NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tragedi sang penguasa dan kiamat di Medan perang

Langit di atas Medan Perang Abadi tidak lagi berwarna biru atau hitam. Langit itu terbelah, retak oleh tekanan aura yang begitu masif hingga ruang dan waktu seakan membeku. Di satu sisi,

berdiri jutaan pasukan dari Sembilan Alam—barisan ksatria suci Luxeria, prajurit bayangan Umbra, naga-naga raksasa Draconia, hingga para dewa dari Celestial.

Di sisi lain, hanya ada satu pria.

Ferdi berdiri dengan zirah Chaos Bringer yang mengeluarkan uap panas berwarna merah darah. Pedangnya tertancap di tanah, namun tanah di bawahnya hancur membentuk kawah sedalam sepuluh meter hanya karena ia berdiri di sana.

Panglima Seraphim dari Kerajaan Cahaya maju ke depan barisan. Di sampingnya berdiri Farah, seorang penyihir tingkat tinggi yang juga merupakan mantan saingan Vani di istana. Farah memiliki senyum licik yang menyembunyikan niat busuknya.

"Ferdi! Kau mencari istrimu?" teriak Seraphim, suaranya diperkuat dengan sihir agar terdengar ke seluruh medan perang.

Ferdi tidak menjawab. Matanya yang merah menatap kosong ke arah mereka, namun auranya membuat para prajurit di barisan depan mulai muntah darah karena tekanan mental.

Farah tertawa kecil, ia mengangkat tongkat sihirnya. "Kau terlambat, Raja Kegelapan yang malang. Ratu Cahayamu yang agung itu... ternyata sangat rapuh saat pisau algojo menyentuh lehernya."

Tiba-tiba, di atas medan perang, Farah menciptakan sebuah ilusi optik yang sangat nyata. Cahaya emas berkumpul membentuk sebuah kepala wanita yang terpenggal. Wajah itu sangat identik dengan Vani—mata yang tertutup rapat, rambut emas yang berlumuran darah, dan ekspresi penderitaan yang membeku.

"Lihat ini!" Farah berteriak histeris. "Ini adalah kepala wanita yang kau cintai! Dia sudah mati! Kami menghukumnya karena bersetubuh dengan kegelapan!"

Keheningan yang terjadi begitu mencekam hingga suara detak jantung para prajurit terdengar seperti dentuman drum. Ferdi menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena tawa rendah yang terdengar seperti suara bebatuan yang saling bergesekan di dasar neraka.

"Kalian..." suara Ferdi rendah, namun menggetarkan tulang setiap makhluk yang ada di sana.

"Kalian benar-benar tidak tahu apa yang telah kalian lepaskan."

Tiba-tiba, tubuh Ferdi mulai berubah. Kulitnya yang tadinya manusiawi mulai ditumbuhi oleh urat-urat hitam yang menyala merah. Rambutnya memanjang dan berubah menjadi hitam pekat yang seolah menyedot cahaya di sekitarnya.

Hawa dingin yang menusuk digantikan oleh panas yang luar biasa. Pakaian dan zirahnya menyatu dengan tubuhnya, membentuk tekstur seperti kulit pohon kuno yang terbakar namun tidak pernah habis. Matanya yang merah kini bersinar terang, mengeluarkan kilatan petir darah yang menyambar ke segala arah.

"Jika dia tidak ada... maka tidak ada alasan bagi dunia ini untuk tetap berdiri," raung Ferdi.

Suaranya meledak menjadi gelombang kejut yang menghancurkan barisan depan pasukan Sembilan Alam. Ribuan prajurit tewas seketika, tubuh mereka hancur menjadi debu bahkan sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi.

Dialog di Tengah Badai Kehancuran

Seraphim: (Wajahnya pucat pasi, kakinya gemetar) "T-tidak mungkin! Kekuatan ini... ini bukan lagi kekuatan Raja Kegelapan! Ini adalah kekuatan Kiamat murni!"

Farah: (Berteriak histeris sambil terus mempertahankan ilusinya) "Serang dia! Dia hanya sendiri! Jangan takut pada bayangan itu!"

Ferdi: (Bergerak secara instan, muncul tepat di hadapan Farah dalam sekejap mata) "bagus, Penyihir. Tapi kau melakukan satu kesalahan

Farah: "A-apa?!"

Ferdi: (Mencekik leher Farah dengan tangan yang kini menyerupai cakar iblis) "Kau membuatku mengingat bagaimana rasanya menjadi monster. Dan monster tidak punya belas kasihan."

KRAK!

Ferdi mematahkan leher Farah tanpa sedikit pun keraguan. Ilusi kepala Vani pecah menjadi butiran cahaya. Namun, kemarahan Ferdi tidak mereda. Ia melepaskan mayat Farah dan menoleh ke arah sembilan panglima yang kini mengepungnya.

"Maju kalian semua!" tantang Ferdi.

Panglima Alam Naga (Ignis): "Jangan sombong, Ferdi! Rasakan api pemusnah naga kami!"

Naga-naga dari Draconia menyemburkan api yang mampu melelehkan gunung, namun Ferdi hanya berdiri diam. Ia membuka mulutnya dan mengeluarkan raungan yang membatalkan semua sihir api di udara. Ia melompat ke udara,

menangkap leher naga terbesar, dan membantingnya ke arah barisan ksatria cahaya.

Ferdi: "Sembilan Alam? Sembilan sampah!"

Ia mengayunkan pedangnya, menciptakan tebasan mendatar yang membelah ruang. Tebasan itu memanjang hingga berkilo-kilo meter, memotong puncak gunung di kejauhan dan membelah jutaan pasukan Elf serta Raksasa dalam satu gerakan.

Panglima Alam Elf: "Hentikan! Kau akan menghancurkan fondasi alam semesta!"

Ferdi: "Biarkan hancur! Akan kubangun dunia baru di atas abu kalian, di mana tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh Vani!"

Ferdi bergerak seperti badai. Ia menyeruduk barisan ksatria suci Luxeria, menghancurkan perisai-perisai suci mereka seperti memecahkan kaca. Setiap kali pedangnya mengayun, ratusan jiwa terhisap masuk ke dalam mata pedangnya.

Para Dewa dari Alam Celestial mencoba menjatuhkan hukuman "Penghakiman Terakhir"—pilar cahaya raksasa yang turun dari langit untuk memusnahkan segala sesuatu. Namun, Ferdi justru terbang menantang pilar tersebut.

Ia memukul cahaya itu dengan tinjunya yang berselimut kegelapan murni.

BOOM!

Cahaya itu pecah berkeping-keping. Para dewa di langit terlempar dari singgasana mereka, memuntahkan darah emas.

Ferdi: "Cahaya kalian tidak lebih dari lilin kecil di depan kegelapanku!"

Ferdi mendarat kembali di tengah medan perang yang kini sudah berubah menjadi lautan darah dan puing-puing. Dari jutaan pasukan yang tadi sombong, kini hanya tersisa beberapa ribu yang bertahan, itu pun dengan kondisi mental yang hancur.

Seraphim bersembunyi di balik sisa-sisa pasukannya, menangis ketakutan. "Ampuni kami... kami hanya menjalankan perintah..."

Ferdi berjalan mendekat, setiap langkahnya menciptakan retakan di bumi. "Perintah? Siapa yang memberi perintah untuk menyentuh milikku?"

Melihat pasukan mereka dibantai, para Penguasa Tertinggi dari Sembilan Alam (para Raja dan Dewa asli) akhirnya turun tangan. Mereka membentuk lingkaran di sekeliling Ferdi, menggunakan rantai hukum alam untuk mengunci pergerakan Ferdi.

Raja Alam Dewa: "Ferdi, kau sudah melampaui batas. Kami akan menyegelmu di dalam kehampaan abadi, tempat di mana kau tidak akan pernah melihat cahaya lagi!"

Ferdi: (Tertawa gila dengan mata yang semakin bersinar merah) "Kalian pikir rantai berkarat ini bisa menahanku? Aku adalah kehampaan itu sendiri! Aku adalah akhir dari segala awal!"

Ferdi menarik rantai-rantai tersebut dengan kekuatan fisik murninya, menarik para Raja Dewa itu mendekat ke arahnya. Ia siap meledakkan seluruh energinya untuk menghancurkan sembilan alam sekaligus, tidak peduli jika ia juga harus hancur bersama mereka.

Namun, di tengah kemurkaan itu, sebuah suara yang sangat halus, hampir tidak terdengar, bergema di lubuk hatinya yang terdalam.

"Ferdi... berhenti..."

Ferdi tertegun. Kekuatannya yang meluap-luap berhenti sejenak. Itu suara Vani. Bukan ilusi Farah, tapi koneksi jiwa yang mereka miliki. Vani masih hidup, namun ia sedang menderita di suatu tempat yang jauh.

Ferdi: (Berteriak ke langit) "VANI! AKU AKAN MERATAKAN DUNIA INI UNTUKMU!"

Dengan satu ledakan energi terakhir, Ferdi menghancurkan lingkaran penyegel tersebut dan melesat pergi meninggalkan medan perang yang hancur lebur, menuju pusat Kerajaan Cahaya,

Luxeria. Ia tidak lagi mengejar perang, ia mengejar penyelamatan, dan siapa pun yang berdiri di jalannya—dewa atau iblis—akan dihapuskan dari sejarah.

Kehancuran Luxeria Dimulai

Ferdi sampai di gerbang Luxeria dalam hitungan detik. Ksatria penjaga gerbang bahkan tidak sempat melihat apa yang menabrak mereka. Gerbang emas yang konon tidak bisa hancur itu kini meleleh saat Ferdi menyentuhnya.

"VANI! DIMANA KAU?!"

Suaranya meruntuhkan gedung-gedung indah di istana cahaya. Ia berjalan menembus dinding, menghancurkan setiap rintangan. Di belakangnya, jutaan pasukan dari Sembilan Alam yang masih tersisa mengejarnya, namun mereka hanya terlihat seperti semut yang mengejar bencana alam.

Ferdi sudah tidak lagi terlihat seperti manusia. Ia adalah perwujudan dari "Hutan Pekat" kehancuran—aura gelapnya menyebar membentuk cabang-cabang hitam yang menangkap dan menghancurkan apa pun di sekitarnya.

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan Luxeria akan menjadi saksi bagaimana seorang suami yang murka sanggup mengguncang takhta Tuhan demi istrinya yang tercinta.

Ferdi melangkah maju langkahnya terhenti saat ingin menuju ke kerajaan Luxeria di depan matanya pasukan ke 9 alam berhadapan dengannya..."kalian akan merasakan kematian kalian sendiri..gumam Ferdi dengan tatapan kebencian.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!