Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Segel Darah Di Balik Peti Mati
Kekacauan di aula pesta masih berdenging di telinga semua orang, namun bagi Jerome, suara-suara itu mendadak menjauh. Saat Silas Renfred tumbang dan dilarikan oleh tim medis, Jerome merasakan sebuah hantaman hebat di dadanya. Bukan karena simpati pada ayahnya, melainkan karena resonansi energi yang terlalu besar di ruangan itu memicu sisa-sisa memori yang selama ini terkunci di bawah sadarnya.
"Jerome? Kau pucat sekali," Valerie menangkap lengan Jerome, matanya dipenuhi kecemasan. Cincin obsidian di jari Jerome berpendar merah gelap, seolah-olah batu itu kewalahan meredam apa yang sedang terjadi di dalam jiwa Jerome.
"Aku... aku baik-baik saja, Val. Hanya sedikit pening," Jerome berbohong. Namun, saat ia menatap mata Valerie, dunianya berputar.
...****************...
Visi Masa Lalu: Ruang Bawah Tanah yang Dingin
Tiba-tiba, Jerome tidak lagi berada di aula pesta. Ia berada di sebuah ruangan gelap yang pengap, berbau tanah dan kemenyan. Di depannya, berdiri sebuah peti mati kayu jati yang megah.
Jerome melihat dirinya sendiri—sosoknya di masa lalu yang tampak lebih kurus, dengan mata yang merah karena tidak tidur berhari-hari. Jerome masa lalu itu sedang mengusap tulang-belulang yang hangus di dalam peti dengan penuh pemujaan yang mengerikan.
"Kau tidak boleh kedinginan sendirian, Valerie," suara Jerome masa lalu bergema di kepala Jerome sekarang.
Jerome melihat dirinya di masa lalu mengangkat sebuah cawan berisi cairan hitam kental. Itu bukan sekadar racun. Itu adalah racun yang telah dicampur dengan darahnya sendiri sebagai bagian dari ritual terlarang.
"Jika maut menganggap dia bisa memilikimu, maka dia harus membawaku juga. Aku bersumpah, di mana pun kau dilahirkan kembali, aku akan menemukanmu. Aku akan merasakan setiap napasmu, setiap lukamu, hingga kita tidak lagi menjadi dua, melainkan satu."
Jerome melihat dirinya meminum racun itu. Rasa sakitnya luar biasa—organ tubuhnya terasa seperti dicabik-cabik oleh ribuan silet. Namun, Jerome masa lalu itu justru tersenyum. Ia melangkah masuk ke dalam peti, berbaring di atas kerangka Valerie, dan memeluknya erat seolah tulang-belulang itu adalah tubuh yang paling hangat di dunia. Saat tutup peti ditutup dari luar, Jerome melihat kegelapan abadi yang ia pilih sendiri.
...****************...
Masa Sekarang: Aula Pesta
Jerome tersentak kembali ke realitas, napasnya memburu dan keringat dingin membasahi tuxedonya. Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Valerie yang masih memegangi lengannya.
"Jerome! Kau menakutiku!" bisik Valerie.
Jerome menarik Valerie ke dalam pelukannya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. Ia membenamkan wajahnya di leher Valerie, menghirup aroma hidup istrinya seolah-olah ia baru saja bangkit dari kubur.
"Aku mengingatnya, Val..." suara Jerome serak dan pecah. "Aku mengingat peti itu. Aku mengingat racunnya. Aku mengingat bagaimana aku memeluk tulang-belulangmu karena aku tidak sanggup melihatmu hancur sendirian."
Valerie membeku. Ia menatap Jerome dengan mata berkaca-kaca. "Kau... kau melihatnya juga? Kematianmu?"
"Aku yang melakukannya, Val," Jerome menjauh sedikit untuk menatap mata istrinya dengan tatapan yang sangat gila, penuh obsesi yang kini memiliki alasan. "Aku yang mengikat kita. Aku yang melakukan ritual itu di ambang ajalku. Rasa sakit yang kurasakan sekarang... ini bukan penyakit. Ini adalah harga yang kubayar untuk kontrak yang kubuat dengan iblis agar bisa bersamamu lagi."
Jerome tertawa rendah, tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Pantas saja aku merasa gila jika kau tidak ada di dekatku. Aku sudah memberikan jiwaku sebagai jaminan sejak tiga puluh tahun lalu."
Arthur Blackwood mendekat, ia melihat perubahan aura pada menantunya. "Jerome, kau baru saja melewati batas memori reinkarnasi itu, bukan?"
Jerome menoleh pada Arthur, tatapannya kini jauh lebih dominan dan gelap. "Arthur, sekarang aku mengerti. Silas bukan hanya musuh bisnismu. Dia adalah alasan kenapa aku harus meminum racun itu di kehidupan lalu. Dia adalah alasan kenapa Valerie menderita. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan kita berakhir di dalam peti."
Jerome menggenggam tangan Valerie, lalu menoleh ke arah kerumunan media yang masih terpaku. "Pengumuman malam ini berubah. Bukan hanya akuisisi, tapi aku menyatakan perang total. Siapa pun yang pernah bekerja sama dengan Silas untuk menyakiti keluarga Blackwood... kalian punya waktu dua puluh empat jam untuk menyerahkan diri, atau aku akan memastikan kalian membusuk di sel yang paling dalam."
Valerie merasakan kekuatan Jerome yang meluap-luap. Obsesi Jerome yang dulu terasa menakutkan, kini terasa seperti pelindung yang paling kokoh. Jerome tidak lagi sekadar mencintainya; Jerome memujanya sebagai alasan keberadaannya di dunia ini.
"Ayo pergi dari sini," ucap Valerie tegas. "Kita punya ayah yang harus kita pulihkan, dan seorang kaisar tua yang harus kita pastikan tidak akan pernah bangkit lagi."
Malam itu, mereka meninggalkan aula bukan sebagai pewaris, tapi sebagai penguasa baru yang terikat oleh sumpah darah yang melampaui kematian.
...****************...