Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Hahaha... Xue Xiao. Kali ini, kemana kau akan lari," ucap Wang Chen dengan suara yang penuh kesombongan, tangan kanannya menyangga dagunya sementara tangan kirinya memegang pedang mewah yang terpahat lambang keluarga Wang, salah satu keluarga teratas di domain alam abadi.
Di tangan Xue Xiao tergenggam sebuah batu bersinar keemasan dengan pola seperti jalur energi yang saling terhubung. "Batu Inti Dao", atau yang lebih dikenal dengan julukan "Batu Seribu Jalan".
Batu ini adalah artefak kuno yang telah ada jauh sebelum terbentuknya domain alam abadi. Menurut legenda, batu itu dibuat dari inti bintang pertama yang mati di alam semesta. Nama "Batu Seribu Jalan" diberikan karena batu ini bisa membuka setiap jalur kultivasi yang ada, mulai dari Dao Alkimia, Dao Pedang, hingga Dao iblis. Selain itu, batu ini juga dipercaya bisa menjaga jiwa pemiliknya tetap utuh bahkan setelah tubuh hancur, dan membawa mereka ke tempat yang bisa memberi mereka kesempatan kedua.
Xue Xiao menemukan batu itu setelah selama tiga ratus tahun menjelajahi gua terdalam di Pegunungan Tianwu. Ia berharap bisa menggunakan kekuatan batu Inti Dao ini untuk memecahkan batasan alam abadi yang melarang keberadaan kekuatan Ranah Dewa untuk ada. Namun kabar keberadaannya justru menarik perhatian keluarga Wang yang menginginkan kekuatan itu untuk menguasai seluruh domain.
Di sisi Wang Chen berdiri Zhou Tian, sahabat Xue Xiao yang sudah bersama dia selama lebih dari seratus tahun. Wajah Zhou Tian terlihat ragu dan sedikit bersalah, tapi dia tetap berdiri dengan tegas di pihak Wang Chen. Di sebelahnya lagi adalah Yin Meilin, kekasih Xue Xiao yang selalu dikenal dengan sikapnya yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.
"Xiao... tolong, serahkan saja batu itu pada Tuan Wang," ucap Yin Meilin dengan suara lembut yang penuh dengan keprihatinan, matanya bahkan tampak berkaca-kaca seolah-olah dia benar-benar merasakan sakit hati melihat kondisi Xue Xiao yang terluka parah. "Meskipun Aula Pil Kita adalah kekuatan teratas, jika kabar kepemilikan mu atas batu Inti Dao bocor... Kita tidak bisa melawan seluruh pembudidaya di domain abadi bukan?. Tuan Wang sudah berjanji akan memaafkan kita semua jika kamu mau menyerahkan nya."
Batuk! Batuk!
Darah merah menyembur dari mulut Xue Xiao, tubuhnya yang terluka akibat serangan dari belakang oleh Zhou Tian kini hampir tidak bisa berdiri lagi.
"Heh.. Zhou Tian, kau adalah seseorang yang ku anggap sebagai sahabat selama lebih dari seratus tahun. Dan kau Yin Meilin, seseorang yang paling aku cintai dengan sepenuh hati. Kalian benar-benar menghianatiku hanya karena ingin mendapatkan harta ini?" Xue Xiao berbicara dengan suara serak namun penuh rasa sakit hati.
Zhou Tian menundukkan kepalanya, tidak berani melihat mata Xue Xiao. "Aku minta maaf, Xiao. Keluarga Wang memberikan janji yang tidak bisa aku tolak jika aku membantu mereka mendapatkan benda itu. Ini adalah kesempatan emas yang benar-benar tidak bisa aku lewatkan."
Wang Chen tertawa tinggi, mengangkat dagunya dengan arogan. "Hahaha... Xue Xiao, kamu terlalu naif berpikir bahwa kamu bisa menyimpan artefak sebesar itu sendirian. Keluarga Wang adalah satu-satunya yang layak memiliki kekuatan dari Batu Inti Dao. Serahkan saja dengan patuh, mungkin aku akan membiarkan kamu hidup dan bahkan memberi kamu tempat di bawah ku."
"Jangan seperti itu Tuan Wang," ucap Yin Meilin dengan nada khawatir, mendekat sedikit ke arah Xue Xiao sambil mengulurkan tangannya seolah ingin menenangkannya. "Kakak Xiao bukan orang yang jahat, dia hanya terlalu mencintai batu itu. Biarkan aku yang membujuk dia."
Dia duduk di dekat Xue Xiao yang sudah jatuh ke tanah, menyeka darah di bibirnya dengan tangan yang lembut. Tapi ketika Xue Xiao melihat mata nya, ada kilatan keserakahan yang tidak bisa disembunyikan di dalamnya.
"Xiao, kamu tahu kan aku selalu menginginkan kehidupan yang damai dengan mu? Jika kamu menyerahkan batu ini, kita bisa pergi jauh-jauh dari sini dan hidup bersama dengan bahagia. Tuan Wang sudah berjanji tidak akan mengganggu kita lagi," bisiknya dengan suara yang penuh dengan hasutan.
"Haha... Baiklah, demi kasih sayang yang pernah kita miliki, aku tidak akan menyalahkan kamu jika kamu mau menyerahkan batu itu," ucap Wang Chen dengan sikap yang seolah-olah sangat dermawan.
" Cih.. Yin Meilin. Berhentilah berpura-pura menjadi lemah lembut di sini! Aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku! Kamu hanya menggunakan aku untuk mendapatkan akses mempelajari teknik mendalam alkimia dan mencari artefak berharga," kata Xue Xiao dengan tatapan penuh kebencian, tidak bisa lagi menahan amarahnya terhadap kebohongan yang selama ini dilakukan oleh kekasihnya.
Yin Meilin tampak tersinggung, matanya penuh dengan air mata yang membuatnya terlihat sangat menyedihkan. "Xiao... bagaimana kamu bisa berkata seperti itu padaku? Aku mencintaimu dengan sepenuh hati!"
"Cukup!" teriak Xue Xiao dengan kuat, membuat tanah di sekitarnya bergoyang sedikit.
"Hentikan semua omong kosong itu dan cepatlah, atau bala bantuan dari aula pil suci akan datang! " teriak Wang Chen tidak sabar.
"Heh.. Kalian semua, tidakkah merasa curiga dengan tempat yang kita pilih untuk bertemu hari ini?" tanya Xue Xiao dengan senyum pahit yang penuh dengan keputusasaan.
"Ah.. Ini? " Wang Chen tiba-tiba menyadari sesuatu, wajahnya yang tadinya penuh dengan kepercayaan diri kini berubah menjadi takut. "Ini adalah Lembah Ledakan Abadi! Kau benar-benar gila!"
"Kamu telah menghasut orang terdekatku untuk menghianatiku, jadi kamu harus siap menerima konsekuensinya," ucap Xue Xiao dengan suara yang dingin seperti es.
"Sial, cepat mundur! "
Tempat mereka berada saat ini adalah Lembah Ledakan Abadi, sebuah tempat yang penuh dengan energi liar yang bisa meledak kapan saja jika ada gangguan besar. Xue Xiao sengaja membawanya kesini agar jika dia harus mati, mereka juga akan ikut terbawa ke dalam kehancuran.
"Hahaha... Sudah terlambat! Hari ini, aku, Xue Xiao, pasti akan mati! Tetapi dengan kalian yang telah menghianatiku ikut menemani, aku merasa cukup puas. Hahaha... Hahaha.. " Xue Xiao tertawa gila, suara tawanya penuh dengan penderitaan tapi juga kepuasan karena bisa membalas dendam walau dengan cara yang menyertakan dirinya sendiri.
Retak! Retak!
Bunyi keretakan energi semakin keras, tanah di bawah kaki mereka mulai bergoyang dan memancarkan cahaya merah menyala. Hingga akhirnya...
Boomm!
Ledakan dahsyat mengguncang kehampaan yang sunyi, menyebarkan percikan energi berwarna merah dan emas menyala ke segala arah. Gebrakan ledakan itu bahkan bisa dirasakan hingga ke ujung domain alam abadi, membuat semua praktisi kultivasi terkejut dan melihat ke arah lembah yang kini hanya tinggal kawah besar penuh dengan asap hitam.
Tepat ketika nyawa Xue Xiao hampir sirna, Batu Inti Dao di dadanya bersinar terang. Lebih terang dari ledakan sebelumnya. Cahaya keemasan itu membungkus secercah jiwanya dengan selimut yang tidak bisa ditembus oleh ledakan atau energi liar. Tanpa suara, tanpa jejak, cahaya itu meleset menjauh dari domain alam abadi, terbang melewati lapisan ruang dan waktu yang tak terhitung jumlahnya, menuju tempat yang tidak diketahui oleh siapapun.