Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Siang itu, udara di ruangan Arga terasa lebih pekat dan hening dari biasanya. Arga baru tersadar saat jam di dinding menunjuk ke angka sebelas. Sejak pagi, fokusnya buyar. Ia berkali-kali melirik ke arah pintu, menunggu suara cempreng yang biasanya langsung masuk tanpa permisi.
"Ke ruanganku sekarang," perintah Arga singkat melalui telepon interkom.
Tak lama, Maya masuk membawa map hijau di pelukannya. "Iya, Pak Arga? Ada yang bisa saya bantu?"
Arga berdeham, berpura-pura sibuk dengan tumpukan kertas di depannya. "Apa... fotografer itu tidak datang hari ini untuk menyerahkan file foto proyek?" tanyanya dengan nada datar yang dipaksakan.
Maya sedikit mengernyit. "Maksud Anda, Nona Ayu? Tidak ada jadwal pertemuan dengannya hari ini, Pak. Apa perlu saya hubungi?"
"Dia tidak ada kabar sama sekali?" Arga mendongak, ada kilat kecemasan yang gagal ia sembunyikan.
Maya menggeleng pasti. Arga terdiam sejenak. Ada apa dengannya? Apa dia jatuh sakit setelah kejadian semalam? bisiknya dalam hati.
"Ya sudah, kamu boleh keluar."
Setelah Maya pergi, Arga menghembuskan napas kasar dan menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran itu. "Apa dia marah karena kejadian semalam? Tapi haruskah dia sampai tidak profesional begini?" Arga bergumam kesal. Rasa bersalah dan gengsi bertarung di kepalanya, hingga akhirnya ia bangkit dan menyambar jas serta kunci mobilnya dengan gerakan impulsif.
Satu jam kemudian, di sebuah rumah minimalis yang tampak berantakan.
"Tunggu sebentar! Sabar!" teriak Ayu dari dalam rumah. Ia merapikan rambutnya yang mencuat ke mana-mana, mengikatnya asal-asalan dengan karet gelang sambil berlari ke arah pintu. Sejak tadi bel rumahnya ditekan tanpa henti, seolah sang tamu ingin merobohkan pintunya. "Siapa sih? Benar-benar tidak punya sopan santun!"
Begitu pintu terbuka, makian Ayu tertelan kembali ke tenggorokan. Ia mematung. Sosok jangkung dengan setelan jas mahal yang tampak sedikit berantakan kini berdiri di hadapannya.
"Pak... Arga?"
"Kenapa kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Arga langsung, tanpa basa-basi halo atau permintaan maaf.
Ayu berkedip bingung, mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di bantal. "Mau apa saya ke kantor Bapak siang-siang begini?"
"Kau lupa atau pura-pura lupa? Kau harus menyerahkan file foto kemarin!" suara Arga meninggi, menutupi rasa canggungnya sendiri.
Ayu mengernyitkan dahi, menatap Arga dengan tatapan 'apa-Bapak-sudah-gila'. "Bapak gak periksa laptop bapak? File-nya kan sudah saya serahkan semalam di apartemen, sekalian foto Pak Hendrik yang Bapak minta."
Arga tertegun. Detik itu juga, memori semalam berputar kembali. Benar. Sebelum "insiden" itu terjadi, Ayu memang sudah menyerahkan kartu memori dan kameranya.
"Aku... lupa," balas Arga pendek, memalingkan wajah ke samping untuk menghindari tatapan menyelidik Ayu.
"Lalu sekarang di mana file-nya?" tanya Ayu lagi, nadanya sedikit mengejek.
"Di apartemen," jawab Arga kaku.
"Iya, di apartemen Bapak. Saya meninggalkan kamera itu di sana karena Bapak bilang ingin melihat hasilnya lewat layar besar," balas Ayu. Ia berusaha keras mengendalikan jantungnya yang mulai berdebar kencang melihat Arga sedekat ini.
"Oh." Arga hanya ber-oh ria, berdiri mematung seperti orang bodoh di depan pintu rumah Ayu.
"Kamu tidak berniat menyuruhku masuk?" tanya Arga dengan nada datar tanpa dosa, membuat Ayu melongo seketika.
"Bapak... mau masuk ke rumah saya?" tanya Ayu memastikan, matanya berkedip tidak percaya.
"Tentu saja. Aku haus dan lapar setelah berkendara satu jam ke sini," balas Arga tanpa basa-basi. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik, lalu melenggang masuk begitu saja, melewati Ayu yang masih mematung di ambang pintu.
Ayu mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk antara heran dan kesal. Ini orang, benar-benar tidak punya sopan santun ya? batinnya.
"Bapak mau minum apa? Biar saya ambilkan," tanya Ayu, mencoba tetap bersikap sopan meskipun tangannya sudah gatal ingin melempar bantal kursi ke kepala bosnya itu.
"Kopi. Gulanya satu sendok teh saja. Jangan lebih," titah Arga mutlak.
Ayu mencibir pelan di belakang punggung Arga. Namun, ia tetap melangkah menuju dapur untuk menuruti permintaan pria itu. "Apa-apaan dia? Datang tiba-tiba, lalu menyuruhku seperti pembantu begini. Pria es sialan!" umpat Ayu dengan suara yang diredam di balik dinding dapur.
Sementara itu, di ruang tamu, Arga mengedarkan pandangan. Matanya menelusuri setiap sudut dinding rumah Ayu yang didominasi warna pastel dan dekorasi yang ceria,sangat menggambarkan kepribadian pemiliknya yang berisik namun menghangatkan. Ada bingkai-bingkai foto estetik, ornamen feminin, dan sentuhan warna pink di sana-sini.
Tatapan Arga terpaku pada sebuah foto Ayu yang sedang memegang kamera, mengenakan celana PDL banyak saku dan kaos oblong yang sudah agak pudar.
"Kenapa dia lebih suka memakai celana kerja laki-laki seperti itu daripada gaun?" bisik Arga lirih pada dirinya sendiri. "Padahal dengan wajah seperti itu... dia pasti akan jauh lebih cantik jika memakai dress."
Arga segera berdeham keras, seolah ingin membuang pikiran aneh yang baru saja melintasi kepalanya. Ia menyandarkan punggung di sofa kecil milik Ayu, merasakan kenyamanan yang jauh berbeda dari kemewahan apartemennya yang dingin dan sunyi.
Ayu berjalan keluar dari dapur dengan nampan kecil di tangannya. Di atasnya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis dengan aroma yang sangat kuat,persis seperti yang diminta si Pria Es.
"Ini kopinya, Pak. Gula satu sendok teh, tanpa rasa kasihan," gerutu Ayu pelan, masih merasa kesal karena rumahnya diserbu secara mendadak.
Arga yang sedang asyik memperhatikan foto masa kecil Ayu di dinding, menoleh dengan gerakan cepat. Tatapan tajamnya yang tiba-tiba membuat Ayu yang sedang melangkah sedikit kaget. Di saat yang sama, ujung sandal rumah Ayu yang berbentuk kelinci itu tersangkut di lipatan karpet bulu di ruang tamu.
"A-ah!" seru Ayu.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Nampan di tangannya miring berbahaya, dan cangkir kopi panas itu mulai meluncur jatuh.
"Hati-hati!" Arga bereaksi dengan refleks seorang atlet.
Ia tidak mempedulikan jas mahalnya yang seharga satu unit motor matic itu. Arga melompat dari sofa, satu tangannya dengan cekatan menangkap cangkir kopi yang hampir tumpah, sementara tangan lainnya melingkar kokoh di pinggang Ayu untuk menahan gadis itu agar tidak tersungkur ke lantai.
Wush.
Dunia seolah berhenti berputar.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Ayu bisa merasakan deru napas Arga yang memburu di keningnya. Aroma parfum kayu manis yang mahal milik Arga menyerbu indra penciumannya, bercampur dengan aroma kopi yang kini berada di genggaman pria itu.
Ayu memejamkan mata erat-erat, tangannya secara refleks meremas lengan kemeja Arga yang kokoh. Jantungnya berdebar sangat kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar tenggat waktu memotret.
"Kau ini... "
Bersambung
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it