NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Anak Kembar

HAPPY READING!!!!

“Gea… Gian… ssttttt!”

Lora langsung menempelkan satu jarinya ke bibir, memberi isyarat agar kedua anak kecil itu diam.

Di layar ponsel, dua wajah kecil itu langsung tersentak.

“Ups, sorry…” ucap gadis kecil itu sambil menutup mulutnya cepat-cepat.

Anak laki-laki di sampingnya ikut menirukan gerakan yang sama.

“Gea lupa… harus panggil bibi, ya?” tanyanya polos.

Lora mengangguk pelan, meskipun di wajahnya tampak jelas raut bersalah yang sulit disembunyikan.

“Bibi… kita berdua rindu. Kapan kita bisa bersama-sama lagi? Aku dan Gian sangat bosan terus-terusan bersama nenek.” ucap Gea dengan wajah cemberut.

Mata kecilnya tampak berkaca-kaca.

“Gian juga… Gian ingin menemui bibi. Apa Gian dan Gea boleh ke sana?” tanya anak laki-laki di sebelahnya dengan suara penuh harap.

Pertanyaan itu membuat hati Lora terasa seperti diremas.

“Hmmm… maaf, sayang. Tapi bibi pasti akan menemui kalian… hanya saja belum bisa sekarang.” jawab Lora lembut.

“Yaaah… padahal aku sangat rindu.” keluh Gea dengan bibir yang langsung manyun.

Melihat ekspresi itu, hati Lora semakin teriris.

Ia ingin sekali memeluk mereka berdua saat itu juga.

Namun keadaan tidak memungkinkan.

Saat itulah—

Devon yang sejak tadi mendengar suara dua anak kecil dari ponsel Lora tiba-tiba bergerak.

Dengan cepat ia merebut ponsel itu dari tangan Lora.

“Devon!” ucap Lora terkejut oleh gerakan mendadak itu.

Namun Devon mengabaikan panggilannya.

Dengan senyum polos yang begitu cerah, ia langsung menatap layar ponsel.

“Halo, teman-teman!” sapa Devon riang.

Gea dan Gian di layar tampak tercengang.

Pasalnya, pria dewasa yang sedang berbicara dengan mereka itu sama sekali tidak terlihat seperti orang dewasa.

Ekspresinya polos.

Caranya berbicara pun persis seperti anak-anak seusia mereka.

“Apa kalian berdua mau bermain dengan Epon?” lanjut Devon penuh semangat.

“Di sini begitu banyak mainan, cemilan, dan apa pun yang kalian suka. Kalian tinggal bilang, maka Queen akan membelikannya.”

Devon bahkan mengangkat kantong cemilan yang tadi dibawa Lora.

“Lihat! Permainan Epon dan semua cemilan ini dibelikan oleh Queen barusan.” ucapnya bangga sambil memamerkan cokelat dan lolipop raksasa itu.

“Devon, jangan seperti itu. Cepat kembalikan ponsel Queen.” pinta Lora sambil menadahkan tangannya.

Namun Devon malah menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Lora.

“Tidak! Epon ingin mereka. Mereka harus jadi teman Epon.” ucapnya keras kepala sambil memegang ponsel itu erat-erat.

Lalu ia kembali menatap layar dengan mata berbinar.

“Kalian berdua mau, kan, datang ke istana Epon dan menemani Epon bermain di sini?” tanya Devon penuh harap.

“Kita bisa melakukan apa pun di sini. Kalian mau, kan?”

Devon terlihat sangat bersemangat.

“Epon sangat bosan karena Queen Epon sekarang sudah bekerja. Epon hanya bisa bertemu dengannya setelah pulang kerja.”

Nada suaranya tiba-tiba berubah lebih pelan.

“Epon sangat kesepian… tapi kalau kalian mau datang, maka kita bisa bermain bersama di sini.”

Kata-kata polos itu membuat dua anak kecil di layar langsung bersorak.

“Mau! Mau! Aku mau!” teriak Gea.

“Aku juga!” sahut Gian dengan wajah berseri-seri.

Ucapan kompak itu langsung membuat Lora panik.

“Devon, mereka tidak boleh ke sini!” ucap Lora cepat.

Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung merebut ponselnya kembali dari tangan Devon dengan paksa.

“Kenapa? Apa Bunda tidak mau menemui kami berdua? Apa Bunda lebih sayang pada pria dewasa yang kekanak-kanakan itu?” ucap Gea dengan suara bergetar.

Matanya sudah mulai dipenuhi air mata.

“Bunda membelikan semua cemilan untuk dia… mainan yang banyak untuk menenangkannya… tanpa memikirkan kami berdua yang juga ingin diperlakukan sama seperti itu.” lanjutnya dengan nada terluka.

Lora terdiam. Dadanya terasa sesak.

“Jika Bunda tidak mau menganggap kami berdua anak lagi… baiklah. Kami tidak akan mengganggu kehidupan Bunda lagi.” sambung Gea.

Di sampingnya, Gian mengangguk pelan. Air mata juga mulai mengalir di pipi kecilnya.

“Semoga Bunda bahagia dengan pria tampan kekanak-kanakan itu.” ucap Gea.

Lalu—

panggilan video itu langsung terputus.

“Gea… Gian… bukan seperti itu… Gea!” teriak Lora panik.

Namun layar ponsel sudah kembali gelap.

Panggilan itu benar-benar berakhir.

Devon yang berada di dekatnya menatap Lora dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Queen jahat… huaaa… hiks… hiks…”

Tiba-tiba ia duduk di lantai.

Kakinya menghentak-hentak lantai seperti anak kecil yang sedang mengamuk.

Ia menangis keras.

“Epon ingin teman! Epon ingin mereka! Huaaaa!” teriaknya memekakkan ruangan.

Tangisnya semakin menjadi-jadi.

Lora menghela napas kasar, mencoba menahan rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Devon, tenanglah. Mereka tidak bisa ke sini.” ucap Lora berusaha menenangkannya.

Namun Devon terus menangis.

“Tidak! Mereka harus ke sini! Ke istana Epon! Epon ingin mereka! Harus mereka berdua! Huaaa!” teriaknya lagi sambil menghentakkan kaki.

Tangis Devon semakin keras.

Teriakan itu terdengar sampai ke luar kamar.

David yang mendengarnya langsung berlari menuju kamar Lora dan Devon. Ia tetap mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.

Begitu pintu terbuka, ia melihat Devon yang sedang menangis tantrum di lantai.

“Ada apa ini, Nona? Kenapa dengan Tuan Devon?” tanya David khawatir.

Lora mengusap pelipisnya yang berdenyut.

“Dia memintaku untuk membawa anak-anak itu ke sini untuk menjadi temannya.” ucap Lora lelah.

David mengangguk kecil.

“Kalau begitu biarkan saja, Nona. Turuti saja. Tuan Devon akan terus seperti itu jika keinginannya tidak dituruti.” ucap David tenang.

Lora langsung menatapnya tajam.

“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin aku membawa anak-anak ke dalam rumah berbahaya ini?”

David menatapnya datar.

“Semua akan baik-baik saja… selama itu bukan anakmu, Nona.”

Ucapan itu membuat Lora terdiam.

Seolah seluruh suara di ruangan itu tiba-tiba menghilang.

"Dia memang anakku."Batin Lora menjawab kata-kata David.

Namun bibirnya tak mampu mengucapkannya.

FLASHBACK

“Mari kita akhiri hubungan kita. Aku sudah tidak bisa lagi bersamamu.”

Kalimat itu menghantam Lora seperti petir di siang bolong.

Wajah riangnya seketika lenyap.

“Apa aku salah dengar? Mengakhiri hubungan….”

Lora menggeleng pelan.

“Kamu tidak mengatakan itu barusan, kan?” tanyanya dengan mata menatap lekat, seolah berharap semuanya hanya kesalahpahaman.

Devon mengangguk.

“Ayo kita sudahi ini semua.”

Kue yang sedang dipegang Lora terlepas dari tangannya.

Bruk.

Kue itu jatuh dan hancur di lantai.

Krim dan potongannya berserakan—seperti hatinya yang remuk.

Bersamaan dengan itu, air mata Lora jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Aku mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan besar. Aku tidak mungkin akan tinggal di sini lagi… dan kita tidak mungkin melanjutkan hubungan kita.” jelas Devon.

Lora menunduk.

Bahunya bergetar.

Namun ia segera mengusap air matanya dengan kasar.

“Jadi selama ini kamu hanya menjadikanku sebagai orang untuk menemani masa sulitmu.”

“Maafkan aku, Lora.” Devon mencoba memegang tangannya.

Namun Lora langsung menepisnya.

“Tidak perlu meminta maaf. Aku yang terlalu bodoh mencintaimu begitu tulus.” ucapnya getir.

“Jika nanti ada teman pengacaramu yang perlu aku temani dari nol, bilang saja. Aku begitu ahli dalam hal itu.”

Ia membelakangi Devon.

Tak ingin melihat wajah pria yang baru saja menghancurkan seluruh mimpinya.

Devon terdiam lama.

Ia menghela napas berat.

Lalu berbalik dan pergi.

Menepis air matanya sendiri saat langkahnya meninggalkan kontrakan kecil itu.

Sementara Lora—

perlahan merogoh saku celananya.

Dari dalam sana ia mengeluarkan sebuah test pack dengan dua garis merah.

Tangannya gemetar.

“Kamu bahkan meninggalkanku begitu aku mengandung anakmu…” ucap Lora dengan suara pecah.

Ia terduduk di lantai.

Menangis tersedu-sedu.

Di tangannya juga terdapat foto USG kecil.

Di sana terlihat bayangan dua janin kecil.

“Bagaimana aku bisa mengurusnya sekarang? Apa yang akan aku lakukan pada dua bayi kembar ini?” ucapnya lirih sambil menatap foto itu.

Kembali ke masa sekarang.

David memegang tangan Devon yang masih menangis.

Ia menatapnya dengan lembut.

“Tuan, tenang saja. Kamu akan punya teman. Apa yang kamu minta akan dituruti oleh Queen.” ucap David mencoba menenangkannya.

Devon langsung mengangkat wajahnya.

“Benarkah, Queen? Queen akan membawa dua anak itu ke sini, kan… untuk menemani Epon?” tanyanya dengan mata penuh harap.

Lora berdiri diam.

Tidak menjawab.

“Nona!” tekan David sambil menatapnya tajam.

Namun Lora masih terdiam.

"Haruskah aku mempertemukan mereka?.Anak… dan bapak… dalam kondisi seperti ini?."Batin Lora berputar kacau.

Dadanya terasa semakin berat.

.

.

.

💐💐💐 Bersambung 💐💐💐

Wah wah wah siapa sangka ternyata oh ternyata Devon udah punya anak mana kembar lagi .Siapa nih yang nggak sabar liat keluarga ini kumpul🤭☺️

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!