Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suasana pagi buta itu masih sangat sunyi, namun dapur di rumah tingkat itu sudah mulai terasa hangat.
Cahaya lampu neon memantul di atas kompor yang apinya sedang menari kecil.
Kesibukan Kinan di pagi buta menyiapkan bekal spesial untuk hari pertama Adnan mengajar dimulai dengan doa yang ia bisikkan di setiap langkahnya.
Tangannya dengan cekatan mengolah bahan-bahan segar yang ia beli kemarin.
Ia membuat bekal cumi hitam, masakan kegemaran yang bumbunya ia ulek sendiri dengan penuh perasaan.
Aroma gurih dari tinta cumi yang bertemu dengan tumisan bawang mulai menyeruak, memenuhi ruangan.
Tak lupa, ia menggoreng tempe goreng yang renyah di luar namun lembut di dalam, serta menanak nasi gurih yang wanginya berasal dari daun salam dan serai.
Kinan ingin hari ini menjadi awal yang sempurna bagi suaminya.
Ia menata bekal itu dengan sangat rapi ke dalam kotak makan, memastikan tidak ada kuah yang tumpah.
Sementara itu, di lantai atas, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang merdu perlahan berhenti.
Adnan yang baru selesai mengaji langsung turun ke bawah, masih mengenakan sarung dan kopiahnya.
Ia tertegun di anak tangga terakhir saat melihat punggung istrinya yang sedang sibuk di dapur.
"Masya Allah, wanginya sampai ke atas, Sayang," ucap Adnan lembut, membuat Kinan sedikit terperanjat.
Kinan menoleh dan tersenyum manis. Wajahnya yang kemarin pucat kini sudah terlihat jauh lebih ceria.
"Mas sudah selesai? Sebentar ya, Mas, ini bekalnya hampir siap. Mas harus bawa bekal yang spesial karena hari ini adalah hari pertama Mas mengabdi di tempat baru."
Adnan mendekat, berdiri di samping Kinan dan melihat deretan menu di dalam kotak bekal itu.
"Cumi hitam dan nasi gurih? Kamu benar-benar tahu cara membuat suamimu semangat bekerja."
Adnan menatap istrinya dengan penuh kasih. Ia tahu Kinan kurang tidur demi menyiapkan semua ini, namun binar di mata istrinya menunjukkan bahwa Kinan melakukannya dengan penuh cinta.
Kemudian Kinan mengajak suaminya untuk sarapan terlebih dahulu.
"Masya Allah, sayang. Ini enak sekali,' ucap Rangga.
Kinan tersenyum tipis saat mendengar pujian dari suaminya.
Setelah selesai sarapan, Adnan segera bersiap-siap.
Ia mengenakan kemeja koko berwarna putih bersih yang dipadukan dengan celah kain hitam, serta peci yang terpasang rapi.
Luka lebam di wajahnya memang masih terlihat, namun binar matanya memancarkan wibawa yang tak pernah padam.
Kinan berjalan mendekat sambil membawa tas bekal yang kainnya terasa hangat.
Dengan lembut, Kinan memberikan bekal itu ke tangan suaminya.
"Jangan lupa makan siangnya, Mas. Aku sudah menaruh sendok dan tisu di dalamnya," ucap Kinan penuh perhatian.
Adnan tersenyum, mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.
"Do'akan Mas ya, Sayang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas."
Perjalanan menuju pondok milik Tuan Aris tidak memakan waktu lama.
Begitu mobil memasuki gerbang, Adnan terpaku. Pemandangan di depannya sungguh berbeda dengan pondok sebelumnya.
Momen Adnan berangkat dan disambut bak tamu agung di pondok Tuan Aris dimulai saat para pengurus pondok sudah berdiri berjajar rapi.
Bukan batu yang melayang, melainkan senyum hormat dan jabat tangan hangat yang menyambutnya.
Tuan Aris sendiri turun langsung untuk menyambutnya.
"Selamat datang, Ustadz Adnan. Kami semua sudah merindukan sosok guru seperti Anda," ucap Tuan Aris sambil merangkul bahu Adnan. Adnan merasa dihargai kembali, bukan karena gelarnya, tapi karena integritasnya.
Sementara itu, kesibukan baru juga dimulai di rumah.
Baru beberapa jam Adnan berangkat, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar.
Kinan yang di rumah mulai didatangi asisten Tuan Aris untuk menandatangani kontrak desain perhiasannya.
Asisten yang bernama Mbak Siska itu tampak sangat profesional namun ramah.
Ia membentangkan berkas kontrak di atas meja ruang tamu.
Kinan membacanya dengan teliti, hatinya bergetar melihat nilai kontrak dan pengakuan atas namanya sebagai desainer utama.
"Selain kontrak ini, Pak Aris juga memiliki kebijakan khusus," ujar Mbak Siska sambil memberi isyarat ke arah dua orang yang berdiri di belakangnya.
"Tuan Aris memberikan dua karyawannya untuk membantu Kinan yang bekerja di rumah."
Dua orang wanita muda dengan seragam rapi membungkuk hormat pada Kinan.
Satu orang ahli dalam bidang administrasi dan satu lagi ahli dalam sketsa digital.
"Mereka akan membantu Ibu Kinan merapikan sketsa-sketsa manual menjadi format digital yang siap diproduksi. Jadi, Ibu tidak perlu lelah melakukan semuanya sendirian," lanjut Mbak Sekar.
Kinan menatap buku gambarnya, lalu menatap dua asisten barunya.
Ia merasa seperti sedang bermimpi. Dulu ia adalah wanita yang dihina dan tak punya siapa-siapa, namun kini, ia memiliki tim kerja di dalam rumah mewahnya sendiri.
Di sebuah sudut pesantren lama yang kini terasa sunyi tanpa kehadiran Adnan, sementara itu di tempat lain di pondok, Fauziah tersenyum tipis karena rencananya berhasil.
Ia duduk di teras asrama putri sambil menyesap teh hangat, membayangkan keributan besar yang ia sulut kemarin telah menghancurkan segalanya.
"Mungkin setelah ini mereka akan bercerai," gumam Fauziah dengan nada sinis.
Matanya menatap tajam ke arah gerbang pondok, membayangkan Adnan akan datang memohon ampun dan menceraikan Kinan demi mengembalikan gelar ustadz-nya.
Ia tidak tahu bahwa rencananya justru menjadi jembatan bagi Adnan menuju kemuliaan yang lebih tinggi.
Jauh dari kebencian Fauziah, suasana di kantin pengajar pondok milik Tuan Aris terasa sangat hangat dan penuh keakraban.
Jam istirahat siang telah tiba, dan para pengajar berkumpul untuk makan bersama. Di sisi lain, Adnan membuka kotak bekalnya.
Seketika, aroma gurih dan khas dari tinta cumi serta wangi nasi gurih menyeruak, memenuhi ruangan itu.
Warna hitam pekat dari bumbu cumi yang mengkilap bersanding dengan tempe goreng yang kuning keemasan sungguh menggugah selera siapa pun yang melihatnya.
Para pengajar lainnya tergoda dengan masakan Adnan.
Mereka yang tadinya fokus pada nasi bungkus masing-masing, kini melirik ke arah kotak bekal Adnan dengan tatapan lapar yang tak bisa disembunyikan.
"Masya Allah, Ustadz Adnan. Masakan istri Anda baunya sedap sekali. Sepertinya itu cumi hitam ya?" tanya Ustadz Yusuf, salah satu pengajar senior di sana, sambil menelan ludah.
"Iya, Ustadz. Istri saya yang menyiapkannya tadi subuh," jawab Adnan dengan senyum rendah hati, sedikit bangga pada hasil tangan Kinan.
"Duh, bumbunya kelihatan medok sekali. Jujur saja, saya jarang melihat cumi hitam sebagus ini tampilannya di katering mana pun," timpal pengajar lainnya.
Ustadz Yusuf kemudian berceletuk setengah bercanda namun terlihat sangat berminat,
"Ustadz, apa saya besok bisa pesen cumi hitamnya? Serius, kalau istri Ustadz berkenan buka pesanan, saya mau jadi pelanggan pertama."
Adnan tertawa kecil melihat antusiasme rekan-rekan barunya.
Ia teringat bagaimana Kinan dulu merasa tangannya kotor dan tak berguna, namun kini masakannya justru diinginkan oleh orang-orang berilmu di pondok ini.
"Insyaallah saya tanyakan dulu ke istri saya," jawab Adnan dengan sopan.
"Dia sedang sibuk dengan proyek desainnya juga, jadi saya harus pastikan dulu apakah dia punya waktu luang atau tidak."
Adnan menyuapkan nasi gurih dan cumi itu ke mulutnya.
Rasanya luar biasa—pedas, gurih, dan penuh cinta. Ia merasa sangat beruntung.
Di saat Fauziah mengira hidupnya hancur, Adnan justru sedang menikmati puncak kebahagiaan bersama istri yang ia muliakan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅