Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAP MULAI MERAYAP
Dua minggu setelah Lim Xiu menjadi mitra...
Garuda Trading semakin besar.
Dengan tambahan modal 5.000 koin emas, Wei Chen membuka dua cabang baru — satu di kota pelabuhan, satu di perbatasan utara. Karyawan bertambah jadi 40 orang. Produksi lampu dan tungku naik lagi 50%.
Toke Wijaya sibuk mengurus administrasi. Lim Xiu sibuk mengurus ekspansi. Wei Chen sibuk mengawasi semuanya.
Tapi di tengah kesibukan itu, ada yang mengganggu pikirannya.
Mei Ling.
Gelangnya semakin redup. Batuknya mulai kembali — pelan, tapi Wei Chen mendengarnya.
Dia sudah memesan batu giok baru. Tapi pengiriman dari pasar gelap butuh waktu sebulan.
Sebulan. Apakah Mei Ling bisa bertahan?
---
Suatu malam, Wei Chen duduk di samping Mei Ling yang sedang tidur.
Wajahnya pucat di bawah cahaya lampu minyak. Napasnya tidak selembut dulu.
Tangannya digenggam Wei Chen.
"Bertahanlah," bisiknya. "Sebentar lagi."
Mei Ling mengerang pelan dalam tidurnya. Mimpi buruk.
Wei Chen mengusap keningnya. Lembut.
Pintu terbuka. Kakek Tio masuk.
"Masih bangun?" bisiknya.
Wei Chen mengangguk.
Kakek Tio duduk di sampingnya. Melihat Mei Ling.
"Gelangnya mulai habis kekuatan."
"Aku tahu."
"Batu baru kapan datang?"
"Sebulan lagi."
Kakek Tio diam. Lalu, "Mungkin ada cara lain."
Wei Chen menatapnya. "Cara apa?"
"Kau bisa transfer qi-mu langsung ke dia. Setiap hari. Memperkuat gelangnya."
Wei Chen mengerutkan kening. "Transfer qi?"
"Iya. Seperti dulu kau lakukan, tapi rutin." Kakek Tio menatapnya. "Tapi risikonya, qi-mu bisa terkuras. Kalau terlalu sering, kultivasimu bisa mundur."
Wei Chen diam. Memikirkan.
"Kalau itu bisa selamatkan dia, aku lakukan."
Kakek Tio tersenyum. "Sudah kuduga." Dia berdiri. "Aku ajar besok."
---
Pagi harinya, Wei Chen belajar transfer qi dari Kakek Tio.
Tekniknya sederhana, tapi butuh konsentrasi tinggi. Wei Chen mencoba. Gagal. Coba lagi. Gagal lagi.
Sampai sore, baru berhasil.
Dia duduk di samping Mei Ling. Tangannya di dahi Mei Ling. Qi-nya dialirkan pelan.
Mei Ling menghela napas. Wajahnya sedikit membaik.
Wei Chen terus melakukannya. Setiap pagi dan sore.
Qi-nya terkuras. Tapi dia tidak peduli.
---
Seminggu kemudian, Mei Ling sudah bisa duduk.
"Chen, kau kelihatan lelah."
"Aku baik-baik saja."
"Bohong." Mei Ling meraih tangannya. "Kau lakukan sesuatu untukku, kan?"
Wei Chen tidak menjawab.
"Berhenti." Matanya tegas. "Aku tidak mau kau korbankan dirimu."
"Aku tidak mengorbankan apa-apa."
"Chen!"
"Aku akan lakukan apa pun untuk menyelamatkanmu."
Mei Ling memeluknya. Menangis.
"Kenapa? Kenapa kau begitu baik padaku?"
Wei Chen diam. Lalu, "Karena aku sayang kamu."
Mei Ling membeku.
Itu pertama kalinya Wei Chen mengaku.
Dia melepas pelukan. Menatap matanya.
"Kau... kau serius?"
Wei Chen mengangguk.
Mei Ling tersenyum. Air mata masih mengalir.
"Aku juga sayang kamu."
Mereka berpelukan lagi. Hangat.
---
Sore harinya, Wei Chen pergi ke kantor.
Lim Xiu sudah menunggu. Wajahnya serius.
"Wei, ada masalah."
"Apa?"
"Klan Naga Hitam mulai curiga."
"Curiga apa?"
"Curiga kita juga jual teknologi ke Klan Bunga Naga." Lim Xiu menyerahkan surat. "Mereka minta penjelasan."
Wei Chen membaca surat itu. Isinya diplomatis, tapi ada nada ancaman di baliknya.
"Aku akan temui mereka."
"Sendiri?"
"Ajak kau."
Lim Xiu mengangkat alis. "Aku?"
"Kau mitraku. Harus ikut."
Lim Xiu tersenyum. "Baik."
---
Tiga hari kemudian, mereka sampai di markas Klan Naga Hitam.
Benteng itu besar — tembok batu hitam setinggi 30 meter, dijaga kultivator bersenjata lengkap.
Mereka diterima di aula utama. Di kursi tinggi, duduk Naga Hitam Keempat — pemimpin klan. Pria paruh baya dengan aura menakutkan.
"Wei Chen." Suaranya dalam. "Kau datang."
"Aku datang untuk menjelaskan, Tuan."
"Jelaskan."
Wei Chen maju. Tidak takut.
"Aku jual teknologi ke Klan Bunga Naga. Itu benar."
Suasana hening. Para pengawal tegang.
Tapi Wei Chen melanjutkan, "Tapi aku jual dengan harga lebih mahal. 20% di atas harga untuk Klan Naga Hitam."
Naga Hitam Keempat mengangkat alis. "Lebih mahal?"
"Karena Klan Naga Hitam adalah mitra pertama. Yang paling setia. Yang paling penting." Wei Chen menatapnya. "Aku tidak akan pernah lupakan itu."
Naga Hitam Keempat diam. Lalu tersenyum.
"Kau pintar." Dia mengangguk. "Baik. Aku terima penjelasanmu."
Wei Chen lega. Tapi tidak menunjukkan.
"Tapi," lanjut Naga Hitam Keempat, "ada satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus jual teknologi itu secara eksklusif ke kami. Klan Bunga Naga boleh beli, tapi hanya melalui kami."
Wei Chen diam. Ini jebakan.
Kalau dia setuju, Klan Bunga Naga akan marah. Kalau dia tolak, Klan Naga Hitam marah.
"Aku perlu waktu berpikir, Tuan."
"Tiga hari."
Wei Chen mengangguk. Lalu pergi.
---
Di perjalanan pulang, Lim Xiu bertanya.
"Kau mau terima?"
"Tidak tahu."
"Kalau kau terima, Klan Bunga Naga bisa jadi musuh."
"Aku tahu."
"Kalau kau tolak, Klan Naga Hitam bisa hancurkan kita."
"Aku juga tahu."
Lim Xiu diam. Lalu, "Ada jalan lain?"
Wei Chen berpikir keras. Lalu tersenyum tipis.
"Mungkin."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk bersama Mei Ling.
Menjelaskan situasi.
Mei Ling mendengar dengan cemas.
"Chen... ini bahaya."
"Aku tahu."
"Kau bisa mati."
"Aku tahu."
"Tapi kau tetap mau lakukan?"
Wei Chen mengangguk.
Mei Ling memeluknya.
"Janji sama aku. Hati-hati."
"Aku janji."
---
Chapter 15 END.
---