NovelToon NovelToon
DARAH ASTRA

DARAH ASTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: DragonLucifer

Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Rahasia Laboratorium

Alarm keamanan Helios Guard berbunyi pelan saat Raka, Kayla, dan Damar berdiri di depan lift khusus yang hanya bisa diakses oleh level komandan.

Pintu logam terbuka perlahan.

Cahaya putih kebiruan menyambut mereka.

“Apa kamu yakin soal ini, Rak?” tanya Kayla pelan.

Raka menatap ke bawah, ke telapak tangannya yang samar bercahaya biru.

“Aku harus tahu,” jawabnya. “Kalau Proyek Astralis ada hubungannya sama aku… aku nggak bisa terus pura-pura nggak tahu.”

Damar mendengus. “Kalau ternyata jawabannya nggak kamu suka?”

Raka tersenyum tipis. “Setidaknya itu jawaban.”

Lift turun dalam diam.

Layar digital menunjukkan satu tulisan:

Lantai -7 – Area Terlarang

Begitu pintu terbuka, hawa dingin menyergap.

Lorong panjang dengan dinding kaca transparan memperlihatkan ruangan-ruangan laboratorium di kiri dan kanan. Tabung-tabung besar berisi cairan biru menyala berdiri berjajar seperti makam masa depan.

Kayla melangkah pelan.

“Ini… ini bukan sekadar penelitian,” gumamnya. “Ini eksperimen manusia.”

Raka menghentikan langkahnya.

Di salah satu tabung kaca, samar terlihat siluet tubuh kecil.

Anak-anak.

Jantungnya berdetak keras.

“Damar…” suaranya bergetar. “Mereka… siapa?”

Damar terlihat tak biasa—rahangnya mengeras.

“Subjek uji,” jawabnya pendek. “Generasi awal Astra.”

Raka menatapnya tajam. “Generasi awal?”

“Proyek Astralis dimulai 17 tahun lalu,” Damar berkata pelan. “Helios ingin menciptakan manusia yang bisa mengendalikan energi meteor. Mereka butuh pewaris yang stabil.”

Raka merasa dunia di sekitarnya bergetar.

“Dan aku?”

Damar terdiam.

Kayla memandang Raka dengan khawatir.

“Raka…” suaranya lembut. “Jangan bilang…”

Damar menatap lurus ke mata Raka.

“Kamu bukan korban meteor, Rak.”

Sunyi.

Udara terasa membeku.

“Kamu adalah hasil eksperimen paling sukses.”

Kalimat itu seperti palu godam menghantam kesadarannya.

“Apa maksudmu?” suara Raka rendah, hampir tak terdengar.

Damar berjalan ke panel utama di tengah ruangan. Ia memasukkan kode aksesnya.

Layar hologram menyala.

File demi file muncul.

Satu nama berkedip di tengah layar:

Subjek A-01

Nama asli: RAKA PRATAMA

Status: Stabil – Tingkat Resonansi 98%

Catatan: “Anomali sempurna.”

Napas Raka tercekat.

“98%?” bisiknya.

Kayla menutup mulutnya.

“Raka…” matanya berkaca-kaca. “Kamu hampir menyatu penuh dengan energi Astra…”

Raka mundur selangkah.

“Kalian tahu?” tanyanya lirih.

Damar menggeleng. “Aku tahu sebagian. Tapi detailnya baru kulihat sekarang.”

Raka menatap tabung-tabung di sekitarnya.

“Jadi… anak-anak ini… mereka gagal?”

Damar terdiam.

Kayla menjawab pelan, “Sebagian mati. Sebagian kehilangan kendali.”

Tangan Raka mengepal.

Cahaya biru di nadinya menyala lebih terang.

“Aku… eksperimen?” suaranya bergetar antara marah dan hancur.

Damar mendekat. “Dengar dulu—”

“Jangan!” bentak Raka.

Dinding kaca bergetar.

Tabung-tabung berderak.

Kayla cepat memegang lengannya. “Raka! Kendalikan!”

Raka memejamkan mata.

Napasnya berat.

“Ayahku…” gumamnya. “Ibuku…”

Damar menelan ludah. “Orang tua aslimu adalah ilmuwan utama Proyek Astralis.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Mereka menciptakan prosedur sinkronisasi Astra. Tapi ketika tahu Helios ingin menjadikannya senjata militer… mereka mencoba menghentikan proyek.”

Layar hologram menampilkan rekaman lama.

Seorang pria dan wanita mengenakan jas laboratorium.

Wajah mereka mirip Raka.

“Kita tidak menciptakan ini untuk perang!” suara pria itu tegas.

“Anak ini bukan senjata!” teriak wanita itu.

Rekaman berhenti.

Status di layar berubah merah.

Kecelakaan Laboratorium – 15 tahun lalu

Raka merasa lututnya melemas.

“Mereka… mati?”

Damar mengangguk pelan. “Resmi disebut kecelakaan. Tapi banyak yang bilang itu sabotase.”

Raka menunduk.

Cahaya biru di tubuhnya berdenyut pelan—seolah merespon emosi terdalamnya.

Kayla menggenggam tangannya.

“Kamu bukan kesalahan, Rak.”

Raka tertawa pahit. “Aku lahir dari eksperimen.”

“Tidak,” Kayla menatapnya tajam. “Kamu lahir dari orang tua yang berusaha melindungi dunia.”

Sunyi menyelimuti ruangan.

Tiba-tiba—

Layar hologram berkedip.

Pesan masuk tak dikenal.

Satu simbol muncul.

Lingkaran hitam dengan garis merah menyilangnya.

Damar membeku.

“Eclipse…”

Suara sintetis terdengar dari sistem.

“Subjek A-01 telah mengakses arsip terlarang. Protokol pemburuan diaktifkan.”

Lampu ruangan berubah merah.

Pintu otomatis terkunci.

Kayla menoleh cepat. “Mereka tahu kita di sini!”

Damar memaki pelan. “Sial… server pusat sudah disusupi.”

Suara langkah kaki terdengar di lorong luar.

Pelan.

Berat.

Raka mengangkat wajahnya.

Air mata di sudut matanya mengering, digantikan tekad dingin.

“Jadi begini caranya mereka menjaga rahasia?”

Damar mengeluarkan sarung tangan tempurnya. “Kita keluar sekarang!”

Kayla menciptakan medan gravitasi di sekeliling pintu.

Pintu baja bergetar.

Lalu—

Ledakan.

Pintu terpental masuk.

Asap hitam menyebar.

Dari balik kabut, muncul sosok berjubah gelap.

Mata kirinya menyala merah.

“Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, Subjek A-01.”

Raka berdiri tegak.

“Aku bukan A-01.”

Cahaya biru menyala di sekujur tubuhnya.

“Aku Raka.”

Sosok itu tersenyum tipis.

“Buktikan.”

Tanpa peringatan, ia mengayunkan tangan.

Gelombang energi hitam melesat.

Kayla menciptakan perisai gravitasi, tapi retak seketika.

Damar melompat maju, menahan serangan dengan pelindung energinya.

Raka merasakan darahnya mendidih.

Ingatan tentang orang tuanya.

Tentang eksperimen.

Tentang anak-anak di tabung.

Tentang kebohongan Helios.

Energi biru meledak dari tubuhnya.

Lantai laboratorium retak.

Tabung-tabung kaca pecah.

Cairan biru menyembur ke udara.

Sosok berjubah itu mundur selangkah.

“Menarik…”

Raka mengangkat tangan.

Cahaya Astra membentuk pusaran spiral di sekelilingnya.

“Aku bukan senjata kalian.”

Ledakan cahaya membutakan ruangan.

Dan untuk pertama kalinya—

Raka tidak merasa takut pada kekuatannya.

Ia menerimanya.

Sebagai warisan.

Sebagai pilihan.

Sebagai miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!