Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: RERUNTUHAN KRISTAL DAN AKAR YANG KUAT
Suara deru mesin jet pribadi Adam perlahan padam, digantikan oleh sirine polisi yang menyayat sunyi landasan pacu Halim Perdanakusuma. Lampu biru dan merah berputar-putar, memantul di genangan air hujan yang membasahi aspal hitam. Di sana, di tengah kericuhan petugas yang menggiring Adam dan ayahnya, Juliet masih terisak di pelukan Gaara.
Dunia yang ia kenal selama dua puluh dua tahun—dunia yang penuh dengan pelayan patuh, gaun desainer, dan kepalsuan yang dibungkus emas—baru saja meledak berkeping-keping.
"Juliet, kau harus ikut kami ke kantor pusat untuk memberikan keterangan," ucap seorang polwan dengan nada lembut, menyentuh bahu Juliet yang gemetar.
Juliet mendongak, matanya yang sembap menatap Gaara. Ia takut jika ia melepaskan tangan pria ini, ia akan jatuh ke jurang kegelapan lagi.
"Aku akan menemanimu," bisik Gaara. Ia menggenggam tangan Juliet lebih erat, seolah menyalurkan seluruh sisa kekuatannya. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi."
Proses pemeriksaan berlangsung hingga fajar menyingsing. Di dalam gedung kepolisian yang dingin dan beraroma kopi instan, Juliet melihat ayahnya duduk di ruang interogasi kaca. Pak Wijaya tampak sangat tua. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, dan aura kekuasaannya telah menguap bersama borgol yang melingkar di tangannya.
Adam? Pria itu berteriak-teriak memanggil pengacaranya, mengancam semua orang dengan koneksi keluarganya di Australia. Namun, bukti kepemilikan senjata api ilegal dan keterlibatannya dalam pelarian paksa saksi kunci (Juliet) membuatnya tidak punya ruang gerak.
Pukul enam pagi, Juliet keluar dari gedung itu. Langkahnya gontai. Ia tidak memiliki mobil mewah yang menunggunya di lobi. Ia tidak memiliki rumah mewah untuk pulang karena seluruh aset ayahnya telah disita untuk penyelidikan lebih lanjut.
Ia benar-benar sebatang kara.
"Juliet!" suara nyaring itu membuat Juliet menoleh.
Vina berdiri di dekat parkiran, wajahnya terlihat kacau. Riasannya luntur terkena air mata dan keringat. "Apa yang kau lakukan, hah?! Kau gila?! Paman ditangkap, Adam ditangkap... kita tidak punya apa-apa lagi sekarang! Apartemenku, kartu kreditku... semuanya diblokir!"
Juliet menatap sepupunya dengan tatapan kosong. "Setidaknya kau masih punya nyawamu, Vina. Dan kau punya kebenaran."
"Kebenaran tidak bisa membeli tas Hermes, Juliet!" bentak Vina histeris. "Ini semua gara-gara si tukang kebun sialan itu! Kau menghancurkan keluarga kita demi dia!"
"Keluarga kita sudah hancur sejak Ayah mulai mencuri hak orang lain, Vina. Kita hanya sedang hidup di atas kebohongan selama ini," balas Juliet tenang.
Vina hendak memaki lagi, namun Gaara muncul dari balik pintu lobi. Vina langsung terdiam, ketakutan melihat sorot mata Gaara yang dingin. Tanpa kata, Gaara merangkul bahu Juliet dan membawanya berjalan menuju pangkalan taksi.
"Kau mau ikut denganku?" tanya Gaara saat mereka berdiri di pinggir jalan. "Rumahku tidak punya AC. Atapnya masih bocor, dan ibuku mungkin hanya bisa memasak tempe goreng untuk sarapan."
Juliet tersenyum kecil. Sebuah senyuman pertama yang tulus setelah berhari-hari. "Selama ada mawar yang tumbuh di sana, aku ikut."
Rumah kontrakan Gaara terasa berbeda pagi itu. Sinar matahari pagi menembus celah-celah genteng yang retak, menciptakan garis-garis cahaya di atas lantai semen. Bu Ratna menyambut mereka dengan tangis haru. Ia memeluk Juliet seolah-olah Juliet adalah putrinya sendiri yang baru pulang dari peperangan.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mengembalikan keadilan untuk almarhum suami Ibu," bisik Bu Ratna sambil mengusap kepala Juliet.
Juliet duduk di bangku kayu tua. Ia melihat pot mawar Juliet Rose yang dibawa Gaara semalam. Tanaman itu tampak layu, beberapa daunnya menguning karena stres akibat dipindahkan paksa di tengah badai.
"Dia akan mati?" tanya Juliet cemas.
Gaara berjongkok di depan pot itu. Ia menyentuh batangnya yang berduri dengan ujung jarinya. "Dia sedang beradaptasi, Juliet. Sama sepertimu. Akarnya sedang mencoba mengenali tanah yang baru. Memang menyakitkan, tapi jika dia berhasil bertahan, dia akan tumbuh lebih kuat daripada saat dia di dalam vas kaca."
Selama seminggu berikutnya, kehidupan Juliet berubah total. Ia belajar mencuci bajunya sendiri dengan tangan, kulitnya yang halus mulai memerah karena sabun cuci murah. Ia belajar memasak nasi di magic com tua yang sering mati sendiri. Dan yang paling berat, ia belajar menghadapi tatapan tetangga yang berbisik-bisik tentang "si anak kaya yang jatuh miskin".
Namun, setiap sore, ia dan Gaara duduk di teras kecil itu. Mereka merawat mawar bersama. Gaara mulai bercerita tentang rencana masa depannya.
"Aku akan menggunakan bukti-bukti ini untuk mengambil kembali hak paten ayahku. Aku tidak mau uangnya, Juliet. Aku hanya ingin nama Ayah bersih. Setelah itu, aku ingin membangun firma lanskap kecil-kecilan. Lanskap yang mengutamakan hati, bukan hanya kemewahan."
"Bolehkah aku membantumu?" tanya Juliet. "Aku mungkin tidak tahu banyak tentang bisnis, tapi aku tahu apa yang disukai orang-orang kaya. Aku bisa menjadi konsultanmu."
Gaara tertawa, sebuah tawa lepas yang jarang Juliet dengar. "Tentu. Tapi gajimu akan sangat kecil di awal."
"Aku tidak butuh gaji besar. Aku hanya butuh seseorang yang tidak akan membuangku saat mawar-mawarku tidak lagi mekar."
Satu bulan kemudian, berita tentang Grup Wijaya mulai mereda di media massa, digantikan oleh skandal-skandal baru. Namun, bagi Juliet, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Suatu sore, sebuah mobil mewah berhenti di depan gang sempit rumah Gaara. Juliet yang sedang menyapu teras tertegun. Dari dalam mobil, keluarlah Vina.
Penampilan Vina sudah jauh berbeda. Ia tidak lagi mengenakan baju bermerek. Ia hanya mengenakan kemeja polos dan celana kain. Wajahnya tampak lebih tirus.
"Juliet," panggil Vina pelan. Ia tidak lagi berteriak atau menghina.
"Vina? Ada apa?"
Vina menunduk, memainkan jemarinya yang tidak lagi memakai kuku palsu. "Paman ingin menemuimu di penjara. Dia... dia sakit, Jul. Stroke ringan. Dia terus memanggil namamu."
Juliet merasakan sesak di dadanya. Bagaimanapun juga, pria itu adalah ayahnya. Pria yang pernah membelikannya boneka mawar saat ia kecil, sebelum ambisi mengubahnya menjadi monster.
"Dan satu lagi..." Vina ragu-sejenak. "Adam dideportasi ke Australia setelah menjalani hukuman singkatnya karena suap. Dia meninggalkan pesan untukmu. Dia bilang... dia tetap akan menunggumu di Sydney jika kau bosan hidup menderita di sini."
Juliet menoleh ke arah dalam rumah. Ia melihat Gaara sedang membantu ibunya berjalan menuju ruang tengah. Gaara melihat Juliet dan memberikan senyum penyemangat.
Juliet kembali menatap Vina. "Katakan pada Ayah, aku akan datang menemuinya. Tapi bukan sebagai putri seorang konglomerat. Aku akan datang sebagai Juliet, seorang wanita yang sedang belajar mencintai tanah."
"Dan untuk Adam?" tanya Vina.
Juliet mengambil setangkai bunga mawar dari potnya. Mawar itu telah mekar sempurna pagi ini, berwarna merah pucat dengan aroma yang sangat kuat. Ia menyerahkan bunga itu pada Vina.
"Berikan ini pada pengacaranya untuk dikirim ke Sydney. Katakan padanya, mawar ini telah menemukan tanahnya. Dia tidak butuh vas kristal lagi."
Vina menerima bunga itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa ia telah kalah, bukan karena Juliet lebih kaya, tapi karena Juliet memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa ia beli dengan uang: ketenangan jiwa.
Setelah mobil Vina pergi, Gaara menghampiri Juliet. Ia merangkul pinggang Juliet dari belakang, menaruh dagunya di bahu gadis itu.
"Siapa yang datang?"
"Hanya masa lalu yang mencoba mengetuk pintu," jawab Juliet sambil bersandar pada dada bidang Gaara.
"Lalu, apa jawabanmu?"
Juliet berbalik, mengalungkan tangannya di leher Gaara. Ia menatap mata gelap yang dulu ia benci namun sekarang ia puja. "Jawabanku adalah... aku ingin menanam lebih banyak mawar bersamamu. Di sini. Di tanah ini."
Gaara mendekatkan wajahnya, mengecup kening Juliet dengan lembut. "Akan ada banyak badai lagi, Juliet. Hidup denganku tidak akan selalu seindah taman di rumah lamamu."
"Aku tahu. Tapi bukankah kau yang bilang? Mawar butuh badai agar akarnya mencengkeram tanah lebih dalam."
Di bawah langit Jakarta yang mulai jingga, di tengah gang sempit yang bising, dua jiwa yang berbeda kasta itu akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya. Bukan di balik pilar-pilar marmer, melainkan di dalam sebuah hati yang tulus dan jujur.
...****************...