Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: ALAM BAYANGAN
Tiga hari persiapan terasa seperti tiga detik.
Yun-seo tidak tahu apakah itu karena gugup atau karena waktu memang berlari begitu cepat. Yang ia tahu, kini ia berdiri di depan sebuah altar kuno di ruang bawah tanah akademi—ditemukan oleh Seo Jung-won setelah mencari-cari di arsip.
Altar itu sederhana. Lingkaran batu dengan ukiran rumit di lantai. Di tengahnya, sebuah lubang seukuran cincin.
"Cincinmu," kata Hwang Cheol-soo. "Masukkan ke sana."
Yun-seo melepas Cincin Pemanggil, meletakkannya di lubang itu. Seketika, altar bersinar—merah tua, seperti darah. Lingkaran di lantai mulai berputar, menciptakan pusaran cahaya di tengah.
"Pintu terbuka," bisik Yehwa.
Hwang Cheol-soo menatap mereka serius. "Ingat. Alam Bayangan penuh tipu daya. Jangan percaya apa pun yang kau lihat. Jangan makan atau minum apa pun di sana. Dan yang paling penting—kembali sebelum tiga hari. Kalau lebih, pintu akan tertutup selamanya."
Yun-seo mengangguk. Yehwa menggenggam tangannya.
"Kita siap."
Mereka melangkah ke pusaran itu. Dunia berputar, gelap, lalu terang kembali.
---
Mereka berdiri di padang rumput yang tampak biasa.
Langit biru, matahari cerah, angin sepoi-sepoi. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Di kejauhan, terlihat gunung dengan puncak tertutup salju.
"Ini... Alam Bayangan?" Yun-seo bingung. "Kelihatan biasa aja."
"Jangan tertipu." Yehwa waspada, matanya mengamati sekeliling. "Ini ilusi. Coba rasakan energinya."
Yun-seo memejamkan mata. Ia mencoba merasakan seperti yang diajarkan Yehwa. Dan benar—di balik keindahan itu, ada sesuatu yang dingin, menekan, seperti dipeluk bayangan.
"Aku merasakannya."
"Itu dia. Alam Bayangan."
Mereka berjalan. Setiap langkah terasa normal, tapi pemandangan di sekitar mulai berubah perlahan. Bunga-bunga layu dalam sekejap, rumput mengering, langit berubah kelabu. Gunung di kejauhan kini tampak seperti tengkorak raksasa.
Yun-seo merinding. "Ini... menyeramkan."
"Itu wujud aslinya." Yehwa tidak terpengaruh. Ia sudah ribuan tahun hidup, sudah lihat banyak hal lebih menyeramkan.
Mereka berjalan berjam-jam—atau mungkin hanya beberapa menit? Di sini, waktu terasa aneh. Tidak ada matahari yang bergerak, tidak ada bayangan yang berubah.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah. Di tengahnya, sebuah kuil hitam berdiri. Bentuknya sama seperti Kuil Kegelapan, tapi lebih besar, lebih menyeramkan.
"Di sana," bisik Yehwa.
Mereka mendekat. Pintu kuil terbuka sendiri, seperti menyambut.
---
Di dalam, gelap gulita.
Yun-seo mengaktifkan cincinnya—kini cincin itu kembali di jarinya, setelah pintu masuk tertutup. Cahaya merah menerangi jalan.
Mereka berjalan melewati koridor panjang. Di dinding, lukisan-lukisan bergerak—adegan pertempuran, pesta pora, kematian. Sesekali, lukisan itu menatap mereka.
Yun-seo berusaha tidak melihat. Tapi satu lukisan menarik perhatiannya—seorang pria berjubah hitam, duduk di singgasana, dengan mahkota di kepala. Wajahnya... mirip dengannya.
"Kaisar Jin," bisik Yehwa. "Kakek buyutku."
Yun-seo menatap lukisan itu lama. Pria itu tersenyum—sedikit misterius, seperti tahu sesuatu.
"Kau datang," suara itu terdengar di kepalanya. Yun-seo tersentak.
"Apa kau dengar itu?" tanyanya pada Yehwa.
Yehwa menggeleng. "Tidak. Ada apa?"
Yun-seo menggeleng, mencoba tenang. "Mungkin hanya ilusi."
Mereka terus berjalan. Di ujung koridor, ruangan besar terbuka. Di tengahnya, altar dengan tombak hitam tertancap. Di sekeliling altar, bayangan-bayangan bergerak—makhluk tak berbentuk, hanya siluet hitam dengan mata merah.
"Tombak Seribu Jiwa," gumam Yehwa.
Tapi saat mereka mendekat, bayangan-bayangan itu bergerak. Mereka membentuk lingkaran, mengelilingi altar—dan mengelilingi mereka.
"Kita dikepung," kata Yun-seo.
Yehwa menghunus Pedang Naga Iblis. "Aku lawan mereka. Kau ambil tombak."
"Tapi—"
"Cepat!"
Yehwa menyerang. Pedangnya menyala merah, membelah bayangan-bayangan itu. Tapi bayangan tidak mati—mereka terbelah, lalu menyatu kembali.
"Makhluk ini tidak bisa dibunuh dengan pedang biasa!" teriak Yehwa.
Yun-seo melihat tombak di altar. Ia berlari, menerobos bayangan. Tangan kanannya meraih gagang tombak.
Saat tangannya menyentuh, dunia berhenti.
---
Yun-seo berdiri di ruang putih. Kosong. Hanya dia dan seorang pria.
Pria itu—Kaisar Jin, dengan mahkota dan jubah hitam—tersenyum padanya.
"Akhirnya kau datang, cucuku."
Yun-seo tertegun. "Kau... nyata?"
"Di sini, aku nyata." Kaisar Jin melangkah mendekat. "Aku menunggumu ribuan tahun."
"Kenapa? Kenapa aku dipanggil ke sini?"
"Karena darah kita. Karena kau satu-satunya yang bisa mewarisi kekuatanku." Kaisar Jin mengulurkan tangan. "Tombak Seribu Jiwa bukan hanya senjata. Ia juga penyimpan kekuatan. Kekuatanku."
Yun-seo mengerutkan kening. "Tapi aku tidak ingin—"
"Kau butuh itu. Untuk melindungi ratu iblis itu." Kaisar Jin tersenyum. "Aku tahu segalanya, cucuku. Tentang dia, tentang perang, tentang Penguasa Kegelapan. Dan aku tahu kau tidak akan bisa menang tanpanya."
Yun-seo diam. Ia ingat Yehwa di luar, bertarung melawan bayangan. Ia ingat Lilian, yang masih berkeliaran dengan pusaka ketujuh. Ia ingat masa depan yang belum pasti.
"Kalau aku ambil kekuatan ini... apa yang terjadi padaku?"
"Kau akan menjadi dirimu yang sebenarnya. Keturunan Kaisar Iblis. Setengah manusia, setengah iblis—tapi dengan kekuatan penuh."
Yun-seo menarik napas panjang. Lalu mengangguk.
"Aku ambil."
Kaisar Jin tersenyum. Ia menyentuh dahi Yun-seo.
Seketika, rasa panas menjalar di seluruh tubuh. Bukan menyakitkan—seperti api yang membersihkan. Yun-seo merasakan sesuatu bangkit dalam dirinya, sesuatu yang selama ini tertidur.
Matanya terbuka—merah menyala.
---
Di dunia nyata, Yehwa mulai kewalahan.
Bayangan-bayangan itu terus menyerang, tidak pernah mati. Kekuatannya terkuras. Ia mulai terdesak.
Tiba-tiba, cahaya merah menyala dari altar. Yun-seo berdiri, Tombak Seribu Jiwa di tangannya. Tapi ia berbeda—matanya merah, tubuhnya memancarkan aura kuat.
Bayangan-bayangan itu berhenti. Mereka menatap Yun-seo, lalu berlutut—semuanya, serempak.
Yehwa terkejut. "Yun-seo?"
Yun-seo menoleh. Matanya—merah—menatapnya, lalu berubah kembali hitam. Ia tersenyum.
"Aku ambil kekuatannya."
Yehwa mendekat, takjub. "Kau... berubah."
"Masih aku. Tapi sekarang... lebih." Yun-seo merasakan tubuhnya. Ada kekuatan baru, aneh, tapi juga familiar. Seperti pulang ke rumah setelah lama pergi.
Mereka berdiri di altar, dikelilingi bayangan yang kini patuh. Di tangan Yun-seo, Tombak Seribu Jiwa bersinar—pusaka keenam telah direbut.
---
Perjalanan keluar terasa lebih mudah.
Bayangan-bayangan itu membuka jalan, menunduk setiap kali Yun-seo lewat. Seperti prajurit pada rajanya.
Yehwa meliriknya. "Kau... bisa memerintah mereka?"
"Sepertinya." Yun-seo mengangkat tangan, dan bayangan-bayangan itu bergerak sesuai kehendaknya. "Kekuatan Kaisar Jin."
Mereka tiba di pintu keluar. Dengan kekuatan baru, Yun-seo membuka portal tanpa cincin—hanya dengan kemauan.
Saat melangkah keluar, Hwang Cheol-soo, Seo Jung-won, dan bahkan Cheol-soo (yang entah bagaimana ikut) menatap mereka dengan takjub.
"Hyung!" teriak Cheol-soo. "Kau dapat tombaknya! Hebat!"
Tapi Hwang Cheol-soo menatap Yun-seo berbeda. Matanya melebar, lalu tersenyum—bangga.
"Kau bertemu dengannya?"
Yun-seo mengangguk. "Kaisar Jin."
Hwang Cheol-soo tertawa—tawa lega, tawa bahagia. "Akhirnya... setelah ribuan tahun, pewarisnya kembali."
Yun-seo merasakan beban baru di pundaknya. Tapi di sampingnya, Yehwa memegang tangannya—mengingatkan bahwa ia tidak sendiri.
Enam pusaka. Tinggal satu lagi.
---