Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - MERAWAT MUSUH
Dia tidak sendiri.
Tiga kata yang Lily bawa ke kamarnya malam itu, diulang-ulang di kepala sampai semua kemungkinan maknanya habis ditelaah.
Mama tidak sendiri waktu sakit? Tidak sendiri waktu meninggal? Atau tidak sendiri dalam arti ada orang lain yang terlibat. Orang selain Tante Sari yang malam itu ada di sana, ada di bagian yang belum Lily ketahui?
Terlalu banyak interpretasi untuk tiga kata.
Lily memutuskan untuk tidak menarik kesimpulan dulu. Dia simpan kertas itu di tempat yang sama dengan surat Mama, di dalam kotak kayu kecil yang sekarang ada di bawah kasurnya, di sudut paling dalam, di balik kardus berisi baju lama yang tidak ada yang peduli untuk memeriksa.
Besok Sabtu. Besok dia bertemu Pak Syarif.
Itu yang paling penting sekarang.
Tapi Sabtu datang dengan agenda yang tidak Lily rencanakan.
Pagi-pagi, sebelum Lily sempat turun ke dapur, Tante Sari sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan mengetuk dua kali dengan cara yang tidak benar-benar menunggu jawaban sebelum membuka.
"Nindi tidak enak badan," katanya. "Kamu yang jaga hari ini."
Lily menatapnya dari atas kasur.
"Seharian?"
"Dokternya bilang perlu istirahat. Tekanan darahnya naik sedikit semalam." Tante Sari berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sudah memutuskan. "Aku ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggal. Ayahmu rapat. Bibi Rah perlu handle yang lain. Jadi kamu."
Lily menghitung cepat di kepalanya. Jam dua siang, ketemu Pak Syarif. Kalau dia jaga Nindi pagi sampai siang, masih ada celah. Tergantung seberapa sakit Nindi dan seberapa ketat Tante Sari mengawasi sebelum pergi.
"Baik," kata Lily.
Tante Sari menutup pintu.
Nindi memang tidak baik.
Lily menemukannya di kamar lantai dua, berbaring dengan bantal tambahan di bawah kakinya, wajahnya pucat dengan undertone kekuningan yang membuat lingkaran matanya kelihatan lebih dalam. Di meja kecil di sebelah tempat tidurnya ada segelas air yang sudah setengah dan obat dari dokter yang tertata rapi.
Lily berdiri di pintu kamarnya.
Kamar ini dulu kamarnya. Sebelum Nindi datang dan kamar itu berpindah tangan dengan alasan yang tidak pernah benar-benar jadi alasan. Hanya pergeseran yang terjadi dan dibiarkan terjadi karena Lily waktu itu tidak tahu cara menahannya.
Nindi mengangkat matanya. Ekspresinya tidak langsung berubah jadi defensif seperti biasanya. Mungkin karena terlalu lelah, mungkin karena sakit mengikis sebagian lapisan yang biasanya dia jaga.
"Kamu yang disuruh jaga?" suaranya lebih serak dari biasanya.
"Iya."
"Kamu tidak harus mau..."
"Aku tahu." Lily masuk dan meletakkan nampan yang dia bawa di meja... teh jahe, biskuit tawar, dan air putih segar. "Tapi aku di sini."
Nindi menatap nampan itu lama.
"Kenapa?"
Lily menarik kursi kecil dan duduk di sampingnya. Bukan dekat, masih di jarak yang wajar, di jarak yang tidak mengklaim lebih dari yang perlu. "Karena kamu hamil dan tekanan darahmu naik dan menyalahkan bayi yang tidak punya salah apa-apa itu bukan sesuatu yang ingin aku lakukan."
Nindi diam.
Bukan diam yang nyaman, diam yang tidak tahu harus diisi dengan apa. Orang yang sudah lama bersiap untuk diserang dan tiba-tiba tidak diserang sering bereaksi seperti itu. Bingung, sedikit curiga, tidak tahu cara menurunkan pertahanannya tanpa merasa bodoh.
"Minum tehnya," kata Lily. "Jahe bagus untuk tekanan darah."
Nindi mengambil gelas dengan gerakan yang pelan dan minum sedikit. Lily menunggu.
"Kamu tidak benci aku?" tanya Nindi akhirnya. Pelan, nyaris tidak terdengar ... bukan nada yang menantang, bukan retorika. Pertanyaan yang sungguhan.
Lily memikirkan jawabannya selama tiga detik.
"Benci itu menghabiskan banyak energi," katanya akhirnya. "Dan energiku sekarang lebih dibutuhkan di tempat lain."
Bukan jawaban yang hangat. Tapi jujur dan Nindi kelihatannya tahu bedanya.
Dua jam pertama berlangsung dalam diam yang tidak nyaman tapi tidak meledak.
Lily duduk di kursi dengan buku yang dia ambil dari rak di lorong. Buku apa saja yang pertama ketangkap tangan, ternyata ensiklopedia masakan yang sudah lama sekali. Nindi berbaring dengan mata yang sesekali terbuka dan sesekali tertutup.
Sekitar jam sebelas, Nindi bicara lagi. "Mas Dimas tidak datang pagi ini."
Lily tidak mengangkat mata dari bukunya. "Aku tahu."
"Dia bilang ada meeting."
"Mungkin memang ada."
Nindi mengeluarkan napas dari hidungnya, bukan napas yang sabar. "Kamu tidak penasaran?"
"Soal apa?"
"Soal kenapa dia tidak datang waktu aku sakit."
Lily menutup bukunya. Menatap Nindi dengan ekspresi yang netral. "Itu urusan kalian, Nin. Bukan urusanku."
"Dulu itu urusanmu."
"Dulu." Lily membuka bukunya lagi. "Sekarang tidak."
Nindi memutar kepalanya ke arah langit-langit. Tangannya bergerak ke atas perutnya. Gerakan yang sudah Lily perhatikan jadi semacam kebiasaan, seperti meyakinkan diri sendiri bahwa sesuatu masih di sana.
"Kadang aku tidak tahu dia mencintai aku atau mencintai situasinya," kata Nindi. Sangat pelan. Seperti bicara ke dirinya sendiri, bukan ke Lily.
Lily tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena ada jenis keheningan yang lebih berguna dari jawaban apa pun, dan ini salah satunya.
"Mama bilang Mas Dimas pilihan yang bagus," lanjut Nindi. Matanya masih di langit-langit. "Posisinya di perusahaan itu strategis. Koneksinya bagus. Dan kalau dia sudah masuk ke keluarga secara resmi..." Dia menghentikan dirinya sendiri di tengah kalimat.
Lily yang sudah menahan napas sebentar, melanjutkan membaca dengan wajah yang tidak berubah. Tapi di kepalanya, ada sesuatu yang baru saja jatuh ke tempatnya.
Kalau dia sudah masuk ke keluarga secara resmi.
Dimas bukan dipilih Nindi karena cinta semata. Dimas dipilih karena posisinya, karena apa yang Dimas bisa bawa kalau dia resmi masuk ke lingkaran keluarga ini. Artinya rencana itu bukan Nindi yang susun sendiri. Tante Sari yang melihat nilai Dimas jauh sebelum Nindi jatuh cinta atau sebelum Nindi diarahkan untuk jatuh cinta.
Dan hubungan Lily dengan Dimas, pernikahan yang direncanakan bukan sekadar penghalang cinta.
Itu penghalang rencana yang lebih besar.
Kenapa pernikahan Lily dengan Dimas harus dibubarkan?
Karena kalau Lily yang menikah dengan Dimas, Lily akan punya status. Status yang membuatnya lebih sulit disingkirkan dari lingkaran aset dan warisan yang selama ini dicoba dikuasai Tante Sari.
Nindi yang menikah dengan Dimas, itu pilihan yang aman untuk Tante Sari. Karena Nindi adalah tangannya.
Lily meletakkan buku di pahanya dan memandang ke arah jendela.
Semua potongan itu tidak langsung sempurna, masih ada bagian yang berlubang, bagian yang perlu lebih banyak bukti. Tapi bentuk besarnya mulai kelihatan.
Jam setengah dua, Nindi tertidur.
Lily menunggu sepuluh menit untuk memastikan tidurnya stabil, lalu berdiri pelan dari kursinya. Dia mengisi ulang segelas air di meja Nindi, merapikan obat-obatan yang posisinya sedikit bergeser, dan keluar dari kamar dengan menutup pintu perlahan.
Di lorong, dia langsung ke kamarnya. Ganti baju luar. Ambil dompet.
Hendra sudah mengirim pesan dari tadi pagi. [Pak Syarif menunggu jam dua. Alamatnya aku kirim nanti.]
Lily mengetik balas. [Aku jalan sekarang.]
Dia turun ke lantai bawah. Bibi Rah ada di dapur, tidak menoleh waktu Lily lewat. Tapi tangannya yang sedang mengupas kentang berhenti sebentar, lalu lanjut lagi.
Isyarat yang cukup.
Lily keluar dari pintu belakang dan berjalan cepat ke arah jalan besar.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Hendra dengan alamat Pak Syarif.
Lalu satu pesan lagi, langsung di bawahnya, dari nomor yang berbeda, nomor yang tidak tersimpan di kontaknya tapi formatnya dia kenal. Format nomor kantor, bukan nomor pribadi.
Lily membuka pesannya.
[Lily Rosamaria. Sebaiknya kamu batalkan rencana siang ini. Kamu tidak mau tahu apa yang terjadi kalau kamu tetap pergi.]
Lily berhenti di trotoar.
Dibacanya pesan itu dua kali.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada penjelasan. Hanya ancaman yang cukup spesifik untuk tidak bisa diabaikan dan cukup kabur untuk tidak memberikan informasi nyata.
Seseorang tahu rencana siang ini.
Bukan Tante Sari ... Tante Sari tidak tahu soal pertemuan dengan Pak Syarif. Bukan Bibi Rah yang baru memihak. Bukan Nindi yang sedang tidur di lantai dua.
Lily menyimpan ponselnya dan melanjutkan langkah.
Kalau mereka mau menghentikannya, mereka harus melakukan lebih dari sekadar mengirim pesan.