian, para penjaga gerbang, bahkan tawa anak-anak di sudut jalan bungkam seketika dalam genangan darah.
Sementara itu, di sudut desa yang agak jauh, hiruk-pikuk Penginapan Paman Ying masih terasa normal. Aroma kayu terbakar dan tumisan bumbu memenuhi udara pagi. Fang Yi sedang sibuk mondar-mandir, membantu Paman Ying merapikan meja-meja kayu yang mulai terisi tamu. Para pendekar yang menginap di lantai atas mulai turun berbondong-bondong, memenuhi ruangan dengan denting pedang yang beradu di pinggang mereka.
Di tengah keramaian itu, sosok yang akrab bagi Fang Yi melangkah masuk. Wang Zigang, kakak angkat sekaligus pelindungnya, duduk di sudut ruangan dengan gaya santai.
"Fang Kecil! Hyung-mu butuh alkohol dan satu porsi ayam bakar. Antar kemari, ya!" teriaknya sambil nyengir, melambaikan tangan pada Fang Yi.
"Siap, Hyung! Tunggu sebentar!" balas Fang Yi lantang, seulas senyum menghiasi wajahnya.
Semuanya tampak baik-baik saja. Suara piring beradu, gosip para petualang, dan tawa rendah para tamu menyelimuti penginapan itu. Mereka benar-benar buta akan satu hal: sebuah entitas kematian sedang merayap mendekat, menghancurkan apa pun yang dilewatinya.
Bzzzt!
Udara di dalam penginapan mendadak bergetar. Bulu kuduk Wang Zigang meremang seketika. Insting tempurnya yang tajam meneriakkan bahaya yang tak masuk akal.
"FANG KECIL! SEMUANYA, CEPAT MENUNDUK!" teriak Wang Zigang dengan suara yang menggelegar, merobek keriuhan suasana.
BRASH!
Sepersekian detik kemudian, sebuah tebasan Qi raksasa menghantam bangunan itu. Setengah bagian atas penginapan terbelah dengan suara kayu yang mengerang patah. Seluruh bangunan mulai miring, debu dan puing-puing berjatuhan menutupi pandangan. Fang Yi, yang secara refleks menggunakan teknik langkah kakinya, berhasil melompat ke balik meja tepat sebelum atap di atasnya hancur.
"Ho... ada cecunguk yang cukup pintar di sini," sebuah suara dingin menusuk tulang terdengar dari balik kepulan debu.
Salah seorang pendekar yang selamat bangkit dengan amarah yang meluap. "Siapa kau?! Apa maumu menyerang kami secara pengecut begini, sialan?!"
Shang Lun muncul dari balik kabut debu. Ia berjalan perlahan, menyeret pedang besarnya yang meninggalkan parit dalam di lantai kayu. Suara logam yang bergesekan dengan kayu itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Aku?" Shang Lun berhenti sejenak, matanya menatap datar ke arah kerumunan. "Hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat."
Di balik reruntuhan meja, jantung Fang Yi berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena ia merasakan aura yang sangat kuat... aura yang mengingatkannya pada malam di mana orang tuanya tiada.