Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Tawaran yang Mengandung Luka
Pagi setelah makan malam itu, udara di rumah terasa berbeda.
Bukan karena percakapan semalam.
Bukan juga karena janji yang diucapkan Bima dengan nada terlalu tegas untuk disebut biasa.
Tapi karena Alya tahu satu hal—Arsen Surya tidak pernah bergerak tanpa tujuan ganda.
Dan jika ia mulai bermain secara personal, maka permainan ini tidak lagi murni soal bisnis.
Di kantor, Alya langsung meminta laporan lengkap mengenai proyek-proyek lama yang pernah bersinggungan dengan Surya Group. Ia ingin memastikan satu hal: apakah ada celah yang pernah ia abaikan di masa lalu.
“Ini arsip kerja sama lima tahun terakhir,” ujar sekretarisnya, Dina.
Alya membolak-balik dokumen digital di tablet.
Nama Arsen muncul dalam beberapa proposal lama. Semua ditolak. Semua dengan catatan evaluasi yang sama:
Risiko hukum tinggi. Transparansi rendah.
Ia tidak pernah menyesali keputusan itu.
Namun ia tahu, Arsen bukan tipe pria yang mudah menerima penolakan. Terlebih jika harga dirinya ikut tersentuh.
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Bima berdiri di ambang pintu.
“Kamu terlihat seperti sedang menyusun perang,” ujarnya datar.
Alya mengangkat wajah. “Kita memang sedang di ambang perang.”
Bima masuk dan duduk di kursi seberangnya.
“Saya sudah perintahkan tim hukum untuk mulai mengaudit ulang semua transaksi lama yang berhubungan dengan Surya.”
Alya mengangguk pelan. “Bagus. Karena Arsen tidak akan menyerang dari tempat yang sama dua kali.”
Hening beberapa detik.
“Dia pernah mendekatimu lebih dari sekadar urusan bisnis?” tanya Bima tiba-tiba.
Nada suaranya tenang. Tapi terlalu terkontrol.
Alya menatapnya lurus.
“Dia pernah mencoba,” jawabnya jujur. “Saya menolak.”
Rahangan Bima mengeras tipis.
“Kenapa kamu tidak pernah menyebutkannya?”
Alya tersenyum samar. “Karena itu tidak penting.”
“Sekarang jadi penting.”
Ia bisa mendengar ketegangan yang tersembunyi dalam kalimat itu.
Alya berdiri perlahan. “Bima, saya tidak pernah memberi ruang untuk dia. Tidak dulu. Tidak sekarang.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan kali ini, bukan sekadar kerja sama yang mengikat mereka.
Ada sesuatu yang lebih dalam—rasa ingin melindungi yang mulai berubah arah.
Sore hari, kejutan itu datang.
Resepsionis menghubungi ruang Alya.
“Ada kiriman untuk Anda, Nyonya.”
“Apa itu?”
“Buket bunga.”
Alya mengernyit.
Ia tidak pernah menerima bunga di kantor. Tidak pernah ada yang cukup berani mengirimkannya sejak ia resmi menjadi Nyonya Wijaya.
“Siapa pengirimnya?”
“Tidak ada kartu nama. Hanya pesan singkat.”
Alya turun sendiri ke lobi.
Buket mawar putih besar diletakkan di meja resepsionis. Elegan. Mahal. Terlalu mencolok.
Ia mengambil kartu kecil yang terselip di antara kelopak bunga.
Tulisan tangan rapi.
“Beberapa keputusan masa lalu layak dipertimbangkan ulang. — A.”
Alya menatap tulisan itu beberapa detik.
Bukan takut.
Tapi muak.
Ia tidak perlu menebak siapa “A” itu.
Bima muncul dari arah lift tepat saat Alya masih memegang kartu itu.
Tatapan mereka bertemu.
Ia melihatnya.
Bima berjalan mendekat tanpa bicara, mengambil kartu itu dari tangan Alya, membacanya sekali, lalu wajahnya berubah dingin sepenuhnya.
“Buang.”
Satu kata.
Resepsionis langsung mengambil buket itu tanpa berani bertanya.
Alya menoleh pada Bima. “Dia sengaja.”
“Ya.”
“Dia ingin melihat reaksi.”
Bima menatapnya lama. “Dan dia mendapatkannya.”
Alya menggeleng. “Tidak. Dia hanya mencoba memancing.”
Bima sedikit membungkuk, suaranya lebih rendah.
“Jika dia menyentuhmu lagi, ini bukan lagi urusan bisnis.”
Alya bisa merasakan kemarahan yang ditahannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal—
Bima bukan hanya melindungi reputasi perusahaan.
Ia melindungi dirinya.
Malam itu, media bisnis kembali ramai.
Namun kali ini bukan soal akuisisi.
Sebuah artikel anonim muncul di salah satu portal gosip finansial.
“Istri CEO Wijaya Diduga Memiliki Kedekatan Lama dengan Putra Surya Group.”
Narasinya tidak vulgar.
Tapi cukup untuk membangun spekulasi.
Cukup untuk merusak citra.
Alya membaca artikel itu dalam diam di ruang keluarga.
Bima berdiri di dekat jendela, ponsel di tangannya, sedang berbicara dengan kepala tim PR.
“Tarik artikel itu sekarang,” ucapnya tegas. “Atau saya tuntut.”
Ia menutup telepon dan menoleh.
Alya masih duduk tenang.
“Kamu tidak marah?” tanya Bima.
Alya mengangkat wajahnya. “Marah hanya memberi dia kepuasan.”
“Ini sudah menyerang reputasimu.”
“Dan jika saya bereaksi berlebihan, orang akan mengira itu benar.”
Hening.
Bima berjalan mendekat, duduk di hadapannya.
“Alya.”
Nada suaranya berbeda.
Lebih personal.
“Jika ada sesuatu yang belum kamu katakan tentang masa lalu itu, katakan sekarang.”
Alya menatapnya lurus.
“Tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Ia berdiri perlahan.
“Saya tidak pernah menjalin hubungan apa pun dengan Arsen. Dia hanya pria yang tidak terbiasa ditolak.”
Tatapan Bima menelusuri wajahnya seolah mencari retakan.
Tidak ada.
Yang ada hanya keteguhan.
Beberapa detik kemudian, Bima mengangguk tipis.
“Saya percaya.”
Dua kata itu terdengar sederhana.
Tapi berat.
Karena dalam pernikahan kontrak, kepercayaan bukan bagian dari perjanjian awal.
Namun kini, itu tumbuh dengan sendirinya.
Keesokan paginya, serangan berikutnya datang lebih halus.
Investor asing yang semula hampir menyetujui kerja sama tiba-tiba meminta penundaan. Alasannya: ingin memastikan stabilitas internal perusahaan.
Artinya jelas.
Rumor mulai bekerja.
Alya berdiri di ruang rapat bersama tim manajemen.
“Kita tidak akan membiarkan ini berkembang,” ujarnya tegas.
“Bagaimana rencananya, Nyonya?” tanya salah satu manajer.
Alya menatap layar presentasi.
“Kita undang investor untuk kunjungan langsung ke fasilitas proyek Timur minggu ini.”
Beberapa orang terkejut.
“Bukankah itu terlalu cepat?”
“Justru karena cepat,” jawab Alya. “Kita tidak beri ruang untuk spekulasi.”
Pintu ruang rapat terbuka.
Bima masuk.
Ia mendengar kalimat terakhir itu.
Tatapan mereka bertemu.
Tanpa perlu kata, mereka sepakat.
Serangan harus dibalas dengan langkah konkret.
Bukan emosi.
Bukan drama.
Sore hari, ponsel Alya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia ragu sepersekian detik sebelum menjawab.
“Halo.”
“Sudah lama tidak mendengar suaramu, Alya.”
Suara itu halus. Tenang.
Arsen.
Alya berdiri menjauh dari meja kerjanya.
“Jika ini soal artikel itu, Anda salah alamat.”
Arsen tertawa kecil di seberang sana.
“Kamu selalu langsung ke inti masalah.”
“Apa yang Anda inginkan?”
“Bertemu.”
“Saya sudah menikah.”
“Kontrak,” jawab Arsen santai.
Alya membeku sesaat.
Ia tahu.
Informasi itu tidak pernah dipublikasikan.
Artinya, Arsen benar-benar menggali.
“Saya tidak tertarik,” ujar Alya dingin.
“Sayang sekali. Karena saya memiliki sesuatu yang mungkin ingin kamu lihat.”
“Apa itu?”
Hening sepersekian detik.
“Bukti bahwa suamimu tidak sebersih yang kamu kira.”
Kalimat itu menggantung seperti pisau.
Alya tidak langsung membalas.
Ia mengenal tipe permainan seperti ini.
Provokasi.
“Jika Anda punya bukti, kirim ke media saja,” jawabnya tenang. “Saya tidak akan bermain di belakang.”
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu suaranya berubah sedikit lebih tajam.
“Kamu masih sama. Terlalu lurus.”
“Saya anggap percakapan ini selesai.”
Ia memutus sambungan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena takut.
Tapi karena satu hal—
Jika Arsen mulai menyerang lewat Bima, maka permainan akan naik level.
Alya berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berjalan menuju ruang kerja Bima.
Ia tidak akan menyimpan ini sendiri.
Karena sekarang, ini bukan lagi tentang dirinya saja.
Ia mengetuk pintu.
Dan ketika Bima mempersilakannya masuk, Alya tahu—
Babak berikutnya tidak akan lagi sekadar perang citra.
Ini akan menjadi perang yang menyentuh kepercayaan.
Dan ia harus memilih—
Melindungi suaminya.
Atau bersiap menghadapi kebenaran yang mungkin tak pernah ia duga.