Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tiga — Membuat Tempat Zona Aman.
Selamat membaca ceritaku, semoga suka yaa
Jay tetap berdiri di depan dengan belakangnya Arsya dan Lyno. Langkah mereka cepat dan jika ada bayangan yang lewat mereka akan bersembunyi atau menyamarkan kehadirannya menjadi sebuah pohon atau dedaunan. Disana mereka selalu bertemu dengan makhluk lainnya, terkadang kanihu liar yang tersesat di dalam hutan, atau hewan buas yang selalu menjadi penjaga hutan, atau bisa jadi monster raksasa yang gagal dari eksperimen itu.
Jay memberi isyarat tangan setiap beberapa meter–berhenti, lanjut, menunduk.
Dibelakangnya, Arsya dan Lyno mengikuti rapat. Arsya menggenggam tongkat baseball di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sesekali menarik Lyno agar tetap dalam jalur bayangan pepohonan.
Langkah mereka cepat, tapi terukur. Jika ada bayangan yang melintas, mereka membeku. Jika ada ranting patah terdengar, mereka menyatu dengan batang pohon.
Niki dan Regan menutup barisan, memastikan tidak ada yang tertinggal. Depan mereka Dazzel berdiri dengan tenang seperti menjaga langkah orang dengan benar. Hutan itu tidak ramah, dan tidak lagi alami.
—
Di antara pepohonan tinggi, mereka melihat satu kanihu liar tersesat. Tubuhnya kurus, kulitnya menghitam seperti terbakar dari dalam. Ia berjalan terseret, mengendus udara. Jay mengangkat tangan, semua diam.
Kanihu itu berhenti, kepalanya bergerak pelan mencoba mengendus sesuatu lalu berbalik arah. Mereka menunggu sampai bayangannya hilang sepenuhnya sebelum bergerak lagi. Dazzle berbisik, “yang liar seperti itu masih punya insting.”
“Yang divaksin justru lebih teratur,” balas Niki pelan.
Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin aneh makhluk yang mereka temui. Seekor rusa melintas cepat, namun satu matanya hitam pekat. Burung-burung yang terbang tidak lagi berkicau.
Lalu, sebuah getaran pelan. Namun terasa di tanah, Jay langsung berhenti mereka semua menunduk. Getaran itu semakin jelas dan terdengar lebih berat.
DUK!
DUK!
DUK!
DUK!
Di balik pepohonan besar, bayangan raksasa bergerak. Lyno mencengkram jaket kakaknya, Arsya.
Dari sela kabut tipis, terlihat sosok tinggi hampir tiga meter. Tubuhnya tidak proporsional, bahu membengkak seperti hasil suntikan berlebih, satu lengan lebih panjang dari yang lainnya. Wajahnya… setengah tertutup daging tebal, berbentuk wajah anjing laut namun hidungnya tetap seperti manusia biasa. Sosok itu seperti gagal membentuk struktur sempurna yang diinginkan.
Ia berjalan lambat. Tapi setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Regan berbisik hampir tanpa suara, “itu bukan kanihu biasa…” Jay mengangguk pelan, “eksperimen gagal, tahap awal mungkin. Sebelum kanihu dimulai.”
Makhluk itu berhenti, mengangkat kepalanya, seperti mendengar sesuatu. Arsya menahan nafas sampai dadanya terasa sakit. Bayi yang digendong salah satu warga mulai merengek pelan. Niki langsung bergerak, menutup mulut bayi itu lembut namun tegas.
Makhluk itu menoleh ke arah mereka. Semua jantung terasa berhenti. Detik terasa lebih panjang dari biasanya, lalu dari sisi lain hutan terdengar suara teriakan jauh. Membuat makhluk itu memutar tubuhnya dan bergerak menuju asal suara tersebut.
Langkahnya semakin cepat.
DUK!
DUK!
DUK!
Hingga menghilang bayangannya di balik pohon-pohon tinggi dan tebal itu.
Sunyi kembali, nafas mulai kolektif terdengar hampir bersamaan. Jay menoleh ke belakang, “mulai sekarang, kita tidak hanya sembunyi dari manusia.” Arsya menatap arah makhluk itu pergi, “berarti eksperimen mereka bukan cuma pada vaksin…”
Jay menggeleng pelan, “sepertinya mereka mencoba menciptakan sesuatu yang bisa mengendalikan namun kalah dengan kanihu yang mereka buat.”
“Dan gagal.” gumam Niki. jay menatap dalam hutan yang semakin gelap. “Atau belum selesai, sudah dilepas.”
Angin berdesir, membawa bau logam samar. Dan untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa hutan bukan lagi tempat perlindungan melainkan hutan kini menjadi tempat laboratorium terbuka.
Jay melangkah lagi, “jangan berhenti. Kita harus sampai perbukitan sebelum malam.”
Karena malam di hutan yang sudah tercemar eksperimen adalah wilayah para makhluk yang tidak lagi sepenuhnya hidup tapi juga belum sepenuhnya mati.
Langit berubah jingga gelap. Cahaya matahari tersisa tipis di antara celah pepohonan ketika Jay mulai mempercepat langkah. “Sedikit lagi,” katanya pelan. “Perbukitan sudah dekat.” belum sempat kalimat itu benar-benar selesai.
Suara pekikan tertahan Dazzel terdengar membuat mereka berhenti melangkah. “Aghh—!” tanah di bawah kaki Dazzel tiba-tiba ambles, bukan seperti lubang biasa. Permukaannya bergerak, berdenyut seolah bernafas.
Dalam hitungan detik, kakinya sudah tenggelam sampai paha.
“Pegang dia!” teriak Niki.
Niki langsung melemparkan tasnya kedalam pelukan Lyno dan menerjang, mencengkram lengan Dazzel. Domi ikut membantu, memegang bahu satunya. Regan meluncur dari belakang dan menarik tubuh Dazzel dengan seluruh tenaga.
Tanah itu, bukan sekedar lumpur maupun pasir. Melainkan sesuatu yang menggeliat, seperti akar-akar tipis bercampur daging lunak yang bergerak, mencoba membelit kaki Dazzel lebih dalam.
“Cepat!” Jay ikut menarik, sementara Arsya menghantam permukaan tanah itu dengan tongkat baseballnya. Setiap pukulan membuat permukaan tanah mengerut seperti kulit tersentuh api. Tanah itu mengeluarkan suara aneh, bukan suara retakan melainkan terdengar seperti suara desis halus. Dengan tarikan terakhir yang hampir membuat semua orang terjatuh, tubuh Dazzel akhirnya terlepas.
Mereka mundur serempak, permukaan tanah itu kembali menutup. Rata, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Suasana semakin sunyi.
Hanya nafas Dazzel yang terengah. Kedua kakinya penuh memar merah dan lecet panjang, seperti di gesek ribuan serat kasar hidup. Arsya berlutut di sampingnya, “Sakit?”
Dazzel mengangguk, pemuda itu menggertakkan gigi. “Seperti.. Ditarik dari dalam.” Jay menatap tanah itu lama. “Bukan jebakan biasa.”
Niki menyeka keringat di dahinya. “Ini hutan atau perut makhluk raksasa sih?”
Jay berlutut, menyentuh tanah di dekatnya dengan ujung pisau, permukaan bergetar sangat halus, namun cukup membuat semut terguncang. Ia langsung menarik tangan.
“Eksperimen yang gagal mungkin dibuang ke hutan,” gumamnya. “Atau,.. Sesuatu yang terinfeksi menyebar lewat tanah.”
Regan membantu Dazzel berdiri. “Dia masih bisa jalan. Tapi pelan.” Arsya merobek sedikit kain dari baju cadangan di tas dan membalut kaki Dazzel dengan seadanya.
Langit semakin gelap, dan hutan mulai berubah suara. Serangga malam mulai terdengar lebih keras. Namun tidak ada suara burung hantu yang selalu berdiri di salah satu tangkai pohon.
Jay berdiri dan menatap ke depan, di kejauhan sana, siluet perbukitan mulai terlihat. “Mulai sekarang, ikuti langkahku persis.” katanya tegas. “Jangan keluar jalur, jangan menginjak tanah yang terlihat terlalu lembek atau terlalu halus.”
Niki mengangguk, “dan kalau tanahnya bernafas lagi?” Jay menatapnya, “kita lari.” Dazzle mencoba tersenyum meski wajahnya pucat. “Jangan sampai aku jadi pupuk hidup ya.”
“Kalau kamu tenggelam lagi, aku lempar kamu pakai tali,” balas Niki datar. Ketegangan itu sedikit mencair. Namun hanya sedikit, karena saat mereka kembali melangkah meninggalkan tempat celaka Dazzel, tanah dibelakang mereka tampak bergetar samar.
Seolah kecewa karena kehilangan mangsa, dan di bawah permukaan hutan yang gelap, sesuatu sedang belajar, belajar mencari cara agar berhasil mendapatkan mangsa di kemudian hari.
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri tanda like dan vote ya..