Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam ketiga Xiao Han bertugas di rumah Rina Wijaya, hujan sudah reda sepenuhnya. Udara malam terasa sejuk, hanya suara air kolam ikan koi dan hembusan angin pelan yang terdengar di halaman belakang. Xiao Han baru saja menyelesaikan patroli jam 1 pagi: cek pagar, pintu garasi, jendela lantai 1, dan kembali duduk di sofa ruang tamu dengan secangkir kopi hitam yang dia seduh sendiri dari dapur.
Lampu lantai 2 menyala samar. Rina belum tidur lagi.
Pintu kamar utama terbuka pelan. Rina turun tangga dengan langkah ringan, masih mengenakan gaun tidur sutra krem yang sama seperti malam pertama, tapi kali ini modelnya lebih terbuka di bagian dada—belahan V dalam yang memperlihatkan garis leher halus dan kulit cerah yang terawat sempurna. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, bergoyang lembut setiap langkah. Usia 40 tahunnya hampir tak terlihat; tubuhnya tetap kencang, pinggang ramping, dan gerakannya penuh percaya diri seperti wanita yang tahu betul daya tariknya.
Dia berhenti di tangga bawah, memandang Xiao Han yang sedang duduk tegak.
“Kak Xiao Han… masih belum tidur?” suaranya lembut, hampir berbisik, tapi ada nada genit yang tak bisa disembunyikan.
Xiao Han langsung berdiri, sikapnya tetap profesional.
“Belum, Mbak Rina. Saya baru selesai patroli jam 1. Mbak belum tidur juga?”
Rina tersenyum kecil, turun langkah terakhir dan mendekat. Gaun sutranya bergoyang mengikuti gerakan pinggulnya yang lembut. Dia berhenti beberapa langkah di depan Xiao Han, cukup dekat sampai aroma parfum mahalnya—campuran vanila dan jasmine—tercium jelas.
“Aku susah tidur kalau rumah terasa sepi. Makanya aku senang ada kamu di sini setiap malam.”
Xiao Han mengangguk pelan, tatapannya tetap lurus ke depan—tidak ke gaun tipis itu, tidak ke belahan dada yang sedikit terbuka.
“Itu tugas saya, Mbak. Supaya Mbak merasa aman.”
Rina melangkah lebih dekat lagi, jarak mereka tinggal satu lengan. Dia mencondongkan tubuh sedikit, tangannya menyentuh lengan Xiao Han dengan ujung jari yang dingin.
“Kamu selalu profesional ya… nggak pernah santai sedikit. Padahal aku janda, Kak. Sudah lama nggak ada pria di rumah ini malam-malam. Kamu nggak penasaran… apa aku kesepian?”
Xiao Han menarik napas pelan, tapi tidak mundur. Suaranya tetap tenang dan tegas.
“Saya di sini untuk jaga keamanan, Mbak Rina. Bukan untuk hal lain. Kalau Mbak kesepian, mungkin Mbak bisa ajak teman atau keluarga. Tapi tugas saya hanya patroli dan pastikan rumah aman.”
Rina tertawa kecil, suara tawa yang lembut tapi penuh godaan. Dia mundur sedikit, tapi matanya masih menatap Xiao Han dengan intens.
“Kamu lucu kalau lagi tegas gini. Aku suka pria yang bisa menahan diri. Bikin penasaran.”
Dia berbalik pelan, gaun sutranya bergoyang lagi, memperlihatkan punggung halus yang terbuka karena desain rendah di belakang.
“Aku naik dulu ya. Kalau ada apa-apa… kamu tahu kamar aku di lantai 2. Pintunya nggak terkunci.”
Xiao Han tidak menjawab. Dia hanya mengangguk hormat.
“Selamat malam, Mbak Rina. Istirahat yang nyenyak.”
Rina berhenti di tangga bawah, menoleh sekali lagi dengan senyum genit.
“Selamat malam juga, Kak Xiao Han. Jangan terlalu keras kepala ya… siapa tahu suatu malam kamu butuh istirahat lebih dari sekadar duduk di sofa.”
Dia naik tangga dengan langkah lambat, sengaja membuat gaunnya bergoyang lebih dramatis. Xiao Han tetap berdiri diam sampai langkah Rina menghilang di lantai atas, lampu kamar utama akhirnya padam.
Dia kembali duduk di sofa, menghela napas panjang. Dadanya berdegup kencang—bukan karena tergoda, tapi karena tekanan untuk tetap profesional di tengah godaan yang semakin jelas. Rina bukan wanita biasa; dia cantik luar biasa, kaya, janda yang tahu cara memainkan pesona, dan malam ini dia jelas sedang mencoba batas Xiao Han.
Tapi Xiao Han ingat janjinya pada Hua Ling’er, pada ibunya, pada dirinya sendiri.
Dia bukan lagi “call man” yang bisa seenaknya.
Dia supir Lin Qing, penjaga rumah Rina, dan yang terpenting—pria yang ingin tetap setia pada satu orang.
Dia mengambil ponsel, melihat foto Hua Ling’er yang dia simpan sebagai wallpaper. Senyum gadis itu membuat dadanya lebih tenang.
“Maaf kalau aku pulang subuh terus, Ling’er. Sebentar lagi selesai.”
Xiao Han mematikan lampu ruang tamu, meninggalkan hanya lampu kecil di sudut. Malam masih panjang.
Dan dia tahu, Rina mungkin akan mencoba lagi besok malam, atau malam berikutnya.
Tapi dia juga tahu: dia tidak akan goyah.