Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Pak berhenti di sini aja." Gista turun dari atas motor sang ojol setelah cukup lama waktu yang ia tempuh. "Berapa, bang?"
"20 rb neng."
Gista merogo uang yang berada di saku celananya, ia terdiam sesaat memandang uang terakhir miliknya.
'Ini uang terakhir yang gue punya, kalo gue bayar nanti pulangnya gue naik apa?'
"Neng uangnya,"
"Eh iya, ini mang."
Gista mulai melangkah menyelusuri area sekitar tempat saat ia kecelakaan waktu kemarin, ia mengedarkan pandangannya pada sekitar hingga tanpa sengaja netralnya mendapati segerombolan laki-laki yang sedang berkumpul di sebuah warung.
Gista memicingkan matanya saat melihat motor yang persis seperti motor miliknya.
"Motor gue itu, gue gak salah liat itu emang motor gue." gungam Gista
Dengan langkah pasti ia menghampiri para laki-laki itu.
"WOY!"
Semua mata tertuju padanya, Gista berdiri dengan tatapan menyalah pada mereka.
"Balikin motor gue!" pekik Gista. "Pencuri, gue bakal laporin kalian ke kantor polisi kalo enggak balikin motor gue."
Satu orang maju, menghampiri Gista.
"Jadi lo perempuan yang berani-beraninya hancurin rencana gue malam itu, hah?!"
Gista menyercit, ia tak paham apa yang di katakan lelaki tersebut.
"Lo sudah hancurin rencana gue buat habisin Raden, lo harus tanggung resikonya!"
Mendengar ucapan laki-laki itu membuat Gista terkejut namun ia berusaha terlihat biasa saja. "Ouh, jadi lo si ketua pengecut itu? Cuma bisa ngerahi anak buah buat habisin musuh, kalo berani itu satu lawan satu jangan keroyongan pecundang."
"Kurang ajar!"
Bug.
Satu bogeman menta di layangkan laki-laki itu pada wajah mulus Gista hingga membuat bibirnya sedikit sobek dan berdarah.
Bug.
Gista langsung membalas pukulan itu dengan pukulan tak kalah kuatnya.
"Ini balasan buat lo yang berani-beraninya tonjok muka gue!"
Bug.
"Ini buat lo yang berani-beraninya ambil motor gue!" lanjut Gista yang terus melayangkan pukulan bertubi-tubi pada laki-laki tersebut.
Noah, nama pecundang itu ialah Noah ketua geng Lavegas. "Berani-beraninya lo pukul gue."
Noah mencengkram kuat pergelangan tangan Gista dengan sangat kuat hingga Gista meringis kesakitan.
"Lepas, lo pikir gak sakit hah?"
"Itu akibat lo main-main sama gue!"
Bug.
Noah terjatuh saat mendapatkan serangan secara tiba-tiba. "Jangan kasar sama perempuan."
"Raden?" mata Gista melebar, ia tak menyangkah jika Raden menolongnya.
"Lo pergi aja dari sini, Gista. Biar mereka gue yang urus."
Gista menggeleng. "Gue gak mau tinggalin lo sendirian, mereka terlalu banyak buat jadi lawan lo yang sendirian."
"Tap--"
Bug.
"Banyak drama!"
"Serang.!"
Bug.
Bug.
Plak!
Bug.
Tendangan demi tendangan mereka layangkan, moment pertemuan Gista dan Raden malam itu terulang kembali. Dua lawan belasan orang, sekarang anggota mereka lebih banyak hingga membuat keduanya kewalahan.
Wiww.. Wiw...
Bunyi sirene polisi menggema membuat semua melarikan diri.
"Cepat naik."
"Tap—"
"Udah buruan naik, mau ketangkap polisi?"
_____________
Huft..
"Akhrinya polisi-polisi itu gak ngejar kita lagi."
Gista dan Raden menghela napas lega, mereka lolos dari kejaran polisi. Keduanya saling menatap hingga sebuat tawa pecah, keduanya tertawa terbahak-bahak saat mengingat betapa paniknya mereka tadi.
"Jantung gue kerasa mau copot,"
"Apa lagi gue, letak kunci motor aja gue sampe lupa saking takutnya."
"HAHAHA!"
Taman, saat ini keduanya berada di taman.
"Lo kenapa bisa berurusan sama rombongan Noah?"
Jidat Gista mengerut. "Noah siapa?"
"Yang tadi tuh namanya Noah, dia ketua geng lavegas, geng yang selalu bikin onar dan rusuh."
"Oh pengecut itu namanya Noah,"
"Pecundang?"
Gista mengangguk. "Iya, dia pecundang yang cuma bisa nyuruh anak buahnya doang. Bela dirinya aja masih kala jauh sama gue yang seorang perempuan."
"Lo mah bentukan aja perempuan tapi nyali laki-laki." ucap Raden membuat Gista terkekeh. "Btw lo belum jawab pertanyaan gue."
"Yang mana?"
"Kenapa lo bisa berurusan sama mereka?"
"Pecundang itu ambil motor gue."
"Ambil motor?"
"Iya, kemaren gue kecelakaan terus gue pingsan tiba-tiba gue bangun udah ada dirumah sakit dan saat gue pergi ketempat itu lagi motor gue udah gak ada." jelas Gista. "Dan buat terkejutnya lagi ternyata mereka marah karena gue bantuin lo malam itu, mungkin mereka ambil motor gue untuk balas dendam."
"Berarti kecelakaan lo itu di sengaja la,"
"Di sengaja?"
"Rombongan Noah yang udah buat lo mengalami kecelakaan itu, gue udah kenal sama mereka jadi gue tau betapa liciknya mereka itu."
"Kurang ajar, gue harus kasih pelajaran sama mereka." Gista bangkit, hendak memberi pelajaran pada Noah namun lengannya di tahan oleh Raden
"Jangan, jangan sta bahaya mereka gak bakal balikin motor lo dengan semuda itu."
"Tapi gue harus ambil motor gue secepatnya."
"Lo tenang aja, nanti gue bakal bantu ambil motor lo dari mereka tapi jangan gegabah kayak gini."
"Tapi janji ya lo bantu gue buat ambil motor itu lagi?"
Raden mengangguk. "Gue janji."
Jari kelingking keduanya saling bertaut, mata mereka kembali saling menatap dengan senyuman terbit di bilah bibir mereka.
'Kok jadi deg degan gini ya?' batin Gista
"Itu namanya kamu jatuh cinta Gista, kamu suka pada laki-laki tampan itu. Ciee ..."
"Berisik!" refleks kata itu muncul di bibir Gista membuat Raden terkejut
"Kenapa sta? Lo gak suka denger gue ngomong?"
"Eh, enggak. Bukan, enggak kok." Gista gelagapan, semua ini karena anak kecil yang suka berbisik itu.