NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAIKAT TANPA WAJAH

Lututnya lemas, pandangannya menggelap seketika, dan tubuh itu ambruk di lantai semen tanpa daya. "Hafiz.....!"

Hafiz jatuh pingsan di depan gerbang masjid tua yang terletak di sudut gang sempit yang becek dan berbau sampah, dengan pakaian basah kuyup yang masih melekat di tubuhnya yang menggigil.

Entah berapa lama ia tergeletak di sana, tenggelam dalam kegelapan yang hampa dan dingin yang mematikan.

"Tempat ini..." gumam Hafiz, napasnya tersengal-sengal sadar dari pingsan, uap dingin keluar dari mulutnya yang mulai membiru.

Ia ingat kata-kata ibunya, tentang sujud, tentang sajadah, tentang rumah Tuhan yang selalu terbuka bagi siapa saja.

Hafiz mencoba melangkah menuju teras masjid itu, berharap setidaknya ia bisa berlindung dari hujan yang semakin gila.

Baru saja kakinya menyentuh ubin semen yang dingin di teras masjid.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah keheningan malam, terdengar seperti nyanyian surgawi di telinga Hafiz yang setengah sadar.

"Astaghfirullah... Mas? Mas tidak apa-apa?"

Hafiz mencoba membuka matanya penuh, namun kelopak matanya terasa sangat berat, seperti tertindih beban berton-ton.

Ia hanya bisa melihat bayangan kabur seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya, memegang sebuah payung berwarna biru tua.

Wanita itu tidak mendekat terlalu rapat, ia menjaga jarak yang cukup jauh, kepalanya tertunduk menatap lantai di samping Hafiz.

"Mas... bangun, Mas. Jangan tidur di sini, nanti Mas bisa sakit parah," suara itu kembali terdengar, begitu jernih dan menenangkan.

Hafiz merintih pelan, mencoba menggerakkan jarinya yang kaku, namun tubuhnya benar-benar menolak untuk bekerja sama.

Wanita itu, Zahra, perlahan meletakkan payung birunya di samping kepala Hafiz agar air hujan yang tertiup angin tidak lagi mengenai wajah pria itu.

Zahra tetap menundukkan pandangannya, ia sama sekali tidak menoleh ke arah wajah Hafiz, menjaga batasan suci yang selalu ia pegang teguh.

"Saya letakkan payung ini di sini ya, Mas. Dan ini... ada sedikit rezeki untuk Mas makan kalau sudah sadar nanti."

Zahra meletakkan sebuah bungkusan plastik putih berisi nasi bungkus yang masih terasa hangat di samping payung itu.

Hafiz berusaha mengeluarkan suara, namun yang keluar hanyalah erangan tipis yang hampir tidak terdengar oleh telinga manusia.

"Siapa..." bisik Hafiz dalam hati, hatinya yang keras entah mengapa merasa tergetar oleh kebaikan yang begitu tulus.

Di dunianya yang dulu, tidak ada yang memberi tanpa meminta imbalan; tidak ada yang peduli tanpa ada kepentingan di baliknya.

Tapi wanita ini, ia bahkan tidak mau melihat wajah Hafiz, ia hanya memberi dan bersikap sangat sopan di tengah badai.

"Semoga Allah memberikan jalan keluar untuk masalah Mas. Saya permisi, Assalamualaikum," ucap Zahra pelan.

Hafiz mendengar suara langkah kaki yang menjauh, suara sandal yang beradu dengan genangan air di halaman masjid.

Kehangatan dari nasi bungkus itu seolah memancar, mencoba melawan hawa dingin yang mengepung tubuh Hafiz.

Beberapa saat kemudian, kesadaran Hafiz mulai pulih sepenuhnya meskipun tubuhnya masih terasa sangat remuk.

Ia memaksakan diri untuk duduk, bersandar pada tiang masjid yang kasar, sambil memegangi kepalanya yang masih pening.

Matanya tertuju pada payung biru dan bungkusan nasi yang diletakkan wanita tadi.

Hafiz meraih nasi bungkus itu dengan tangan gemetar, membukanya dengan terburu-buru seolah itu adalah harta karun paling berharga.

Aroma nasi panas dan lauk sederhana memenuhi indra penciumannya, memicu rasa lapar yang luar biasa hebat.

Ia makan dengan lahap, menyuap nasi itu ke mulutnya menggunakan tangan telanjang, tidak peduli lagi dengan citra CEO yang dulu ia agungkan.

Air mata Hafiz jatuh bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya saat ia mengunyah makanan pemberian orang asing itu.

"Gue makan nasi bungkus di teras masjid... kayak gembel," isaknya, tawanya terdengar miris di tengah kesunyian malam.

Dulu, ia makan di restoran bintang lima dengan piring berlapis emas, tapi rasanya tidak senikmat nasi bungkus pemberian wanita misterius ini.

Setelah perutnya sedikit terisi, Hafiz meraih payung biru itu, mengelusnya perlahan seolah ingin merasakan sisa kebaikan dari sang pemberi.

Siapa wanita itu? Kenapa dia tidak menatapnya? Kenapa dia begitu baik pada orang yang terlihat seperti gelandangan?

Hafiz menoleh ke arah dalam masjid, pintu kayu besarnya tertutup rapat, namun ada kedamaian yang terpancar dari sana.

Ia merasa sangat kecil, sangat kotor, dan sangat tidak pantas berada di tempat suci ini setelah semua kesombongan yang ia lakukan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara kunci pintu yang diputar dari dalam! membuat jantungnya berdegup kencang karena takut diusir.

Seorang pria tua dengan sarung dan peci putih keluar, memegang senter kecil yang cahayanya langsung mengenai wajah Hafiz.

"Loh? Kamu siapa? Kenapa malam-malam begini ada di sini dengan baju basah kuyup?" tanya pria tua itu, suaranya terdengar tegas namun tidak galak.

Hafiz segera berdiri dengan canggung, mencoba merapikan jasnya yang sudah tidak karuan bentuknya.

"Maaf, Pak... saya... saya cuma numpang berteduh. Tadi saya pingsan," jawab Hafiz dengan nada bicara yang jauh lebih rendah dari biasanya.

Pria tua itu, Marbot masjid tersebut, mendekat dan memperhatikan Hafiz dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Kamu kelihatan seperti orang kaya yang baru saja dirampok. Kamu ada masalah?"

Hafiz terdiam, ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan kehancuran hidupnya yang begitu mendadak.

"Saya... saya nggak punya tempat tinggal lagi, Pak. Aset saya disita," ucap Hafiz jujur, meskipun harga dirinya terasa tersayat-sayat.

Marbot itu menghela napas panjang, ia mematikan senternya dan menatap Hafiz dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Dunia ini memang tempatnya ujian, Nak. Kadang Allah ambil semua agar kita ingat siapa pemilik yang sebenarnya."

Hafiz hanya bisa menunduk, kata-kata pria tua itu terasa seperti tamparan halus yang mengenai lukanya yang paling dalam.

"Masuklah ke dalam. Kamu bisa tidur di pojok sana daripada kedinginan di teras dan bikin orang takut pas subuh nanti."

Hafiz tertegun. "Boleh, Pak? Saya... saya kotor. Saya berdosa."

"Masjid ini rumah Allah, Nak. Bukan rumah orang-orang suci saja. Kalau cuma orang suci yang boleh masuk, mungkin masjid ini bakal kosong selamanya."

Marbot itu membuka pintu masjid lebih lebar, mempersilakan Hafiz masuk ke dalam ruangan yang beralaskan karpet hijau tebal.

Hafiz melangkah ragu, kakinya yang kotor terasa sangat kontras dengan karpet masjid yang bersih dan harum parfum kayu cendana.

Begitu ia berada di dalam, ia merasakan kehangatan yang berbeda, bukan hanya hangat secara fisik, tapi juga hangat secara batin.

Ia duduk di pojok belakang, mencoba meluruskan kakinya yang pegal dan memar karena diseret orang-orang suruhan Robi tadi.

Hafiz menatap payung biru milik wanita tadi yang ia bawa masuk ke dalam, satu-satunya barang yang kini ia miliki.

"Siapa wanita itu sebenarnya..." gumam Hafiz..!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!