NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Tertawa di Lift

Kesalahan pertamaku adalah mengira lift itu sudah kosong dari telinga siapapun.

Pintu tertutup. Lantai tiga puluh dua ditekan. Kenzo sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga yang bahkan Revano tidak memintanya untuk ditunda. Supir sudah kembali ke garasi bawah. Hanya kami berdua di dalam kotak cermin yang naik pelan dengan suara hampir tidak ada.

Dan kakiku sakit luar biasa.

Aku duduk di bangku kecil di sudut lift — ada bangku kecil di sudut, aku baru sadar ini, jenis fasilitas yang hanya ada di lift gedung yang harga sewanya tidak masuk logika manusia biasa — dan melepas kedua heelsku dengan gerakan yang mungkin terlalu ekspresif untuk situasinya.

"Akhirnya." Kalimat itu keluar sendiri. "Tiga jam. Tiga jam kaki ini disiksa."

Revano berdiri di sisi lift yang lain, memandang ke arah panel nomor lantai yang menyala satu per satu. Tidak berkomentar.

"Dan makanannya." Aku meneruskan karena rupanya kakiku yang bebas membuka sesuatu di kepala yang sudah ditahan sejak tadi. "Porsinya sekecil itu untuk harga tiket masuk segitu? Aku makan tiga canapé dan dua potong sesuatu yang kecil tapi diberi nama panjang dalam bahasa Prancis. Aku lapar, Revano. Aku masih lapar sampai sekarang."

Tidak ada respons. Tapi aku menangkap sesuatu — gerakan sangat kecil di bahunya. Seperti orang yang menahan sesuatu.

"Dan Draka." Aku menatap langit-langit lift. "Senyumnya itu. Kamu bilang terlalu lebar — itu understatement. Senyumnya seperti orang yang tahu punch line dari lelucon yang belum diceritakan dan sudah menikmatinya sendiri. Menyebalkan sekali caranya—"

Suara itu kecil. Sangat kecil.

Tapi nyata.

Aku berhenti bicara dan menatap Revano.

Dia sedang — tertawa. Atau sesuatu yang sangat dekat dengan tertawa, versi yang sudah lama tidak digunakan sehingga keluar dalam ukuran yang lebih kecil dari aslinya. Bahunya bergerak sedikit, sudut bibirnya naik lebih dari yang pernah kulihat, dan ada sesuatu di matanya yang sama sekali berbeda dari ekspresi default-nya yang sudah kuhafal dalam tiga minggu terakhir.

Kami sama-sama terkejut.

Aku terkejut karena tidak menyangka.

Dia terkejut — aku bisa melihatnya — karena sepertinya dia juga tidak menyangka.

Lift berhenti di lantai tiga puluh dua. Pintu terbuka.

Tidak ada yang bergerak selama dua detik.

Lalu Revano melangkah keluar pertama, dan aku mengikuti dengan heels masih di tangan karena tidak ada alasan di dunia yang cukup kuat untuk memaksaku memakainya lagi malam ini bahkan untuk dua puluh langkah dari lift ke pintu penthouse.

Di depan pintu, Revano menggesekkan kartu akses. Pintu terbuka. Dia masuk dan — melakukan sesuatu yang tidak ada dalam empat belas hari sebelumnya — menahan pintu dari dalam supaya aku bisa masuk sebelum menutup sendiri.

Bukan gestur besar. Tapi ada.

"Mau makan?" tanyanya, masih dari arah pintu yang baru ditutupnya.

Aku menatapnya. "Kamu masak?"

"Tidak." Nada yang datar. "Tapi ada yang bisa dipanaskan."

"Dari tadi aku lapar dan kamu baru menawarkan sekarang."

"Kamu baru bilang lapar sekarang."

"Aku bilang di lift—"

"Di lift kamu mengeluh. Itu berbeda dengan meminta."

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi. Karena secara teknis dia tidak salah dan itu menjengkelkan.

"Baik," kataku. "Aku mau makan."

Dapurnya malam itu berbeda dari pagi hari yang sudah jadi rutinitas kami.

Bukan empat puluh detik yang sunyi dengan masing-masing mengambil miliknya sendiri dan pergi. Revano membuka kulkas dengan cara yang hapal — langsung ke laci ketiga, mengeluarkan dua kotak makan yang tersimpan rapi, memanaskannya di microwave dengan pengaturan yang dia lakukan dalam tiga tekanan tombol tanpa melihat panelnya.

Aku duduk di kursi island counter, masih memegang heels di satu tangan, menatapnya bekerja dengan cara yang sudah terlalu terbiasa untuk ruangan ini.

"Kamu sering makan malam di sini sendirian," kataku — bukan pertanyaan.

"Biasanya." Dia tidak menoleh.

"Tidak pernah merasa sepi?"

Jeda singkat. Microwave berbunyi. Dia mengeluarkan kedua kotak dan meletakkan satu di depanku di counter.

"Sepi adalah kondisi yang memerlukan ekspektasi terhadap kehadiran orang lain sebagai standar," katanya, duduk di kursi seberang. "Kalau standarnya tidak ada, kondisinya juga tidak ada."

Aku menatapnya. "Itu cara yang sangat tidak sehat untuk mendefinisikan sepi."

"Itu cara yang akurat."

"Keduanya bisa benar sekaligus."

Dia membuka kotak makanannya tanpa menjawab. Tapi tidak membantah juga — dan dari Revano, itu sudah bicara sesuatu.

Kami makan di island counter dengan cara yang tidak direncanakan — tidak di meja makan panjang yang delapan kursinya selalu terasa seperti terlalu banyak konteks untuk dua orang, tapi di counter dapur yang lebih kecil dan lebih dekat dan lebih seperti orang yang kebetulan lapar di waktu yang sama daripada dua pihak kontrak yang menjalankan kewajiban bersama.

Makanannya enak. Lebih enak dari tiga canapé dan dua potong sesuatu berbahasa Prancis yang kumakan tadi.

"Hartono mengirim pesan tadi," kata Revano di antara suapan.

"Ke kamu?"

"Ke aku. Menanyakan kontakmu."

Aku meletakkan sendok. "Serius?"

"Rupanya divisi pemasaran mitranya sedang evaluasi vendor desain." Dia menatapku dengan cara yang tidak bisa kubaca sepenuhnya. "Aku kirimkan nomormu."

"Kamu bisa bertanya dulu sebelum—"

"Kamu mau menolak?"

Aku berhenti. "Tidak. Tapi tetap saja—"

"Lain kali aku akan bertanya dulu." Dikatakan dengan nada yang bukan meminta maaf tapi juga mengakui poinnya. Kompromi dalam bahasa Revano yang tidak menggunakan kata kompromi.

Aku mengambil sendokku lagi. "Terima kasih."

"Untuk mengirimkan nomormu tanpa izin?"

"Untuk tidak menganggap kontakmu sebagai sesuatu yang aku tidak layak dapat hanya karena konteks perkenalan kita tidak konvensional."

Hening sebentar.

"Itu tidak pernah jadi pertimbangan," katanya pelan.

Dan cara mengatakannya — bukan defensif, bukan menjelaskan panjang, hanya menyatakan fakta dengan cara yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan — membuat sesuatu di dadaku memilih untuk diam dan mendengarkan.

Setelah makan, Revano mencuci kedua kotak itu di wastafel — gerakan yang lagi-lagi tidak aku antisipasi, karena ada bagian dari otak yang rupanya masih menyimpan asumsi bahwa CEO dua puluh sembilan tahun yang tinggal di penthouse tiga puluh dua lantai tidak mencuci kotaknya sendiri.

Asumsi yang rupanya salah.

Aku berdiri, mengambil kotak yang sudah dicuci dari drainase, dan mengelapnya dengan tisu dapur. Tidak ada yang memintaku melakukan itu. Tangan bergerak sendiri karena itu yang dilakukan ketika ada seseorang mencuci dan ada seseorang lain yang berdiri di sana.

Revano melirik. Tidak berkomentar. Tapi ada sesuatu di cara dia melihat itu — singkat, hampir tidak ada — yang terasa seperti sesuatu dicatat di suatu tempat.

"Tadi di lift," kataku, meletakkan kotak yang sudah dilap ke tempat yang kuperkirakan tempatnya, "itu pertama kalinya aku melihatmu tertawa."

"Bukan tertawa."

"Hampir tertawa."

"Beda."

"Tetap pertama kalinya."

Dia menutup keran. Mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang tergantung di pegangan laci. Lalu menatapku dengan cara yang sudah mulai punya namanya sendiri di caraku mengkategorikannya — bukan dingin, bukan hangat, tapi sesuatu di antaranya yang belum punya kata yang tepat.

"Deskripsimu tentang senyum Draka," katanya, "akurat."

"Aku tahu."

"Dan tentang makanannya."

"Itu tidak akurat — itu hanya fakta."

Sudut bibirnya bergerak lagi — lebih kecil dari di lift, tapi ada.

Dan aku menyadari bahwa ini, momen ini, tidak ada di jadwal atau agenda atau pasal manapun. Tidak direncanakan, tidak diinstruksikan, tidak ada skornya di KPI yang mungkin diam-diam masih dia kelola di suatu spreadsheet mental yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapapun.

Hanya dua orang di dapur setelah malam yang panjang, dengan kotak makan yang sudah dicuci dan sepasang heels yang masih tergeletak di lantai dekat island counter karena aku lupa mengambilnya.

"Aku ke kamar," kataku akhirnya.

"Selamat malam."

Aku mengambil heelsku. Berjalan ke wing kiri. Di pintu koridor, aku berhenti sebentar tanpa berbalik.

"Revano."

"Hm."

"Lain kali kalau ada gala dinner dengan porsi makanan seperti tadi — kasih tahu aku supaya aku makan dulu sebelum berangkat."

Hening dua detik.

"Baik."

Aku masuk ke wing kiriku. Menutup pintu. Duduk di tepi kasur dan menyadari bahwa senyum yang ada di wajahku sekarang bukan jenis yang perlu diinstruksikan atau diukur atau dikalibrasi untuk audiens manapun.

Hanya senyum yang datang karena ada alasannya.

Dan alasannya adalah tawa kecil yang keluar tanpa direncanakan di lift nomor satu lantai tiga puluh dua — dari seseorang yang rupanya masih punya kemampuan untuk tertawa, meski sudah lama tidak menggunakannya.

Itu informasi yang kecil.

Tapi aku menyimpannya dengan hati-hati.

— Selesai Bab 11 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!