Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Dari Bayangan Tersembunyi
Lauren mendarat di atas rumput taman belakang dengan suara debuman halus. Kekuatan indigo yang menyelimuti kakinya meredam benturan, membuat tanah di bawahnya sedikit hangus. Udara malam yang biasanya segar kini terasa berat, dipenuhi sisa residu energi hitam yang baru saja ia ledakkan di kamarnya.
"Lauren, tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja!" Herza melayang turun, pendar peraknya bergetar hebat mengikuti kegelisahan batinnya.
Lauren tidak berhenti. Ia berjalan menuju titik di bawah jendela kamarnya, tempat di mana bayangan besar tadi sempat tersungkur sebelum menguap. Di sana, ia melihat gumpalan tipis asap hitam yang masih merayap lambat di atas permukaan rumput. Asap itu berbau anyir, sisa-sisa esensi dari dunia bawah yang tertinggal di dunia nyata.
"Aku tidak akan pergi dengan tangan kosong, Herza," kata Lauren. Suaranya terdengar dingin, tanpa getaran ketakutan yang biasanya menghiasi nada bicaranya.
Lauren berlutut di depan gumpalan asap itu. Ia melepaskan medali perunggu dari balik lehernya, menggenggamnya erat di telapak tangan kanan. Ia bisa merasakan denyutan energi yang masih panas di dalam medali tersebut, seolah benda kuno itu baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Herza. Ia mendarat di samping Lauren, matanya yang kelabu menatap gumpalan asap itu dengan ngeri.
"Interogasi," jawab Lauren singkat.
"Makhluk ini adalah bagian dari mereka. Esensinya masih terhubung dengan tuannya. Aku akan mengikuti benang ini sampai ke akarnya."
Herza membelalak. "Lauren, itu penglihatan jauh! Kau belum pernah melakukannya secara aktif. Jika kau masuk ke dalam frekuensi mereka tanpa pelindung yang kuat, jiwamu bisa tersesat atau lebih buruk lagi... kau bisa tertelan oleh memori mereka!"
Lauren mendongak, menatap Herza dengan mata yang kini berpendar biru pekat.
"Banyu sedang dalam bahaya. Dan aku tidak punya waktu untuk belajar secara perlahan. Jaga tubuhku, Herza. Jangan biarkan apa pun mendekat."
Tanpa menunggu persetujuan mentornya, Lauren memejamkan mata. Ia menempelkan medali perunggu itu tepat di atas gumpalan asap hitam. Seketika, rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jemarinya, merambat cepat menuju jantung. Ia tidak melawannya. Sebaliknya, ia membuka pintu batinnya lebar-lebar, membiarkan residu kegelapan itu menarik kesadarannya keluar dari raga.
Zzap!
Dunia di sekitar Lauren lenyap.
Ia tidak lagi berada di taman rumahnya. Kesadarannya kini melayang di dalam ruang hampa yang luas dan tak berujung. Di bawahnya, ia melihat ribuan benang abu-abu yang saling bersilangan, membentuk jaring-jaring raksasa yang menyelimuti seluruh kota. Di tengah jaring itu, ada satu benang hitam pekat yang berdenyut merah, memanjang menuju sebuah titik di cakrawala batinnya.
Lauren mengikuti benang itu dengan kecepatan yang memusingkan. Rasa mual menghantamnya, namun ia mengunci fokusnya. Ia mulai mendengar bisikan-bisikan yang tumpang tindih—suara tangisan, tawa yang parau, dan mantra-mantra dalam bahasa kuno yang membuat telinganya berdenging.
Jangan berhenti, Lauren, bisiknya pada diri sendiri. Cari ujungnya.
Tiba-tiba, penglihatannya berhenti di sebuah tempat yang sangat gelap. Itu adalah sebuah reruntuhan bangunan kuno yang terkubur di bawah tanah. Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri sebuah singgasana yang terbuat dari akar-akar hitam yang masih berdenyut seperti pembuluh darah.
Di atas singgasana itu, duduklah sesosok pria. Pria itu tidak terlihat seperti monster. Ia mengenakan jubah kebesaran dari masa lalu, namun wajahnya tersembunyi di balik kabut kegelapan yang pekat. Di sekelilingnya, ratusan entitas mata merah berlutut dengan patuh.
Pria itu mengangkat kepalanya, seolah menyadari kehadiran Lauren di alam astral tersebut.
"Siapa kamu?" tanya Lauren. Suaranya bergema di dalam ruang batin itu, terdengar kecil namun tajam.
Pria itu tidak menjawab secara langsung. Namun, Lauren merasakan sebuah gelombang memori menghantamnya. Ia melihat sejarah ribuan tahun, tentang sebuah sekte kegelapan yang mencoba menyatukan dunia nyata dan alam bayangan. Ia melihat wajah-wajah para pelindung indigo masa lalu yang tewas mengenaskan, semuanya menuju pada satu tujuan: membangkitkan sesuatu yang disebut sebagai Sang Kehendak Malam.
Pria di atas singgasana itu perlahan berdiri. Saat ia melangkah maju, kabut di wajahnya sedikit memudar, memperlihatkan mata yang tidak lagi merah, melainkan emas pucat yang sangat dingin.
"Kau hanyalah setetes air di samudera kegelapanku, Lauren," suara pria itu berat dan berwibawa, sanggup meremukkan mental siapa pun yang mendengarnya.
"Banyu sudah berada dalam genggamanku. Takdir tidak bisa diubah oleh seorang gadis yang baru saja belajar menggigit."
"Lepaskan dia!" teriak Lauren. Ia memanggil seluruh energi birunya, mencoba menghantam sosok itu di alam astral.
Namun, sebelum serangannya mendarat, tangan-tangan hitam muncul dari lantai ruangan itu, melilit kaki dan tangan Lauren. Rasa dingin yang mematikan mulai menyerap cahayanya. Lauren merasakan kesadarannya mulai memudar, seolah ia sedang ditarik masuk ke dalam lumpur hisap yang tak berdasar.
"Lauren! Kembali!"
Suara Herza terdengar sangat jauh, memanggilnya dari dunia nyata. Lauren berjuang melepaskan diri, namun tekanan di ruangan itu semakin berat. Pria itu berjalan mendekat, kini berdiri tepat di depan wajah Lauren yang terbelenggu.
"Ingatlah namaku, Gadis Indigo. Biarkan nama itu menjadi mantra kematianmu," bisik pria itu.
Lauren merasakan sebuah simbol kuno terbakar di dalam ingatannya. Sebuah nama yang tertulis dalam aksara api, menyengat batinnya hingga ia menjerit tanpa suara. Kekuatan nama itu begitu besar hingga menghancurkan proyeksi astral Lauren seketika.
Duar!
Lauren tersentak bangun. Ia terlempar ke belakang, punggungnya menghantam batang pohon mangga dengan keras. Ia terbatuk, darah segar mengalir dari hidungnya. Tubuhnya gemetar hebat, dan medali di tangannya terasa sangat panas hingga ia terpaksa menjatuhkannya ke rumput.
"Lauren! Kau tidak apa-apa?" Herza segera berada di sisinya, wajah arwah itu tampak sangat pucat karena ketakutan.
Lauren mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. Matanya masih berbayang biru, sisa dari perjalanan astral yang baru saja hampir merenggut nyawanya. Ia menyeka darah di hidungnya dengan lengan jaketnya, menatap Herza dengan pandangan yang masih kosong.
"Aku melihatnya, Herza," bisik Lauren.
"Dia bukan sekadar arwah atau pelindung seperti Adiwangsa. Dia adalah dalangnya. Dia yang mengatur semua jaring-jaring ini sejak awal."
"Siapa?" tanya Herza dengan suara gemetar.
"Apa kau melihat wajahnya? Apa kau mendengar namanya?"
Lauren menelan ludah. Rasa perih masih terasa di batinnya saat ia mencoba melafalkan nama yang tadi terbakar di ingatannya. Nama yang terasa seperti kutukan kuno yang baru saja diaktifkan.
"Dia menyebut dirinya... Sabda Palon yang sudah ternoda," kata Lauren lirih.
"Tapi nama aslinya... yang dia bisikkan padaku... adalah Eyang Sangker Bumi."
Mendengar nama itu, Herza mendadak membeku. Pendar perak di tubuh arwah remaja itu seketika padam, berubah menjadi warna kelabu mati yang sangat pekat. Seluruh tubuh Herza bergetar hebat, lebih parah daripada saat ia bertemu dengan Adiwangsa di koridor sekolah.
"Herza? Ada apa?" tanya Lauren panik.
Herza tidak menjawab. Ia menatap Lauren dengan tatapan yang penuh dengan keputusasaan yang murni. Arwah itu melangkah mundur, seolah-olah nama yang baru saja diucapkan Lauren adalah senjata yang bisa menghancurkannya berkeping-keping.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Herza. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
"Jika itu benar dia... maka kita sudah kalah sebelum berperang, Lauren."
"Apa maksudmu? Siapa dia sebenarnya?" Lauren bangkit berdiri, mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya.
Herza menatap langit malam yang kini benar-benar tertutup awan hitam, tanpa menyisakan satu pun celah cahaya bulan.
"Dia bukan manusia yang menjadi arwah, Lauren. Dia adalah entitas purba yang sudah ada bahkan sebelum agama masuk ke tanah ini," kata Herza dengan nada yang membuat Lauren merinding.
"Dia adalah orang yang sama yang menyebabkan kematian masal garis keturunan Danuarta sepuluh tahun lalu. Dan dia... dia adalah alasan kenapa aku terjebak di dunia ini selama satu dekade."
Lauren terdiam. Ia menatap tangannya yang masih memerah akibat panas medali. Ia baru saja menyadari bahwa musuh yang ia tantang bukan lagi sekadar hantu atau praktisi ilmu hitam biasa. Ia baru saja mengetuk pintu milik penguasa kegelapan yang paling dalam.
Tiba-tiba, dari arah gerbang depan rumahnya, terdengar suara tawa yang sangat pelan namun tajam, diikuti oleh suara langkah kaki yang menyeret di atas aspal.
Lauren dan Herza menoleh secara serentak. Di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, berdiri sesosok bayangan yang mengenakan pakaian compang-camping, membawa sebuah kotak kayu kecil yang berdenyut dengan cahaya merah.
"Kuncinya... sudah siap untuk diputar," bisik sosok itu.
Lauren mengepalkan tangannya, membiarkan energi birunya kembali berkobar. Pertempuran yang ia takutkan selama ini akhirnya mengetuk pintu rumahnya secara langsung.