NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Kenyamanan yang Tak Disadari

Dua minggu berlalu sejak Arka mulai memanggil Reyhan "Papa" dan semuanya berubah dengan cara yang tidak pernah Alya bayangkan.

Reyhan mulai pulang lebih awal. Tidak selalu jam lima atau enam, tapi setidaknya tidak pernah lewat dari jam delapan malam. Ia bahkan menolak beberapa meeting malam dan acara bisnis demi bisa makan malam bersama keluarga.

Keluarga.

Kata itu terasa asing sekaligus hangat di benak Alya.

Pagi ini, Sabtu, rumah dipenuhi dengan suara-suara yang tidak biasa tawa Arka, suara dengung bor listrik, dan sesekali desahan frustasi dari Reyhan.

Alya berjalan ke garasi dan menemukan pemandangan yang membuatnya tersenyum: Reyhan dan Arka sedang membuat sesuatu dari kayu sepertinya rak buku kecil untuk kamar Arka.

"Sayang, hati-hati!" seru Alya ketika melihat Arka memegang palu yang terlalu besar untuk tangannya.

"Tenang, Mama! Papa udah ajarin aku cara pegang palu yang bener!" jawab Arka dengan percaya diri.

Reyhan menoleh, wajahnya sedikit berkeringat, kaus abu-abunya berdebu serbuk kayu. "Aku janji aku awasi dia ketat. Aku nggak akan biarkan dia kenapa-kenapa."

Alya mendekat, berdiri di ambang pintu garasi sambil melipat tangan di dada bukan marah, tapi... gemas melihat dua orang ini.

"Om... sejak kapan jago pertukangan?"

Reyhan tertawa suara yang sudah mulai sering terdengar akhir-akhir ini. "Sejak aku googling tutorial YouTube tadi malam sampai jam dua pagi."

Alya menggeleng sambil tersenyum. "Om... gila."

"Papa memang gila, Ma!" seru Arka sambil tertawa. "Tapi aku suka Papa yang gila!"

Reyhan mengacak rambut Arka dengan lembut. "Kamu juga gila, Nak. Kita emang cocok."

Alya merasakan dadanya hangat melihat interaksi mereka. Ini adalah kehidupan yang selama ini ia impikan kehidupan yang sempat ia pikir tidak akan pernah ia miliki.

"Kalian mau sarapan? Aku udah siapin pancake."

"Sebentar lagi, Ma! Kami lagi bagian penting!" jawab Arka dengan serius, matanya fokus pada papan kayu yang sedang ia pegang.

Reyhan melirik Alya dengan senyum minta maaf. "Lima menit lagi, janji."

Alya tersenyum, lalu kembali ke dapur membiarkan dua orang itu tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

Pukul Sepuluh Pagi

Lima menit ternyata menjadi tiga puluh menit, tapi Alya tidak marah. Ia justru senang melihat Reyhan dan Arka akhirnya masuk ke ruang makan dengan wajah penuh kepuasan meski baju mereka kotor dan rambut berantakan.

"Kami berhasil, Ma!" seru Arka sambil menunjukkan foto rak buku kecil di ponsel Reyhan. "Lihat! Ini buatan aku sama Papa!"

Alya menatap foto itu rak buku sederhana dengan tiga tingkat, sedikit miring di satu sisi, tapi... penuh usaha.

"Keren banget, sayang! Nanti kita taro di kamar kamu ya."

"Iya! Aku mau taro semua buku sains aku di situ!"

Mereka duduk di meja makan Reyhan dan Arka bersebelahan, Alya di seberang mereka. Pancake yang tadi hangat sudah agak dingin, tapi tidak ada yang peduli.

Arka menyiram pancake-nya dengan madu berlebihan kebiasaan yang selalu membuat Alya geleng-geleng kepala.

Reyhan menatap pancake Arka, lalu melirik pancake-nya sendiri. Tanpa kata, ia menuangkan madu di pancake-nya juga jumlah yang sama berlebihannya dengan punya Arka.

Alya menatap mereka berdua dengan geli. "Kalian... kompak banget."

"Madu itu enak, Ma!" bela Arka. "Dan Papa setuju sama aku!"

"Papa juga suka manis," tambah Reyhan sambil mengedipkan mata ke arah Arka gerakan yang membuat Arka tertawa terbahak-bahak.

Alya menggeleng sambil tersenyum. Mereka berdua benar-benar ayah dan anak.

Tiba-tiba Arka bertanya dengan polos, "Pa, kapan kita jalan-jalan bertiga?"

Reyhan berhenti mengunyah. "Jalan-jalan? Kemana?"

"Kemana aja! Museum, planetarium, taman, atau... pantai! Aku belum pernah ke pantai!"

Alya terdiam. Benar Arka belum pernah ke pantai. Selama ini mereka hidup dengan budget terbatas, dan liburan ke pantai bukan prioritas.

Reyhan menatap Alya mencari persetujuan.

Alya mengangguk pelan. "Kalau Papa ada waktu..."

"Aku ada waktu," potong Reyhan cepat. "Besok kita ke pantai. Anyer atau Carita, deket dari sini."

"BENERAN?!" Arka melompat dari kursinya dengan mata berbinar.

"Beneran. Kita berangkat pagi, pulang sore. Bawa bekal, main air, bikin istana pasir..."

"Papa pernah bikin istana pasir?!" potong Arka dengan tidak percaya.

Reyhan terdiam, lalu tertawa. "Terus terang... belum pernah. Tapi besok kita belajar bareng."

Arka bersorak girang, lalu tiba-tiba memeluk Reyhan erat pelukan spontan yang membuat Reyhan terdiam sejenak sebelum membalas pelukan itu dengan lembut.

Alya menatap mereka dengan senyum lebar, matanya berkaca-kaca.

Ini... ini yang namanya keluarga.

Minggu Pagi Perjalanan ke Pantai

Pukul enam pagi, mereka sudah berangkat dengan mobil Reyhan. Arka duduk di kursi belakang dengan tas ransel berisi buku favorit dan kamera polaroid pemberian Reyhan hadiah yang membuat Arka tidak tidur semalam karena terlalu senang.

"Ma, aku boleh foto pemandangan kan?" tanya Arka sambil memegang kamera dengan hati-hati.

"Boleh, sayang. Tapi jangan buang-buang film ya. Film kamera itu mahal."

"Aku tahu kok, Ma. Aku akan foto yang penting-penting aja."

Reyhan melirik dari kaca spion dengan senyum. "Arka, kamu udah tau cara pake kamera itu?"

"Udah, Pa! Aku baca manual-nya semalam sampai habis. Terus aku juga nonton tutorial di YouTube."

"Pinter," puji Reyhan dengan nada bangga yang tidak ia sembunyikan lagi.

Alya duduk di kursi depan, menatap jalan raya yang mulai ramai. Tangannya terlipat di pangkuan sampai tiba-tiba Reyhan mengulurkan tangan dan memegang tangannya.

Alya menoleh, terkejut.

Reyhan tidak menatapnya matanya tetap fokus di jalan tapi jemarinya menggenggam tangan Alya dengan lembut.

"Apa yang Om lakukan?" bisik Alya pelan agar Arka tidak mendengar.

"Pegang tangan istriku," jawab Reyhan dengan nada datar, tapi Alya bisa melihat senyum tipis di sudut bibirnya.

Alya merasakan pipinya memanas. "Arka... bisa lihat."

"Biarkan. Dia harus lihat kalo orang tuanya... mesra."

Jantung Alya berdegup kencang mendengar kata orang tua bukan lagi Om dan Mama, tapi orang tua.

Ia melirik ke belakang Arka sedang fokus menatap keluar jendela, tidak memperhatikan mereka.

Alya menghela napas, lalu membiarkan tangannya tetap digenggam oleh Reyhan.

Dan entah kenapa... itu terasa benar.

Pukul Sembilan Pagi di Pantai Anyer

Pantai tidak terlalu ramai masih pagi dan hari kerja untuk sebagian orang. Pasir putih membentang luas, ombak tenang, dan langit biru cerah tanpa awan.

Arka berlari ke arah pantai dengan teriakan girang suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya. Ia melepas sandal dan langsung menginjak pasir dengan mata terpejam, merasakan sensasi baru.

"MA! PA! INI SERU BANGET!" teriaknya sambil melompat-lompat.

Alya dan Reyhan berjalan pelan di belakangnya, masing-masing membawa tas piknik dan tikar.

"Dia... senang banget," gumam Alya dengan senyum lebar.

"Ini pertama kalinya dia ke pantai kan?" tanya Reyhan.

Alya mengangguk. "Iya. Selama ini... aku nggak punya cukup uang atau waktu buat bawa dia jalan-jalan."

Reyhan berhenti berjalan, menatap Alya dengan tatapan serius. "Mulai sekarang... kamu nggak sendirian lagi, Alya. Apapun yang Arka butuh, apapun yang kamu butuh... aku akan usahain."

Alya merasakan tenggorokannya menyesak. "Reyhan.."

"Aku serius," potong Reyhan. "Aku tahu aku telat enam tahun. Tapi aku nggak akan buang waktu lagi. Aku akan kasih kalian kehidupan yang kalian pantas dapat."

Alya tidak bisa menahan air matanya. Ia mengangguk pelan, tidak percaya pada suaranya sendiri untuk bicara.

Reyhan mengusap air mata di pipi Alya dengan ibu jarinya gerakan lembut yang membuat hati Alya berdegup lebih cepat.

"Jangan nangis," bisiknya. "Hari ini hari yang bahagia."

Alya tertawa di antara tangisnya. "Iya. Hari yang sangat bahagia."

"PA! MA! AYO KESINI!" teriak Arka dari tepi pantai.

Mereka berdua tertawa, lalu berlari menghampiri Arka melupakan sejenak semua luka masa lalu, fokus pada kebahagiaan saat ini.

Siang Hari

Setelah bermain air dan berenang sebentar, mereka bertiga duduk di pasir membuat istana pasir yang... berantakan.

"Pa, ini kok roboh terus sih?" keluh Arka sambil menatap gundukan pasir yang terus runtuh.

Reyhan menggaruk kepalanya. "Aku juga nggak tahu. Ini pertama kalinya aku bikin istana pasir."

"Coba kita kasih air biar pasirnya nempel," usul Alya sambil mengambil ember kecil.

Mereka mencoba lagi kali ini dengan pasir yang sedikit basah. Dan akhirnya... istana kecil yang miring tapi berdiri mulai terbentuk.

"BERHASIL!" teriak Arka girang. "Kita hebat!"

Reyhan dan Alya tertawa melihat semangat Arka yang meledak-ledak.

"Foto dulu yuk!" usul Arka sambil mengambil kamera polaroid-nya.

Ia meminta bantuan orang lewat untuk memotret mereka bertiga duduk di depan istana pasir miring dengan senyum lebar.

Klik.

Foto keluar gambar Reyhan, Alya, dan Arka dengan latar pantai dan istana pasir. Senyum mereka tulus, mata mereka berbinar.

Arka menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca. "Ini... foto keluarga pertama kita."

Alya merasakan dadanya sesak mendengar kata keluarga pertama.

Reyhan memeluk Arka dari samping. "Dan ini nggak akan jadi yang terakhir. Kita akan bikin banyak foto keluarga lagi."

Arka mengangguk sambil memeluk foto itu erat.

Dan Alya ia hanya bisa menatap dua orang yang paling ia cintai di dunia ini dengan hati penuh syukur.

Sore Hari Perjalanan Pulang

Di mobil, Arka tertidur di kursi belakang dengan foto keluarga di pelukannya. Wajahnya damai, senyum tipis masih tergambar di bibirnya.

Alya menatapnya dari kaca spion, lalu berbisik pada Reyhan, "Dia... belum pernah sebahagia ini."

Reyhan melirik sekilas ke belakang, lalu tersenyum. "Aku juga."

Alya menoleh padanya. "Maksudnya?"

"Aku juga belum pernah sebahagia ini." Reyhan menatap jalan dengan ekspresi tenang ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Dulu aku pikir kebahagiaan itu datang dari kesuksesan, dari uang, dari pencapaian. Tapi ternyata... kebahagiaan itu sesederhana hari ini. Main di pantai, bikin istana pasir, lihat anak sendiri ketawa lepas."

Alya merasakan air matanya menggenang lagi. "Reyhan..."

"Terima kasih, Alya," bisiknya pelan. "Terima kasih udah kasih aku kesempatan jadi ayah. Terima kasih udah... nggak nyerah."

Alya menggenggam tangan Reyhan yang tergeletak di console tengah. "Terima kasih juga... udah mau berubah. Udah mau belajar mencintai kami."

Reyhan menggenggam balik tangan Alya erat, hangat, penuh janji.

"Aku... belajar mencintai kalian," akunya pelan. "Dan aku rasa... aku mulai berhasil."

Hati Alya berdegup kencang mendengar kata itu.

Mencintai.

Bukan lagi tanggung jawab. Bukan lagi kewajiban.

Tapi... cinta.

Dan malam itu, dalam perjalanan pulang dengan Arka tertidur di belakang dan tangan mereka bertaut, Alya menyadari

Ia mulai jatuh cinta lagi.

Jatuh cinta pada pria yang sama yang pernah menghancurkan hatinya.

Tapi kali ini... ia tidak takut.

Karena kali ini, ia tahu Reyhan tidak akan pergi lagi.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!