Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Pertunjukan Sirkus di Halaman Pengadilan
Matahari Jakarta pagi itu terasa menyengat, seolah ikut membakar emosi yang sudah mendidih di kepala Bu Ratna.
"Lama banget sih! Ini pengadilannya nggak punya AC apa? Panasnya kayak di neraka!" keluh Bu Ratna sambil mengibaskan kipas tangan plastik bergambar Doraemon yang dia beli di pedagang asongan.
Rio duduk di sebelahnya, mengenakan kemeja batik yang agak kusut karena dia lupa menyetrikanya dengan benar. Dia sibuk mengelap keringat di dahinya. "Sabar, Bu. Namanya juga fasilitas umum. Emang gini."
Mereka duduk berdesak-desakan di bangku tunggu besi di halaman Pengadilan Agama. Di sekitar mereka banyak pasangan lain dengan wajah muram, marah, atau sedih. Tapi Bu Ratna beda. Wajahnya penuh semangat tempur. Bibirnya dipulas lipstik merah cabe, siap menyemburkan bisa.
"Awas aja si Kara kalau dateng. Ibu bakal jambak rambutnya sampai botak," desis Bu Ratna. "Berani-beraninya dia gugat cerai anak Ibu. Dia pikir dia siapa? Artis?"
Rio hanya mengangguk lemah. Jujur, dia gugup. Bukan takut pada Kara, tapi takut pada tatapan orang-orang. Dia merasa salah kostum dan salah tempat.
Tiba-tiba, suasana di area drop-off lobi utama yang berjarak dua puluh meter dari mereka menjadi riuh.
Beberapa orang berdiri, menjulurkan leher ingin melihat.
"Eh, itu mobil siapa? Pejabat ya?"
"Gila, mobilnya panjang banget."
Rio dan Bu Ratna ikut menoleh.
Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap berhenti tepat di depan tangga lobi. Di belakangnya, sebuah Toyota Alphard putih ikut berhenti.
Pintu penumpang Rolls-Royce dibuka oleh supir berseragam.
Sepasang kaki jenjang berbalut sepatu hak tinggi Jimmy Choo turun, menapak aspal dengan percaya diri.
Lalu keluarlah sosok wanita itu.
Dia mengenakan power suit—setelan blazer dan celana bahan warna putih gading yang potongannya sempurna memeluk tubuh rampingnya. Rambut hitam panjangnya di-styling gelombang, berkilau di bawah matahari. Di wajahnya bertengger kacamata hitam besar yang menutupi ekspresinya.
"Itu..." Rio menyipitkan mata. Jantungnya berhenti berdetak sedetik. "Kara?"
Bu Ratna melotot. Bola matanya nyaris keluar. "Kara?! Si gembel itu?!"
Seketika, darah naik ke kepala Bu Ratna. Pemandangan Kara yang turun dari mobil miliaran rupiah itu tidak membuat Bu Ratna sadar. Justru sebaliknya, itu mengonfirmasi fitnah keji di kepalanya.
Simpenan.
Pelacur.
Perempuan murahan.
"DASAR LONTE!"
Teriakan Bu Ratna membelah keramaian. Tanpa aba-aba, wanita paruh baya itu berlari menerobos kerumunan. Dia mengangkat tas tangan KW-nya tinggi-tinggi, siap memukulkannya ke wajah Kara.
"Heh! Perempuan nggak tau malu!"
Kara menoleh ke arah sumber suara. Dia tidak bergerak. Dia tidak mundur. Dia hanya berdiri tenang.
Saat Bu Ratna sudah berjarak dua meter dan siap menerkam, dua orang pria berbadan raksasa dengan jas hitam dan earpiece (pengawal pribadi Kara) bergerak secepat kilat.
Satu pengawal merentangkan tangannya, menahan tubuh Bu Ratna dengan mudah. Seperti menahan boneka kapas.
Bruk.
Bu Ratna terpental mundur karena menabrak lengan kekar itu. Dia nyaris jatuh terjengkalkalau Rio tidak buru-buru menangkapnya.
"Ibu! Ibu tenang dulu!" Rio panik, wajahnya merah padam karena semua orang kini menonton mereka.
"Lepasin! Lepasin saya!" Bu Ratna meronta-ronta seperti orang kesurupan. Dia menunjuk-nunjuk wajah Kara dengan telunjuk gemetar.
"Heh Kara! Hebat ya kamu sekarang! Baru tiga hari minggat udah dapet om-om kaya! Mobil siapa itu?! Mobil gadun kamu?! Kamu jual diri berapa semalam, hah?! Dasar istri durhaka! Najis!"
Caci maki itu kasar, kotor, dan sangat nyaring. Beberapa pengunjung pengadilan menutup telinga. Satpam mulai berlarian mendekat.
Rio menatap Kara. Dia berharap melihat Kara menangis atau malu.
Tapi tidak.
Kara perlahan membuka kacamata hitamnya.
Mata itu.
Mata yang dulu selalu menatap Rio dengan penuh cinta dan kepatuhan, kini menatap mereka berdua seperti menatap kotoran di sol sepatu.
Dingin. Datar. Kosong.
Kara tidak menjawab teriakan Bu Ratna. Dia bahkan tidak melihat ke arah mertuanya. Dia menoleh ke arah pengacara senior di sampingnya, Pak Hadi.
"Pak Hadi," suara Kara tenang, tapi terdengar jelas karena keheningan mendadak di sekitar mereka.
"Ya, Nona?"
"Tolong bilang ke pihak keamanan, bersihkan area ini. Saya tidak suka ada orang gila yang teriak-teriak di dekat saya. Polusi suara."
JLEB.
Mulut Bu Ratna menganga. "A-apa kamu bilang? Orang gila?! Saya mertua kamu, setan!"
Kara menaikkan satu alisnya. Dia menatap Bu Ratna sekilas, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyakitkan daripada tamparan.
"Mertua?" tanya Kara pelan, nadanya seolah sedang mengingat-ingat kenangan masa lalu yang tidak penting. "Maaf, saya rasa Anda salah orang. Suami saya sudah mati. Yang berdiri di sana itu cuma bangkai masa lalu saya."
Setelah mengucapkan kalimat mematikan itu, Kara memakai kembali kacamata hitamnya.
"Ayo, Pak Hadi. AC di dalam lebih dingin. Di sini panas. Banyak hama."
Kara berbalik badan, mengibaskan rambut indahnya, dan melenggang masuk ke dalam gedung pengadilan dengan anggun. Para pengawal dan tim pengacara membuat pagar betis, menghalangi Rio dan Bu Ratna yang masih bengong.
"KARA! KARA TUNGGU! JANGAN KURANG AJAR KAMU!" Bu Ratna berteriak lagi, tapi suaranya tenggelam.
Seorang satpam pengadilan yang bertubuh besar mendekati Bu Ratna dan Rio. "Bu, Pak. Tolong kondusif. Kalau teriak-teriak lagi, kami keluarkan dari area pengadilan."
Rio menarik lengan Ibunya kasar. Malu. Dia benar-benar malu.
"Udah, Bu! Udah!" bentak Rio pada Ibunya sendiri. "Semua orang liatin kita!"
Bu Ratna napasnya memburu, dadanya naik turun. "Kamu denger dia ngomong apa tadi, Yo? Dia bilang kamu udah mati! Dia bilang Ibu orang gila! Awas ya... Ibu nggak akan biarin sidang ini lancar. Ibu bakal bongkar aib dia di depan hakim!"
Rio menatap pintu kaca tempat Kara menghilang.
Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Rasa takut.
Wanita tadi... wanita yang baru saja menghina Ibunya dengan elegan itu... benarkah itu Kara yang sama yang dulu rela makan nasi kecap demi dia?
Dan mobil itu... Pengacara itu...
Logika Rio mulai berbisik: Gimana kalau dia bukan simpenan? Gimana kalau... itu emang punya dia?
Tapi Rio cepat-cepat menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Kara cuma yatim piatu miskin. Pasti itu semua sandiwara. Pasti.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏