Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman wanita bertangan panjang
"Ya udah Lek, urusan pintu belakangan, kan bukan sampean juga yang masang. Besok aku beli keramik lek, kira kira berapa kotak lek?"
"Terasnya di keramik juga nggak? Apa acian semen aja?"
"Teras ngga usah lek, dalem aja..."
"12 kotak geng."
"Ya udah lek, besok aku pesen. Sekalian aku mau beli cat, lampu, kabel... huff... banyak juga yang kelupaan ngga di beli."
"Di pikirin dulu makannya biar ngga bolak balik geng."
"Iya lek, namanya juga baru pertama kali aku buat bangunan. Jadi ya banyak bingungnya."
Hari demi hari Sugeng lewati sembari menunggu alat itu sampai. Siang hari itu Sugeng menuju kewarung Mbak Lasmi ia ingin makan pecel.
"Ehh... mas Sugeng jadi punya saingan aku ini. Hahaha... mau jualan apa Geng? Buat warung bagus banget gitu?" Ujar Mbak Lasmi.
"Warung kecil gitu loh mbak kok di bilang bagus?"
"Tapi rapi, pinter kamu bikinnya geng. Aku lihatnya jadi kepingin bikin kayak warungmu."
"Warung ngga pantes lah, mbak. Warung pecel masa keramikan takut di sangka mahal lagi nanti."
"Hahaha... iya juga ya mas.. udah selesai itunya mas? Tinggal pintu depan aja ya?"
"Iya mbak, selesai kemarin. Masih nunggu tukang foldingnya, katanya banyak pesenan masih masang di desa sebelah."
"Berapa mas pesen folding?"
"Halah yang tipis kok mbak aku pesennya, biasa hemat. Hehe.."
"Weh... banyak duit kamu geng?"
"Duit ada, kalau banyak.. nggak mbak."
"Bisa aja kamu jawabnya geng, pinter banget. Rencananya jualan warung rumahan ya? Aku tanya sama nenek Ratmi."
"Iya mbak, ya mungkin nanti di tambahin jualan bensin eceran, pulsa, ya pelan pelan ajalah.. duit kecil di puterin mbak, ya jadi masih bingung ini."
"Weh... masuk itu... kerjaan kamu jadi banyak geng, ngga mentok cari rumput sama mancing aja hahaha.."
"Oh ya mas, ikan nilanya masih ada nggak?" Tanya Mbak Lasmi.
"Baru tebar mbak."
"Owalah, kemarin di habisin semua to panennya?"
"Iya mbak, butuh duit ya buat bikin warung itu aja masih kurang.."
"Terus kekurangannya minjem bank plecit ya mas?"
"Huss... ngawor! Nggak ya.. aku jual satu kambing, itung aja kambingku kurang satu." Jawab Sugeng yang memang menjual satu kambingnya.
"Hahaha... kirain minjem duit mas, aku juga mau kalau ada kenalan bank plecit. Aku juga mau buat warung yang agak rapi lah hehe..."
***
Di kamar Linda ia tampak begitu gelisah, ia duduk dengan wajah penuh ketakutan tergambar jelas dari ekspresinya.
Matanya begitu merah menandakan dia tidur hanya sebentar. Ya selama ini Linda di teror oleh sosok wanita cantik dengan kedua tangan yang sangat panjang.
Tuuttt... tuuuttt...
Ia menghubungi seseorang melalui panggilan telephone. Tidak lama kemudian panggilan tersambung, Linda langsung berucap, "bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan dukun?" Tanya Linda kepada anak buahnya.
"Ma.. maaf Nyonya, saya belum menemukannya. Dukun di daerah sini sangat jarang apalagi sekarang sudah era modern, semua orang yang saya tanya hanya menjawab Mbah Suro yang sudah tewas terbunuh..."
"Kamu ini kerjanya bagaimana sih? Jangan hanya berpatok di daerah sini saja! Cari di daerah luar, kalau perlu keluar pulau... saya nggak mau tau! Pokoknya kamu harus cari dukun yang bisa lindungi saya dari demit!" Bentak Linda.
"Ba.. baik nyonya..."
Linda memutuskan panggilan itu, ia berjalan menuju ke kamar mandi dan buang air kecil di sana, setelah membuang air kecil ia menatap pantulan bayangannya sendiri di depan cermin.
Betapa terkejutnya dia ketika sekilas melihat sosok wanita cantik berdiri di pojokan.
Ia langsung menoleh kebelakang, namun ia tak menemukan siapapun di situ.
Linda menelan ludahnya dengan ngeri.
Linda tersentak kaget ketika mendengar sebuah bisikan yang sangat lirih di telinganya, hampir tidak terdengar namun Linda masih bisa mendengarnya..
"Bersiaplah nanti malam..." bisikan itu terdengar bagaikan ancaman dengan suara lembut seorang wanita.
Linda memegang tengkuknya, ia mengetahui apa yang di maksud bisikan ini. Ia yakin hantu wanita itu akan kembali datang di malam hari, dan yang membuat Linda semakin ketakutan ketika malam hantu itu menunjukan wujud yang sangat menyeramkan.
***
Sugeng pulang kerumahnya setelah makan siang di warung pecel mbak Lasmi.
"Geng ada paket datang tadi, nenek taruh di atas tv. Nenek mau kewarung Lek Riadi kamu mau titip rokok nggak?"
"Iya nek titip.."
Sugeng segera ke kamarnya mengambil uang dan di berikan ke neneknya. Setelah kepergian neneknya Sugeng segera mengunboxing paket itu, ia sedikit terheran.
"Berat juga, ini gimana cara pakainya? Apa ya yang bisa buat ngetes alat ini?"
Sugeng sedikit berpikir lalu ia mengambil ayam babon peliharaan neneknya, ia mencabuti bulu di bagian leher ayam itu. Sugeng akan menyetrum leher ayam itu, ia ingin melihat apakah alat ini bekerja dengan baik atau tidak.
Setelah kulit leher ayam itu tidak tertutup bulu ia kemudian mengikat kedua kaki ayam itu, dan ia setrum menggunakan alat itu.
Ngrreeettt...!!!
Benar saja ayam itu kejang tak karuan dan mati.
"Eh... ini mati apa pingsan?" Tanya Sugeng dalam hatinya. Ia mencelup celupkan kepala ayam itu ke dalam bak yang ada di sumur dan ya ayam itu benar benar mati.
Sugeng langsung mengubur ayam itu. Dan ketika neneknya bertanya kemana ayamnya ia berpura pura tak tahu.
"Bew... kuat ternyata listriknya, kalau kena manusia bisa langsung pingsan apalagi.... hmmm perempuan yang fisiknya lemah." Batin Sugeng.
"Alat apa itu Geng?" Tanya neneknya yang membuat Sugeng kaget.
"I... ini alat untuk ngecek ph air kolam nek. Biar tau bagus apa nggak airnya buat ternak nila.... murah kok cuma 90 rebuan.." jawab Sugeng berbohong.
"Ada to alat begituan? Maklum nenek orang jadul, gaptek ngga ngerti alat kayak begituan."
"Hahahaha.. iya nenek pakai remote tv aja bingung."
"Takut salah pencet geng, hilang nanti gambarnya bingung Nenek, ini rokokmu.. sholat duhur sana!"
"Nanti lah nek..."
"Ohh... ngga mau sekarang?" nenek Ratmi mengambil sapu.
"Eh?? Iya iya nek.." Sugeng hendak pergi namun ia teringat sesuatu neneknya tidak ada pagi tadi, "oh ya nenek pagi tadi kemana?"
"Gosok bajunya, Tuti.. diakan sibuk. Lumayan di kasih 50 rebu." Jawab neneknya.
"Lah?? Nenek Baju orang di gosokin, baju aku ngga pernah di gosokin." Keluh Sugeng.
"Heh... garan pacul..!!! Kamu itu udah gede! Mosok bajumu sendiri nenek yang gosokin? Gak malu? Sekalian nenek yang nyuciin sempak bolongmu itu! Mau? Malah tak suwek suwek (sobek sobek) nanti..!! Udah sana sholat.." ketus neneknya kesal.
"I.. iya nek, tapi..."
Ctar!
Nenek Ratmi langsung menyabet sapu ke pantat Sugeng membuat Sugeng lari kocar kacir.