Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Nyi Blorong
Selesai melakukan sesucen Joko berkumpul di sebuah pendopo, tepatnya di depan makan seorang sesepuh mereka. Sesepuh atau pemimpin aliran kejawen di desa mereka. Semua orang dilarang berbicara selama proses ritual termasuk berbicara dengan diri sendiri.
Karena peserta sesucen lumayan banyak maka setiap orang di berikan waktu untuk melakukan ritual. Satu persatu mereka maju ke depan makam untuk membakar kemenyan yang mereka bawa dan merapal doa.
Suasana begitu sunyi dan senyap. Asap hitam mengepul di angkasa menebar aroma dupa keseluruh penjuru ruangan. Doa-doa dan harapan mulai di panjatkan.
Giliran Joko pun tiba, ia segera mengeluarkan kemenyan yang dibawanya dan membakarnya di atas bara api. Saat asap hitam mulai naik di atas kepala, ia pun segera menelungkupkan tangannya. Mara terpejam dan doa pun di panjatkan.
Bukan harta ataupun tahta, apalagi pusaka, kali ini ia hanya menginginkan ketentraman jiwa.
Selesai berdoa ia terkejut saat melihat asap dupa tiba-tiba membentuk sebuah jarum berwarna biru. Sebenarnya ia ingin mengambil benda pusaka tersebut, namun ia buru-buru menepisnya dan memantapkan hati untuk tetap pada tujuannya yaitu meminta ketentraman jiwa bukan pusaka.
Selesai ritual mereka berkumpul di sebuah rumah untuk melakukan kendurian dan makan bersama. Selesai acara merekapun kembali ke mobil. Dalam perjalanan pulang orang-orang bercerita pengalamannya saat melakukan ritual nderek di depan makam. Ada yang dupanya tidak terbakar, ada yang aromanya berubah dan masih banyak cerita lainnya. Joko hanya diam mendengarkan mereka berbicara. Ternyata hanya dirinya yang melihat jarum itu, namun Joko memilih tidak menceritakan pengalamannya kepada siapapun.
Ia justru menceritakan pengalamannya itu kepada sang ayah Pranyoto setibanya di rumah.
"Benda itu suatu saat akan jadi milikmu, tapi tidak sekarang, sabar saja," ujar Pranyoto
Hari itu Pranyoto kedatangan banyak pasien. Rata-rata dari mereka yang datang ingin belajar tentang Ilmu untuk mendapatkan kekayaan ataupun kedudukan. Tak jarang mereka hanya minta petuah bijak atau pengasihan. Wajar saja, Pranyoto memang dikenal sebagai sesepuh bagi orang kejawen yang memiliki ketinggian tinggi.
Joko hanya duduk di beranda tanpa mengganggu sang ayah. Hingga seorang pria menghampirinya.
"Sampurasun,"
"Rampes,"
"Maaf kalau menganggu, apa adek ini lagi banyak pikiran??" tanya pria itu seperti tahu kegalauan hati Joko
"Iya, kok bapak bisa tahu?" jawab Joko
"Tahu sih tidak, hanya menebak saja," jawab pria itu merendah
"Oh begitu,"
Pria itu mengangguk pelan.
"Kalau adek ada masalah, mending kamu datang ke tempat ini,"
Pria itu menyebutkan nama sebuah tempat di daerah pantai di jawa tengah.
"Lakukanlah tirakat 7 hari tujuh malam, mudah-mudahan masalahmu dapat diselesaikan di sana,"
Pria itu kemudian berpamitan setelah memberitahu alamat tempat yang di maksud. Joko menggenggam erat secarik kertas yang berisi alamat itu. Saat ia memperhatikan dengan seksama alamat yang di maksud adalah Gua yang di jadikan sebagai tempat sesucen kemarin.
Ia kemudian memberitahu Pranyoto tentang pria itu dan juga saran untuk melakukan ritual di gua tersebut.
Pranyoto menarik nafas panjang. Ia tak bisa melarang ataupun mengiyakan keinginan putranya tersebut.
"Terserah kamu le, kamu mau melakukan ritual silakan tidak pun tidak masalah, kamu yang lebih tahu mana yang terbaik buat dirimu sendiri. Sudah saatnya kamu memutuskan sendiri, jangan tergantung sama bapak," jawab Joko
"Kalau begitu aku akan pergi ke sana pak," jawabnya mantap
Pranyoto kemudian memberitahunya untuk tidak membawa bekal selama ritual. Meskipun ia diizinkan makan saat malam namun ia tidak diperbolehkan membawa bekal dari rumah kecuali pakaian yang dipakainya saja.
"Tapi sekarang kan Joko sudah memeluk islam, meskipun sholat Joko belum benar, tapi aku mau tetap sholat selama ritual, apa boleh pak?" tanya Joko
"Boleh, bawa saja perlengkapan sholat mu,"
"Lalu untuk mengetahui waktu sholat boleh gak Joko bawa jam tangan?" tanyanya lagi
Pranyoto kembali mengangguk.
Keesokan harinya Joko bersiap untuk berangkat. Pranyoto sudah bersiap dengan sepeda motornya.
Keduanya kemudian pergi menggunakan sepeda motor menuju ke tempat ritual. Perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama. Sekitar tiga jam perjalanan mereka pun tiba di depan goa tempat ritual.
Pranyoto segera menemui kuncen Goa dan menyampaikan maksud kedatangannya.
Sang Kuncen kemudian menyampaikan beberapa aturan selama melakukan ritual dan pantangan apa saja yang tidak boleh dilakukan.
Setelah kuncen memberikan wejangan, Pranyoto mulai melakukan ritual. Ia mulai membakar kemenyan dan merapal mantera. Setelah selesai ia pun mempersilahkan Joko untuk masuk.
"Sekarang masuklah, ingat jika kamu tidak kuat maka segeralah keluar dari dalam gua, jangan ambil resiko, apa kamu mengerti??" tanya Pranyoto
Joko mengangguk. Ia pun segera masuk kedalam gua dan menyeberangi sendang yang sebelumnya di pakai untuk ritual sesucen. Jika sebelumnya air sendang hanya selutut orang dewasa, maka saat Joko menyebranginya tiba-tiba air itu meluap menjadi sedada orang dewasa.
Joko tak bergeming ia hanya berdzikir untuk menghilangkan semua rasa takutnya. Jika sebelumnya Gua itu hanya berupa lorong panjang tiba-tiba saja saat ia menyusuri gua, sebuah pintu gaib muncul di depannya.
Joko hanya mengikuti instingnya, ia pun segera membuka pintu gaib itu dan masuk. Setelah masuk Joko merasa ada sesuatu yang ganjil, namun Ia tidak kaget karena itulah alam gaib. Joko merasa ia tidak berada di sebuah gua, karena tempat itu sangat luas.
Di sana ia melihat beberapa orang sedang melakukan tirakat. Joko yakin mereka adalah manusia, karena ia bisa merasakan aromanya.
Setidaknya ia merasa lega karena tidak sendirian, ada sekitar lima belas orang yang terlihat oleh mata telanjang, mungkin masih banyak lagi jika ia menggunakan mata batinnya.
Joko menggunakan instingnya untuk mencari tempat yang cocok untuk melakukan ritual.
Joko memilih melakukan ritual di sebuah batu yang ada di pinggiran sendang, batu itu tidak terlalu besar namun cukup untuk tempatnya duduk dan beristirahat. Hari mulai gelap, saat joko melihat jam tangannya untuk melihat waktu sholat, jam itu tidak berfungsi di sana.
Padahal itu adalah jam tangan mahal dan belum lama ia beli.
Untuk mengetahui waktu sholat Joko mengandalkan sinar matahari yang masuk dari celah-celah Gua. Selama melakukan tirakat Joko selalu menjalankan sholat lima waktu.
Hari mulai gelap, di hari pertama kedatangannya Joko menghabiskan malam dengan tidur, karena ritual belum di mulai. Keesokan harinya Joko mulai ritual pertamanya dengan berpuasa. Saat magrib menjelang ia pun berbuka puasa, namun karena ia tidak punya makanan maka ia hanya berbuka puasa dengan air tetesan embun. Sepanjang malam ia habiskan dengan sholat dan berdzikir. Malam itu tidak ada gangguan yang datang. Di hari ke dua Joko mulai merasa lapar, untuk menghilangkan rasa lapar ia pun berbuka puasa dengan memakan lumut yang menempel pada batu.
Di hari kedua ia pun tidak menemukan gangguan. Hingga di hari ke tiga, Joko di kejutkan dengan kedatangan wanita cantik dengan kebaya khas wanita Jawa dengan mahkota.
Orang-orang menyebutnya sebagai Nyi Blorong tokoh wanita yang sering memberikan kekayaan kepada pemujanya.
"Kamu mau cari apa di sini, jika kamu mau cari kekayaan, kemewahan dunia, maka kamu harus ikut saya??"
tp gmn ya dgn istri gaibnya apakh makin marah atau gmn
keadaan Joko tiba-tiba langsung normal lagi sehingga tak perlu melakukan operasi 😱😱😱
kenapa perawat langsung berteriak histeris setelah mengecek kembali keadaan Joko ???
kaki dan tangan Joko yang semula tak bisa di gerakkan setelah di sentuh oleh Riski kini udah bisa digerakkan kembali
karena saat inipun Joko juga sedang pake ilmu Islami untuk melawan Dewi Poncowati