Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Sang Pengkhianat
Di sebuah hotel mewah yang menghadap ke arah The Sunset Empire, Bramasta sedang mengadakan jamuan pribadi. Ia baru saja menandatangani kontrak pengadaan chip ilegal yang ia selundupkan dari The Big Apple. Wajahnya tampak pongah, merasa bahwa posisinya sebagai penguasa logistik tak tergoyahkan.
"Untuk kesuksesan kita di The Golden Coast," ucap Bramasta sambil mengangkat gelas kristalnya ke arah para kolega.
Namun, sebelum gelas itu menyentuh bibirnya, pintu aula terbuka lebar. Bukan dengan ledakan, melainkan dengan ketenangan yang mencekam. Michael Miguel masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, didampingi oleh Shaneen yang tampak anggun namun mematikan dengan gaun merah darahnya.
...–Hadiah dari Masa Lalu–...
"Sepertinya kau merayakan sesuatu terlalu dini, Tuan Bramasta," suara Michael bergema dingin, memotong musik klasik di ruangan itu.
Bramasta tersedak, wajahnya memucat. "Michael? Apa yang kau lakukan di sini? Ini acara privat!"
Shaneen melangkah maju, meletakkan sebuah map hitam di atas meja perjamuan. "Kami hanya ingin mengantarkan 'kado' balasan untuk kejadian di The Concrete Jungle satu tahun lalu. Ingat saat kau menjual koordinat calon suamiku demi sepotong kue di The Empire State?"
Bramasta mencoba tertawa, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Nona Tizon. Itu hanya rumor jalanan di The City of Dreams."
"Rumor?" Michael menyeringai, sebuah seringai yang membuat para tamu undangan lainnya mulai mundur ketakutan. "Damian tidak bekerja dengan rumor. Dia bekerja dengan fakta digital yang kau tinggalkan di server vendor chip dermaga kemarin."
Michael menjentikkan jarinya. Seketika, layar besar di aula yang tadinya menampilkan logo perusahaan Bramasta berubah. Muncul grafik merah yang terjun bebas—data saham perusahaan Bramasta di The Big Apple yang sedang dihancurkan oleh SM Corporation dalam hitungan menit.
"Dalam sepuluh menit kedepan, asetmu di The Empire State akan dibekukan atas tuduhan pendanaan terorisme dan pencucian uang," ucap Michael datar. "Aku sudah mengirimkan seluruh bukti pengkhianatanmu kepada otoritas di The Big Apple."
Bramasta menatap layar besar di hotel itu dengan mata membelalak. Angka-angka merah yang terjun bebas bukan sekadar data saham, itu adalah darah dari dinasti yang ia bangun dengan kelicikan di The Concrete Jungle.
"Ini tidak mungkin... Bagaimana bisa kau meretas sistem keamanan tingkat tinggi di The Empire State dalam sekejap?!" Bramasta berteriak, suaranya parau oleh ketakutan.
Damian muncul di ambang pintu dengan tablet di tangannya, wajahnya sedatar papan tulis. "Tuan Bramasta, jangan meremehkan teknologi yang lahir di The Golden Coast. Sistem keamananmu yang kau banggakan itu? Aku sudah masuk ke sana sejak kau mengirimkan vendor chip pertama ke dermaga tuan Michael. Kau yang membukakan pintunya sendiri."
Bramasta gemetar, ia meraih ponselnya, namun Shaneen hanya tersenyum tipis. "Jangan repot-repot, Bramasta. Sinyal di gedung ini sudah diputus oleh orang-orangku. Dan oh, satu lagi..."
Shaneen mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat nyali Bramasta menciut. "Putrimu, Clara... obsesinya yang gila di The Grand Aurum telah membantuku melacak setiap lubang persembunyianmu. Dia begitu sibuk mengejar bayangan Michael sampai dia lupa mengunci pintu belakang rumahmu sendiri."
Bramasta jatuh terduduk di kursinya. Segala kemegahan yang ia bangun di The Golden Coast runtuh dalam sekejap karena dosa masa lalunya di The Concrete Jungle.
"Kau... kau tidak bisa melakukan ini! Aku punya koneksi!" Teriak Bramasta frustrasi.
Michael melangkah mendekat, mencengkeram kerah baju Bramasta dengan satu tangan, memaksa pria tua itu menatap mata singa yang pernah ia coba jinakkan dengan peluru. Michael berbisik nyaris tak didengar oleh Shaneen, "Kau membuat kesalahan besar, Bramasta. Kau pikir aku adalah mangsamu di New York? Tidak. Pantas saja ibuku tidak tertarik pada pria sinting seperti mu!"
Michael melepaskan cengkeramannya dan berbalik arah, merangkul pinggang Shaneen dengan posesif.
"Rans, bawa dia keluar. Pastikan dia tidak pernah melihat cahaya The Big Apple lagi sebagai orang merdeka," perintah Michael.
Bramasta mencoba meraih jasnya, ingin melarikan diri, namun Rans dan Damian sudah berdiri di belakangnya seperti tembok beton.
"Dimana Clara?! Apa yang kalian lakukan pada putriku?!" Bramasta meraung, menyadari bahwa aset berharganya—putri satu-satunya—juga berada dalam jangkauan Michael.
Michael tersenyum tipis, "Putrimu? Dia sedang sibuk menangis di dalam sel isolasi karena menyadari bahwa pria yang dia puja di The Grand Aurum adalah pria yang baru saja menghancurkan ayahnya. Obsesinya yang gila itu... itulah yang memberiku kode akses ke rekening rahasiamu di Swiss. Dia menyimpan semua kata sandimu di dalam buku harian digitalnya yang berisi puisi cinta untukku. Ironis, bukan?"
Bramasta jatuh terduduk, bahunya merosot. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini ia anggap sebagai 'pion' di New York ternyata adalah 'raja' yang mengendalikan seluruh papan catur di California.
"Bawa dia pergi," perintah Michael dingin. "Aku ingin dia melihat proses kebangkrutannya dari balik jeruji besi di The Big Apple. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya di kota tempat dia memulai pengkhianatannya."
Saat Bramasta diseret keluar oleh tim keamanan SM Corporation, para kolega bisnisnya hanya bisa terdiam membeku. Tidak ada yang berani membela. Mereka tahu, melawan Michael Miguel dan Shaneen Tizon di The Golden Coast sama saja dengan bunuh diri.
Shaneen menyandarkan kepalanya di bahu Michael saat aula hotel itu mulai dikosongkan. "Satu duri lagi telah dicabut, Michael."
Michael mengecup pelipis Shaneen. "Dan sekarang, mawar ini bisa mekar tanpa gangguan dari semak berduri seperti mereka."
Di luar, matahari terbenam di The Sunset Empire, memberikan warna emas yang indah pada air laut dermaga. Perang di New York sudah usai, pengkhianatan di dermaga sudah dibayar tunas, dan kini hanya tersisa mereka berdua—Raja dan Ratu yang telah mengamankan takhta mereka dengan darah dan strategi yang sempurna.