NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Aroma Nasi Garam

## Bab 2: Aroma Nasi Garam

Bunyi bel istirahat pertama di SMA 3 Tanjung Balai selalu terdengar seperti simfoni kebebasan bagi sebagian besar siswa. Begitu suara nyaring itu berhenti bergema, koridor sekolah langsung dipenuhi suara derap langkah kaki yang terburu-buru menuju kantin. Aroma bakso kuah pedas, mi instan yang baru diseduh, dan gorengan panas mulai menyerbu udara, membuat perut siapa pun bergejolak menuntut haknya.

Rafi duduk mematung di bangkunya. Ia tidak beranjak. Matanya menatap kosong ke papan tulis yang masih dipenuhi rumus trigonometri. Secara analitis, ia sedang menghitung waktu. Ia harus menunggu setidaknya sepuluh menit sampai kelas benar-benar kosong, atau setidaknya sampai teman-teman satu gengnya—Dika dan kawan-kawan—menghilang di balik pintu kelas.

"Fi, nggak kantin? Hari ini Bu Kantin masak soto ayam, lho. Mumpung masih panas," ajak Dika sambil menepuk bahu Rafi.

Rafi memaksakan sebuah senyuman tipis. Tangannya secara refleks masuk ke dalam saku celana, meraba sisa uang sepuluh ribu yang seharusnya menjadi jatah makannya hari ini. Uang itu terasa panas di jarinya. Jika ia pergi ke kantin, soto ayam itu akan melenyapkan target tabungannya hari ini. Secara logis, soto ayam adalah kenikmatan sementara yang akan merusak rencana jangka panjangnya ke Kisaran.

"Duluan aja, Dik. Perut gue agak nggak enak. Tadi pagi udah sarapan banyak di rumah," bohong Rafi. Suaranya terdengar stabil, sebuah pertahanan diri yang sudah ia latih selama berminggu-minggu.

"Ya elah, rugi lu. Ya udah, gue duluan ya!"

Begitu punggung Dika menghilang, Rafi menarik napas lega. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Setelah memastikan kelas hanya menyisakan beberapa siswi yang asyik bergosip di pojok depan, ia perlahan membuka tas ranselnya yang sudah mulai berudul di bagian ritsleting.

Dari bagian paling dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak makan plastik kecil berwarna biru yang sudah mulai kusam. Kotak itu tidak berisi nasi goreng mewah atau lauk ayam goreng. Begitu tutupnya dibuka, uap tipis yang sudah mendingin keluar, membawa aroma yang sangat sederhana: nasi putih hangat dan taburan garam dapur.

Rafi mengambil sendok plastiknya. Ia makan dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, mencoba menghalangi pandangan orang lain dengan punggungnya. Setiap suapan terasa berat. Rasa asin dari garam itu terasa tajam di lidahnya, namun di otaknya, rasa asin itu berubah menjadi angka: **+10.000 rupiah** untuk si ayam merah di rumah.

"Sepuluh ribu," bisiknya dalam hati.

Dalam kondisi ekonomi yang serba sulit seperti sekarang, sepuluh ribu mungkin terlihat kecil bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja di kantoran atau punya perkebunan sawit luas. Tapi bagi Rafi, sepuluh ribu adalah sepuluh kilometer perjalanan bus menuju Nisa. Sepuluh ribu adalah separuh harga tiket bioskop 5D yang sangat ingin ia tunjukkan pada gadis itu.

Tiba-tiba, suara tawa dari arah pintu masuk membuatnya tersentak. Sekelompok siswi dari kelas sebelah melintas sambil membawa gelas plastik berisi minuman boba kekinian. Aroma manis cokelat dan susu tercium sangat kuat, bersaing dengan aroma nasi garamnya yang hambar.

Rafi merasa tenggorokannya mendadak kering. Ia segera menutup kotak makannya kembali, meski isinya belum habis. Rasa malu itu datang tanpa diundang, merayap dari dadanya hingga ke wajahnya yang terasa memanas. Budaya pamer di lingkungan sekolah benar-benar kejam bagi orang seperti dirinya. Di dunia di mana status sosial diukur dari apa yang kau beli di kantin, nasi garam adalah sebuah penghinaan terhadap ego remaja.

Secara skeptis, Rafi mulai mempertanyakan keputusannya. *Apakah ini masuk akal? Menyiksa metabolisme tubuh demi seorang gadis yang bahkan belum tentu mau membalas chat-ku nanti? Apakah biaya peluang dari rasa lapar ini akan sebanding dengan output emosional yang kuharapkan?*

Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ingatan tentang senyum Nisa di layar HP-nya kembali menguatkan tekadnya. Bagi Rafi, Nisa adalah motivasi tertingginya untuk keluar dari rasa minder ini. Jika ia bisa memberikan kencan yang layak di Kisaran—makan ayam penyet di tempat yang bagus atau nongkrong di *food court* Irian yang bersih—maka ia merasa telah menaikkan derajatnya sendiri di mata Nisa.

Ia beranjak dari bangku, membawa kotak makannya menuju pojok perpustakaan yang sepi. Di sana, di antara deretan buku-buku usang, Rafi melanjutkan suapannya. Ia tidak lagi peduli dengan rasa lapar yang hanya terganjal karbohidrat dan natrium. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku seragamnya. Di sana, ia mencatat setiap rupiah yang berhasil ia selamatkan dari perutnya sendiri:

* **Senin:** 10.000 (Nasi Garam)

* **Selasa:** 10.000 (Nasi Garam)

* **Rabu:** 10.000 (Nasi Garam)

Totalnya sudah mencapai angka yang lumayan. Secara struktural, ia sudah berada di jalur yang benar. Namun, tantangan terberat bukan hanya rasa lapar, melainkan menjaga rahasia ini agar tidak bocor. Jika teman-temannya tahu, ia akan dicap sebagai "cowok pelit" atau lebih buruk lagi, "cowok miskin yang halu".

Rafi menutup matanya sejenak, membayangkan suasana di Irian Kisaran nanti. Ia bisa membayangkan aroma ayam goreng penyet yang gurih dengan sambal pedas, jauh lebih lezat daripada aroma nasi di depannya. Ia membayangkan dirinya memesan dengan percaya diri, mengeluarkan uang tanpa ragu, dan melihat mata Nisa berbinar senang karena merasa diperlakukan spesial.

"Satu minggu lagi, Rafi. Cuma satu minggu lagi," ia menyemangati dirinya sendiri.

Bel masuk berbunyi. Rafi buru-buru menghabiskan sisa nasinya, membersihkan remah-remah garam yang menempel di sendok dengan jarinya, dan memasukkan kotak itu kembali ke tas. Ia mengambil botol air mineral yang ia isi ulang dari keran sekolah untuk menghilangkan sisa rasa asin di mulutnya.

Begitu ia kembali ke kelas, Dika masuk sambil bersendawa, menunjukkan betapa kenyangnya dia setelah makan soto ayam.

"Woi, Fi! Lu rugi banget nggak ikut. Soto Bu Kantin hari ini dagingnya banyak!" seru Dika sambil tertawa.

Rafi hanya tersenyum simpul. Ia meraba sakunya, memastikan uang sepuluh ribu itu masih ada di sana. Uang yang akan menjadi bagian dari tiga ratus ribu yang ia impikan.

"Iya, Dik. Lain kali ya," jawab Rafi pelan.

Di mata Dika, Rafi mungkin hanya teman yang sedang kurang enak badan. Tapi di dalam kepalanya, Rafi adalah seorang analis yang baru saja memenangkan satu babak melawan pengeluaran impulsif. Perjalanan menuju Kisaran masih jauh, dan aroma nasi garam ini akan terus menemaninya hingga hari keberangkatan itu tiba.

Secara analitis, hari ini sukses. Secara emosional, ia lelah. Tapi secara tekad, ia tak terpatahkan oleh aroma soto mana pun.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!