Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Seminggu
Lampu putih di ruang operasi menyala terang, memantulkan kilau dingin pada baja alat-alat bedah. Suasana tegang, hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak stabil memenuhi ruangan.
Dokter Jeff Clarke berdiri di sisi meja operasi, masker menutupi setengah wajahnya. Keringat mulai muncul di pelipisnya meski ruangan dijaga tetap dingin.
“Tekanan darah?” tanyanya singkat.
“Menurun, dokter. 90 per 60,” jawab perawat anestesi dengan suara tegang.
Jeff mengangguk cepat. “Suction.”
Seorang perawat segera menyerahkan alat penghisap. Jeff bekerja dengan tangan yang cepat namun presisi. Pasien di depannya adalah seorang pria muda korban kecelakaan mobil dengan perdarahan internal yang cukup parah.
“Retraktor.”
Alat itu berpindah ke tangannya seolah sudah menjadi bagian dari tubuhnya sendiri. Jeff menatap luka operasi dengan fokus penuh.
“Perdarahan dari arteri limpa,” gumamnya. “Clamp.”
Bunyi logam kecil terdengar ketika penjepit diberikan. Jeff menjepit pembuluh darah itu dengan hati-hati. Monitor jantung berbunyi lebih cepat.
Bip … bip … bip …
“Dokter, denyutnya meningkat.”
“Dia masih berjuang,” kata Jeff pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia menarik napas perlahan. Semua orang di ruangan menunggu instruksinya.
“Siapkan benang jahit vaskular.”
Perawat segera membuka paket steril. Jeff mulai menjahit pembuluh darah yang robek dengan gerakan kecil dan teliti. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
“Tekanan darah naik sedikit, dokter. 100 per 65.”
Jeff tidak menjawab, masih fokus pada jahitan terakhirnya. Setelah simpul terakhir dikencangkan, ia mengangkat kepalanya.
“Perdarahan terkontrol.”
Beberapa orang di ruangan itu menarik napas lega.
Jeff memeriksa sekali lagi area operasi, memastikan tidak ada sumber perdarahan lain.
“Baik. Kita tutup.”
Perawat mulai menghitung kasa dan alat, sementara Jeff menutup luka operasi dengan jahitan rapi.
Beberapa menit kemudian, monitor menunjukkan detak jantung yang stabil.
Bip … bip … bip …
“Pasien stabil,” kata dokter anestesi.
Jeff akhirnya mundur setengah langkah. Ia melepas sarung tangannya dengan pelan. Matanya masih menatap pasien di meja operasi.
“Kerja bagus, semuanya,” katanya kepada timnya.
Di balik masker, Jeff tersenyum tipis. Hari itu, sekali lagi, ia berhasil menarik seseorang kembali dari tepi kematian.
***
"Kenapa pula aku harus ke Royal Hospital sih!" omel Arletta sambil mengantarkan salah satu anak buahnya yang terkena kaca. Mahreen dan Collin langsung sigap mengantarkan ke rumah sakit. Ironisnya paling dekat itu Royal Hospital.
"Yang paling dekat, Mbak," jawab Mahreen sambil makan camilan yang sempat dibawanya. Mereka sedang berada di ruang tunggu IGD.
"Haaaiisshhhh .. Padahal aku sudah tidak mau kemari lagi!" gerutu Arletta sambil bersedekap.
"Apa gara-gara si tukang cium yang juga dokter bedah disini?" goda Mahreen. Dia tahu cerita Arletta kena cium di bawah mistletoe. Bagi Mahreen itu sangat romantis apalagi dulu Tantenya, Joy Neville, juga mengalami hal yang sama dengan Ben Andrews. Sekarang mereka sudah menikah.
Arletta melirik judes. "Shut up!"
Mahreen cekikikan melihat wajah sebal Arletta. "Memang macam apa sih orangnya?"
***
Jeff berjalan ke arah IGD usai melakukan operasi dan membuat laporan ke meja suster. Dirinya sedang sibuk menulis ketika tanpa sengaja melihat ke arah ruang tunggu. Jeff harus dua kali meyakinkan matanya untuk melihat sosok yang sudah lama ( seminggu ) sebenarnya tidak dilihatnya.
"Pasiennya akan selamat, Dokter Clarke?" tanya salah seorang suster yang tahu kejadian heboh tadi di IGD.
"Mudah-mudahan ... Tadi semuanya baik sih. Kita harus menunggu masa kritisnya lewat dulu." Jeff menyelesaikan semua laporannya lalu menghampiri sosok yang sedang duduk bersama dengan gadis cantik. Jeff menduga gadis yang di sebelahnya, adalah adiknya karena mereka mirip.
"Chef Arletta?" panggil Jeff membuat Arletta dan Mahreen mendongak.
"Dokter ... Clarke?" bisik Arletta terkejut.
Mahreen menatap Jeff dengan gaya sok imut dan melirik ke arah Arletta yang tampak tergagap.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Jeff bingung.
"Hai, Dokter Clarke. Aku Mahreen, adik Arletta. Senang bertemu dengan anda," senyum Mahreen sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
Jeff menyambut tangan Mahreen. "Senang bertemu dengan anda, Miss Mahreen."
"So ...." Mahreen bergaya seperti kebiasaannya ala Princess. "Apakah anda yang mencium kakak aku? Di bawah mistletoe?"
Arletta menatap sebal ke Mahreen. Dasar anak satu ini ember banget!
"Well, iya. Bagaimana anda tahu itu?" tanya Jeff.
"Tidak ada cerita yang tidak lolos dari Princess Mahreen Al Khalifa of Bahrain," jawab Mahreen. "Apakah bibir kakakku enak? Addduuuuhhhh!" Mahreen mengusap lengannya yang dicubit oleh Arletta.
"Mazinger!" desis Arletta kesal.
"Aku ... Eh, kenapa anda kemari, Chef Arletta? Bukannya anda tidak mau kemari?" Jeff mengalihkan pembicaraan dan fokus ke Arletta.
"Salah satu anak buahku kecelakaan!" jawab Arletta ketus.
"Sudah ditangani?" tanya Jeff lagi.
"Sudah!"
Mahreen menatap sebal ke Arletta. "Jangan judes-judes mbak ...."
"Biarin!" ucap Arletta. Keduanya sedang memakai bahasa Indonesia.
"Aku tidak paham kalian bicara apa," ujar Jeff.
"Tidak usah paham!" balas Arletta dengan bahasa Indonesia membuat Mahreen ngabrut. "Eh, no need to understand!" uangnya lagi.
Jeff tersenyum simpul. "Boleh tahu di bilik mana? Anak buah kamu yang mengalami kecelakaan itu."
"Bilik tiga," jawab Mahreen.
"Excuse me." Jeff pun berbalik untuk menemui rekannya yang sedang menangani anak buah Arletta.
Mahreen lalu duduk heboh di sebelah Arletta. "Kamu tidak bilang kalau dia tampan!"
"Ngapain bilang? Dia sudah tua!" jawab Arletta cuek.
"Memangnya sama kamu selisih berapa tahun? Sepuluh? Sebelas? Atau sama dengan Mbak Daisy dan Oom Lucky?" tanya Mahreen.
"Meneketehe!" cebik Arletta.
Mahreen lalu mengambil ponselnya dan berusaha mencari tahu berapa usia Dokter Jeff Clarke. "38 tahun! Beda dua belas tahun sama kamu?"
"Kan aku sudah bilang, tua!" ucap Arletta dengan nada sinis.
"Eh, belum separah Opa Tomat dan Oma Deya sih," gumam Mahreen. "Kalau mereka kan lima belas tahun jaraknya."
"Sudah deh! Nggak usah ribut soal si Dokter Meshum itu!"
***
Lampu putih ruang perawatan kecil di ruang IGD tiga itu menyala terang. Disana terdapat seorang dokter muda dengan didampingi dua orang perawat saat Jeff masuk.
Jeff berdiri mengambil jarak dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan dengan tajam setiap gerakan rekannya.
Di kursi perawatan, seorang pelayan restoran muda meringis kesakitan. Tangan kirinya berdarah karena teriris pecahan gelas.
“Tenang … hanya luka sayatan,” kata dokter yang sedang merawatnya sambil membersihkan luka dengan kasa. “Tapi cukup dalam.”
Jeff melangkah mendekat, matanya mengamati luka itu dengan teliti. Dia bersyukur pecahan gelas itu mengenai venanya, tidak arteri.
Jika pembuluh darah vena terluka, terjadi perdarahan dengan aliran darah berwarna merah tua/marun yang merembes stabil, bukan memancar deras. Meskipun umumnya lebih mudah dikendalikan daripada arteri, luka vena dapat menyebabkan pembengkakan, memar ( hematoma ), dan risiko gumpalan darah atau infeksi jika tidak dirawat dengan cepat. ( Sumber Google )
“Sudut sayatannya miring,” ujar Jeff tenang. “Kalau kamu menjahitnya lurus, bekas lukanya bisa lebih besar.”
Rekannya menoleh sekilas. “Kau selalu memperhatikan detail, Jeff.”
Jeff menggeleng pelan. “Profesionalisme,” jawabnya singkat.
Pelayan itu mencoba tersenyum walau masih tegang. “Dok … tangan saya masih bisa dipakai kerja, kan?”
Jeff menatapnya, lalu mengambil sarung tangan medis dari meja. “Kalau kami merawatnya dengan benar, tentu saja,” katanya.
Ia kemudian menunjuk bagian luka. “Jahit mulai dari sini. Tarik sedikit kulitnya agar tepinya bertemu. Jangan terlalu kencang.”
Rekannya mengikuti instruksi itu. Benang jahit medis bergerak perlahan menutup luka. Pelayan itu menggertakkan giginya, tapi tetap diam.
Jeff memperhatikan beberapa detik lagi, lalu akhirnya mengangguk puas.
“Bagus,” katanya. “Sekarang balut.”
Setelah perban dipasang, Jeff menatap pelayan itu dengan ekspresi yang sedikit lebih lembut.
“Jangan cuci piring dulu selama beberapa hari,” ujarnya. “Dan datang ke klinik dua hari lagi untuk kontrol.”
Pelayan itu mengangguk cepat. “Terima kasih, Dokter.”
Jeff hanya memberi senyum tipis, senyum singkat yang jarang terlihat.
“Lain kali,” katanya sambil melepas sarung tangannya, “biarkan gelas jatuh saja. Jangan mencoba menangkapnya.”
Ruangan itu akhirnya sedikit lebih tenang. Namun mata Jeff masih tajam, seolah selalu siap menghadapi keadaan darurat berikutnya.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁