NovelToon NovelToon
Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Raja Tentara/Dewa Perang / Fantasi Wanita / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun

Lily masih memegang kepalanya yang berputar tak karuan. Ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Cristopher. Namun satu fakta bahwa ia menikah dengan pria yang telah memiliki istri membuat pikirannya kacau. Nilai yang ditanamkan ibundanya sejak kecil terasa diinjak-injak begitu saja.

“Aku akan kembali ke Royal Chambers.” katanya pendek.

“Tunggu!” ujar Cristopher, menahan pergelangan tangannya.

Lily menoleh tajam. “Apa lagi?”

“Ada yang ingin kau tanyakan?” kata Cristopher datar.

Lily menatapnya lama, lalu tertawa pendek tanpa humor. “Aku tidak ingin menanyakan apa pun.”

Jarinya terangkat, menunjuk wajah Cristopher tanpa ragu. “Kau... kau bajingan kejam yang menikahi wanita lain saat sudah memiliki istri." Matanya menyorot jijik. "Dasar tukang selingkuh!”

Cristopher menatapnya tajam, “Jaga bicaramu, Liliane.”

Lily menatapnya serius, sorot matanya dingin dan lurus. “Aku tidak tertarik menjadi ratu dengan cara seperti ini. Ceraikan aku sekarang!”

Cristopher menangkap tangan Lily yang menunjuknya, genggamannya kuat namun terkendali.

“Jangan pernah bermimpi untuk bercerai!” katanya tegas. “Aku bukan tukang selingkuh. Tidak ada istri raja selain dirimu.”

Lily menyipitkan mata. “Lalu di mana ibu mereka?”

Cristopher melepaskan tangannya lalu berbalik, menatap keluar jendela. Sejenak keheningan menyelimuti mereka.

“Dia sudah pergi untuk selamanya.”

Kalimat itu membuat kepala Lily semakin berat. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.

“Sial, gagal sudah khayalanku.” batinnya. “Jika ia masih hidup, pasti aku akan melepaskan diri dari istana ini dengan mudah.”

“Aku akan kembali ke Royal Chambers.” katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan, nyaris putus asa.

Ia melangkah menuju pintu. Namun baru beberapa langkah, Lily berhenti. Ia berbalik, lalu berjongkok mengambil kayu yang tadi tergeletak di lantai.

Plak!

Tanpa ragu ia memukul betis Cristopher dengan kekuatan penuh.

“Apa yang kau lakukan, Liliane!” suara Cristopher meninggi, tubuhnya menegang menahan nyeri.

Lily menatapnya menantang, matanya dingin tanpa sedikit pun gentar.

“Apakah itu sakit?” tanyanya. “Kalau itu sakit, jangan sembarangan melakukannya pada orang lain.”

Ia membawa kayu itu pergi, meninggalkan Royal Palace dan pemiliknya tanpa menoleh lagi.

Cristopher berdiri kaku, lalu perlahan meraba betisnya. Rasa nyeri itu nyata. Mungkin sama seperti yang dirasakan putranya. Sebuah perasaan asing menyelinap ke dadanya, perasaan aneh dan tidak nyaman. Namun ia segera menepisnya kuat.

Ia lalu duduk, menarik tumpukan dokumen kerajaan ke hadapannya. Membenamkan diri dalam kesibukan, memaksa pikirannya melupakan amarah dan perasaan asing yang mulai mengusiknya.

Malam telah sepenuhnya menimpa Istana Kingdom Conqueror ketika Lily melangkah menyusuri lorong menuju Royal Chambers. Cahaya obor memantulkan bayangan panjang di dinding batu, membuat suasana terasa sunyi dan dingin.

Tenang, Lily...

Kau tidak perlu membuang energimu untuk semua ini. Fokus pada dirimu sendiri, dan jangan pedulikan apa pun yang terjadi di istana ini.

Tiba tiba langkah lily terhenti. Suara samar yang terlalu familiar membuatnya menoleh waspada. Tanpa suara, ia melangkah mengikuti arah suara yang membawa kakinya menuju taman istana.

Di bawah cahaya bulan di halaman istana, ia melihat pemandangan yang membuat keningnya mengernyit tajam. Pangeran Adric dan Pangeran Alaric berdiri tegak. Sementara di hadapan mereka, Jandice berlutut dengan sikap yang penuh kelembutan.

“Oh, keponakan-keponakanku,” suara Jandice lirih dan manis, tangannya mengelus pipi Pangeran Adric. “Aku begitu menyayangi kalian.”

Ia menunduk seolah menahan sedih. “Aku sudah mencoba bicara pada King Cristopher… tapi wanita itu menghalangiku.”

Lily berdiri di balik bayangan, menatapnya dengan alis terangkat.

“Liliane adalah orang yang merebut posisi Mama kalian,” lanjut Jandice pelan, menanamkan kata demi kata seperti bisikan iblis. “Dan sebentar lagi, ia juga akan merebut Papa kalian.”

“Apa kalian akan membiarkan itu terjadi?”

Kedua pangeran menggeleng kuat, mata mereka menyala dengan emosi yang masih mentah.

“Dia ibu tiri jahat,” bisik Jandice, suaranya seperti racun manis. “Dia akan membuat hidup kalian sengsara.”

“Kami tidak akan membiarkannya tinggal di istana ini, Aunt.” kata Pangeran Adric. Dendam yang sempat mereda, kini tumbuh kembali lebih pekat.

“Itu keputusan yang bijak, sayang.” katanya Jandice lembut, lalu berdiri perlahan. “Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Jika tidak, King Cristopher akan melihatku di sini dan semakin marah pada kalian.”

Ia berjalan menjauh dengan langkah kecil yang tampak hancur.

Namun Lily melihat senyum tipis di sudut bibir Jandice dengan jelas. Senyum seseorang yang berhasil menjalankan rencananya.

Lily mendengus pelan.

“Lebih baik berhadapan dengan musuh di depan mata,” gumamnya dingin, “daripada pengecut yang bersembunyi di balik drama murahan.”

Ia memandang dua anak itu dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.

Jangan pedulikan mereka, katanya pada dirinya sendiri. Mereka bukan bagian dari tugasmu.

Lily berbalik menuju kediamannya dengan langkah berat.

“Your Majesty,” sapa Laory begitu Lily melangkah masuk ke Royal Chambers.

Pelayan pribadinya itu sudah jauh lebih tenang dibanding hari pertama. Meski hanya berdua dengan Eri, ia tidak lagi gemetar berlebihan. Eri mengaum rendah, bangkit dari tempatnya dan menghampiri Lily, menyambut kepulangan tuannya.

Lily tersenyum tipis, berjongkok dan mengelus punggung singa itu dengan lembut.

“Aku kembali,” bisiknya pelan.

Ia lalu menoleh pada Laory.

“Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Laory.” kata Lily tulus. “Kau boleh beristirahat.”

Laory  menunduk dalam-dalam, “Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Your Majesty.”

Lily mengangguk ringan, seolah ucapan itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Laory mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan keluar dari kamar sang ratu. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.

Di lorong istana yang sunyi, ia menarik napas panjang. Dadanya terasa hangat, perasaan yang jarang ia rasakan sejak mengabdi di istana. Setiap kali ratunya mengucapkan terima kasih, hatinya selalu terharu. Ia telah mendengar terlalu banyak cerita tentang pelayan yang diperlakukan seperti budak, tentang hukuman yang dijatuhkan tanpa alasan, tentang suara tangis yang harus ditelan dalam diam.

Namun Queen Liliane berbeda. Ia tidak meletakkan pelayan di bawah kakinya. Ia berbicara, mendengar, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Terdengar sepele, namun bagi Laory terasa begitu berharga.

Dalam hati, ia berdoa dengan tulus pada Dewa. Semoga Queen Liliane Thalassa Serene selalu diberkahi umur panjang. Semoga kebaikannya tidak pernah padam di istana yang dingin ini.

Sementara itu di dalam Royal Chambers, Lily menghembuskan napas panjang dan menjatuhkan dirinya ke kursi dekat jendela. Eri ikut merebahkan kepalanya di dekat kaki Lily.

“Istana ini melelahkan.” gumamnya pelan, menatap langit malam di balik jendela.

Eri mengaum rendah, seolah menyetujui perkataan tuannya.

Saat mata Lily terpejam, bayangan kedua anak itu kembali datang. Seketika matanya terbuka, sorot matanya kembali gelisah. Ia tidak dibesarkan dengan amarah, apalagi pada mahluk kecil yang tidak tahu apa-apa.

1
Nurhijah Simatupang Sianturi
alur ceritanya sangat bagus
Musdalifa Ifa
luar biasa
Diva Yuwena
Bikin cerita baru tentang princess Aiko thorr☺️
Rita Cindarwati
alur cerita sangat luar biasa. Dengan membaca nya membuat pembaca berimajinasi maksimal. isyarat dengan pesan moral yang positif kuat mengenai kehidupan...
semua wajib baca karya ini....
makasih outhor/Heart/
pommesfrites
aaaa seru banget
Yue Li MZy
KA uthor apa ga ada lanjutan cerita Kaisar Aurelian?
Hema Simangunsong
terimakasih atas cerita nya kak
Maria
Goodd
Erni Fitriana28
terharu bacanya😍😍😍😍😍😍😍
Alexander
👍👍👍👍
Alika Ramadhani
d tunggu kisah berikutnya 💪💪
Lennie Agustin
karya yang luar biasa...😍
Patrish
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
beybi T.Halim
finally happy ending terbaik👍👍💝💝💝
Ary Wijayanti
Terimakasih banyak Thor....ceritamu sungguh luar biasa, fantasiku engkau tuntun dengan untaian kata-kata dalam tulisanmu..
jangan lelah utk terus berkarya, dan selalu jaga kesehatan...bravo 👍👍👍👍
Ary Wijayanti
sepertinya, raja khomar dan putrinya akan dikenalkan dengan Eri...🤣🤣🤣
Lina RA
thor, pasti ada novel aiko kan? jgn enggak lho
I Gusti Ayu Claudia
good novel
Bunda Hilal
Mksh kak othor🥰 Mariiii,,,, silalan silanjut lg😁 aku tunggu ya 💪🥰🥰🥰🥰
Bunda Hilal
Putri aiko 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!