Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kencan
Bab 18
Mall, lokasi kencan berikutnya. Gita ingin merasakan kencan normal di luar, bukan sembunyi di area kampus atau cafe saja. Tentu saja yang dipilih bukan milik Bimantara Properti, mana tahu dia malah bertemu Mada atau Om Doni asisten Arya.
“Pak Iwan nggak usah ikut masuk, aku sama temen-temen. Jangan dengerin papa terus kek, aku udah dewasa. Malu kemana-mana harus dikawal,” keluh Gita.
“Iya, mbak. Saya tunggu di sini, tapi kalau ada apa-apa cepat hubungi ya. Mbak Gita terluka saya bisa dipecat.”
“Iya, aman.”
Gita memasukan ponsel ke dalam tas, sempat touch up wajahnya memastikan penampilannya masih oke. Mobilnya itu bukan sekedar kendaraan antar jemput. Bantal, sweater, buku-buku kuliah dan tas berisi makanan pun ada di kabin belakang yang digunakan sebagai tambahan agar bagasi lebih luas. Kadang untuk menunggu kelas kuliah berikutnya, ia menunggu di mobil. Arya memfasilitasi putrinya itu dengan luar biasa.
“Aku mau cari kado, hang out bentar terus makan. Pak Iwan jangan mata-matai aku.”
“Nggak mbak, saya tunggu di sini aja.”
Gita keluar dari mobil yang terparkir di basement menuju pintu mall. Pak Iwan mengawasi dari dalam mobil, dari mobil lain keluar pria yang mengekor langkah Gita meski berjarak.
Sedangkan di tempat berbeda, Rama menunggu bahkan sudah lima belas menit yang lalu. Pulang pagi setelah shift malam lalu tidur beberapa jam demi bertemu dengan pujaan hatinya. Menatap layar ponselnya sambil bersenandung, tidak menyadari Gita sudah tiba dan mengendap-endap menghampirinya dan ….
“Abang,” pekik Gita lalu terkekeh karena Rama terkejut.
“Astaga, nakal ya.” Rama merangkul bahu Gita merapatkan pada tubuhnya. “Untung udah biasa sport jantung.”
“Hah, serius?”
“Iya, semenjak kenal kamu jantung abangmu ini sering tidak aman. Apalagi kalau lagi deket begini.”
“Yang bener ah, abang mah suka bercanda.”
Rama terkekeh, semakin mengeratkan rangkulannya. “Mau kemana tuan putri, hamba siap menemani.”
“Hm. Aku mau cari kado ultahnya Sesil, tapi kita jalan-jalan dulu ya,” ajak Gita dijawab anggukan dan senyum oleh Rama.
“Tadinya aku mau ajak nonton, tapi lain kali aja,” seru Rama.
“Iya.”
“Ujiannya gimana?”
“Pusing sih, semoga hasilnya tidak mengecewakan.”
Rama kembali terkekeh. “Kesayangan aku pasti cerdas dong. Pasti lulus dengan nilai cum laude.”
Mereka melangkah menuju food court yang terletak di lantai atas. Aroma masakan dan rempah mulai menyeruak menimbulkan selera dan rasa lapar
“Meja yang itu aja.” Gita menunjuk ke arah agak sudut.
“Jangan di sini, cari yang tertutup yuk. Cepat saji atau resto?”
Gita menyebutkan brand cepat saji ala jepang. Meski Gita belum menceritakan keluarganya, Rama tahu kalau kekasihnya itu bukan gadis biasa. Terlihat dari penampilan dan karakternya. Tidak mungkin ia men-treat dengan hal biasa dan murahan.
Saat makan Gita mengeluhkan seminggu kemarin, kadang misuh-misuh kadang tertawa membuat Rama ikut tertawa mendengarkannya. Hanya bisa bersuara, iyakah, nggak boleh gitu dong, masa sih. Mendengarkan dengan tangan yang aktif, merapikan helaian rambut Gita ke belakang telinga, menyeka bibir gadis itu atau mengusap punggung seolah menyampaikan rasa sayangnya.
Menyadari Gita tidak menggunakan cardigan atau jaket dan pendingin udara bekerja maksimal. Rama melepas hoodienya, menyisakan kaos yang pas di badan.
“Pakai ini. Kenapa nggak lapis cardigan?”
“Lupa. Abang aja, nanti abang kedinginan loh. Kurang tidur ‘kan habis shift malam, nanti masuk angin.”
“Sebelum masuk, angin aku makan duluan. Kalo dingin tinggal peluk kamu, pake!” Membantu Gita memakai hoodie miliknya.“Mau jalan sekarang?”
“Ayo.”
Rama menggenggam tangan Gita saat berjalan di koridor menuju store yang tadi sempat dilewati. Mengekor langkah Gita mencari hadiah yang pas untuk Sesil. Kadang tangannya berpindah pada bahu atau kembali menggenggam.
“Yang ini lucu, tapi yang ini juga bagus.”
Sumpah ingin sekali ia menghela nafas. Paling malas kalau mengantar perempuan belanja ya begini. Pernah dirasakan saat menemani Lisa sebelum kenal dan dekat dengan Asoka, rasanya nggak jauh beda dengan Gita
“Menurut abang yang mana?”
“Sesil suka warna apa?”
“Hm, apa ya, dia sering pake denim. Kayaknya yang pink aja deh.” Rama akan mengump4t, tapi ditahan. Bagaimana tidak, tadi pilihannya antara ungu dan hitam, sekarang malah pilih pink. Perempuan memang sulit untuk dimengerti.
Pandangan Rama tertuju pada rak aksesoris.
“Ayo, bang. Langsung dibungkus aja deh.”
“Bentar.” Rama mengajak Gita ke rak aksesoris lalu mengambil gelang yang menurutnya paling unik dan elegan langsung dipakaikan di tangan Gita.
“Ih, lucu.”
“Suka?” tanya Rama dan langsung dijawab dengan anggukan.
Saat mengantri di kasir, Rama menanyakan kapan acara ultah Sesil.
“Ultahnya waktu ujian kemarin, tapi acaranya diundur. Habis ini aku mau beli es boba ya,” ajak Gita mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin ia mengatakan kalau acara ultah Sesil di club malam. Rama pasti keberatan, bahkan ia pun masih ragu untuk datang atau tidak. Belum tentu dapat izin dari Papa Arya dan Mama Sarah.
Hampir dua jam sudah, Rama tidak ingin egois menahan Gita menuntaskan rasa rindunya.
“Perasaan belum lama ya, masih kangen,” keluh Gita sambil cemberut. Rama tergelak karena Gita tidak malu-malu lagi menyatakan isi hatinya.
“Aku juga, sayang, tapi kamu sudah ditunggu ‘kan? Atau mau aku antar ke rumah?”
“Jangan sekarang,” cetus Gita dan Rama kembali harus bersabar. “Foto yuk.” Menarik tangan Rama menuju Photo box.
“Ambil 4 foto ya,” ujarnya sibuk menyentuh layar untuk memilih jenis bingkai sedangkan Rama merapikan rambutnya yang memang ditata agak berantakan.
“Oke, cepet, Cuma beberapa detik doang tau.” Gita menarik Rama lalu bersiap berpose mengeringkan mata dan dua jari membentuk peace di samping wajah. Sedangkan Rama dengan pose biasa.
“Ganti gaya.” Kali ini Gita memeluk lengan Rama dan berpose manja langsung dibalas dengan rangkulan di bahu.
Pose berikutnya Gita hendak menjulurkan lid4hnya, tapi urung karena Rama menunduk dan mencium pipinya.
“Abang ….”
Berikutnya Rama meraih pinggang Gita membuat mereka berhadapan dan mencium kening kekasihnya itu.
Gita masih mematung tidak percaya dengan momen tadi bahkan diabadikan. Wajahnya mungkin sudah merona dan tersadar saat Rama mengajaknya keluar dengan selembar foto di tangannya.
“Bagus ‘kan,” ujarnya terkekeh dan Gita terbelalak.
“Abang, ih.”
“Kamu dua, aku dua,” ujar Rama mengambil dua lembar terakhir, bahkan memfotonya sebelum disimpan ke dalam dompet.
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Rama P. : Foto
Kencan gue kali ini lebih aman dan damai
S4pri : Pelanggaran mas
Beni Ganteng : Modus. Sekarang minta pipi sama kening, besok bibir terus ….
Yuli Imut : Cepet di nikah aja sih
Rama P. : Lo kapan nikah? Ayo, duluan siapa, gue apa elo
Yuli Imut : Lo pikir balapan
Lisa Kanaya : Rama sama Gita cocok deh, serasi
Beni Ganteng : Yang cowok om-om gatel dan ceweknya gadis lugu
Rama P. : Lihat aja, bang. Ketemu gue b4ntai lo
Beni Ganteng : loh, salah gue di mana? 😁
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....