Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 33 - IA YANG AKHIRNYA MENGERTI 1
Ada jenis lelah yang bukan tentang fisik.
Jenis yang datang setelah sesuatu yang menguras sesuatu lain selain tenaga, sesuatu yang lebih dalam dari otot dan lebih kompleks dari sekadar kurang tidur. Jenis lelah yang membuat seseorang berbaring di kasurnya dan menatap langit-langit dengan pikiran yang terlalu penuh untuk diistirahatkan tapi terlalu acak untuk diselesaikan.
Ara mengenalnya dengan sangat baik malam ini.
Ia sudah di kamarnya sejak pulang, sudah mandi, sudah makan malam dengan ibunya dengan percakapan yang cukup dan tidak kurang, dan sekarang berbaring di kasurnya dengan posisi yang sudah berganti empat kali dalam sepuluh menit terakhir karena tidak ada posisi yang terasa cukup nyaman untuk pikiran yang tidak mau diam.
Telentang. Miring kiri. Telungkup. Miring kanan.
Kembali telentang.
Menatap langit-langit.
Ada beberapa hal yang bergantung di sana dalam bentuk yang tidak bisa dilihat tapi sangat bisa dirasakan, hal-hal yang sudah Ara bawa pulang dari sekolah tadi dan belum berhasil ia letakkan di tempat yang tepat.
Yang pertama adalah rasa malu.
Bukan malu yang sederhana. Malu yang spesifik, malu dari jenis yang muncul ketika seseorang melakukan sesuatu yang sangat tidak konsisten dengan cara ia biasanya menampilkan dirinya di depan orang lain, dan baru menyadarinya setelah semuanya sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.
Ia masuk ke kelas XI-C tanpa mengetuk.
Ia berjalan langsung ke meja Gill di depan semua orang.
Ia mengajukan pertanyaan dengan nada yang terus meninggi sampai ada yang berbisik mereka kayaknya bakal putus dari sudut belakang kelas.
Dan selama semua itu berlangsung, tidak satu pun bagian dari pikirannya yang menyentuh pertanyaan: bagaimana ini terlihat dari luar?
Pertanyaan yang biasanya selalu ada. Pertanyaan yang sudah sangat lama menjadi filter pertama dari semua hal yang Ara lakukan di depan orang lain. Pertanyaan yang sudah begitu mendarah daging sampai ia tidak lagi menyadarinya sebagai pertanyaan, lebih sebagai reflek.
Tapi tadi di kelas XI-C, reflek itu tidak aktif.
Dan yang lebih membingungkan dari fakta itu adalah bahwa Ara tidak bisa sepenuhnya menjelaskan kenapa. Bukan karena ia sengaja mengabaikannya. Lebih karena ada sesuatu yang lebih besar dari reflek itu yang sudah mengambil alih tanpa permisi, sesuatu yang panas dan penuh dan tidak mau menunggu giliran.
Sesuatu yang ia masih belum bisa beri nama dengan tepat.
Yang kedua adalah ketakutan kecil yang muncul setelahnya, ketakutan tentang bagaimana orang-orang di kelas XI-C akan memandangnya setelah hari ini, apa yang akan mereka bicarakan besok, apakah versi Tiara Alexsandra yang mereka lihat hari ini akan mengubah sesuatu tentang cara mereka melihatnya.
Dan yang ketiga, yang paling aneh dari semuanya, adalah rasa penasaran yang sangat sederhana dan sangat tidak dramatis tentang apa yang sedang dilakukan Gill sekarang.
Apakah ia sudah mengisi baterai ponselnya.
Apakah t-rex plastiknya sudah kenyang.
Apakah ia sedang main game atau sudah tidur atau masih melakukan sesuatu yang tidak ada yang perlu tahu tapi Ara tetap ingin tahu.
Ara melempar bantal kecilnya ke udara dan menangkapnya lagi.
Melempar lagi.
Menangkap.
Ponselnya bergetar di sisi meja.
Ia menoleh ke layarnya.
Nama yang muncul di notifikasi itu tidak ia antisipasi.
*Mike.*
---
Ara menatap nama itu selama dua detik sebelum mengambil ponselnya.
*Ara, ada waktu?*
Ia mengetik: *Iya, kenapa Mike?*
*Aku mau bicara sebentar, boleh?*
Ara menatap pertanyaan itu. Mike yang mengirim pesan malam-malam dan memulai dengan ada waktu adalah sesuatu yang tidak masuk ke dalam pola percakapan mereka yang biasanya. Bukan tidak pernah bicara di luar jam sekolah, tapi ini terasa berbeda dari yang biasa.
*Iya boleh, kapan, dimana?*
*Sekarang. Lewat telepon saja.*
Ara mengerutkan keningnya ke layar ponselnya. Mike adalah tipe orang yang lebih suka berbicara langsung, tipe yang selalu menemukan cara untuk mengatur pertemuan di tempat yang nyata dengan waktu yang spesifik. Telepon bukan cara komunikasi yang ia pilih kecuali untuk hal-hal yang tidak bisa menunggu tapi juga tidak cukup penting untuk bertemu.
Tapi ia mengiyakan.
Tiga puluh detik kemudian ponselnya berdering.
"Halo," Ara mengangkat.
"Ara." Suara Mike di telepon sedikit berbeda dari suara Mike di lorong sekolah, lebih tenang, kurang performatif. "Aku langsung tanya ya."
"Iya, kenapa?"
"Kamu berantem sama Gian?"
Ara menahan napasnya satu detik. "Dari mana kamu tahu?"
"Banyak yang bilang."
Ada sesuatu yang naik di dalam dada Ara mendengar itu. Sesuatu yang menyerupai frustrasi tentang fakta bahwa bahkan momen yang ia tidak sedang berpikir untuk dijaga imagenya sudah menjadi bahan pembicaraan yang rupanya cukup menarik untuk sampai ke telinga Mike di hari yang sama.
"Kami ada salah paham," Ara berkata. "Tapi semuanya sudah baik-baik saja sekarang."
"Kamu yakin?"
"Iya."
"Kamu benar-benar baik-baik saja?"
Ara menatap langit-langit kamarnya.
Ada sesuatu di cara Mike mengulang pertanyaan itu, dengan penekanan yang berbeda, yang seharusnya terasa seperti kepedulian dan mungkin memang kepedulian, tapi terasa seperti sesuatu yang lain juga, sesuatu yang Ara tidak langsung bisa urai tapi membuat dadanya sedikit terasa penuh dengan cara yang bukan penuh yang menyenangkan.
"Iya Mike," ia berkata. "Aku baik-baik saja."
"Bukan begitu, aku hanya—"
"Aku hargai itu." Ara memilih nada yang lebih terkontrol dari yang ada di dalam dadanya. "Tapi sungguh, semuanya baik-baik saja."
"Ah, baiklah kalau begitu sela—"
"Sebentar Mike."
Jeda.
"Ya kenapa?"
Ara duduk di kasurnya. Menatap dinding di depannya. Ada sesuatu yang sudah bergerak ke ujung lidahnya sejak beberapa hari terakhir, sejak Via bercerita di jalan kantin dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, sejak Ara duduk di sebelah sahabatnya dan mendengar nama Mike disebut dengan cara yang berbeda dari cara Via biasanya menyebut nama orang.
"Apa pendapatmu tentang Via?" Ara berkata.
Hening di ujung telepon.
"Via?" Mike mengulang.
"Iya."
"Aku sudah kenal Via sejak SMP," Mike mulai, dengan nada seseorang yang sedang mengakses memori dan mengaturnya menjadi kalimat yang tepat, "dan dia orang yang sangat baik. Mudah bergaul, selalu menyenangkan kalau ada—"
"Bukan itu yang aku maksud." Ara memotong lebih langsung dari yang ia rencanakan. "Apa ada perasaan romantis yang kamu rasakan untuknya?"
Hening yang lebih panjang kali ini.
"Ara." Nada Mike berubah sedikit, menjadi lebih berhati-hati. "Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti ini."
"Mike." Ara mengambil napas. "Berhentilah jadi pengecut dan jawab saja."
Hening.
Yang lebih panjang dari sebelumnya.
Cukup panjang untuk Ara mendengar Mike mengambil napasnya sendiri di ujung telepon, napas seseorang yang baru menerima sesuatu yang tidak ia antisipasi dan sedang memproses cara terbaik untuk meresponsnya.
"Jujur," Mike berkata akhirnya, dengan suara yang lebih pelan dari semua yang ia ucapkan sebelumnya dalam telepon ini, "aku tidak tahu."
Ara menghembuskan napasnya.
Dua kata yang seharusnya terasa seperti awal dari kejujuran tapi justru terasa seperti kelanjutan dari sesuatu yang sudah terlalu lama tidak diselesaikan, dua kata yang mengandung semua ketidakpastian yang Ara sudah duga ada tapi tetap perlu mendengarnya langsung untuk benar-benar tahu.
"Kalau begitu," Ara berkata, "selamat malam, Mike."
"Eh, tungg—"
Ara mematikan telepon. Tanpa menunggu persetujuan. Atau pembelaan lain nya dari mike.